NASIONAL [ GATRA Printed Edition ]

Ayu Utami Bantah Novelnya Berbumbu Seks

Surabaya, 18 Mei 2004 13:48
Novelis perempuan Ayu Utami membantah bahwa novel-novelnya, seperti Saman dan Larung berbumbu seks. Justru seks itu sendiri menjadi masalah utama dalam karya tersebut.

"Kalau seks hanya menjadi bumbu, akan banyak disensor. Seks adalah persoalan itu sendiri dalam novel-novel saya. Seks adalah satu dari sekian banyak persoalan yang saya angkat," katanya dalam sebuah seminar di Surabaya, Selasa.

Seminar bertajuk "Fenomena Pengarang Wanita dan Wacana Gender" yang diselenggarakan Fakultas Sastra dan Sains Universita Wijaya Kusuma (UWKS) Surabaya itu juga menghadirkan pakar sastra dari Unesa Dr Setya Yuwono Sudikan, MA.

Namun demikian, Ayu mengaku tidak menyangkal bahwa masalah seks kemudian menjadi dominan dalam karya-karya novelnya yang tergolong buku best seller itu.

"Mungkin karena seks secara biologis menjadi sumber diskriminatif terhadap perempuan. Misalnya soal keperawanan yang selalu dituntut oleh laki-laki. Masalah ini menjadi kontrol dari masyarakat kepada wanita agar wanita selalu bergantung pada laki-laki," ujarnya.

Perempuan kelahiran Bogor 1968 itu mengaku kurang begitu setuju kalau sastra harus menjadi guru bagi masyarakat. Ia lebih memilih sastra sebagai jalan untuk eksplorasi kreativitas, tanpa harus dibebani oleh muatan tertentu.

"Jangan terlalu sering memberi label pendidikan pada semua hal, termasuk sastra. Kalau semua terlalu dilabeli dengan pendidikan, maka tidak akan berkembang. Jadi saya lebih memilih sastra sebagai medium eksplorasi," ujar wanita yang masih melajang itu.

Mengenai pilihan kata yang vulgar dalam karya-karyanya, Ayu mengemukakan bahwa ia ingin membebaskan Bahasa Indonesia dari eufimisme (penghalusan kata) yang berlebihan.

"Karena kalau saya sering menggunakan pilihan kata yang dihaluskan, maka akan terjadi penyesatan kata. Saya tidak yakin bahwa eufimisme itu bisa menghilangkan pikiran kotor. Penghalusan kata itu justru menjadikan erotisme pada kata yang sebetulnya tidak erotis," katanya.

Sementara Setya Yuwono menganalisa bahwa munculnya banyak karya perempuan pengarang yang berbau seks itu lebih dikarenakan sebagai pemberontakan, karena sekian lama mereka dikekang, terutama di era orde baru berkuasa.

"Jadi bagi perempuan pengarang itu banyak hal yang dipersoalkan, bukan hanya masalah seks. Seks bukan masalah utama karena banyak persoalan lain, seperti sosial, pendidikan dan hukum yang juga dinilai tidak adil bagi perempuan," ujarnya.

Mengenai kaitan sastra dengan pendidikan, ia mengemukakan sangat sulit kalau segala sesuatu selalu dikaitkan dengan aspek pendidikan.

"Silahkan saja anda menjadi guru atau dosen atau orang tua yang baik untuk mendidik anak, tapi di luar sana sudah seperti itu. Apalagi dengan hadirnya dunia televisi yang sulit dibendung atau ditutup-tutupi," katanya.

Ia menceritakan, di Belanda sudah ada iklan tentang seks yang disiarkan setiap malam di televisi dan hal itu tidak menutup kemungkinan akan terjadi di Indonesia, misalnya kawasan lokalisasi Dolly di Surabaya juga akan diiklankan.

"Saya kira menunggu waktu saja, kalau Dolly itu nantinya akan diiklankan juga," ujarnya. [Tma, Ant]
URL: http://www.gatra.com/2004-05-18/versi_cetak.php?id=37370,2005