|
 |
|
 |
|
WISATA & HIBURAN |
 |
| |
Gebyar TV Swasta Empat Penghibur Bermenu Gado-gado
Jakarta, 5 November 2001 00:43 SEMARAK cahaya berkelebat di sudut salah satu ruangan Jakarta Hilton Convention Center, Jakarta Pusat, Selasa pekan lalu. Tampilan slide show yang terpancar dari salah satu gerai tampak menyita perhatian hadirin. Hampir semua pengunjung memaku pandangan pada layar yang menangkap kelebatan cahaya itu.
Di layar berukuran sedang itu, perlahan terpampang sebuah lambang: dua lingkaran warna emas dan merah mengurung angka tujuh. Logo milik TV7, stasiun televisi paling gres, ini mengawali promosi program mereka. Suguhan TV7 itu diselingi penjelasan presenter dan tanya-jawab selama setengah jam.
Usai TV7, pertunjukan berlanjut dengan penampilan enam stasiun TV lainnya. Lima stasiun TV yang telah beroperasi: Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI), Surya Citra Televisi (SCTV), Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), Indosiar, dan Metro TV, serta satu stasiun TV anyar, TransTV. Seperti slogan kecap, masing-masing stasiun TV itu mengklaim diri sebagai nomor satu.
Perhelatan bertajuk ''TV Day'' ini memang jadi ajang jualan stasiun TV agar dilirik pengiklan. Toh, dari 10 TV swasta yang diundang, cuma tujuh yang hadir. AN-teve, Global TV, dan Lativi urung turut serta. Padahal, 840 perusahaan pengiklan yang tumplek di program acara itu, boleh jadi, menanti penampilan mereka. Terlebih Global dan Lativi, yang termasuk pendatang paling baru di jagat pertelevisian Indonesia.
Dua stasiun TV itu, bersama TransTV dan TV7, memang bakal menyemarakkan pentas layar kaca. Kini, meski penampilan mereka belum seluruhnya bisa disimak di layar kaca, denyut kehidupan stasiun-stasiun TV itu mulai terasa. Boleh jadi, acara ''TV Day'' yang digagas Asosiasi TV Swasta Indonesia itu menjadi isyarat jelas bakal makin ketatnya persaingan antarstasiun TV dalam memperebutkan kue iklan.
Stasiun TV, menurut Ketua Umum Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) R.T.S. Masli, sangat bergantung pada perolehan iklan. Menurut catatan P3I, televisi memang lebih banyak meraup iklan dibandingkan dengan media lain. Sepanjang tahun ini, dari total belanja iklan sebesar Rp 9,7 trilyun, dan yang mengucur ke televisi bisa mencapai 62%.
Sementara yang diraih koran cuma sekitar 28%, majalah 5%, sisanya untuk radio serta tabloid. Besarnya pemasukan stasiun-stasiun TV ini makin menggiurkan jika melihat prediksi menggelembungnya kue iklan. Pada 1998, ketika krisis ekonomi mulai melanda, belanja iklan cuma Rp 3,75 trilyun. Hanya perlu dua tahun, jumlah itu meledak dua kali lipat.
Untuk tahun depan, belanja iklan diperkirakan mencapai Rp 12,2 trilyun. ''Lezatnya kue iklan inilah yang bisa jadi membuat lahirnya TV-TV baru,'' kata Masli kepada Hendri Firzani dari GATRA. Namun, nafsu yang gede untuk meraup iklan sepertinya tak disertai ''tenaga'' yang cukup.
Sejak dikeluarkannya izin untuk lima televisi baru pada Oktober 1999, cuma Metro TV yang mampu siaran ajek. Yang lainnya, TransTV, Global TV, Lativi, dan Duta Visual Mandiri, masih terus berkutat pada urusan persiapan. Duta Visual Mandiri akhirnya malah digamit Grup Kompas-Gramedia untuk meluncurkan TV7.
Belakangan, setelah Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi mengancam bakal mencabut izin jika hingga 25 Oktober TV-TV anyar itu tak melakukan uji coba, barulah TV-TV itu menggeber tayangan. Dari empat TV baru itu, TransTV kelihatan paling siap. Uji frekuensinya telah dimulai 24 Oktober lalu. ''Kami menayangkan colour bar selama dua hari,'' kata Alex Kumara, Vice President TransTV.
Selanjutnya, mulai pukul 15.00 sampai 21.30, stasiun TV milik Chairul Tanjung, bos Para Group, itu menawarkan tiga program acara untuk siaran perdananya. ''Ada 'Trans Tune In', 'Trans Beat', dan 'Trans Profile','' Alex berpromosi. ''Trans Tune In'', katanya, berkisar soal pengenalan program acara. Sedangkan ''Trans Beat'' dan ''Profile'' merupakan acara musik dan cerita soal lingkup kerja di TransTV.
Sajian itu masih ditambah dengan menampilkan siaran langsung variety show peresmian Super Mall milik Para Group di Bandung, serta siaran langsung kompetisi sepak bola Liga Spanyol, 27 Oktober lalu. ''Hasilnya lumayan, rating-nya tiga,'' kata Achmad Ferisqo Irwan, dari Bagian Acquisition and Scheduling TransTV. Rating tiga berarti mencatat sedikitnya 810.000 pemirsa.
Kelak, TransTV bakal mengusung lebih banyak tayangan hiburan untuk mengisi jam siarannya. Laiknya stasiun TV lama, Trans bakal menggeber acara sinetron, kuis, film, dan tayangan infotainment. ''Porsinya 70% hiburan dan sisanya berita,'' kata Alex Kumara. Untuk awal, sekitar 60% materinya merupakan paket acara asing. Sisanya diambil dari rumah produksi dalam negeri.
Program acara yang bakal ditayangkan stasiun TV baru lainnya juga hampir serupa dengan stasiun TV lawas. Semua mengandalkan hiburan sebagai menu utama. ''Kalau mengandalkan berita, iklannya pasti kurang,'' kata Chrys Kelana, Direktur Pelaksana Lativi. Apalagi, untuk menjadi TV berita, sedikitnya diperlukan dana dua kali lipat dari biaya operasional TV hiburan.
Sebagai gambaran, kata Chrys, Lativi menyediakan Rp 500 milyar untuk mencapai jam tayang utuh, awal Desember nanti. Nah, untuk TV berita, persiapan dananya bisa sampai dua kali jumlah itu. ''Kita tidak bisa menutup mata bahwa yang disukai masyarakat adalah acara hiburan,'' kata Chrys. Melalui sajian hiburan, Chrys yakin, Lativi bakal menggondol belanja iklan sebesar Rp 5 trilyun.
Pangsa pasar yang dibidik stasiun TV milik Abdul Latief, pengusaha pemilik toko Pasaraya, itu tak berbeda dengan TV lain: semua golongan. Menurut Chrys, Lativi tak mungkin meninggalkan sajian sinetron yang digandrungi masyarakat. ''Karena dari sinetron bisa diraih iklan yang banyak,'' katanya. Selain sinetron, program hiburan lain, seperti kuis dan film, juga jadi menu Lativi.
Meski juga memilih jalur hiburan, Global TV mengaku lebih membidik ceruk usia khusus untuk menembus pasar. Menurut Nasir Tamara, Presiden Direktur Global Informasi Bermutu, pangsa pasar Global TV adalah anak muda di bawah 29 tahun. Nasir yakin mampu menghimpun 15% penonton usia muda. Dengan pasar yang diincarnya itu, Global TV punya target meraih 3% belanja iklan tahun depan.
Stasiun TV milik Bimantara itu kelak mengisi sekitar 80% acaranya dengan tayangan gado-gado, semacam film, kuis, musik, talk show, dan olahraga, yang menggambarkan gaya hidup dan trend anak muda. ''Bahkan beritanya pun lebih banyak soal hiburan,'' kata Nasir.
Lain pula yang dilakukan TV7. Stasiun televisi milik Grup Kompas-Gramedia ini bakal menjajal komposisi berita 35%, baru sisanya entertainment. ''Ujung tombaknya memang berita. Tapi, untuk menjaring audiens yang luas dari segala usia, kami menampilkan program hiburan,'' kata Presiden Direktur TV7, August Parengkuan.
Dari pemirsa yang dijaring itu, target TV7 ujung-ujungnya, ya, untuk meraup iklan juga. ''Jujur saja, kami sangat memerlukan iklan,'' kata August. Melalui dukungan beberapa media cetak di bawah naungan Kompas-Gramedia, August yakin, TV7 bakal balik modal tiga sampai lima tahun mendatang. ''Dua tahun lagi, kami berharap sudah bisa menjangkau 70% penduduk Indonesia,'' kata wartawan Kompas itu.
Untuk tayangan berita, TV7 bakal didukung Kompas. Beberapa tayangan lainnya juga memperoleh bantuan media cetak di bawah Kompas-Gramedia. Misalnya tabloid Nova untuk tayangan memasak, tabloid Bola untuk sepak bola, majalah Hai untuk musik, Kontan untuk ekonomi, serta tabloid Senior untuk sajian program-program kesehatan.
Semua program itu dijanjikan hadir di layar TV pemirsa, 25 November nanti. Toh, meski punya dukungan banyak media cetak, untuk tahun pertama TV7 masih mengimpor 70% tayangannya. Alasannya, acara asing masih lebih murah dari produk dalam negeri. Sebuah film asing harganya ''cuma'' US$ 25.000. Sama dengan harga satu episode sinetron lokal berdurasi satu jam.
Meski mengimpor banyak tayangan asing, besar kemungkinan wajah TV7 tak bakal berbeda dengan stasiun TV lainnya. Sebab, TV7 mengaku sudah menjalin kerja sama dengan beberapa rumah produksi penggarap sajian sinetron. Maka, hadirnya empat televisi baru, boleh jadi, cuma menambah banyak tayangan televisi, tanpa memperbanyak jenisnya.
''Semua TV baru bersifat umum dan rebutan di pasar yang sama,'' kata Garin Nugroho, sutradara film terkemuka yang juga pengamat televisi. Di mata Garin, karakter TV dengan ceruk pasar yang khusus tak terlihat pada kehadiran televisi-televisi baru. Sepertinya, paradigma TV di Indonesia berhenti hanya pada berita atau hiburan.
Padahal, hiburan punya banyak wajah. ''Hiburan itu bisa saja berupa TV khusus kartun atau kehidupan satwa liar,'' kata Garin. Ia meramalkan, program gado-gado yang diusung seluruh TV hanya akan menebarkan acara semacam variety show, kuis, dan sinetron soal kehidupan pribadi. Program-program itu, di mata Garin, hanya menjual mimpi dan kemewahan. ''Tidak mencerdaskan,'' katanya.
Toh, menurut Manajer Humas SCTV Budi Darmawan, tayangan sinetron yang cuma menjual mimpi dan kemewahan lebih ditunggu pemirsa. Masyarakat, katanya, menonton TV sebagai hiburan semata. Sehingga, tayangan seperti sinetron Kesaksian besutan Teguh Karya tak akan banyak dipandang. ''Belum saatnya kita menjual intelektualitas seperti The X-File,'' ujar Budi.
Namun, Budi berjanji, SCTV tetap akan menyeimbangkan tayangan ''mimpi'' dan tayangan realis. Kiat itu merupakan salah satu cara untuk menghadapi gempuran stasiun TV pendatang baru. ''Secara infrastruktur, kami lebih siap dibandingkan dengan mereka,'' katanya. Dengan 30 stasiun transmisi di seluruh Indonesia, Budi yakin, pengiklannya bakal tetap setia.
Persiapan juga dilakukan RCTI. Televisi swasta tertua di Indonesia ini melakukan perbaikan manajemen. ''Sebab, ada keluhan dari mitra RCTI, birokrasi kami makan waktu lama,'' kata Teguh Juwarno, Kepala Humas RCTI. Pembenahan itu ditambah dengan riset mengenai program yang diminati pemirsa. ''Supaya seluruh acara benar-benar berasal dari selera pemirsa,'' tutur Teguh.
Peraih kue iklan terbesar tahun lalu, Indosiar, juga menganggap munculnya TV baru ini sebagai persoalan serius. Menurut Kepala Humas Indosiar, Gufron Sakaril, Indosiar bakal menggenjot acara-acara hiburan, terutama jenis variety show dan film, untuk menghadapi serbuan tayangan TV pendatang baru. ''Kami akan meningkatkan kualitas,'' kata Gufron.
Rencananya, stasiun TV milik Salim Group itu bakal menambah dua stasiun transmisi dari 17 stasiun yang sudah ada. Penambahan ini dilakukan untuk meningkatkan jangkauan siaran TV. ''Sehingga cakupan area siaran bisa menjangkau lebih dari 80% jumlah penduduk Indonesia,'' kata Gufron Sakaril. Indosiar tentu ingin mempertahankan 27% jatah kue iklan, yang tahun lalu nilainya Rp 1,3 trilyun.
Rumah-rumah produksi juga menyambut kehadiran stasiun-stasiun TV baru. Menurut Ilham Bintang, Komisaris Utama PT Bintang Group, penghasil tayangan ''Cek & Ricek'' dan ''Buletin Sinetron'', lahirnya TV baru bakal menguntungkan rumah-rumah produksi di Indonesia. Dalam hitungan Ilham, hampir separuh dari 50.000 jam tayang milik 10 stasiun TV akan mempergunakan jasa rumah produksi.
''Apalagi, rumah produksi yang ada banyak yang khusus menggarap program hiburan,'' kata Ilham. Ia mengaku sudah dipesan TransTV untuk membuat tayangan infotainment. Biasanya, dengan menjual putus satu episode seharga rata-rata Rp 35 juta, Ilham mengaku bisa meraih untung sekitar 20%.
Berbeda dengan Ilham, Direktur Utama Star Vision, Chand Parwez Sevia, menganggap kehadiran stasiun TV baru itu belum menjanjikan apa-apa. ''Bekerja sama dengan TV swasta yang sudah mapan justru lebih menguntungkan,'' kata Parwez kepada Sulhan Syafi'i dari GATRA. Penyebabnya, tentu saja harga yang sudah cocok satu sama lain.
Toh, meski stasiun TV baru dirasa meragukan, bukan berarti Parwez tak ingin bekerja sama. Saat ini, rumah produksi yang membuat paket acara ''Spontan'' dan Gerhana itu baru saja memperoleh order dari TV7 untuk membuat tayangan infotainment. Acara itu rencananya bercerita soal gosip selebriti lokal.
Meskipun acaranya rata-rata serupa, kehadiran stasiun TV baru tetap akan menguntungkan pemirsa. Masyarakat punya lebih banyak pilihan acara. Cuma, menurut Garin Nugroho, pilihan itu bisa bersifat kreatif atau konsumtif. Stasiun TV bisa tertantang membuat acara baru yang kreatif, namun bisa pula mencari jalan pintas. ''Pokoknya, asal murah, cepat, bisa menarik perhatian, tanpa perlu kualitas,'' katanya.
Menurut Garin, dukungan media cetak yang kuat, seperti yang dimiliki TV7, juga tak menjamin bakal mudah menuai sukses. Sebab, tradisi berita sulit dihadirkan dalam televisi. ''Apalagi pada masyarakat yang budaya bacanya rendah,'' ujar Garin. Kekritisan pemirsa dalam menentukan program acara biasanya memang diawali dengan adanya budaya baca yang kuat.
Di Amerika, kata Garin, maraknya stasiun TV sudah terjadi 30 tahun lalu. Tapi, ketika itu masyarakatnya sudah mempunyai budaya baca yang kuat. Mereka tak kehilangan kekritisan karena sebelum menyimak sebuah tayangan televisi, kebanyakan akan mencari literaturnya dulu. Buktinya, banjirnya opera sabun didahului dengan maraknya novel picisan.
Nah, di Indonesia, lompatan yang terjadi berbeda dengan di Amerika. ''Perubahan dari cetak ke televisi tak melewati budaya membaca yang kokoh,'' kata Garin. Boleh jadi, itu berarti pemirsa TV negeri ini hanya akan dicekoki beraneka tayangan TV tanpa punya kesempatan berpikir kritis, karena tak dibekali referensi cukup. Yah, namanya juga hiburan.
[Sigit Indra, Amalia K. Mala, Irwan Andri Atmanto, Kholis Bahtiar Bakri, dan G.A. Guritno]
[Laporan Utama Gatra Nomor 51 Beredar 5 November 2001]
|
|
 |
|