WISATA & HIBURAN [ GATRA Printed Edition ]

CP-Biennale
Mati Muda Karena Sensor

DENGAN hati-hati Takajo Yoshiaki, 55 tahun, memasukkan satu per satu bagian karya Hiromi Masuda ke kotak-kotak kardus yang tersedia. Karya berjudul Play The Glass-Vento di Venezia itu memang rentan, terdiri dari lebih 90 bagian kaca tiup yang mudah pecah. Hampir satu bulan sebelumnya, satu bagian sudah pecah dalam proses pengiriman. "Selalu ada yang pecah setiap karya ini dikirim atau dikembalikan dari sebuah pameran," Takajo menerangkan sambil tersenyum.

Kesibukan kecil Takajo dan tiga orang Indonesia yang membantunya itu terlihat satu hari setelah CP-Open Biennale merampungkan jadwalnya. Para seniman yang berpartisipasi dalam biennale yang mengambil tema "Urban/Culture" itu diberi kesempatan mengemasi karyanya sampai satu minggu setelah penutupan. Tidak terlalu ramai aktivitas bongkar-membongkar pada hari pertama.

Gelas-gelas karya Masuda yang begitu populer di Eropa itu, menurut Takajo, akan ditaruh di kediaman seorang temannya di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, selama satu bulan, sebelum dikirim ke Jawa Tengah untuk "syuting" film dokumenter dan sesi foto di beberapa lokasi bersejarah. "Masuda senang karyanya bisa ditampilkan di Indonesia. Sayang sekali, biennale-nya tidak diteruskan," kata Takajo dengan bahasa Indonesia yang lancar.

Sampai Kamis pekan lalu, karya-karya yang belum dikemasi adalah Siklus Abu milik perupa Tisna Sanjaya. Setelah gonjang-ganjing yang berbuntut "penyensoran" karya Agus Suwage dan Davy Linggar berjudul Pinkswing Park, beberapa jam sebelum Kongres Kesenian Indonesia II dibuka pada 26 September, Tisna menyelubungi karya instalatifnya dengan kain putih. Salah satu bagiannya ia tulisi dengan arang, "Allahu Akbar. Solidarisnos. Artist Solidarity for non violence --Tisna Sanjaya."

Don't Worry Be Happy karya kelompok Metromini, Jakarta, juga belum diutak-atik. Sebuah karangan bunga bertuliskan "Kami Ikut Prihatin --Metromini" yang ditaruh di samping karya itu menunjukkan bahwa kelompok ini mulai mengkhawatirkan situasi tidak membahagiakan dalam CP-Biennale kali ini.

Sementara itu, Pinkswing Park masih seperti ruangan bertembok putih yang tidak memiliki jalan masuk. Sejak tuntutan keras Front Pembela Islam (FPI) kepada penyelenggara biennale untuk "melucuti" karya yang mereka anggap berbau pornografi itu, akses publik untuk "Taman Pink yang berayun" itu memang ditutup. Terhitung sejak 20 September, karya itu sudah tidak bisa lagi disaksikan publik.

Kurator sekaligus penggagas dan penggerak lahirnya CP-Biennale, Jim Supangkat, menyebutkan bahwa keputusannya untuk tidak melanjutkan biennale internasional ini pada tahun-tahun mendatang adalah sesuatu yang menyakiti diri sendiri. Karena alasan yang kompleks, Jim menilai Indonesia belum cukup siap untuk sebuah biennale seni rupa berskala internasional. "Saya berharap, ada kurator-kurator yang punya keyakinan berbeda tentang penilaian saya itu," ujar Jim.

Banyak pihak yang menyayangkan keputusan untuk "mematimudakan" biennale seni rupa yang oleh beberapa pihak disebut-sebut terbesar di antara biennale-biennale lain yang ada di Indonesia itu. Namun Jim menegaskan bahwa penghentian itu tidak lantas bisa diartikan sebagai "langkah surut" dalam perkembangan seni rupa di Indonesia. "Saya masih punya kepercayaan untuk dapat mengangkat seni rupa Indonesia dengan cara lain," Jim menandaskan.

Pengamat seni rupa, Eddy Soetriyono, memandang Indonesia cukup kondusif untuk sebuah biennale berskala besar. Peristiwa yang dihadapi CP-Biennale, menurut dia, bersifat kasuistik yang dapat dicari jalan keluarnya; tanpa harus menghentikan biennale itu untuk selama-lamanya. "Tapi itu kan pandangan pribadi saya. Pihak CP-Biennale, saya rasa, punya alasan tersendiri yang mendukung keputusan mereka itu," kata Eddy, yang duduk sebagai kurator eksekutif dalam Biennale Jakarta XII yang rencananya diselenggarakan pada Maret 2006.

Hari pertama puasa Ramadan tahun ini adalah hari terakhir penyelenggaraan CP-Biennale. Terakhir setelah sebulan penuh dibuka untuk umum. Terakhir karena tahun-tahun berikutnya, biennale yang baru terselenggara dua kali itu tidak akan nongol lagi. Begitulah, tamat sudah riwayat singkat perhelatan dua tahunan itu; yang sempat ditulis oleh Jane Perlez dalam terbitan The New York Times sebagai "A biennale that puts Indonesia on the map".

Bambang Sulistiyo
[Seni, Gatra Nomor 48 Beredar Senin, 10 Oktober 2005]
URL: http://www.gatra.com/2005-10-16/versi_cetak.php?id=89165