|
 |
|
 |
|
ALKISAH |
 |
| |
Fachry Ali Gus Dur Cukup Berkata: Saya Manusia Biasa
Jakarta, 4 April 2001 17:02 SAAT-SAAT genting pada puncak kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid, atau yang lebih sering dipanggil Gus Dur selalu disertai kemunculan hal-hal yang berbau "aneh-aneh" atawa tak masuk akal. Masih hangat dipikiran saat ketika Gus Dur harus menjalani proses ritual jawa, "ruwatan" di Parangtritis. Tujuannya, kabarnya, untuk memuluskan roda kekuasaan.
Jauh sebelum itu, cerita bahwa Gus Dur dilindungi sekian ribu jin sudah jamak. Bahkan ketika menjelang Muktamar NU di Cipasung, Gus Dur punya profesi tambahan yakni, tabib. Banyak orang berebut air putih "racikan" Gus Dur untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Dan anehnya, menurut orang yang memakainya, air itu mujarab juga.
Fenomena, menurut Fachry Ali, penulis buku Refleksi Paham "kekuasaan Jawa" Dalam Indonesia Modern, tak lain sebagai bentuk mistifikasi kekuasaan seorang penguasa. Dalam budaya Jawa, menurut kolumnis kelahiran Aceh, 23 November 1954 ini, proses mistifikasi kekuasaan semacam itu bukanlah suatu barang asing. "Ada sejarahnya," kata master dari Jurusan Sejarah Politik Universitas Monash, Melbourne, Australia ini. Pola itu dilakukan oleh raja-raja Mataram masa lalu. "Repotnya di alam demokrasi modern, mistifikasi yang cenderung anti kritik itu jadi tidak produktif," katanya.
Ketua Lembaga Studi dan Pengembangan Etika Usaha Indonesia (LSPEUI) ini melihat fenomena ini muncul lagi, sebagai bentuk ketidakmampuan Gus Dur dalam melakukan demokratisasi internal di tubuh kaum Nahdliyin. Terutama sikap orang-orang Nahdliyin yang melihat Gus Dur seorang berdarah biru, wali, dan tidak bisa salah.
Berikut ini petikan lengkap komentarnya ketika dihubungi GATRA Jumat malam, pekan lalu:
Bagaimana Anda melihat konsep kekuasaan dalam budaya Jawa?
Secara umum pola kekuasaan yang didasarkan pada kebudayaan Jawa itu memang selalu melihat bahwa seluruh gerak kehidupan itu semua tersangkut paut dengan Yang Maha Esa. Kemudian mereka mematrikan hal itu dengan apa yang namanya sangkan paraning dumadi.
Maksudnya?
Segala sesuatu bersangkutan dengan Sang Pencipta. Oleh karena itu, mereka melihat apa yang terjadi dalam dunia ini hanya refleksi saja dari jagad cilik. Jagad Gede itu adalah refleksi saja dari kecenderungan-kecenderungan jagad cilik. Dalam pandangan mereka, sejarah tidak linier atau lurus tetapi siklis. Itu yang kemudian disebut dengan hukum cokro manggilingan, seperti roda yang berputar.
Dalam praktiknya bagaimana?
Ini bisa dilihat pada banyak pendukung Pak Harto pada masa lalu, terutama pada munculnya kebatinan dimana-mana. Mereka melihat peristiiwa G 30 S PKI sebagai perang Barata Yudha. Jangan lupa ini dapat pula dikaitkan pula dengan pandangan Syahrir, bahwa saat ini bangsa Indonesia memasuki masa Kaliyuga. Perbandingan ini hendak menunjukkan bahwa dunia besar yang terjadi diluar tak lepas dari refleksi pemahanan dunia kecil yang ada di dalam alam pikiran dan benak manusia Jawa.
Dalam budaya Jawa hal itu disebut apa?
Hal macam itulah yang disebut dengan mistifikasi politik. Bahwa seluruh peristiwa kekuasaan dikaitkan dengan dunia suasana mistis. Di kalangan Nahdliyin, mistifikasi politik itu jauh lebih mendalam, daripada di kalangan kejawen. Ini terjadi karena elemen-elemen dunia mistik itu diterjemahkan dalam hal-hal yang paling sederhana. Kalau dilihat dalam setiap pertarungan memperebutkan kekuatan umum PB NU selalau beredar elemen-elemen mistis itu.
Di sana bentuk mistifikasi itu seperti apa?
Pada masa lalu, misalnya Kiai Abdurrahman Wahid muncul mengalahkan Pak Ilham Chalid dalam muktamar di Situbondo 1984, ketika itu dikembangkan misalnya mimpi. Yang bermimpi itu Kiai Asad. Yang bermimpi bertemu dengan kakeknya Abdurrahman Wahid, Hasyim Asyari sedang berpidato di atas mimbar. Dengan mimpi itu sebenarnya muncul suatu instrumen politik untuk mempengaruhi seluruh kalangan kaum Nahdliyin, para muktamirin, bahwa Kiai Abdurrahman Wahid telah direstui untuk menjadi ketua umum PBNU untuk menggantikan Kiai Ilham Chalid. Dan itu dipercaya oleh kalangan muktamirin.
Untuk saat ini bentuk mistifikasi yang masih melekat seperti apa?
Nah kini semakin dipercaya bahwa Abdurrahman Wahid adalah seorang darah biru (keturunan pendiri NU). Hal ini dulu pernah saya perkenalkan di GATRA. Selalu saja pertarungan-pertarungan elit di kalangan NU itu bukanlah pertarungan yang bersifat fisik. Dalam pengertian berapa pengikut anda dan beberapa pengikut lawan anda. Tetapi pertarungannya itu ada pada tingkat manipulasi nilai-nilai.
Contoh paling konkrit dari manipulasi itu apa?
Misalnya, bagaimana Kiai Abduraahman Wahid tiba-tiba berubah menjadi orang yang mampu mengobati penyakit di dalam Muktamar Cipasung. Jadi menjelang Muktamar Cipasung. Kiai Abdurrahman Wahid itu digambarkan di Media Indonesia sedang membuat obat melalui air putih. Ketika saya tanyakan kepadanya kenapa seperti itu dilakukan. Ia menjawab bahwa memang ada beberapa kalangan NU yang minta kepada saya untuk berobat. Itu sudah menunjukkan bukan Abdurahman Wahid sebagai seorang intelektual, bukan sebagai pemikir, bukan sebagai manajer yang mempunyai kemampuan memimpin, tetapi orang yang mempunyai kekuatan-keuatan untuk itu.
Dibanding dengan kejawen bagaimana?
Dalam konteks inilah sebenarnya dunia NU jauh lebih dalam mengalami mistifikasi budaya mereka. Bagi saya mungkin, dia lebih dalam mistifikasinya, dibanding kejawen. Mengapa saya katakan begitu, karena pemberontakan terhadap kejawen itu bisa berlangsung secara terang-terangan dengan anak Jawa itu sendiri sebagai pelakunya. Hal itu dikalangan Nu tidak akan ada, atau sekurang-kurangnya sampai detik ini pemberontaan terhadap dunia ke-NU-an itu secara terang-terangan. Jadi sistem nilai di kalangan NU dengan basis mistikisme itu terus terpelihara sampai sekarang. Itulah yang kemudian diproyeksikan dalam dunia politik nasional, ketika elemen pokok dari NU menjadi pemimpin nasional.
Apa latar belakang mistifikasi itu perlu dimunculkan?
Sekarang kalau dilihat dari antropologi sejarah, sebenarnya dunia magis itu pada masa lalu sengaja dikembangkan oleh penguasa-penguasa sebagai instrumen untuk menaklukkan para pengikutnya atau menuntut loyalitas penuh dari rakyat itu. Nah kenapa orang berbuat seperti itu? Karena kalau kita lihat dalam konteks sekarang ini, adalah ketidakmampuan mereka para penguasa dalam mengontrol itu dengan peralatan yang bersidat teknikal dan kasat mata. Tentara pada waktu itu relatif tersebar. Penduduk juga relatif tersebar. Oleh karena itu harus ada instrumuen dimana dengan menggunakan istrumen ini kekuasaan mereka bisa efektif.Nah kemudian dikembangkan apa yang saya sebut sebagai supranatural itu.
Mistifikasi itu apakah pada massa itu bisa efektif?
Pada masa raja Jawa misalnya, Sultan Agung itu dideskripsikan sebagai super human. Bukan gelarnya, misalnya pada raja-raja Yogyakarta muncul mitos ratu kidul, Di Taman Sari, Keraton Yogyakarta ada sebuah kamar, yang disitu disebutkan, disinilah tempat persetubuhan antara raja dengan Kanjeng Ratu Kidul. Rakyat percaya dengan itu. Tapi makna dari persetubuhan itu adalah bahwa raja bukan orang biasa. Ia adalah super human. Karena dia bukan hanya bisa bersetubuh dengan manusia, tetapi dengan dewi laut sekalipun. Yang hendak diciptakan dengan efek munculnya cerita-cerita ini adalah sifat keterpesonaan rakyat pada sang raja. Sehingga raja menjadi sangat agung dan rakyat menjadi sangat kecil. Di dalam situasi macam inilah kemudian mitos dan cerita-cerita magis sengaja dibangun dan merupakan political instrument yang paling efektif untuk meminta loyalitas rakyat.
Dibandingkan dengan suku bangsa lain, apakah mistifikasi macam itu ada?
Pusat kekuasaan di luar jawa relatif tidak memiliki kesempatan untuk estlabish, untuk bertahan lama karena pada umumnya tumbuh di daerah pesisiran. Nah di daerah pesisiran adalah daerah Kosmopolis di mana arus kebudayaan global berganti cepat. Karenaya usia kekuasaan di laur Jawa tidak lama atau disebut sebagai kerajaan atau negara-negara pantai (coastal state). Dan Jawa itu pun mengalami proses mistifikasi yang hebat setelah mengalami interiorisasi atau pedalamanisasi, seperti daerah pantai pada Majapahit misalnya, ke Demak, pindah ke daerah agraria mulai dari Pajang (Kartosura) sampai Kotagede (Yogyakarta).
Aspek elementer apa yang membuat bisa demikian?
Dalam masyarkat agraris terutama di masa lalu, nilai itu sangat leluasa mengalami proses pemapanan, karena relatif terisolasi dari kekuatan-kekuatan pantai. Ini yang memberikan penjelasan, Mataram mampu menguasai wilayah-wilayah lain. Disamping terisolasi itu, tadi tanahnya juga subur sehingga penduduk cukup banyak. Pada masa lalu kekuatan-kekuatan tentara ditentukan oleh cacah atawa penduduk. Dalam wilayah-wilayah itu mistifiaksi politik sangat subur.
Kini di tubuh NU, bagaimana mistifikasi itu bisa dikikis?
Kalau kita lihat pada sejarah intelektual NU, maka orang yang membuka cakrawala cakra intelektual itu adalah Abdurrahman Wahid. Itu yang nanti akan sampai pada sesuatu yang sering saya katakan. Nah Kiai Abdurrahman Wahid telah bertindak sebagai jendela tempat kaum nahdliyin bisa menengok dunia luar, dia yang kemudian memberikan gagasan-gagasan ke-Islaman dengan sangat radikal sangat jauh dengan konsepsi ke-Islaman kaum nahdliyin di masa lalu. Bayangkan misalnya dia pernah mengusulkan bahwa keadilan sosial harus masuk ke dalam rukun iman. Dialah satu-satunya yang berani mengatakan assalamualaikum dapat diganti dengan selamat pagi, selamat siang dan selamat malam. Tetapi dia relatif aman posisi sosial dan kulturalnya, sekali lagi karena dia seorang darah biru.
Apa mestinya yang harus dilakukan Gus Dur?
Kita lihat dalam konteks NU secara keseluruhan maka pendidikan politik yang harus dilakukan Kiai Abdurrahman Wahid adalah mendemokratisasikan warga nahdliyin. Karena kiai ini sudah terlanjur dianggap sebagai tokok demokrat tetapi dalam gerakannya dia lebih mengeksternaisasilan kekuatan NU-nya itu kepada dunia diluar NU, misalnya seperti dalam kekautan politik Pak Harto, kekuatan politik ICMI, partai-parti politik lainnya. Itu yang kemudian dituntut mengalami proses demokratisasi. Tetapi Andurahman Wahid tidak pernah melangkah atau bahkan satu langkah pun terhadap kaum nahdliyin dengan mengatakan secara publik bahwa saya bukanlah wali, saya bukanlah berdarah biru saya adalah manusia biasa, jangan marah kalau ada orang mengkritik saya, karena saya manusia biasa. Dan karena manusia biasa bisa salah. Itu yang tidak pernah dilakukan Kiai Abdurrahman Wahid.
Jadi yang perlu kini membuat para pendukungnya jadi rasional?
Ya, bagaimana membuat pikiran masyarakat menjadi rasional itu. Maka harus mulai dari elit itu sendiri, ketika Kiai Abdurrahman Wahid melakukan liberalisasi pemikiran di kalangan NU dengan cara memberikan contoh. Dalam konteks demokratisasi ini ia bisa memberikan contoh kepada massanya. Kalau itu dilakukan oleh dia, maka akan menjadi sumbangan politik yang paling besar buat negara. Dengan mengatakan saya manusia biasa dan saya bisa salah.
Apa demistifikasi itu sudah dilakukan Gus Dur?
Penyadaran itu harus dimulai dengan demokratisasi internal kaum nahdliyin. Sebab kaum nahdliyin itu sebenanrya sangat hirarkis, siapapun yang mendekati darah biru dalam konteks itu akan selalu mendapatkan kekuasaan. Kalau anda melihat politisi-politisi itu, yang bermain adalah orang yang punya percikan darah biru, itu membuat susunan sosial yang sangat hirarkis. Kesan saya dia enggan melakukan terobosan dalam konteks ini. Dia tidak membongkar asumsi-asumsi yang mengindikasikan dia seorang super human dikalangan NU. Bukan gap tetapi suasana hirarkis dikalangan nahdliyin itu belum dibongkar.
Nah, apakah gejala ini khas NU?
Bisa saja, bila dibanding dengan memandang Amien Rais di Muhammadiyah. Ketika menjadi ketua umum Muhammadiah, Amien Rais hanya dipandang sebagai primus interpares - the best among the equals. Dia hanya orang yang pinter yang kebetulan dipilih tetapi dia tidak mempunyai nilai sakral di dalam dirinya. Setiap orang Muhammadiyah bisa mengkritik dia tanpa harus melihat dia harus mendapat kualat. Di kalangan Persis, HMI sama saja. Sedangkan dikalangan Nahdliyin dia adalah tokoh yang tidak bisa salah. Tidak ada seorang pun yang melakukan kritik secara terbuka. Nah motornya harus Dia sendiri untuk melakukan maklumat kepada publik. Mestinya harus begitu. Selama ia tidak melakukan itu, maka tidak akan muncul rasionalisme politik dikalangan NU. [Guritno]
|
|
 |
|