|
 |
|
 |
|
PEMILIHAN PRESIDEN |
 |
| |
Adu Kuat Dua Poros Kiai
PEMILU presiden tinggal satu hari. Meski masuk "hari tenang", rasa bimbang belum juga hengkang dari benak Abdurrahman, 45 tahun. Ahad pagi, 4 Juli itu, petani asal pinggiran Situbondo, Jawa Timur, ini bergegas sowan ke rumah KH Sufyan Miftah, Rais Syuriyah Nahdlatul Ulama (NU) Situbondo. "Saya ingin bertanya pada kiai, besok sebaiknya nyoblos siapa," kata Abdurrahman, ketika bersama Gatra menunggu di beranda rumah Kiai Sufyan.
Terlambat. Pengasuh Pesantren Manbaul Hikam, Panji Kidul --empat kilometer sebelah timur kota Situbondo-- itu telah meninggalkan kediaman sejak pagi buta. Abdurrahman sudah dengar bahwa Kiai Sufyan menyerukan memilih Wiranto-Salahuddin Wahid.
Pesantren Manbaul Hikam siang itu pun menunjukkan bukti: hanya poster Wiranto-Salahuddin yang tertempel di dinding-dinding pondok. "Justru itulah yang bikin saya bingung," katanya. "Kok sekarang PKB menggandeng Golkar dan militer yang zaman Orde Baru menindas NU?" pengelola Yayasan Yatim Piatu ini bertanya-tanya.
"Saya ingin mendengar langsung penjelasan Kiai Sufyan," katanya. "Kalau Gus Solah bersama Golkar, apakah tidak ditipu lagi. Didukung lalu dilengserkan seperti Gus Dur. Gus Dur saja bisa dijatuhkan, apalagi Gus Solah," kata Abdurrahman berapi-api. Setelah menunggu berjam-jam, seorang santri senior datang memberi kabar, "Kiai Sufyan baru pulang malam hari." Abdurrahman kecewa.
Pada santri senior itu pun, Abdurrahman curhat, "Apa betul besok kita milih Wiranto?" Murid Kiai Sufyan itu membenarkan. "Itu kesepakatan para ulama," katanya. Abdurrahman hanya geleng kepala. Pria berkumis tebal itu tak punya waktu menunggu sampai malam. Diraihnya motor bebek tua yang ia parkir di halaman masjid. Abdurrahman pergi, masih dengan setumpuk bimbang: patuh pada kiai atau menuruti kata hati.
Sampai pemilu esok harinya, Abdurrahman tak datang lagi ke Panji Kidul. Entah ia memilih apa. Ayah empat anak itu bukan lulusan pesantren. Tapi, seperti umumnya masyarakat Situbondo, ia sangat menghormati kiai sebagai referensi segala soal hidup. Baik agama, ekonomi, maupun politik. KH Sofyan, KH Cholil As'ad, dan kakaknya, KH Fawaid As'ad, tercatat sebagai tiga figur yang punya pengikut fanatik di Situbondo.
Selama ini, di kabupaten berlabel "kota santri" itu, kiai memainkan peran penting. Begitu pula di kabupaten tetangganya, seperti Banyuwangi, Bondowoso, Jember, Lumajang, Probolinggo, dan Pasuruan, yang kerap disebut kawasan "Tapal Kuda". Daerah ini dikenal sebagai basis utama warga tradisional NU dan secara politik menjadi lahan subur pemilih PKB.
Pengikut kiai bukan hanya santri dan alumni yang pernah menempuh ilmu di pesantren, juga warga sekitar, seperti Abdurrahman tadi, yang kerap mengadukan persoalannya pada kiai atau rajin menghadiri pengajian kiai dari desa ke desa. Pada musim pemilu beberapa bulan terakhir ini, tema perbincangan hangat di rumah-rumah kiai bukan soal agama, melainkan politik. Atau, politik yang dikemas dengan balutan agama.
Masyarakat Situbondo banyak yang bertandang ke Pesantren Manbaul Hikam untuk mengonsultasikan pilihan politiknya. Keputusan PKB menggandeng Golkar tidak mudah diterima warga Situbondo yang menyimpan trauma buruk dengan pilar Orde Baru itu. "Ada warga yang datang mengaku sudah telanjur sumpah tujuh turunan tak akan memilih Golkar," kata KH Zakki Abdullah, cucu KH Sofyan. "Ada lagi yang mengadu, 'Bapak saya mati gara-gara Golkar.'"
Keruwetan itu kian menyibukkan para kiai. Mereka harus jumpalitan memeras otak menemukan model penjelasan yang bisa diterima warga. Demi mengamankan titah politik elite Jakarta. "Kami bekerja keras memahamkan konstituen bahwa keputusan partai ini langkah taktis sementara, minimal untuk lima tahun," kata KH Zakki, yang juga Ketua Dewan Syuro PKB Situbondo. "Kalau soal trauma buruk pada Golkar, saya tidak berharap itu hilang dan tidak berusaha menghilangkan."
Keriuhan pembicaraan politik juga terasa di Pesantren Walisongo, asuhan KH Cholil As'ad, 500-an meter dari pusat kota Situbondo. Malam menjelang Pemilu 5 Juli lalu, usai salat Isya, 41 santri senior dikumpulkan di rumah KH Cholil. "Kiai akan memberi arahan untuk pengamanan pemilu besok," ujar Hasan, seorang santri.
Pesantren ini sebelumnya dikenal apolitik dan lebih menekankan zikir. Kiai Cholil, 33 tahun, bisa disebut "Aa' Gym"-nya Situbondo. Ceramahnya mampu menyedot ribuan pengunjung. Pesantrennya yang baru berumur 10-an tahun berkembang pesat dengan 4.000-an santri. Mungkin karena pengaruhnya yang luas, putra almarhum KH As'ad Syamsul Arifin, salah seorang pendiri NU, itu belakangan ditarik-tarik dalam kancah politik.
Soal pilihan politik, para santri sudah bulat sejak sepekan terakhir, tidak sebimbang Abdurrahman di atas. "Kami akan menjalankan kesepakatan ulama untuk mendukung Gus Wahid," kata Hasan bersemangat. Argumen "kesepakatan ulama" tampaknya menjadi salah satu alat penjelasan. KH Cholil, meski bukan pengurus PKB, ikut sibuk menyosialisasikan keputusan PKB pusat. Dalam pengajian mingguannya, Ahad, 27 Juni lalu, di hadapan para santri, ia menyisipkan kampanye memilih Gus Solah.
Menurut Hasan, KH Cholil sebelumnya ingin Golput, ikut Gus Dur. Tapi setelah Gus Dur menyerukan memilih Wiranto-Wahid, Lora Cholil juga mendukung Gus Solah. "Ini bukan pilihan pribadi. Karena para ulama sudah sepakat, saya hanya menjalankan kesepakatan ulama. Kalau mau ikut saya, silakan dukung Gus Solah," kata Hasan mengutip paparan KH Cholil.
Malam itu, poster-poster Wiranto-Wahid tampak masih melekat di jendela kaca di kamar-kamar santri Walisongo. Dukungan KH Cholil pada pasangan yang diusung Golkar itu, menurut Hasan, lebih karena Gus Solah, bukan karena Wiranto. "Kiai mengharamkan memasang poster yang tidak ada gambar Gus Solah-nya," ujar Hasan.
Imbas pilihan politik KH Cholil tidak hanya pada muridnya di pesantren, juga pada warga sekitar, baik yang rajin sowan minta doa pada kiai, para pendengar ceramah kiai, serta para orangtua santri. Tiga jenis pengikut ini, Ahad malam itu, kebetulan ada di beranda rumah KH Cholil dan berbincang panjang dengan Gatra.
Beberapa tukang becak yang lalu lalang di jalanan utama kota Situbondo, ketika berbincang dengan Gatra, juga menjelaskan kepatuhannya pada KH Cholil. Meskipun hati mereka bertanya, "Kok dengan Golkar?" Tapi mereka lebih tunduk pada kiai. "Bagi saya, kiai adalah orangtua kedua. Beliau yang menunjukkan saya pada kebaikan," kata Busyra, tukang becak yang mangkal dekat alun-alun Situbondo.
Kerja keras kiai dan keberadaan pengikut fanatik itulah yang membuat NU dan PKB kuat di Situbondo. Pada Pemilu 1999, PKB meraih 29 kursi (64,4%) di DPRD Situbondo --capaian tertinggi PKB dari seluruh DPRD kabupaten di Jawa Timur. Ketua Umum PKB, Alwi Shihab, sampai menyebut Situbondo sebagai "ruh"-nya PKB Jawa Timur.
Fanatisme warga NU Situbondo juga terlihat saat Gus Dur hendak dilengserkan. Mereka menebangi pohon di pinggiran jalan utama Situbondo-Banyuwangi. Pilar utama kiai Situbondo tidak hanya KH Sufyan dan menantunya, KH Cholil. Yang tak kalah penting adalah KH Fawaid As'ad, Pengasuh Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo --pondok terbesar se-Situbondo dengan 14.000-an santri.
Pesantren peninggalan KH As'ad yang sudah berumur seabad itu pernah menggoreskan sejarah penting: tempat NU memutuskan kembali ke khittah 1926. Jaringan alumni Sukorejo menjalar kuat di kawasan Tapal Kuda. Bila KH Cholil memiliki pengikut fanatik di Situbondo Kota (tengah), kakaknya, KH Fawaid, mengakar di Situbondo Timur (Kecamatan Asembagus dan Banyuputih).
Sinergi tiga kiai itulah yang menobatkan Situbondo sebagai "ruh"-nya PKB. Namun, dinamika politik internal sepanjang dua tahun terakhir membuat tiga pilar itu tercerai. KH Fawaid dipecat dari posisi Ketua Dewan Syuro PKB Situbondo oleh DPP PKB. Gerbongnya dihabisi. Kepengurusan PKB lebih didominasi gerbongnya KH Sofyan dan KH Cholil. Kursi DPRD PKB pada Pemilu 2004 pun hilang 8, tinggal 21 kursi (46,6%).
KH Fawaid beserta gerbongnya pindah ke PPP. Partai ini tahun 1999 tak meraih satu kursi pun, setelah dipasok pendukung KH Fawaid, bisa meraup 12 kursi (26,6%) dengan 102.000 suara. Ini membuktikan, dia masih punya pengikut setia. Langkah itu sebagai bentuk perlawanan politik terbuka pada kepemimpinan Gus Dur.
Mantan loyalis Gus Dur ini mengidentifikasikan diri sebagai penerus ayahnya, KH As'ad, yang pernah mufaraqah (bercerai) dengan Gus Dur. Sementara KH Sofyan, tahun 1989 itu, termasuk penentang mufaraqah-nya KH As'ad. Bisa dimengerti bila Gus Dur lebih bisa bekerja sama dengan KH Sofyan, bahkan menobatkannya sebagai wali.
Dalam pemilu presiden ini, KH Fawaid tidak mendukung jagonya PPP, Hamzah Haz, tapi mendukung KH Hasyim Muzadi. "Misi perjuangan saya adalah untuk NU. Di Pundak Pak Hasyim ada amanat NU. Jangan mengaku NU kalau tidak mendukung Pak Hasyim," katanya.
Bagi KH Fawaid, ke-NU-an seseorang tidak diukur oleh darahnya "biru" atau "merah". "Yang penting pengabdian dan komitmennya," kata Fawaid. "Pak Hasyim sudah 40 tahun mengabdi di NU, mulai ketua ranting sampai Ketua PBNU. Tidak mungkin dia berkhianat pada NU," katanya.
Konflik lokal kiai Situbondo menjadi kepanjangan dan cermin konflik elite NU. Ketegangan Gus Dur (yang mem-back-up Gus Solah) dan Hasyim Muzadi diikuti "santri"-nya masing-masing di Situbondo. Warga NU Situbondo menjadi bahan rebutan antara dua poros kiai.
Berkaca pada hasil pemilu legislatif, Situbondo timur bakal menjadi pendukung utama Hasyim, wilayah kota (tengah) dan barat menjadi pendukung inti Salahuddin. Poros KH Sofyan-KH Cholil ditopang jaringan struktural NU dan PKB. Sementara Poros KH Fawaid disokong jaringan alumni Sukorejo, IKSASS (Ikatan Santri dan Alumni Salafiyah Syafi'iyah).
Bagi KH Fawaid, hari tenang pun bisa dimanfaatkan untuk konsolidasi dukungan. Jumat, 2 Juli lalu, misalnya, IKSASS mengadakan musyawarah rayon di Jember dan Banyuwangi. Dalam acara tersebut, KH Fawaid menekankan tugas alumni sebagai pendukung kebijakan pesantren, termasuk kebijakan mendukung Hasyim Muzadi.
Hasil akhir pemilu presiden lalu menunjukkan, peta dukungan kedua kubu tidak banyak berubah dibandingkan dengan pemilu legislatif. Pendukung Fawaid di timur (Asembagus dan Banyuputih), yang sebelumnya memenangkan PPP, kali ini bisa dialihkan total untuk mendukung Hasyim Muzadi. Hasyim di Banyuputih unggul 62,9%, di Asembagus menang 37,1%.
Uniknya, Ketua Umum PPP, Hamzah Haz hanya meraih 1,7% (di Asembagus) dan 1,2% (di Banyuputih). Ini pertanda bahwa para pemilih sekitar Pesantren Sukorejo lebih loyal pada KH Fawaid ketimbang partai. Pada tingkat kabupaten, suara yang raih PPP lalu sebanyak 102.000, kini suara Hasyim mencapai 104.000. "Suara pendukung KH Fawaid solid ke Pak Hasyim, sementara suara PDI Perjuangan banyak lari ke SBY," kata Mahmudi Bajuri, Ketua Tim Kampanye Mega-Hasyim Situbondo.
Mahmudi memberi contoh basis PDI Perjuangan di Desa Balung, Kecamatan Kendit, dan Desa Ketowan, Kecamatan Arjasa, yang suaranya banyak mengalir ke SBY. "Itu karena konflik internal PDI Perjuangan," katanya. Suara PDI Perjuangan pada pemilu legislatif sebanyak 31.000-an. Kalau solid, mestinya suara Mega-Hasyim bisa 132.000-an. "Faktor SBY tidak kami duga sebelumnya," katanya.
Sementara itu, Wiranto-Solah unggul di 15 kecamatan lain. Perolehan tertinggi di Kecamatan Panji, tempat pesantrennya KH Cholil dan KH Sofyan, mencapai 44,43%. Sinergi mesin PKB dan NU mampu menyolidkan pemilih PKB yang sebenarnya sangat berat untuk memilih Wiranto yang diusung Golkar. Namun, total perolehannya se-kabupaten hanya 168.000 (44,52%).
Padahal, bila suara PKB (170.000) dan Golkar (32.000) pada pemilu legislatif solid, mestinya bisa meraih 200.000-an. "Pemilih Golkar banyak ke SBY, sebagian kecil pemilih PKB juga ke SBY," ujar KH Zakki. Di saat banyak pemilih PKB rela menekan perasaan untuk memilih jagonya Golkar, ternyata pemilih Golkar sendiri malah pindah ke lain hati: SBY.
Kasus Situbondo menunjukkan, pemasok utama suara calon presiden di Situbondo, baik Wiranto maupun Megawati, justru dari basis wakil presiden. Pendukung Salahuddin Wahid dan Hasyim Muzadi. Ini membantah amatan banyak analis politik Jakarta bahwa calon wapres kurang berperan mendulang suara.
Memasuki putaran kedua, menurut Zakki, di kalangan PKB Situbondo berembus dua kecenderungan: golput atau asal bukan Mega. Sementara Tim Mega-Hasyim Situbondo mulai merangkul bekas pendukung Gus Solah. "Kita ajak bersama dengan bendera NU," kata Mahmudi. "Lapis kedua pendukung Gus Solah sudah bisa kita rangkul, beberapa pengurus NU kecamatan juga sudah bikin deal dengan kita," katanya optimistis.
Bila pendukung Mega dan Solah merasa massanya solid, tim sukses SBY setempat justru mengklaim bisa mencuri suara dari basis dua poros kiai besar itu. Lihat saja, di Desa Sumberejo, tempatnya KH Fawaid, Hasyim memang bisa meraih kemenangan fantastis, 90,5%, tapi suara kedua diraih SBY dengan 5,2%. Di Desa Mimbaan, tempat KH Cholil, Gus Solah bisa menyabet 38,54%, suara kedua digaet SBY dengan 28%.
SBY di Situbondo kelimpahan pemilih NU yang jengkel dengan konflik para kiainya. (lihat: Berkah Jaringan Pecah, Gatra 17 Juli 2004). Para kiai memang punya pengikut fanatik. Tapi spektrumnya hanya terbatas di sekitar pesantren. Massa NU yang makin jauh dari pesantren cenderung makin renggang keterikatannya dengan kiai. Rujukan pilihan politik mereka tidak hanya kiai, melainkan juga televisi.
Gatra jadi teringat kepolosan Pak Sub, tukang becak yang biasa mangkal di depan Hotel Rosali, Situbondo. Sambil mengantarkan Gatra ke terminal bus, ia mengaku mendapat arahan ustad di RT-nya, H. Ali Makki, untuk mencoblos Wiranto. Ustad itu pengikut fanatik KH Cholil.
"Kata Haji Ali, memilih Wiranto ini arahan Lora Cholil," ujar Pak Sub. "Saya bilang enggih di depan Haji Ali," kata pria asal Bondowoso ini. Ia tidak punya keterikatan langsung pada KH Cholil, tapi hanya merasa tidak enak dengan H. Ali, tokoh di lingkungannya, yang sering memberi wirid untuk keselamatan dan murah rezeki.
"Tapi karena anak dan istri saya mendorong nyoblos SBY, diam-diam saya sekeluarga mendukung SBY," katanya sambil tersenyum simpul. Kaum elite kini memang tak gampang mengklaim dukungan akar rumput. Mereka punya logikanya sendiri.
Asrori S. Karni
[Laporan Utama, Gatra, Edisi 36 Beredar Jumat 16 Juli 2004]
|
|
| | |  | | KOMENTAR PEMBACA |  | | | | | |
NU Yang Mendua (ddinasty@ho..., 21/07/2004 06:02) Meski NU berkali kali menegaskan akan/ telah kembali ke khitah, dimana NU tidak akan berpolitik secara praktis, tapi dilapangan ternyata simpang siur, bahkan malah membuat warga nahdiyin terpecah belah.
Para Kyai dan petinggi NU HARUSNYA sudah sadar, bahwa mereka tak bisa lagi bersembunyi dalam kemunafikan bahwa NU tidak akan berpolitik secara praktis. NU-nya mungkin tidak secara organisasi, tapi orang-orang NU semua berpolitik praktis, bahkan ketua PBNU-pun telah tejun kedunia politik.
Meliha... <1216 huruf lagi> | |  | | | | | |
Hormatilah kiayi karena ilmunya bukan karena ambisinya (bmendalo@ya..., 21/07/2004 04:24) Saudaraku warga NU yang juga muslim seperti saya. Marilah kita berfikir secara merdeka seperti yang ditekankan dalam kitab suci Al Qur'an. Didalam tubuh kita ada dua potensi yaitu potensi fujur dan potensi taqwa. Kita menghormati para kiayi seharusnya hanya pada ilmu kiayi itu saja. Oleh karena itu dalam kita menentukan suatu pilihan, kita boleh meminta fatwa para kiayi, sepanjang para kiayi tersebut masih tetap berpegang pada Al Qur'an dan Hadits. Tetapi apabila dalam pengamatan kita seorang k... <486 huruf lagi> | |  | | | | | |
Saudara-saudara NU-ku!! (bramantyo72@ho..., 21/07/2004 02:27) Sadarilah!! Janganlah terjebak oleh kepentingan sesaat!! Apa yang akan Anda katakan kepada Allah kelak? | |  | | | | | |
Wahai para cerdik pandai...janganlah meremehkan panggilan hati orang kecil (semprul@ho..., 20/07/2004 19:53) Inilah bukti yang ampuh.
Sekecil-kecilnya seseorang, tetap saja punya akal dan pikiran. Biarpun dicekoki dengan kampanye, semboyan2, bahkan doktrinasi2 tetapi tetap saja akal sehatlah yang menang.
Jadi, wahai pada cerdik cendikia...anda2 yang senang menganggap remeh mereka yang kurang beruntung mendapat pendidikan daripada anda....
Kini saatnya merekalah yang menentukan, kemana arah negeri ini!!!!
Makanya, jangan sombong!!! Apalagi hendak mencoba menggagalkan proses pemilu yang sudah s... <53 huruf lagi> | |  | | | | | |
Kyai atau jendral? (nsputra@eu..., 20/07/2004 12:24) Ya begini ini kalau kyai menjadi figur sentral yang tak tergoyahkan oleh pihak lain. Sebagai orang Islam, saya sangat menyesalkan model-model kepatuhan begini yang pada ujungnya justru memperbodoh umat, dan yang jelas jauh dari sifat demokrasi yang diajarkan oleh Islam itu sendiri, yang sangat menghargai hak orang untuk memilih. Bagaimana kita mau maju kalau kyai-kyai ini memilih bukan atas dasar kelayakan sang capres, tapi lebih banyak pada kepentingan politik golongan. Hai para kyai, di tangan... <148 huruf lagi> | |
 |
|