|
 |
|
 |
|
NASIONAL |
 |
| |
Remy Sylado: Bahasa Televisi Harus Luwes
Jakarta, 29 Juli 2004 16:20 Pengamat bahasa Remy Sylado mengatakan, bahasa di televisi semestinya luwes menafsir perkembangan yang terjadi di masyarakatnya.
"Bahasa Indonesia di televisi, sebagai media tontonan, memang karuan tidak sama dengan bahasa tulis. Bahasa yang tertib memang harus dijaga. Namun di samping itu bahasa Indonesia dengan istilah-istilah kolokuial juga tidak perlu dianggap dosa," katanya dalam diskusi Forum Bahasa Media Massa di Kantor RCTI Jakarta, Kamis.
Menurut Remy, pelopor penulisan puisi mbeling, dengan mengambil sikap terbuka terhadap kata-kata kolokuial, slang, prokem, yang bisa dilintaskan ke dalam bahasa resmi, maka dengannya ada upaya menghargai sejarah.
"Tak dapat disangkal bahwa sejarah bahasa Indonesia asalnya juga tumbuh dari bahasa pasar. Banyak kosakata bahasa Indonesia yang kini dibakukan berasal dari kekeliruan transliterasi dari bahasa Melayu tulisan Arab gundul ke bahasa Melayu berhuruf Latin, serta kesalahan-kesalahan kaprah bertutur di pasar," katanya.
Beberapa contoh kesalahan transliterasi itu antara lain terdapat pada kata "permaisuri" yang seharusnya ditulis "paramaisyari", kata "atau" yang mestinya ditulis "atawa". "Yang benar adalah orang Sunda yang menggunakan kata `atawa`, "kata Remy.
Menurut Remy, bahasa Indonesia di televisi Indonesia sepatutnya dibedakan dalam dua premis antara yang serius dan populer. "Yang serius adalah khususnya berita. Sedang yang populer adalah semua yang di luar berita," katanya.
Dalam acara yang serius, seperti tayangan berita, kata Remy, diperlukan bahasa Indonesia yang tertib. "Kemudian dalam acara yang tergolong populer, menyangkut semua aspek kemasyarakatan, kebudayaan dan kesenian seyogyanya tidak perlu ada pagar-pagar bahasa yang membuat bahasa menjadi kering, tidak mengalir, tidak intuitif, tidak hidup, sejauh tentu saja itu tidak merupakan bahasa yang kasar, tidak santun, dan tidak senonoh menurut kaidah moralitas statistik," katanya.
Menyangkut bahasa yang tidak tertib, sekitar bahasa prokem, slang, kolokuial, dalam acara-acara lain di luar tayangan berita, agaknya perlu dilihat sebagai khazanah tersendiri perbahasaan Indonesia, kata Remy. "Paling tidak, dengan bahasa yang hidup dalam masyarakat, khususnya masyarakat urban di ibukota, tema tayangan yang disampaikan akan lebih kena, lebih dipahami, atau dalam bahasa Jawa: lebih `dhong`," tambahnya.
Dengan membagi premis "serius" dan "populer", kata Remy, maka bahasa audio-visual harus dilihat dalam dua modifikasi karakter yang khas, yaitu pada tayangan berita sifatnya mengarah ke bahasa yang mewakili idealitas, sedang pada tayangan yang bukan berita sifatnya menuju ke bahasa yang mewakili realitas.
"Sudah tentu kita tidak boleh memaksa yang mewakili idealitas itu ke dalam realitas. Bahasa yang berlaku dalam realitas tidak mungkin menjadi realistis dengan menaruh bahasa idealitas di dalamnya," kata Remy. [Tma, Ant]
|
|
 |
|