TEKNOLOGI & SAINS [ GATRA Printed Edition ]

Pornografi
Seratus Kurang Satu Persen

POLISI siber akhirnya menyentuh artis. Kalau sebelumnya cuma berurusan dengan para hacker (pendobrak situs internet) atau pembobol kartu kredit (biasa disebut carder), Selasa lalu satuan polisi khusus itu bertatap muka dengan Sukma Ayu. Bintang sinetron Kecil-kecil Jadi Manten yang, sesuai dengan namanya, memang ayu ini diperiksa sekitar tujuh jam di Ruang Cyber Crime, Kepolisian Daerah Metro Jaya.

Putri bungsu bintang film kawakan Nani Wijaya ini didampingi pengacara artis Henry Yosodiningrat. Keluar dari ruang pemeriksaan, ia langsung disergap belasan wartawan infotainment yang sepekan ini sibuk menguber berita "empat gambar tak senonoh" Sukma Ayu dengan bekas pacarnya, Bjah, yang beredar luas di internet.

Walau tampak kalem, gadis manis berusia 25 tahun itu tampak gundah. Ia kembali mengaku bahwa foto mesum itu bukan dirinya. "Gue tahu potongan tubuh gue," kata artis yang namanya melonjak gara-gara tampil dengan potongan rambut plontos ala Ronaldo ini. Bjah, yang dipanggil polisi sehari kemudian, juga tak merasa pernah berpose seperti itu. Ia menyebutnya karya rekayasa seniman internet. "Gue nggak pernah melakukan itu. Orang gila kalau ada yang mau seperti itu," kata vokalis grup musik anak muda The Fly itu.

Tapi polisi punya keyakinan lain. "Kami yakin itu bukan hasil rekayasa," kata Kepala Satuan Cyber Crime, Ajun Komisaris Besar Polisi Petrus Reinhard Golose, kepada Sujud Dwi Pratisto dari GATRA. Apalagi, polisi sudah mendapat dukungan pakar telematika dari Yogyakarta Roy Suryo, redaktur foto Kompas Arbain Rambey, dan ahli editing foto John Tefon. "Dari keterangan saksi ahli, kami makin yakin," kata Petrus.

Samuel Sunanto, fotografer yang biasa mengambil gambar para artis, menuturkan pandangan serupa. Ia menelusuri beberapa sisi teknis fotografi. Pertama, menurut dia, gambar-gambar itu diambil dalam penerangan lampu kamar. Kedua, ia melihat sudut pengambilan gambar hanya bisa dilakukan tangan Bjah dan menggunakan lensa sudut lebar (lensa yang ada pada telepon seluler --ponsel).

Ketiga, dari sisi warna dan resolusi, gambar itu sangat kentara hasil bidikan ponsel kamera. Terlihat dari noise digital, ketajamannya buruk, serta shaking (kecepatan diafragmanya rendah karena penyinaran kurang). Dan keempat, katanya, ekspresi Sukma di foto itu sendiri. Fotografer bilang, itu decisive moment. "Momen yang terlalu sempurna untuk sebuah hasil manipulasi. Model profesional pun butuh usaha keras untuk meniru sesuatu yang sangat alamiah di foto itu," kata Samuel. Kesimpulannya, "Saya yakin 99% itu asli, 1%-nya kalau di Indonesia ada ahli animasi seperti yang membuat film Swordfish," katanya.

Yang lebih menohok Sukma adalah keterangan Roy Suryo. Ia mengaku mendapat kiriman e-mail empat foto mesum itu, 31 Januari lalu, tapi baru membukanya 3 Februari dan langsung mengusut. "Itu karena Sukma Ayu belum-belum sudah menyalahkan teknologi internet," katanya.

Roy menelisik asal mula foto itu dengan melihat metadata-nya, yakni identitas sebuah file digital. Di situ tercantum merek dan jenis kamera, waktu pengambilan gambar, jenis software yang digunakan, panjang lensa, diafragma, kecepatan, juga resolusi gambar tersebut. Semua pabrikan kamera digital langsung memberikan metadata tak lama setelah dibidik. Metadata disembunyikan di header di ujung file gambar itu. "Jika tak ada metadata, berarti bukan hasil kamera digital atau gambarnya sudah diedit," kata Roy.

Penelisikan itu tak butuh waktu lama. Dalam hitungan menit, Roy langsung sampai pada kesimpulan. "Keempat foto itu diambil 10 Februari 2003 dengan telepon Nokia 7650 yang masih memakai software lama versi 3.16," kata Roy. Malah, lanjut Roy, foto itu diambil berurutan di pagi buta: 03.36.54 WIB, 03.37.51 WIB, 03.47.34, dan terakhir 04.00.23.

Menurut Roy, metadata merupakan sarana paling akurat untuk melihat keaslian gambar. Karenanya, Roy tak merasa perlu menelisik tampilan fisik foto. Apalagi, lanjutnya, kemajuan teknologi membuat rekayasa gambar bisa mengelabui mata. "Makanya, saya lebih melihat forensik alias data fisik file tersebut," katanya.

Tapi, benarkah metadata tak bisa diubah? Menurut Roy, bisa saja dilakukan oleh hacker yang jago. "Tapi masih bisa dilacak karena format header berubah," katanya.

Namun GATRA mencoba mengutak-atik metadata beberapa foto dari kamera digital ponsel, dan jepretan beberapa merek dengan peranti EditPlus, juga WinHex (yang umum ada di Windows), proses pergantian metadata bisa berlangsung dalam hitungan detik (lihat: Membuka dan Mengedit Metadata). Karena itu secara teknis, pintu belum tertutup bahwa foto itu hasil karya seniman lihai yang superjail.

Karena itu, Henry Yosodiningrat tak kecut dengan pemeriksaan panjang atas Sukma. "Apa pun kata orang, silakan. Yang penting, nanti dibuktikan di pengadilan," katanya. Sukma sebenarnya tak mau berpanjang lebar dengan kasus ini, dan tak pula perlu lapor polisi. "Lu tahu sendiri kan, kalau di internet, sulit melacaknya. Biarin aja-lah, yang penting bukan foto gue," katanya.

Toh, meski tak dilaporkan, menurut Petrus Golose, empat foto yang diperoleh tim "cyber patrol" itu akan diusut. Walau tak dilaporkan, menurut dia, publikasi gambar itu sudah merupakan delik pornografi yang bukan delik aduan. "Jadi, tanpa ada laporan pun, polisi bisa melakukan penyelidikan," ujarnya.

Menurut Petrus, penyelidikan terhadap Sukma dan Bjah penting untuk mengungkap siapa yang menaikkan gambar mesum itu ke internet. Kalau ternyata bukan mereka, lanjut Petrus, polisi akan mencari pelakunya. "Ini soal teknologi informasi, harus pelan-pelan. Tapi kami yakin, semua jejak bisa ditelusuri," katanya.

Dani Hamdani dan Astari Yanuarti
[Multimedia, GATRA, Edisi 15 Beredar Jumat 20 Februari 2004]



Membuka dan Mengedit Metadata

Membuka Metadata
Membuka metadata bisa dilakukan dengan beberapa program, seperti Extref Reader dan ACDSee. Dengan ACDSee versi 4.0, cara membuka metadata terbilang gampang.
  1. Buka ACDSee;

  2. Buka gambar yang akan dilihat metadata-nya;

  3. Klik properties di ujung kanan atas;

  4. Akan muncul layar kecil dengan tiga submenu: database, metadata, dan file. Jika gambar itu tak memiliki metadata, yang muncul hanya dua submenu. Arahkan kursor ke metadata dan klik. Selesai.
Mengedit Metadata
Mengedit metadata kami lakukan menggunakan peranti penulis teks EditPlus. Lebih baik lihat dulu metadata dengan empat langkah di atas. Itu untuk meyakinkan bagian mana dari data di balik file itu yang akan diubah. Selanjutnya:

  1. Buka file foto yang akan diubah metadata-nya dengan EditPlus;

  2. Lalu pilih bagian yang akan diubah;

  3. Lakukan perubahan, tapi jangan sampai terjadi penambahan spasi. Jadi, perubahan hanya dengan mengganti huruf, tidak menambah atau mengurangi karakter. Bila menambah, biasanya metadata hilang atau malah foto tak bisa dibuka sama sekali;

  4. Setelah dilakukan perubahan, save file foto tersebut. Lalu kembali lihat metadata-nya dengan empat langkah di atas.


URL: http://www.gatra.com/2004-03-06/versi_cetak.php?id=34327