spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
spacer
spacer
WISATA & HIBURAN
spacer
 
Kubah Gado-gado Setinggi Langit

Capitol Hill Cilacap (GATRA/Mukhlison)

JERIT gergaji listrik menggema di ruang besar berwarna putih itu. Sebanyak lima tukang terlihat serius memasang pagar tangga yang menghubungkan ruang di lantai dasar ini dengan lantai atas. Ketukan palu sesekali menimpali lengking gergaji. Gemerisik suara gesekan amplas menambah kebisingan pembangunan rumah yang ditargetkan rampung awal Maret nanti itu.

Pembangunan rumah di lahan seluas 4.200 meter persegi ini memang telah memasuki tahap akhir. Tinggal menyelesaikan bagian interior. Meski begitu, pekerjaannya tak bisa dibilang enteng. "Justru pada tahap ini pengerjaannya harus rapi," kata Mulia Budy Artha, 52 tahun, pemilik rumah itu. Kesalahan sedikit saja, kata Budy, akan membuat rumah jadi tak sedap dipandang.

Budy pantas waswas. Sebab rumah yang dibuatnya ini bukan sembarangan. Rumah Budy disebut-sebut paling mewah di Cilacap, bahkan di Jawa Tengah. Untuk ukuran rumah tinggal, ongkos pembangunannya terbilang tinggi. Kalangan pemborong dan kontraktor di Cilacap memperkirakan, rumah supermewah ini bernilai sekitar Rp 20 milyar.

Benarkah? Budy enggan menjawab. Yang jelas, sudah cukup banyak uang yang ia keluarkan untuk membiayai rumah ini. Apalagi bila melihat penampilannya yang megah dan penuh ukiran. "Sudah lama saya mengidam-idamkan rumah seperti ini," kata Budy.

Hasrat membangun rumah megah itu, tutur Budy, muncul kala ia bersama keluarganya pesiar ke Eropa pada 1990. Ketika itu, usai menjalani umrah di Tanah Suci, Budy langsung pelesir ke beberapa kota yang menyimpan bangunan bergaya lama, seperti Amsterdam (Belanda), London (Inggris), dan Roma (Italia).

Bangunan pemerintahan di kota-kota tersebut termasuk bangunan kuno, yang di antaranya berfungsi pula sebagai museum atau gedung pertunjukan. "Saya terkesan dengan ukirannya dan ingin punya rumah seperti bangunan lama di Eropa," ujar Budy. Pengalaman ini mengendap lama dalam benaknya.

Awal 2002, barulah ayah dua anak itu mewujudkan impiannya. Hasil keringat selama 20 tahun bergelut sebagai pengusaha kontraktor dan jasa transportasi ia pakai sebagai modal untuk membangun. Budy memilih lokasi di Jalan Sawo, yang terhubung dengan Jalan D.I. Panjaitan, sekitar 500 meter dari alun-alun kota Cilacap.

Suasananya tenang. Jalan di muka lokasi lebarnya sekitar 5 meter, cukup untuk dilewati dua mobil berpapasan. Budy menyukai lahan ini, lebih-lebih karena menghadap selatan. "Banyak orang bilang arahnya bagus, dan saya cocok," katanya.

Budy membeli tanah itu dari rekan seprofesinya. Harganya lumayan tinggi, sekitar Rp 1 juta per meter. Mahalnya harga tanah ini, lantaran lokasinya yang dekat pusat kota dan kondisi lahan yang sudah siap bangun.

Untuk merancang rumah idamannya itu, Budy tak merasa perlu menggunakan jasa arsitek. "Saya merancang sendiri desainnya," katanya. Beragam kliping dan gambar bangunan kuno dari masa klasik bergaya renaisans, gotik, barok, dan rokoko ia utak-atik. Tak lupa, ia mencocokkan aneka gaya itu dengan denah rumah masa kini. Untuk memulai pembangunannya, ia menyiapkan duit sebanyak Rp 10 milyar dari tabungannya.

Budy, yang kesengsem pada bentuk kubah klasik, lantas mengutus istrinya, Fatimah, 50 tahun, melihat langsung Capitol Hill, gedung parlemen di Washington, Amerika Serikat. Sambil pesiar, sang istri memotret Capitol Hill, terutama kubahnya, dari berbagai sudut. Bentuk kubah blenduk ini kemudian disesuaikan dengan komposisi denah rancangannya. Enam kamar tidur dan ruang pendukung lain diatur mengelilingi ruang utama.

Model tata ruang seperti itu dicomot dari tipikal bangunan Yunani kuno. Bentuk ruang utamanya didesain seperti atrium pada bangunan-bangunan Yunani. Tepat di tengah bangunan, yang sekaligus menjadi atap atrium itu, Budy merancang bentuk kubah mirip milik Capitol Hill. Kesan ini makin kentara dengan tiang bergaya corenthian yang berderet di muka bangunan.

Saat awal memulai proyek "Capitol" itu, Budy mempekerjakan 40 tukang. "Saya ikut turun untuk mengawasi pembangunan," katanya. Saat proyek memasuki tahap konstruksi, jumlah tukang menggelembung hingga 60 orang. Bayaran setiap tukang sekitar Rp 35.000 per hari. Kini hanya 10 tukang yang masih bekerja dengan bayaran khusus, lantaran proyeknya sudah memasuki tahap akhir.

Selain menggunakan tenaga lokal, Budy juga "mengimpor" tenaga terampil dari Jawa Barat. Para tukang ini khusus menggarap detail ukiran pada sekujur tiang dan bangunan. Ukiran dorik pada alas dan pucuk kolom dibuat dari bahan resin cetak. Sedangkan lis serta ornamen yang mengelilingi pintu, jendela, dan tritisan terbuat dari semen dan gipsum.

Menurut Budy, semua material rumah idamannya produksi lokal. Batu bata dan batu hias dibeli dari perajin di Cilacap. Paling jauh, cuma marmer untuk lantai dan batu alam untuk dinding yang dipesan dari perajin di Makassar, Sulawesi Selatan. "Kalaupun ada barang impor, hanya lampu hias gantung yang berada di ruang utama. Tidak ada bahan bangunan dari luar negeri," ujarnya.

"Capitol Hill" di Cilacap itu memiliki luas 2.100 meter persegi. Bangunannya terdiri dari satu masa utama plus sebuah gazebo di halaman belakang. Masa utama, berukuran 50 x 35 meter, terdiri dari tiga lantai, termasuk basement. Ruang bawah tanah ini dibentuk mirip area parkir gedung perbelanjaan, yang mampu menampung 20 mobil.

Lahan bagian depan dibatasi pagar setinggi dua meter, dengan gerbang yang terbuat dari besi tempa berukir. Di balik pagar terbentang taman seluas 1.000 meter persegi, dengan jalan melengkung menuju pintu utama.

Jalan tersebut mengarah ke basement, kemudian melingkar ke arah pintu gerbang. Untuk menghias halaman, Budy membuat taman yang ditumbuhi beberapa pohon palem, pakis, dan tanaman hias lain. Lahan taman, kecuali jalan yang dilapisi paving block, ditutupi rumput jepang. Lampu-lampu disematkan pada tiang-tiang berpucuk ukiran yang peletakannya diatur sedemikian rupa. Sebagian lagi menempel pada dinding dan pagar.

Lampu spot diletakkan pula di atas tanah untuk memberikan efek bias pada gerombolan tanaman. Saking banyaknya lampu, untuk seluruh ruangan, "Capitol" Cilacap menyedot setrum hingga 23.000 watt. Agar tak menghalangi pandangan dari luar pagar, tanaman dipilih yang rendah dan posisi bangunan diundurkan 30 meter dari tepi jalan.

Dari depan, tampak delapan pilar setinggi 8 meter menyangga atap. Jumlah pilar ini, kata Budy, disesuaikan dengan nomor alamat rumah, yakni Jalan Sawo Nomor 8. Nomor ini sepertinya jadi angka keramat. Selain jumlah pilar, tangga di depan pintu utama juga berjumlah 8 anak tangga. Bahkan, kolom penyangga kubah jumlahnya kelipatan 8, yakni 32 tiang. Sama seperti jumlah jendela pada kubah.

Melewati pintu utama, pemandangan ruang luas langsung terasa. Ruang tamu yang luasnya mirip aula ini memiliki ketinggian sekitar 14 meter. Ruangan ini menjadi void bagi ruang lain yang berada di sekelilingnya. Tepat di tengah, bagian atas ruangan, terlihat bagian dalam kubah yang dihiasi ukiran flora.

Kubah ini memiliki ukuran garis tengah 12 meter pada bagian bawah dan 9 meter pada bagian atas. Tingginya sekitar 12 meter dari permukaan atap. Kubah yang terbuat dari beton bertulang ini punya ketebalan penampang sekitar tujuh sentimeter.

Bagian bawah kubah dikelilingi ornamen persegi panjang yang berderet membentuk lingkaran. Setiap kotak diisi ukiran geometris berbentuk elips. Di tepi lingkaran bergantungan lampu hias antik bergaya victorian. "Lampu-lampu antik itu saya dapat dari dari pedagang barang antik di Jakarta," kata Budy.

Selain lampu, dari bawah akan terlihat deretan jendela mengelilingi tubuh kubah. Bagian puncak kubah ditempeli ukiran flora dan lukisan suasana langit. Warna cokelat dan biru mendominasi puncak kubah. Pagar berukir berwarna gelap, terbuat dari besi tempa, dipasang mengelilingi tepi dalam kubah.

Bagian belakang bangunan utama diisi dengan taman dan sebuah gazebo berukuran 4 x 4 meter. Atap gazebo setinggi 20 meter ini juga berbentuk kubah. Di halaman belakang terdapat pula danau buatan, lengkap dengan air mancur dan patung-patung bergaya klasik. Tanaman hias dan sorot lampu menambah semarak suasana.

Dengan bentuk seperti itu, tak mengherankan bila rumah "Capitol" itu terlihat kontras dengan rumah-rumah di sekelilingnya. Bahkan kubahnya yang terlihat dari alun-alun Cilacap menjadikan rumah ini sebagai tenggaran (landmark) baru di kawasan tersebut.

Keberadaan bangunan itu makin mencolok lantaran bergaya gado-gado. Bentuk kolomnya mengadopsi gaya corenthian, sedangkan figur jendela menganut langgam victorian. Belum lagi kubah dan lengkungan busur pada fasad yang mencomot gaya arsitektur klasik.

Untuk soal ini, Budy tak mau ambil pusing. Justru yang menjadi pikirannya adalah tudingan miring yang mampir sejak ia mulai membangun rumah keluarga itu. Ada yang menyebut, "Capitol Hill" di Cilacap ini dibangun dari guyuran dana Tommy Soeharto. Bahkan Budy sempat mendengar gosip bahwa kelak, setelah jadi, rumah ini akan dijadikan hunian kedua bagi putra mantan Presiden Soeharto itu, bila bosan berada di balik terali penjara Nusakambangan.

Tudingan tersebut sempat santer terdengar di kalangan warga Cilacap. Budy tegas-tegas membantah tudingan dan gosip tak enak itu. "Lebih dari 20 tahun saya bekerja sebagai kontraktor. Hasil kerja itulah yang saya pakai, dan untuk keluarga saya sendiri," katanya.

Di Cilacap, Budy tergolong pengusaha sukses. Lulusan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, ini mulai berbisnis pada 1983. Ketika itu, ia mendirikan PT Melista Karya, perusahaan kontraktor dan jasa transportasi di Cilacap.

Perusahaan ini menangani beberapa proyek pembangunan jalan nasional dan provinsi. Di antaranya proyek jalan Wangon, Banyumas, hingga Majenang dan perbatasan Jawa Tengah-Jawa Barat. Selain itu, Melista juga menyewakan kendaraan untuk operasional perusahaan minyak di Cilacap.

Melista dikelola Budy bersama istrinya. Dalam lima tahun terakhir, perusahaan ini meraih omset rata-rata hampir Rp 50 milyar per tahun. Penghasilan dari bisnis itulah yang, menurut Budy, ia jadikan modal untuk membangun "Capitol Hill".

Meski ada yang mencela, kemegahan "Capitol Hill" di Cilacap itu juga banyak mengundang decak. Miranda S. Goeltom, misalnya, pernah menengok "Capitol Hill" kala berkunjung ke Cilacap. Kepada pemilik rumah, Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia itu menyatakan kekagumannya. Bahkan ia sempat berkelakar minta dibuatkan rumah serupa dengan ukuran kecil.

Sejumlah rumah produksi, kabarnya, juga berancang-ancang menjadikan "Capitol Hill" Cilacap sebagai lokasi syuting, setelah pembangunannya rampung. Keinginan ini direspons oleh pemilik rumah. "Boleh saja, tapi saya belum mikirin tarifnya," ujar Budy. Tak cuma itu, jika ada yang berminat membeli, Budy juga tak segan melepas rumahnya. "Kalau harga cocok, kenapa tidak," katanya.

Sigit Indra dan Mukhlison S. Widodo
[Prayojana, Gatra Nomor 16 Beredar Senin, 28 Februari 2005]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
  
spacer
KOMENTAR PEMBACA
spacer
  
  karya anak negeri (zoe0987@te..., 08/03/2005 00:01)
sebuah karya anak negeri. yang berasal dari kampung, yang bisa mengagetkan beberapa individu hebat di Jakarta. saya Salut dengan semangat pemilik rumah.
 
 
spacer
  
  Wow.....................wow abis. (wates55@ya..., 07/03/2005 21:53)
Wow monumental sekali? walaupun itu menjadi bangunan aneh, mudah-mudahan keanehan tersebut justru dapat menjadi kebanggaan warga Cilacap. Wow... kalau boleh usul, bagaimana kalau Pak Budy membangun satu bangunan lagi yang sangat megah, tetapi dengan mengangkat gaya arsitektur jawa tengah? Mudah-mudahan bisa ya? Dan Pak Budy akan dikenal lagi sebagai putra daerah yang bangga dengan gaya arsitektur daerah juga. Amin
 
 
spacer
  
  Prioritas laporan utama (dprasodjo@ho..., 07/03/2005 16:44)
Ditengah panasnya berita perseteruan di Ambalat, sepertinya berita tentang kubah ini seharusnya tidak menjadi berita utama. Yth Redaksi, mohon memberi prioritas untuk menayangkan laporan utamanya.
 
 
spacer
  
  Jurang dan langit (zapparaxus@ho..., 07/03/2005 11:51)
Adalah hak setiap orang untuk punya rumah mahal, ataupun supermahal,tapi sejujurnya saya merasa sedih mendengar
ada sejumlah orang yang punya rumah senilai bermilyar milyar rupiah, di negri yang masih penuh dengan orang orang yang miskin..,
alangkah lebar perbedaan antara miskin dan kaya di negri kita ini??
alangkah sedih mendengar kuli yg anda kerjakan untuk proyek rumah anda yang senilai 20 milyar dibayar Rp 35.000 per hari...
saya tinggal di canada ,saya bukan orang kaya disini, tapi ka... <429 huruf lagi>
 
 
spacer
  
  eling-eling (la_signora98@ya..., 07/03/2005 10:51)
Mudah-mudahan tidak sampai membuat lupa tuan Budi ttg kematian, tentang gempa bumi dan tsunami.Hidup ini hanyalah sebuah persinggahan yang pada akhirnya pasti akan kita tinggalkan..
 
 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 06 March 2005 >>
SuMTW ThFSa
dotdot12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer