 |
|
 |
|
NASIONAL |
 |
| |
Perpustakaan UGM Buka "American Corner"
Yogyakarta, 28 Juli 2004 16:12 Perpustakaan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta membuka "American Corner" (AC), sebuah pusat layanan informasi yang berkaitan dengan Amerika Serikat (AS), sebagai hasil kerja sama antara UGM dengan Kedubes AS.
Peresmian pembukaan AC dilakukan Wakil Rektor UGM Bidang Kerjasama dan Pengembangan Usaha Prof Dr Agus Dwiyanto dan Pejabat Konselor Penerangan dan Kebudayaan Kedubes AS Riley J Sever di Lantai III Gedung Perpustakaan UGM Unit I Yogyakarta, Rabu.
Dalam sambutannya, Prof Dr Agus Dwiyanto mengatakan, AC merupakan bagian dari layanan Perpustakaan UGM yang berlokasi di Lantai III Gedung Perpustakaan UGM Unit I. Fokus layanan informasi di AC lebih pada bidang budaya, sastra, sosial, pemerintahan, dan hubungan internasional.
"Koleksi AC berupa buku, majalah, internet, CDROMs, DVDs, dan on-line database di Perpustakaan UGM terbuka untuk umum mulai 29 Juli 2004 dan buka selama enam hari dalam sepekan mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB, kecuali hari libur nasional," katanya.
Sementara itu, Riley J Sever mengatakan, AC di UGM merupakan yang keempat di Indonesia dan kedua di Yogyakarta, dan merupakan kemitraan sejati dalam arti Kedubes AS menyediakan buku dan peralatan yang diperlukan sedangkan UGM menyediakan ruangan dan staf untuk merealisasikan kegiatan.
Menurut dia, setiap AC menyediakan beragam koleksi buku dan materi berbahasa Inggris mengenai AS dan mirip dengan pelayanan buku referensi dalam sebuah perpustakaan universitas. Semua AC akan dilayani oleh karyawan perpustakaan warga Indonesia yang paham dua bahasa, yang bekerja selama jam buka perpustakaan untuk membantu orang yang mencari informasi khusus tentang AS.
"Saat ini terdapat empat AC di perpustakaan universitas di Indonesia, yakni Universitas Islam Negeri Jakarta, Universitas Airlangga Surabaya, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan UGM Yogyakarta," katanya.
Ia mengemukakan, koleksi yang tersedia meliputi buku referensi, karya fiksi, serta penerbitan komersial dan pemerintah. Setiap AC juga menyediakan komputer dengan akses internet terbatas, materi audio, video, dan CDROMs, serta informasi mengenai cara menjalankan bisnis di AS.
Selain itu, setiap AC di Indonesia menawarkan program untuk umum dengan tujuan agar informasi mengenai AS dapat tersedia bagi masyarakat umum Indonesia.
Ia menambahkan, Kedubes AS di Jakarta akan mendirikan 10 AC di tempat yang dipilih di Indonesia untuk mendorong pemahaman tentang AS, sejarah, kebudayaan, dan kebijakannya. "Ini adalah kemitraan yang resmi antara Kedubes AS dengan universitas di Indonesia," katanya. [Tma, Ant]
|
|
| | |
 |
| KOMENTAR PEMBACA |
 |
| | |
| |
Apa sudah mengenal dg Kebudayaan Sendiri ? (canggih42@ya..., 29/07/2004 21:37) Kita tidak perlu sekali untuk mengetahui kebudayaan America, Kebudayaan sendiri saja tidak ada yang peduli. Kalau ingin berkarya pahami dahulu kebudayaan dan watak bangsa sendiri. Kalau memang pendirian kita kuat dan tidak terpengaruh oleh kebudayaan bangsa lain tidak menjadi masalah, yang menjadikan masalahkan kita sering ikut-ikutan tren dan kehidupan gaya bebas, akhirnya bangsa hancur secara perlahan-lahan. Kalau ingin kerja sama dan mengembangkan Ilmu dengan anak yang putus sekolah dan ti... <966 huruf lagi> | |
 |