|
 |
|
 |
|
NASIONAL |
 |
| |
Koneksi Antara Johor dan Ngruki
SOSOK Noor Din Mohd. Top sejauh ini belum sekondang kolega sepelariannya, Dr. Azahari bin Husin. Meski diburu aparat Malaysia sejak awal 2002, nama Noor Din baru muncul dalam khazanah teror Indonesia setelah ledakan bom JW Marriott Jakarta, 5 Agustus 2003. Perannya juga masih simpang siur. Kadang disebut perancang, komandan, atau pengelola dana. Berbeda dengan profil Azahari yang sudah kondang dicitrakan sebagai pakar bom paling berbahaya.
Nama Noor Din, 33 tahun, baru menjadi sorotan luas setelah bersama Azahari nyaris tertangkap polisi di Bandung, Rabu pekan lalu. Warga negeri jiran itu dikabarkan selalu menenteng tas pinggang yang dipercaya berisi bom. Reputasinya pun meroket, menyusul Azahari, sebagai hantu teror paling menakutkan. Bila citra ini benar, maka makin menguatkan arti penting poros Johor, Malaysia, dalam peta terorisme Indonesia. Noor Din dan Azahari kebetulan berasal dari Johor.
Sebelum buron, Noor Din tercatat sebagai pengasuh Madrasah At-Tarbiyah Al-Islamiyah Lukmanul Hakiem, Johor. Pada Januari 2002, madrasah ini dibubarkan aparat Malaysia, karena gurunya dicurigai terlibat Kumpulan Militan Malaysia --istilah yang kemudian berubah menjadi Jamaah Islamiyah (JI). Perdana Menteri Mahathir Mohamad menuding pesantren ini mengajarkan makar. "Sejak dini, para murid diajari kekerasan untuk menggulingkan pemerintah," kata Mahathir.
Langkah Mahathir itu dinilai sebagai sekadar tindakan otoriter untuk menekan oposisi. Beberapa wali murid dan bekas santri yang ditemui GATRA setahun lalu heran mengetahui pembubaran ini, karena kurikulumnya sama saja dengan sekolah negeri. Tak ada yang aneh. "Setelah ditutup, anak saya pindah ke sekolah kerajaan, ternyata pelajarannya sama," kata Abdul Latief, wali murid yang merangkap pegawai pesantren.
Pelajaran ekstra di Lukmanul Hakiem, menurut anaknya Latief, bernama Afif, hanya olahraga, lomba pidato, dan kemping. Ada juga metode unik untuk menanamkan mental tangguh pada santrinya. Yaitu dengan cara memendam santri sampai batas leher di tengah hutan. Seolah mereka akan dikubur. Dengan cara ini, pada santri ditanamkan sikap tak takut mati.
Dalam perkembangannya, bermunculan fakta baru bahwa sejumlah tersangka dan terpidana teroris di Indonesia pernah "singgah" di pesantren Lukmanul Hakiem. Azahari dan Wan Min Wan Mat (penyuplai dana bom Bali), misalnya, tercatat sebagai dewan direktur. Pendiri dan pengasuh pertama pesantren ini adalah Mukhlas (terpidana bom Bali) setelah minta arahan Abu Bakar Ba'asyir dan Abdullah Sungkar --para guru Mukhlas di Pesantren Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah.
Amrozi juga mengalami militansi keagamaan setelah belajar pada kakaknya, Mukhlas, di sana. Nama Hambali, Imam Samudra, Idris, dan Dulmatin disebut-sebut pers Malaysia pernah mengajar atau sekadar mampir di pesantren yang terletak di tengah kebun kelapa sawit itu. Maka, bisa dipahami bila Pemerintah Malaysia membidik pesantren itu, meski waktu itu baru memakai tuduhan makar, bukan teror.
Imam Samudra pernah menjadikan Johor Bahru sebagai pangkalan operasi teror. Meskipun, ia tak menyebut pangkalan itu di Pesantren Lukmanul Hakiem. Dari Johor Bahru, Imam Samudra ke Batam, Jakarta, lalu balik ke Johor. Agendanya kadang survei lokasi. Kalau sudah siap, ya, digelar aksi.
Akhir tahun 2000, timnya meledakkan sejumlah gereja di Batam. Juli 2001, giliran mengebom Gereja Santa Ana dan Gereja HKBP di Jakarta Timur. Usai ngebom, ia kembali ke Johor, untuk bersembunyi, beristirahat, sekaligus merancang aksi lanjutan.
Tak ayal, Pesantren Lukmanul Hakiem kerap menanggung stigma sebagai "produsen teroris" di Malaysia. Siapa pun yang pernah mengajar atau menjadi pengurus bisa diburu polisi Malaysia. Senasib dengan stigma Pondok Ngruki di Indonesia. Padahal, hanya karena ulah segelintir alumnus atau pengelolanya yang terlibat aksi terorisme seperti Mukhlas, Fathur Rohman Al-Ghozi, Asmar Latin Sani, dan Tohir.
Madrasah Lukmanul Hakiem bisa disebut duplikat Pondok Ngruki di Johor. Selain dikelola alumni Ngruki, juga mengajarkan model keislaman salafi ala Ngruki. Hal ini dibenarkan Hilmy Bakar Almascaty, murid Ba'asyir. "Apa salahnya mendirikan pesantren model Ngruki. Saya juga bikin tiga pesantren gaya Ngruki di Nusa Tenggara Barat," kata Hilmy. Wajar bila Lukmanul Hakiem juga berfungsi semacam pos persinggahan para jamaah yang pernah mengaji pada dua pendiri Ngruki: Ba'asyir dan Sungkar.
Dalam laporan International Crisis Group edisi Agustus 2003, Sidney Jones menilai pembentukan jaringan pesantren sejenis itu menjadi instrumen penguatan pertalian antar-penyokong JI dan wadah regenerasi. Selain Lukmanul Hakiem, Johor, menurut Sidney, ada tiga pesantren lagi yang masih satu jaringan dengan Ngruki. Yaitu Al-Muttaqien (Jepara), Darus Syahadah (Boyolali), dan Al-Mukmin (Lamongan).
Ideologi jihad yang tertanam di berbagai pesantren itu kemudian ditempa dalam pelatihan langsung di medan perang Afghanistan. Mulai 1985 sampai 1995, menurut laporan Sidney, ada 3.000-an orang Indonesia yang berlatih di Afghanistan. Ketika Afghanistan mulai dilanda perang saudara, mereka pindah berjihad ke Moro, Filipina Selatan. Ketika meletus konflik Ambon dan Poso, mereka juga terjun. Para veteran jihad inilah yang kemudian menjadi pemimpin JI atau pelaku sejumlah aksi pengeboman.
"Polisi Indonesia memang telah berhasil merusak jaringan Jamaah Islamiyah secara serius," tulis Sidney. "Tapi, pengeboman JW Marriott membuktikan organisasi ini masih mampu merencanakan dan menggelar operasi penting." Meski sejumlah tokoh pentingnya telah dibekuk di berbagai negara Asia Tenggara, termasuk ditangkapnya Hambali dan ditembaknya Al-Ghozi, menurut Sidney, JI terus merekrut kader baru. Munculnya nama Asmar, Tohir, dan Taufik Rifki menunjukkan hal itu.
Menurut Hilmy Bakar, "santri kalong" Ngruki dan pernah ke Afghanistan, terlalu gegabah mencap seluruh murid Ba'asyir-Sungkar serta setiap alumnus Afghanistan sebagai teroris. "Posisi mereka ini membela sesama muslim yang ditindas," kata Hilmy. Kepergian mereka ke Afghanistan juga resmi. Jumlahnya ribuan. "Masak hanya karena ada sedikit oknum yang berbuat teror, lalu semua mantan mujahidin Afghan dipukul rata. Banyak dari mereka yang kini menjadi warga biasa," ujar Hilmy.
Pengikut Ba'asyir dan Sungkar, bagi Hilmy, adalah massa yang cair. Pandangannya tak seragam. Bahkan, antara Sungkar dan Ba'asyir juga terjadi perbedaan pandangan dalam mendefinisikan jihad dan penegakan syariat Islam. Ba'asyir menolak jihad dengan cara kekerasan, dan penegakaan syariat Islam tak harus lewat negara Islam. Sedangkan Sungkar cenderung memaknai jihad dengan cara kekerasan dan pembentukan negara Islam sebagai keharusan.
Peserta pengajian Ba'asyir-Sungkar pun ada yang menempuh jalur kekerasan, seperti Hambali, Mukhlas, dan Imam Samudra. Ada juga yang memperjuangkan syariat Islam lewat prosedur demokrasi, seperti mereka yang tergabung dalam Majelis Mujahidin Indonesia. Hilmy Bakar pun menyebut diri sebagai pengikut Ba'asyir yang mengembangkan jalur intelektualitas.
Sedangkan istilah JI, kata Hilmy, hanya wacana biasa untuk membangun masyarakat ideal. "Belum menjadi organisasi yang solid," kata lulusan Universitas Kebangsaan Malaysia itu. "Kalau mau mengungkit JI, semestinya yang disorot kelompok Al-Arqam pengikut Ashari Muhammad yang menulis buku Jamaah Islamiyah," katanya. Formula JI di kalangan Arqam jauh lebih matang ketimbang yang diperbincangkan para jamaah pengajian Ba'asyir dan Sungkar.
Polisi punya catatan tersendiri terhadap komunitas ini. Dari penemuan dokumen di Jalan Taman Sri Rezeki, Semarang, 11 Juni lalu, polisi mencatat bahwa jaringan komunitas militan di Indonesia telah menyebar. Kepala Kepolisian Daerah Jawa Tengah, Inspektur Jenderal Polisi Didi Widayadi, menilai kelompok itu terbagi tiga model perjuangan.
Pertama, kelompok dengan tipe perjuangan berdakwah. "Mereka tanpa kekerasan, tapi tetap menginginkan terbentuknya kekhalifahan Islam di Asia Tenggara," kata Didi. Kelompok kedua memilih perjuangan garis keras, namun lebih bersifat penggalangan. "Dan menebar ideologi jihad yang destruktif," kata Didi lagi.
Ketiga, kelompok sempalan yang punya mental nekat membawa bom bunuh diri. Mereka sering mengambil keputusan sendiri dalam bekerja. Terkadang, sayap sempalan ini bersatu dengan kelompok kedua. Sayap ketiga inilah yang kini diwaspadai sepak terjangnya oleh polisi.
Hilmy Bakar tak menyangkal adanya faksi garis keras di kalangan peserta pengajian Ba'asyir-Sungkar atau kalangan alumni mujahidin Afghanistan. "Mereka orang yang memiliki ghirah jihad sangat tinggi, tapi kurang berpikir smart, sehingga terjebak menjadi korban permainan," katanya. Ia menyebut sosok seperti Hambali, Al-Faruq, dan Azahari sebagai contoh.
Meski kelompok keras ini hanya salah satu faksi atau faksi sempalan dari jamaahnya Ba'asyir-Sungkar, ketika hendak merekrut kader baru, mereka tetap memakai bahan mentah dari murid-murid pesantren model Ngruki. Santri yang berideologi jihad militan itulah yang dengan mudah bisa dipoles menjadi mujahid berani mati. Seperti Asmar Larin Sani dan Tohir yang belum lama bergabung dengan kelompok Azahari.
Maka, kolaborasi pelarian Azahari, Noor Din, Tohir, dan Ismail di Bandung belakangan ini menunjukkan kerja sama dua generasi dari simpul Johor dan Ngruki.
Asrori S. Karni
[Laporan Utama, GATRA, Edisi 52 Beredar Jumat 7 November 2003]
|
|
 |
|
BERITA TERKAIT |
|
 |
| |
Dasamuka Menghilang di Jalan Tikus
Mereka Tak akan Berhenti
|
|
 |
 |
|
| | |  | | KOMENTAR PEMBACA |  | | | | | |
ck.....ck.......ck (Drs. Yanto) (homegirl92504, 14/11/2003 18:10) Haaaaaaaaaaaaaa???
Anda setuju untuk diberantas????
Jangan begitu dong bapak Doktorandus. Kami masih membutuhkan bapak.
Yang memalukan bangsa dan negara diberantas. Kapan dong mulainya, pak?
Martha Rumimper | |  | | | | | |
NGRUKI akan tetap berdiri (ariesslo@ya..., 14/11/2003 01:44) selama hamzah Haz masih bisa berdiri. Hidup pelindung telor. | |  | | | | | |
Mas Taufik, Ngruki ditutup? NEVER! (colonel_america@ho..., 13/11/2003 15:28) Mas Taufik sudah lupa, otak Unto, makan Kurmo, bau Jengkol dan ngoyot PETE, diwolak walik, dibanting kiri kanan, Ngruki itu akan jaya. Karena dipimpin oleh orang dari Hadramaut, yang dianggap keturunan Nabi kita yang kita hormati, tapi Hadramaut itu dipantai kang, bukan didalam, jadi kalau mikir betul, orang Pantai disembahi, dimintai nasehat, disowani ama orang Kedua, apa akan ditutup?? Kalau Ngruki ditutup, pasti Indonesia bisa GEMAH RIPAH LOH JINAWI--sekolah bom2 ditutup, korupsi mundur, dan ... <906 huruf lagi> | |  | | | | | |
Fik, lu tahu ape, ame semangat ngusir penjajah ? (tukangkepruk@pl..., 13/11/2003 05:11) Fik...lu kagak usah jawab ..., kagak perlu...!!
Yang perlu anda tahu bahwa antara islam garis keras yang gue maksud dengan "islam garis keras" yang elu maksud memang beda , tujuan dan konteks dari orang yang menyebutnya.
Kalau Islam garis keras yang saya maksud adalah :
" Tegas dan Tanpa kompromi dengan Penjajah " kalau sekarang memang tidak ada penjajah phisik, cuman yang ada "unsur-unsur asing yang sengaja memecah belah Indonesia dengan membangun opini dan Upaya "penekanan" ( represif ) dan... <1318 huruf lagi> | |  | | | | | |
ck..ck..ck..ck.. (drs_yanto_d@ya..., 13/11/2003 03:56) Hebat juga ya koneksi antar negara,antar daerah dengan canggih sekali...
Tapi bukan untuk membangun Indonesia lho, tapi untuk MERUSAK INDONESIA.
MEMALUKAN ! MEMALUKAN !
Wajah2 yang tidak bisa dibanggakan alias dijadikan pahlawan bangsa, tapi AIB BANGSA, kalian jadi bisul bangsa.
BERANTAS saja yang begitu2an, yang menyebut dirinya radikal DIBERANTAS saja, memalukan bangsa dan agama.
SAYA SETUJU UNTUK DIBERANTAS !! | |  | | | | | |
Kapan ya ? (taufik@ho..., 13/11/2003 02:16) Kapan ya kira-kira impian si tukang kepruk bakal terwujud ? Saya yakin bila pola pikir anda yang selalu membela teroris seperti ini terus anda lakukan maka impian anda hanya tinggal impian sehingga saya tidak perlu lagi menjawab pertanyaan anda, karena teroris sendiri akan membuat bangsa Indonesia kian terpuruk lebih buruk daripada saat ini sehingga konsekwensinya kita akan tambah tergantung dengan amerika dan sekutunya. Jadi apa saya perlu menjawab pertanyaan anda ? Ingat bung ini abad 21 bukan... <214 huruf lagi> | |  | | | | | |
datanglah ke Amrik (lion_desert12000@ya..., 13/11/2003 01:53) pergilah ke Amrik, tebarkan bom disana, di pentagon, di gedung putih dan dikelompok-kelompok yahudi yang selalu memusuhi Islam.... | |  | | | | | |
Buat Taufik ...apakah anda konsisten ? (tukangkepruk@pl..., 12/11/2003 22:14) Apakah anda konsisten ?
Jika suatu saat nanti situasi berbalik :
Amerika runtuh akibat "kesombongannya"; Israel tidak bisa lagi "mengandalkan Hegemoni amerika ";
Indonesia kembali menjadi Negara yang kuat ,Berdaulat serta punya pemimpin yang berkharisma ; Sekarang ini Negara kita terpaksa " ikut arus amerika " karena posisi tawarnya agak lemah , sehingga terpaksa mengambil "resiko terkecil" dengan mengorbankan sebagian kecil rakyat indonesia, yang sebelumnya "dibentuk Opini " punya kesalahan ber... <1153 huruf lagi> | |  | | | | | |
Tendensius (ah_yg_bener, 12/11/2003 12:10) Tulisan ini tendensius. Sengaja menguhubungkan ngruki dan johor. Agar gruki ditutup? Sungguh naif penulisnya.
Jangan bodoh, ketahuilah, mereka pelaku Bom yg siap mati berjihad itu adalah binaan CIA meskipun mereka tidak menyadarinya. Mereka mengikuti guru/pemimpinnya yg mereka sendiri tidak tau siapa dan dimana pemimpinnya itu, soalnya berlaku sistem akar (bawahan tidak perlu tau atasan). Nah pemimpin itu adalah agen CIA. | |  | | | | | |
Bukan STIGMA kang, Mata Pelajaran POKOK: Teror! (colonel_america@ho..., 12/11/2003 08:29) Stigma itu bisa diberantas dengan peraturan dan KEINSYAFAN dari para pendidik kedua Madrasah. Tetapi kalau para pemimpin membiarkan dan malah menyokong Islam Palsu yang diajarkan oleh para Penchianat Islam ala si Kafir Iblis OSAMA dan centengnya si Sandal Jepit Kerangkeng Bui, dimana keduanya TAKUT Mati Konyol, namun membiarkan dan membanggakan kalau anak buah MAMPUS masuk ke NERAKA, well, pimpinan yang tidak mempunyai SERAT MORAL yang tinggi, tapi berfikir setara KRIMINAL Mafia. Tetapi ada beda... <353 huruf lagi> | |  | | | Daftar Seluruh Komentar
| |
 |
|