spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
spacer
spacer
WISATA & HIBURAN
spacer
 
Manipulasi Halal Menggaet Clubber

Clubbing Scene (GATRA/Novie Sartyawan)NAMANYA Biosampler. Meski baru muncul dua tahun lalu, kelompok asal Bandung ini cepat melekat di telinga para penyuka party zone dan clubbing scenes. Kedua istilah ini digunakan komunitas clubber yang bosan dengan clubbing di kafe atau diskotek. Mereka memilih "pesta" di tempat terbuka. Pilihannya bisa sangat tak terduga: di bibir pantai, bisa juga memanfaatkan gedung yang belum selesai.

Di wilayah inilah Biosampler mendaki ketenaran. Para pemujanya menyebut mereka "DJ Underground", sekadar untuk membedakan dengan DJ-DJ top yang biasa unjuk gigi di tempat-tempat mapan, seperti DJ Winky, DJ Anton, DJ Naro, DJ Riri, dan seabrek nama beken lainnya. Mereka mampu membawa sekitar 1.000 clubbers dalam setiap party yang melibatkan mereka.

Biosampler sendiri menyebut mereka sebagai visualisasi jockey. "Kami bisa menampilkan visualisasi jockey dari pukul tujuh malam sampai pukul lima subuh," kata Sulasmoro, seorang "petinggi" Biosampler. Sajian mereka memang agak lain. Pendekatannya tak hanya dentuman audio, melainkan juga video. Mereka pun tak menganyam house music atau progresive music, tapi mengeksplorasi segala macam bebunyian. Hal yang lazim dilakukan para penggiat musik kontemporer.

Adapun stok gambar diambil dari game, browsing di internet, atau dengan bidikan handycam sendiri. "Semuanya kami manipulasi secara halal," kata Moro, panggilan akrab Sulasmoro. Tak hanya menggelitik kuping para clubbers, Biosampler yang beranggota delapan DJ ini juga menggelitik wacana seni kontemporer Indonesia. Mereka diundang untuk tampil dalam pembukaan CP Bienalle 2003, yang disebut-sebut sebagai bienalle terbesar dalam sejarah seni rupa Indonesia.

Clubbers; Berburu Scene & DJ (GATRA/Suci Wulan Dini)"Panitianya bilang kami ini adalah terminologi baru untuk new art media. Terdengar keren, ya," kata Moro, sambil terkekeh. Bagi dia, Biosampler biasa-biasa saja. "Kerjanya seperti DJ, tapi digabung dengan video art. Bekal mereka untuk main di multimedia lumayan. Mulanya Biosampler hanyalah komunitas lulusan seni rupa ITB yang hobi ngulik komputer: pintar memanipulasi gambar dan musik. Sampai suatu hari, sebuah event organizer dari Jakarta membuat pesta clubbing bertajuk "Sub Space". Tempatnya bukan di kafe atau klub-klub di hotel berbintang.

"Pertama kali kami menunjukkan visualisasi jockey kami itu di Terowongan ITB," tutur Moro. Saat itulah mereka sepakat membuat nama Biosampler sebagai label komunitas mereka. Mereka terdiri dari Moro, Conat, Pumpung, dan kembarannya, Punjung, Khemod, Iweng, Megadeth, dan Gustaf. "Wah, jangan tanya nama asli mereka ke gue. Yang gue tahu cuma nama panggilannya," kata Moro, sekenanya. Mereka berdelapan ini tinggal serumah di daerah Muararajeun yang disewa sekaligus untuk kantor Biosampler.

Awalnya, Biosampler banyak main di wilayah performance art sampai akhirnya merambah ranah hiburan. "Karena kerja kami tidak sekadar video mixer, kami kemudian mencoba media party live," tutur Moro. Tapi, karena waktu itu klub-klub mapan pada umumnya sudah punya DJ sendiri, lengkap dengan tata lampu untuk suasana, Biosampler mengambil jalan alternatif.

"Awalnya kami membuat party sendiri," kata Moro. Ini dimaksudkan untuk memperkenalkan Biosampler pada komunitas-komunitas underground di Bandung. Karena itu, tempat yang dipilih pun, lagi-lagi, di Terowongan ITB. "Kami lebih suka main di public space," tutur Moro. Ruang yang disulap jadi arena pesta itu membuat armadanya leluasa berimprovisasi.

Mereka mengaku malas main di klub-klub yang sudah mapan. Soalnya, klub-klub seperti ini pada umumnya sudah punya format ruang dan tata lampu. Ini membuat Biosampler kesulitan mengemas art work-nya. Sepanjang sejarahnya, Biosampler pernah main di Perpustakaan British Council, Goethe Haus, Gedung PLN, dan pernah juga main di gedung yang belum rampung pembangunannya di daerah Taman Ria Senayan, Jakarta.

DJ Anton (GATRA/Suci Wulan Dini)Setelah tenar di kalangan clubber, Biosampler kerap diundang ke berbagai party zone, dan berkolaborasi dengan DJ-DJ tenar lainnya. Mereka juga beberapa kali mendapat kesempatan main di klub-klub seperti Retro di Crowne Plaza Jakarta dan Studio East, Bandung. Setelah sukses jadi "DJ Underground", anak-anak Biosampler dengan label "Cerah Hati" membuat klip video band-band indilabel.

Mereka pun sukses menyabet penghargaan "MTV Video of The Month" lewat video Secret Admirer-nya Mocca. Selain Mocca, Cerah Hati pernah pula menggarap video band Caffein, 7 Kurcaci, Koil, dan Bahamas. "Kami memang banyak mengerjakan klip video band-band underground," kata Moro. Alasannya: pingin jadi bagian subkultur.

Berapa tarif Biosampler? "Kami tak pernah menentukan tarif. Biasanya pentas dibawa teman," ujar Moro. Harga pertemanan itu bisa dipastikan bernilai jutaan rupiah.

Clubbing sekarang ini sudah menjadi industri besar. "Tadinya hanya merupakan subkultur atau underground. Sekarang orang sudah bisa menerima bahwa itu adalah part of society," kata DJ Anton kepada Eric Samantha dari GATRA. DJ kini bukan lagi sekadar hobi. "Bayaran DJ-DJ lokal untuk dua jam aksinya di event-event party berskala besar Rp 3 juta-Rp 6 juta," kata Faried, yang sudah lebih dari dua tahun bergelut dalam industri clubbing scenes ini.

Nilai tawar seorang DJ tergantung kepiawaiannya memikat hati para clubbers. Tak ubahnya pendongeng, ia harus mampu mengantarkan audiens ke dalam sebuah cerita dengan alur yang bisa dinikmati, tak membosankan dan menarik simpati. Kemampuannya memilih lagu, menggabungkan dan menyajikannya kepada publik, akan menentukan harmonisasi hubungannya dengan para clubbers.

DJ Winky (GATRA/Jongki Handianto)Harmonisasi itu pada tataran selanjutnya akan melahirkan sikap loyal para clubbers terhadap DJ-DJ yang dipujanya. Sehingga jangan heran seorang clubber rela melintasi jarak dan waktu hanya demi menikmati musik dan aksi DJ kesayangannya. "DJ yang digemari adalah DJ yang bisa mengerti keinginan crowd (massa)-nya," ujar Faried.

DJ Winky menyebutkan, hubungan antara para clubbers dan DJ jauh lebih erat dibandingkan dengan hubungan sebuah band dengan crowd-nya. Hubungan antara DJ dan crowd lebih cair, langsung dan akrab layaknya teman, sedangkan pendekatan band terhadap crowd cenderung patronising. "Para clubbers adalah urat nadi DJ," tutur Winky kepada GATRA.

Keberhasilan seorang DJ mengantongi antusiasme publiknya dapat diukur dengan jumlah clubber yang turun ke dance floor. "Kalau DJ-nya tak kreatif dan monoton, para clubbers akan memilih duduk, minum, ngobrol, dan pulang. Tak ada respek," ujar Odie, seorang pegawai rumah produksi yang rajin clubbing saban Rabu, Jumat, dan Sabtu setiap pekan.

Hidayat Tantan, Bambang Sulistyo, dan Asmayani Kusrini
[Prayojana, GATRA, Edisi 46 Beredar Jumat 26 September 2003]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
  
spacer
KOMENTAR PEMBACA
spacer
  
  Put Lives on your Life (anthx72@ho..., 28/09/2003 19:57)
Stop Politicizng Our Taste of Knowing Dude!!
Help us Change by Feeding Us some Changes, thats cool.
 
 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 17 October 2003 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdot1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer