NASIONAL [ GATRA Printed Edition ]

Kampanye Poligamor Presiden Poligami

NAMANYA sangat provokatif: jus poligami! Menu ini menyediakan empat jenis buah pilihan: avokad, mangga, sirsak, dan pepaya. Kombinasinya boleh apa saja. Dua, tiga, atau empat sekaligus. Kalau satu? Ya, tidak klop. Namanya juga poligami.

Jus ''unik'' ini merupakan andalan Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo, di Jalan A.M. Sangaji, Yogyakarta. Rasanya sih begitu-begitu saja. Cuma, namanya itu yang menggoda. Apalagi, misalnya, sembari membayangkan indahnya berpoligami --walau sebagian ada yang bilang ''nerakanya'' poligami.

Para pengunjung, apalagi yang baru, pasti tak akan melewatkannya. Satu di antaranya adalah rombongan Presiden ketika bertandang ke situ, pada 20 April 2002. Penggagasnya, siapa lagi kalau bukan Puspo Wardoyo, 46 tahun, bos restoran tersebut. Tak hanya di Yogya, jus poligami juga jadi andalan di cabang lain. Ayam Bakar Wong Solo kini punya 26 gerai, tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Pelabelan itu tentu bukan tanpa alasan. Sejak 1999, Puspo memang gencar mengibarkan bendera poligami. ''Tiada hari tanpa kampanye poligami,'' kata Puspo, yang beristri empat. Salah satunya lewat Biro Konsultasi Keluarga Sakinah dan Poligami (BKKSP), yang menyewa ruangan khusus di hotel bintang lima Lor In di Jalan Adi Sucipto, Solo, Jawa Tengah.

Harga sewanya Rp 40 juta per tahun. Sudah setahun BKKSP berkantor di situ, bareng dengan Lembaga Pendidikan Pramugari Solo (LPPS). ''Ini untuk efisiensi,'' kata Eko Suryono, Koordinator BKKSP Solo, yang juga Direktur LPSS. Setiap bulan, menurut pengakuan Eko, kantornya minimal didatangi 15 ''klien'' untuk konsultasi poligami.

Di kantor tersebut, tersimpan daftar tak kurang dari 100 wanita, baik janda maupun gadis, yang siap dijadikan istri kedua, ketiga, atau keempat. ''Tidak sedikit yang berstatus mahasiswi,'' kata Eko kepada Joko Syahban dari Gatra. Tidak hanya nama, umur, dan pendidikan, daftar itu juga memuat kriteria calon yang diinginkan. Pihak lembaga menindaklanjutinya dengan mengadakan piknik atau pesta. ''Tapi, kami bukan biro jodoh, lho,'' Eko menambahkan.

Jika digabung dengan tempat lain, ''daftar siap dimadu'' itu bakal makin bengkak. Selain di Solo, BKKSP juga memiliki cabang di Yogyakarta, Bandung, Magelang, Jakarta, Medan, Malang, dan Denpasar. Biar lebih terarah, pada pertengahan 2001, Puspo membentuk Mapolin alias Masyarakat Poligami Indonesia. Ia didaulat sebagai ketuanya. Koleganya menjulukinya ''Presiden Poligami Indonesia''. Tentu tak semua yang berpoligami bisa jadi anggota.

Kata Puspo, hanya poligami ''Islami'' yang diterima. Simpatisannya ratusan. Menurut dia, tak kurang dari 100 ''poligamor'' (pelaku poligami) rutin menjalin kontak dengan dirinya, baik lewat telepon maupun bertemu di seminar. Puspo kini sedang menyiapkan buku Kiat Sukses Beristri Banyak.

Buku setebal 100 halaman ini bercerita ihwal pengalaman sehari-hari Puspo dengan keempat istrinya. Ia menyebut perkawinannya sangat bahagia. Buku yang akan dicetak sekitar 5.000 eksemplar ini diluncurkan Mei nanti. ''Lewat buku ini, saya harap sosialisasi poligami lebih luas jangkauannya,'' kata Puspo.

Tentu Puspo bukan menjual harapan kosong. Buku-buku soal poligami kini termasuk yang mulai rutin terjual. Sebutlah, misalnya, Tuntutan Poligami & Keutamaannya, yang dipajang Toko Buku Wali Songo Kwitang, Jakarta Pusat. ''Kami bisa jual 25 buku dalam sebulan,'' kata Dadang Suherman, Wakil Ketua Toko Wali Songo, kepada wartawan Gatra Hatim Ilwan.

Begitu pun lima buku lain: Indahnya Poligami, Mengapa Poligami, Istri-istri Nabi: Fenomena Poligami, Poligami dari Berbagai Persepsi, dan Poligami di Mata Islam, yang juga diminati. Buku-buku itu terpajang di Toko Buku Gramedia Matraman, Jakarta.

Poligami sepertinya bukan lagi barang tabu untuk dibicarakan. Beberapa kalangan menjadikannya sebagai tema wacana. Misalnya kelompok tarbiyah. ''Ada upaya untuk menjadikan ini sebagai wacana di kalangan kader senior,'' kata Ali Said, penulis buku Fenomena Partai Keadilan. Komunitas tarbiyah ini disebut-sebut sebagai cikal bakal Partai Keadilan. Alasannya, jumlah kader perempuan lebih besar dari laki-laki. Yang mencarikan istri kedua biasanya istri pertama.

Di komunitas ini, sinyal ''kemungkinan poligami'' memang dibunyikan jauh-jauh hari sebelumnya. ''Sebelum kawin saja dia sudah ngomong,'' kata Anaway Irianti Mansyur, istri Anis Matta, Sekretaris Jenderal Partai Keadilan. Ia relaks saja. ''Kalau terjadi, ya, karena syariat,'' kata Anaway. Toh, sampai sekarang, Anis belum mendua cinta. ''Mungkin dia sudah berusaha, tapi kalau Allah tidak menakdirkan poligami, ya, tidak terjadi,'' katanya.

Tak hanya Anis. Dari sekitar 200 anggota Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Keadilan, yang melakukan poligami tak lebih dari 10 orang. Meski tidak melarang, Partai Keadilan memang sangat ketat mengontrol anggotanya yang berpoligami. ''Dewan Syariat Pusat mengeluarkan aturan khusus untuk mengatur masalah tersebut,'' kata Anis Matta kepada Rury Feriana dari Gatra.

Anggota DPP yang berniat poligami harus lapor ke Dewan Syariat. Kalau dicek tidak apa-apa, silakan dilanjutkan. Pengecekan itu biasanya untuk melihat kerelaan istri pertama dan faktor finansial. ''Dewan ini akan mengontrol apakah semua prosedur sudah terpenuhi,'' Anis menambahkan. Tujuan utamanya, mencegah kezaliman pada wanita. Ia mengaku kurang sreg dengan kampanye poligami yang dilakukan Puspo. Para poligamor, menurut Anis, sebaiknya tidak ''menepuk dada''. ''Tidak perlu terlalu show-up,'' katanya.

Hal serupa disampaikan mantan Panglima Laskar Jihad, Ustad Ja'far Umar Thalib. ''Poligami itu ajaran Islam, bukan ajaran Puspo Wardoyo,'' kata pemimpin Pondok Pesantren Tadribut Du'at di Jalan Kaliurang Kilometer 15, Yogyakarta, ini. Ia memang mempunyai tiga istri. Istri keempatnya telah diceraikan, Ramadan lalu.

Ismail Yusanto, juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia, menyebut poligami sebagai hal biasa. ''Tak perlu disosialisasikan karena sudah tersosialisasi,'' katanya. Ia mengaku heran pada pihak-pihak yang meributkan poligami. ''Lihat orang zina diam saja. Lihat poligami yang jelas dibolehkan malah ribut,'' kata Ismail, yang berencana beristri empat dan sudah diizinkan istrinya. Kini, dia baru punya satu istri.

Puspo tak peduli pada kritik-kritik tersebut. Dia malah mencanangkan hal yang sensasional: menganugerahkan Polygamy Award 2003. Penjaringan kandidat dilakukan mulai pekan lalu, lewat iklan di sejumlah media cetak nasional. Para pelaku poligami yang berminat mendapatkan Polygamy Award diminta menghubungi Sekretariat Mapolin di Solo. Dibubuhkan juga alamat e-mail dengan nama nyentrik: presiden_poligami@yahoo.com.

Award ini akan diberikan kepada laki-laki yang bisa berlaku adil terhadap istri-istrinya. Lalu istri pertama yang ikhlas ''menyedekahkan'' suaminya untuk orang lain. Ustad yang getol menyosialisasikan hukum poligami juga dianugerahi penghargaan. Jenis award-nya, menurut Puspo, masih dipikirkan. ''Yang pasti bukan uang,'' katanya. Fisiknya, menurut dia, tidak penting. Yang penting memberi dukungan moral yang Islami.

Jurinya, antara lain, Prof. Dr. Syahrin Harahap, guru besar IAIN Sumatera Utara, dan H. Yudan Fathoni, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Iman, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Keduanya, menurut Puspo, penasihat spiritual Islam Rumah Makan Wong Solo. Meski pendaftaran baru dibuka, Puspo menyebutkan Wakil Presiden Hamzah Haz sebagai salah satu kandidat. ''Karena dia berani menambah istri secara terbuka di saat sedang menjabat,'' kata Puspo. Berbeda dengan orang kebanyakan yang berpoligami, ''Tapi sembunyi-sembunyi,'' Puspo menambahkan.

Yang dimaksud Puspo, tentunya, pernikahan Hamzah dengan istri ketiganya, Soraya, wanita cantik berusia 39 tahun yang beralamat di Jalan Puncak Pesanggrahan, Cinere, Depok, Jawa Barat. Pernikahan ini terkuak ke publik seiring dengan tertangkapnya Ibra Azhari dalam kasus narkotika, beberapa waktu lalu.

Puspo sepertinya harus siap-siap mendapat penolakan Hamzah. Sinyal itu sudah dilontarkan Soraya. ''Kalau Pak Hamzah, tidaklah. Kan, masih banyak yang lain,'' katanya kepada Luqman Hakim Arifin dari Gatra. Toh, penolakan ini tak menyurutkan langkah Puspo. Jika Hamzah menolak, menurut Puspo, masih ada kandidat lain. Ia yakin, gerakan memasyarakatkan poligami yang dirintisnya bakal berhasil.

Keyakinan itu tentu masih harus diuji. Faktanya, selain dukungan, yang menentang juga tak kurang. Misalnya, kala digelar ''Puspoligami'' di radio Bandung, News FM. Dari 15 penelepon, mayoritas tidak setuju dengan praktek poligami. Malah ada yang memaki-maki pengelola radio ini. ''Kalau masih jadi sponsor, kami tak mau dengar radio itu lagi,'' ujar seorang ibu, dengan suara lantang. Ia tak setuju poligami, karena wanita hanya jadi korban.

Radio tersebut, tiap akhir bulan, memang khusus mengundang Puspo untuk berbicara soal tetek-bengek poligami. Ia menyebutkan, talkshow ini memang salah satu media kampanyenya. Toh, Puspo menampik tudingan telah membeli jam siaran radio di tatar Sunda itu. Tiap kali tampil, ia didampingi narasumber lain. Tapi, biasanya, ya, pendukung berat poligami.

Tempo hari, kala acara ini berbuah penentangan, Puspo dikawani Thabrani Shobirin, dosen syariah Universitas Islam Negeri Jakarta, juga Ketua Majelis Tablig dan Dakwah Khusus (MTDK) Muhammadiyah Jakarta. Di DPP, Thabrani jadi wakil ketua untuk bidang yang sama. ''Poligami memang harus disosialisasikan,'' katanya. Selama ini, menurut Thabrani, terjadi salah persepsi: poligami dianggap tabu, bahkan dianggap melanggar hukum.

Sikap Thabrani ini sebenarnya di luar kelaziman orang Muhammadiyah. Wacana poligami di sini belum populer, ''Karena warga Muhammadiyah banyak yang jadi pegawai negeri,'' kata Thabrani. Untuk berpoligami, pegawai negeri sipil dibatasi Peraturan Pemerintah (PP) 10 Tahun 1983, yang kemudian disempurnakan menjadi PP 45 Tahun 1990. Jika dilanggar, ancamannya pemecatan. Kalaupun tidak sampai di-PHK, ya, jangan harap bisa naik pangkat. Pendeknya, poligami semacam dosa yang tak terampunkan.

Kondisi inilah yang akan diterobos Thabrani. ''Kebekuan pemikiran soal poligami harus dicairkan,'' katanya. Untuk itulah, pada 26 Maret lalu MTDK menggelar seminar bertajuk ''Poligami dan Keadilan Islam''. Karena merasa punya misi yang sama, Puspo yang menjadi pembicara juga sebagai sponsor.

Seorang peserta, sebut saja bernama Hakim, mengutarakan pernah minta izin kepada istrinya untuk kawin lagi. ''Ma, gimana kalau saya menjalankan sunah Nabi, yaitu poligami,'' katanya. Istri Hakim menjawab: ''Lebih baik jalankan sunah yang lain dulu. Masih banyak yang belum dikerjakan.''

Kisah Hakim ini disambut hadirin dengan ger-geran. Mendengar pengakuan itu, Puspo pun mengutarakan kiatnya. Maka, ''Salehkan dulu istri Anda. Pasti dia akan menerima suaminya kawin lagi.'' Pembicara lain, Sitoresmi Prabuningrat, menimpali, ''Istri Anda perlu ditanya mau surga yang lebih tinggi atau tidak. Kalau mau, izinkan suamimu berpoligami,'' katanya.

Boleh jadi, Sitoresmi terlampau menyederhanakan masalah. Faktanya, dari tahun ke tahun perceraian yang disebabkan poligami cenderung meningkat (lihat tabel). Penyebabnya macam-macam. Yang pasti, tentu bukan karena si wanita tidak memimpikan masuk surga.

Sementara kalangan memang masih memandang sinis poligami, apalagi kalau sampai dikampanyekan. Penyair Acep Zamzam Noor sempat usil memasang spanduk di kota Tasikmalaya, Jawa Barat: ''Dengan visi religius Islami, memasyarakatkan poligami''.

Hasilnya? ''Wah, ternyata saya diprotes banyak orang, terutama kaum ibu,'' kata putra KH Ilyas Rukhiyat, pengasuh Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, itu. Padahal, menurut dia, spanduk itu niatnya hanya untuk menyindir birokrat, termasuk Bupati Tatang Nuhmin. ''Nggak jelas berapa, tapi ia punya istri lebih dari dua,'' katanya kepada Sulhan Syafi'i dari Gatra.

Simak juga kisah mantan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Khofifah Indar Parawansa. Ketika jadi menteri, dia sering mengkritisi Undang-Undang Perkawinan Tahun 1974 dan PP 10 Tahun 1983, yang dianggapnya sudah kedaluwarsa. ''Sikap itu diartikan saya mendukung poligami,'' kata Khofifah kepada Astari Yuniarti dari Gatra .

Celakanya pula, teman-temannya malah mencurigainya sebagai istri kedua. ''Mereka menduga saya korban poligami,'' ujarnya, sambil tertawa. Ia mengaku tak setuju dengan poligami, meskipun agama memberi peluang. ''Banyak kisah duka,'' kata Ketua Lembaga Pemenangan Pemilu Partai Kebangkitan Bangsa itu.

KH Arifin Ilham, pimpinan Majelis Zikir Az-Zikra, menyebutkan bahwa poligami memang halal dari kacamata Islam. ''Tapi, Arifin tidak menganjurkannya,'' katanya. Soal poligami tak pernah jadi topik pengajiannya. Di Indonesia, menurut Arifin, poligami potensial menimbulkan keretakan rumah tangga. ''Poligami sekarang ini lebih didasari libido,'' katanya.

Memang, di Tanah Air, para poligamor cenderung mengabaikan izin istri bila ingin kawin lagi. Dengan kata lain, menurut Arifin, itu poligami sepihak. Orang Arab pada masa Nabi memang tidak membutuhkan izin. ''Tapi, semua istri sudah maklum akan dimadu,'' katanya. Berbeda dengan tradisi di Indonesia. Hatta izinnya diberikan, tapi bukan berarti dia ikhlas dimadu. ''Siapa yang tahu isi sanubari istri-istri itu,'' kata Zaitunah Subhan, staf ahli bidang agama pada Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan.

Atas dasar itu pula, Arifin Ilham tidak begitu saja mengizinkan anggota Titian Keluarga Sakinah Az-Zikraa --biro jodoh yang dikelola jamaaah Az-Zikraa-- disunting laki-laki yang sudah beristri. ''Kecuali dengan alasan kuat,'' katanya. Misalnya, istri sakit berat sehingga tidak bisa melayani suami.

Hidayat Tantan, Asrori S. Karni, dan Mujib Rahman
[Laporan Utama, GATRA, Nomor 23 Beredar Senin 21 April 2003]

URL: http://www.gatra.com/2003-04-21/versi_cetak.php?id=27357