 |
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
|
 |
| |
Mudik Mudik Lebaran: Ritual Masyarakat Gemeinschaft
Hari-hari menjelang Lebaran adalah hari-hari sibuk buat semua orang, baik kalangan masyarakat biasa, pedagang, pejabat, dan terutama para perantau yang jauh dari sanak keluarga dan kampung halaman. Seputar hari suci umat Islam itu, selalu meningkatkan kepusingan dan kebingungan banyak orang.
Mudik adalah fenomena sosio-kultural. Dia adalah darah daging manusia Indonesia. Berbagai alasan rasional seolah tidak mampu menjelaskan fenomena yang teranyam rapat dalam nilai kultural bangsa Indonesia itu. Pulang mudik sekali setahun itu, tidak hanya sekadar melepas kerinduan pada kampung halaman, tetapi mengandung makna yang jauh lebih dalam dari itu.
Menyambut Lebaran dan Natal yang tahun ini hadir hampir bersamaan Majalah Gatra mengeluarkan edisi khusus. Edisi nomor 6 tahun ke 7 ini tampil berwarna, sekitar 128 halaman. Laporan Utamanya: Merekat Kembali Silaturahmi. Laporan Khususnya, kisah seputar mudik. Beberapa tokoh bicara seperti Ketua Umum Muhammadiyah Prof. Syafi'i Ma'arif, Pengurus Nahdatul Ulama Ir. Salahuddin Wahid, Uskup Agung Jakarta Julius Kardinal Darmaatmadja SJ, Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia Pendeta Natan Setiabudi, juga mubaligah Hj. Lutfiah Sungkar.
Ada juga profil beberapa desa yang kental dengan suasana agama dan kerukunan. Seperti Dusun Mlangi, di Yogyakarta, komunitas Islam Bali di Desa Pagayaman, kampung kristen di Cianjur yang sudah berumur 99 tahun, desa Hindu di Pekalongan, kaum muslim dari New Mexico, Amerika Serikat, yang hijrah ke desa Pangkep, Sulawesi Selatan. Ada juga tulisan beberapa kolumnis dari Azyumardi Azra, Th Sumartana, Hamdi Muluk, dan Sjafri Sairin. Kolom Sjafri Sairin tentang budaya mudik ini bisa anda baca dalam Topik Kita Hari Ini.
Gatra Edisi Lebaran tersebut baru bisa anda peroleh mulai tanggal 17 Desember 2000. Jangan lupa, ada bonus rute mudik lebaran, termasuk jalur alternatif, sebanyak delapan halaman. Yang bisa menjadi penuntun anda sepanjang perjalanan mudik. Juga ada tulisan beberapa kota persingahan sepanjang jalur mudik. [ Print | Email ]
|
|
| |
|
|
|
 |
 |
| YANG HANGAT |
 |
| |
Penyelundupan Benda Cagar Budaya pun Dijarah Jakarta, 11 Desember 2000 23:07 Ribuan jenis benda cagar budaya sepanjang tahun 2000 menghilang dari bumi Indonesia, antara lain 36 kontainer berisi benda cagar budaya diselundupkan ke Jerman dan tujuh kontainer diselundupkan ke Australia. [ Print | Email ]
Mutasi 200 Ribu Karyawan Depkes Dialihkan ke Daerah Jakarta, 11 Desember 2000 23:03 Sekitar 200 ribu karyawan Depkes khususnya berada di daerah, terhitung 1 Januari 2001 menjadi pegawai daerah setempat menyusul pemberlakuan UU Otonomi Daerah No.22/1999 mulai tahun depan, kata Menkes dan Kesos Achmad Sujudi.
[ Print | Email ]
Terdakwa Kasus Kerusuhan Poso Diadili Palu, 11 Desember 2000 18:19 Tiga terdakwa utama kasus kerusuhan berdarah di Kabupaten Poso, masing-masing Fabianus Tibo (56), Dominggus "Soares" da Silva alias Domi (37), dan Marinus Riwu (43) diancam hukuman mati oleh Tim Jaksa Penuntut Umum. [ Print | Email ]
Tommy Winata Incar PT Timor
Barak Mundur Netanyahu Nekat
Wanita Dibawah 40 Dilarang ke Uni Emirat
Bank Dunia Dukung Gus Dur
Hotel di Wamena Terancam Bangkrut
|
|
MOU Jaksa Agung-UNTAET Marzuki Tolak Mau Jual Negara Jakarta, 11 Desember 2000 16:45 Gugatan Banyak pihak seputar penadatangan nota kesepakatan Jaksa Agung Marzuki Darusman dengan UNTAET membuat salah satu pimpinan pucuk Partai Golkar itu meradang. "Tak terlintas di benak saya untuk mengurangi kedaulatan negara,'' katanya. [ Print | Email ]
UNTAET Reny Jayusman Pimpim Demo Anti UNTAET Jakarta, 11 Desember 2000 16:44 Laskar Merah Putih melakukan aksi demo menentang intervensi asing terhadap kedaulatan negara Indonesia, dalam kasus pelanggaran HAM Timtim. Para demonstran pun memburu dan melempari sebuah mobil UNTAET berbendera PBB yang akan meninggalkan Gedung DPR/MPR. [ Print | Email ]
Kerukunan Beragama Muslim Indonesia, Kasih Teladan Dong! Tokyo, 11 Desember 2000 16:32 Itulah ucapan ketua perhimpunan muslim Jepang Khalid Higuchi di sela seminar yang diselengarakan Keluarga Masyarakat Islam Indonesia di Tokyo. "Kami tidak mengerti kenapa bangsa Indonesia saling membunuh,'' kata Higuchi. Jadi siap memberi teladan? [ Print | Email ]
Pemerintah Tak Akan Penuhi Tuntutan GAM
Megawati Ditunggu Masyarakat Ternate
Tak Mudah Melepas Theys Eluay
Jajaran Direksi Pertamina Banyak Orang Baru
Nasionalisme Munir Dipertanyakan Odang
|
|
 |
|
|