 |
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
|
 |
| |
Daya Tarik Investor Pelacuran Anak Jadi Daya Tarik Investor Asing

Jakarta, 11 April 2001 00:28 Boleh percaya boleh tidak. Diam-diam Indonesia sudah masuk dalam daftar 'sorga seks' bagi orang asing. Pelayanan seks, khususnya yang dilakukan anak-anak (remaja), ternyata menjadi salah satu pertimbangan investor untuk menanamkan uangnya di sini. Jadi tak cuma stabilitas politik, keamanan, kepastian hukum, dan infrastruktur. Setidaknya, itulah salah satu hasil penelitian yang dilakukan Organisasi Buruh Dunia di empat kota besar di Indonesia.
Terlepas benar atau tidak, nyatanya, secara kasat mata --sejak krisis moneter tiga tahun silam-- para penjaja seks remaja terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, amat mencolok. Lewatlah di tengah malam, di kawasan 'merah' Jakarta. Di situ banyak cewek ABG yang berjajar di pinggir jalan, menunggu mangsa, pria-pria hidung belang. Belum lagi di pub, atau tempat-tempat hiburan yang berserak di Jakarta, tak luput dari incaran orang asing. Melihat kondisi itulah agaknya sehingga seorang aktor Hollywood, beberapa tahun lalu, secara terang-terangan minta dicarikan gadis kencur yang masih perawan pada karyawan sebuah hotel berbintang. Si aktor berotot itu berjanji membayar Rp 7 juta setiap perawan yang ditidurinya. Tak mudah memang mencarikan jalan keluar memerangi perdagangan seksual anak-anak ini. Salah satu faktor pendorong yang kuat adalah kemiskinan. Cuma jangan berharap pada pemerintah untuk turun tangan. Sebab para elit politik lagi sibuk memperebutkan kekuasaan. Siapa peduli? Melihat situasinya, tak ada harapan lain, kecuali pada peran serta swasta atau masyarakat, untuk ikut berbagi kepedulian di sekitar kita.
[ Print | Email ]
|
|
| |
|
|
|
 |
 |
| YANG HANGAT |
 |
| |
Amandemen UU BI BI Keberatan Pasal 9 Diamandemen Jakarta, 11 April 2001 22:00 Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Achjar Iljas menyatakan keberatan pihak BI kalau sampai substansi pasal 9 UU No. 23/1999 yang sedang dibahas pemerintah-DPR-IMF diutak-atik. "Pasal itu merupakan inti independensi bank sentral," katanya. [ Print | Email ]
Posko PDI-P Pengaktifan Posko Bisa Timbulkan Potensi Konflik Jakarta, 11 April 2001 21:31 Sosiolog Universitas Indonesia (UI) Dr Gumilar Sumantri mengatakan langkah pengaktifan posko-posko perjuangan dikhawatirkan dapat menimbulkan potensi konflik di tingkat bawah. "Pengaktifan posko hanya sebuah simbol provokasi yang memiliki potensi konflik cukup besar di tingkat bawah," katanya. [ Print | Email ]
Minyak PT Caltex Diduga Curi Minyak di Tapanuli Selatan Medan, 11 April 2001 21:13 PT Caltex Riau diduga telah mencuri minyak dari sumur yang terdapat di Kabupaten Tapanuli Selatan, sehingga akibat pencurian itu Sumut diperkirakan mengalami kerugian miliaran rupiah setiap bulannya. "Kita tidak akan mendiamkan kasus ini karena menyangkut kerugian daerah yang cukup besar jumlahnya," kata Ketua Komisi-VII DPRD Sumut, Ir Kamaluddin Harahap MSi.
[ Print | Email ]
ICW: Untuk Bubarkan Golkar, Usut Dana Kampanye Golkar
Kapolda Metro Jaya Segera Diganti
Mantan Kasad HR Hartono Akan Bikin Partai
Hotel Tertua Di Aceh Ludes Dimakan Api
Ginsi: Dirjen Bea Cukai Menentang Amandemen UU Pabean
|
|
Penahanan Ginandjar Dr. Harkristuti: Kejaksaan Agung Berwenang Tahan Ginandjar Jakarta, 11 April 2001 20:38 Pakar hukum pidana dari Universitas Indonesia Dr Harkristuti Harkrisnowo berpendapat, Kejaksaan Agung berwenang menahan Ginanjar Kartasasmita. "Yang menjadi kesalahan Kejaksaan Agung adalah ketika mengajukan permohonan ke Panglima TNI minta dikeluarkan surat penahanan, seharusnya itu tidak dilakukan," katanya. [ Print | Email ]
Bughot PII Imbau NU Tak Keluarkan Fatwa Bughot Jakarta, 11 April 2001 20:25 Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (PKB-PII) mengimbau Nahdlatul Ulama tidak mengeluarkan fatwa bughot (makar) dan resolusi jihad, karena hanya akan menambah kecemasan dan memperunyam keadaan ketimbang menyelesaikan masalah.
[ Print | Email ]
Utang Luar Negeri Ada Indikasi Utang Luar Negeri Untuk Pertahankan Kekuasaan Jakarta, 11 April 2001 19:30 Perhimpunan Indonesia Baru menilai, kini ada kecenderungan semangat yang ditunjukkan pemerintah Indonesia mencari utang luar negeri untuk kepentingan yang tidak menyentuh kehidupan rakyat banyak, tetapi dihambur-hamburkan guna mempertahankan kekuasaan dan menciptakan stabilitas kabinet.
[ Print | Email ]
Erna Witoelar Tinjau Pemukiman Tepi Sungai
Sjahrir: BPPN Malah Jadi Beban Negara
Gus Dur: Megawati Tak Pernah Bicara Tiga Syarat
Tawuran Pelajar Di Atas Kereta, Penumpang Ketakutan
Amien Berharap Mega Tidak Mengulangi kesalahan Gus Dur
|
|
 |
|
|