spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
spacer
spacer
NASIONAL
spacer
 
Jamaah Salamullah
Sensasi Spiritual Lia dan Jamaah Salamullah

Cov-25Jakarta, 7 Mei 2001 00:26
MATAHARI mulai mendekat ke ufuk barat. Cuaca cerah. Sebanyak 88 jamaah Salamullah berkumpul di ruangan Villa Bukit Zaitun, di Desa Joblong, Megamendung, kawasan Puncak, Jawa Barat. Sore itu, Ahad 22 April lalu, Lia Aminuddin mengeluarkan maklumat. ''Syekh menyampaikan perintah Allah untuk menggunduli dan membakar sekujur tubuh kita,'' kata Lia. Syekh adalah sebutan untuk Malaikat Jibril yang diyakini Lia.

Para jamaah yang mengitari Lia tertegun. Satu-dua orang menelan ludah. Ada pula yang melongo. Mereka tak menyangka bakal mendengar perintah seperti itu. Menggunduli rambut dan membakar tubuh, kata Lia kepada jamaahnya, merupakan ''hisab'' (perhitungan Allah) untuk membersihkan dari segala dosa. ''Setelah itu, kita seakan terlahir kembali sebagai bayi tanpa noda,'' tutur Lia dengan menyunggingkan senyum dan tatapan mata tajam.

Lia, pimpinan tertinggi jamaah Salamullah itu, menjadikan dirinya sebagai orang pertama yang digunduli dan dibakar. Disusul suaminya, Ir. Aminuddin Day, MSc. Berikutnya, atau orang ketiga, adalah Abdul Rachman, yang kini didaulat sebagai iman besar pengganti Lia.

Prosesi penggundulan dan pembakaran itu dilaksanakan di kamar tertutup. Tiap orang yang dihisab didampingi dua kawan sejenisnya. Setelah itu, semua rambut dan bulu di tubuh --mulai rambut kepala, alis, bulu mata, bulu ketiak, sampai rambut yang menghiasi organ vital seorang hamba Allah--dibikin ludes.

Dalam keadaan telanjang, seorang jamaah mengoleskan spirtus pada bagian tubuhnya. Kemudian jamaah lain membakar tubuh yang telah terlumuri bahan bakar itu dengan penyulut sumbu kompor yang menyala. Prosesi pembakaran dilakukan merata pada sekujur tubuh. Kala pembakaran berlangsung, bibir-bibir mereka tiada henti beistigfar, memohon ampun kepada Allah. Khusyuk!

Prosesi selanjutnya adalah berkumpul di sebuah ruangan yang lebih besar yang juga tertutup. Mereka dipilah sesuai dengan jenis kelamin. Di tengah ruangan itu tampak kobaran api setinggi satu setengah meter. Dalam keadaan telanjang bulat, mereka melewati dan melangkahi api yang tengah berjilat-jilat itu. ''Saya merasa tidak terlalu sakit,'' ujar Siti Zaenab Luxfiati, seorang penulis yang menjadi pengikut setia Lia.

Ternyata, tak semua jamaah diizinkan Syekh untuk membakar anggota tubuhnya. Ada dua orang yang tidak ''direstui'' Syekh. Satu di antaranya adalah Saefuddin Simon, seorang wartawan. Alasannya, menurut Syekh, pria berusia 42 tahun itu masih dilumuri banyak dosa. ''Kalau saya membakar diri, pasti akan gosong,'' kata Saefuddin kepada Gatra.

Artinya, prosesi pembakaran itu bukan tanpa rasa waswas. Celaka tiga belas bisa saja menimpa. ''Ibu Lia sendiri sesekali kesakitan juga. Ini proses yang harus dilalui,'' kata Dunuk, panggilan akrab Siti Zaenab Luxfiati.

Ketegangan pun sempat terjadi kala jamaah perempuan diminta melewati dan melangkahi api. Untuk ''menetralisasikan'' kegamangan itu --juga rasa kasihan-- Lia membolehkan nyala api itu dikecilkan. Namun, Syekh tidak menyetujui keringanan yang diberikan Lia. ''Ini tidak adil,'' begitu kata Syekh, seperti ditirukan Lia.

Walhasil, jamaah perempuan yang sudah melewati api kecil itu pun harus mengulangi prosesi, melewati api yang lebih besar. Semua itu dilakukan di ruangan tertutup, hanya dihadiri jamaah Salamullah.

''Penyucian'' diri itu bisa dibilang lancar. Tak ada jamaah yang luka bakar secara serius, meski ada yang kesakitan. ''Ada beberapa di antara kami yang jontor bibirnya, juga kemaluannya. Itu semua tergantung dosa yang diperbuatnya,'' Dunuk menjelaskan. Bahwa api tidak sampai menghanguskan tubuh jamaah, menurut Dunuk, itu karena kehendak Allah. ''Sifat Allah yang lembut itu mengejawantah dalam api, lho,'' katanya.

Namun, apa pun dalihnya, yang dilakukan Lia dan pengikutnya sangat mengagetkan masyarakat --walau bukan kali ini saja Lia membuat sensasi. Ibu empat anak kelahiran Makassar, 21 Agustus 1947, itu pada 18 Agustus 1998 juga memunculkan keanehan. Yaitu mengaku sebagai Imam Mahdi, Maryam, dan mendapat wahyu dari Malaikat Jibril. Lia juga menahbiskan seorang anaknya, Ahmad Mukti, sebagai Isa Al-Masih.

Sebenarnya, apa yang dialami Lia itu merupakan buah dari proses yang cukup panjang. Perubahan mendasar atas diri Lia terjadi pada 27 Oktober 1995. Di malam itu, kala ia tengah salat tahajud dan berdoa dengan khusyuk, badannya tiba-tiba menggigil. Lia merasakan ada seseorang yang menemaninya. Ia ketakutan. ''Ini jin atau iblis,'' pikirnya.

Ternyata, sang pendamping yang mengaku bernama Habib Al-Huda itu memberi nasihat yang baik kepada Lia. Dua tahun kemudian, habib yang dipanggil Syekh itu mengaku sebagai Malaikat Jibril. Dan, Lia pun yakin sepenuhnya bahwa apa yang menimpa dirinya bukan kesurupan atau kemasukan jin dan setan.

Sejak 1995 itu pula, Lia --istri Ir. Aminuddin, dosen Fakultas Teknik Universitas Indonesia-- yang sebelumnya dikenal sebagai pembuat bunga kering, bisa lancar menulis, mendedah Islam, dan mengobati orang sakit. Penyair Rendra dan wartawan Arswendo Atmowiloto, misalnya, pernah berobat ke Lia, dan sembuh.

Kiprah Lia pun makin mencuat. Pada 1997, ia mengaku mendapat wahyu dari Jibril. Sejak itu, ia makin yakin tentang ajaran yang diembannya. Keyakinannya ini membawa Lia berhadapan dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Keluarlah fatwa MUI pada 22 Desember 1997. Isinya mengecam pengakuan Lia yang didampingi Malaikat Jibril. Itu bertentangan dengan Al-Quran. ''Pengakuan tersebut dipandang sesat dan menyesatkan,'' demikian fatwa MUI.

Toh, Lia tak peduli. Pada 9 Juli 1999, dia malah balik mengeluarkan fatwa yang menyebutkan bahwa fatwa MUI itu justru yang sesat. ''Fatwa sesat MUI itu adalah fatwa yang mengadili kebenaran. Terkutuklah orang yang mengadili kebenaran dengan cara yang tidak adil dan sewenang-wenang,'' begitulah ''fatwa Jibril'' yang tertuang dalam lembaran Al-Hira.

Setelah itu, Lia aktif membuat berbagai manuver. Ia mengobarkan perang terhadap Dajal di Bumi Pertiwi. Pada 22 Agustus 1999, misalnya, ia bersama jamaahnya menabuh genderang permusuhan terhadap Nyi Roro Kidul, ratu lelembut di pantai Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat.

Kemudian, pada 24 Juni 2000, Lia memproklamasikan Salamullah sebagai agama baru. Adapun ajaran pokok agama ini adalah tetap meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah nabi terakhir yang diturunkan Allah. Tak ada nabi baru setelah Muhammad. ''Yang ada adalah kebangkitan kembali Nabi Isa, Imam Mahdi, dan roh orang-orang suci,'' begitu, antara lain, pokok-pokok ajaran agama Salamullah.

Anggota jamaah Salamullah menjalankan salat sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad. Mereka meyakini adanya konsep reinkarnasi. Mereka yakin bahwa neraka itu tempatnya di dunia. ''Kalau ada orang kena musibah, kebakaran misalnya, itu adalah penghisaban Allah atas dosa-dosa mereka,'' kata Dunuk. Sedangkan akhirat, menurut mereka, adalah ketentuan kepada siapa roh kita nanti dibawa setelah mati.

Tapi, reinkarnasi yang dipahami jamaah Salamullah berbeda dengan reinkarnasi yang dianut pemeluk agama Hindu. Dalam Hindu, roh yang menitis pada bayi yang baru lahir terus dibawa hingga akhir hayat. Jamaah Salamullah meyakini bahwa roh tidak menetap dalam satu jasad, melainkan bisa berpindah-pindah.

Dunuk, misalnya. Ia pernah membawa roh Dewi Kwan Im --dewi keberuntungan. Roh Dewi Kwan Im itu, menurut Dunuk, tak menetap terus dalam dirinya. Kini, Dunuk meyakini bahwa tubuhnya membawa roh ibunda Nabi Ibrahim. ''Mungkin itu sebabnya, saya kok sepertinya terlalu membela Salamullah. Ibunda Nabi Ibrahim itu yang mengajarkan ketauhidan pada Ibrahim,'' ujar Dunuk.

Membawa roh seseorang tidak berarti memiliki alur kehidupan yang sama dengan roh yang dibawa tersebut. Meski membawa roh ibunda Ibrahim, misalnya, tidak berarti Dunuk bersuamikan penyembah berhala, sebagaimana ayah Ibrahim. ''Suami saya, menurut Syekh, saat ini membawa roh Buddha Gautama,'' kata istri sastrawan dan pelukis Danarto itu.

Dari mana Dunuk tahu tentang semua itu? ''Syekh sendiri yang menunjukkan bahwa si anu sedang membawa roh anu,'' tutur Dunuk. Pemberitahuan itu pula yang membuat Abdul Rachman menjadi Imam Besar Salamullah. ''Saat ini, Mas Rachman membawa roh Nabi Muhammad,'' ia menjelaskan.

Penunjukan ini, menurut Dunuk, melewati tanda-tanda. Biasanya orang-orang yang dititipi roh memiliki sifat yang sama dengan roh yang dibawa. Abdul Rachman, misalnya, sejak awal dikenal sebagai orang yang ikhlas dan sabar serta sering membantu pekerjaan rumah tangga. Bahkan yang dianggap kasar sekalipun. ''Bukankah Nabi Muhammad dahulu orang yang pengikhlas dan sabar? Beliau juga senang membantu pekerjaan rumah tangga, seperti ke pasar atau membersihkan rumah,'' tutur Dunuk. Persis dengan sifat-sifat pada diri Abdul Rachman.

Lia Aminuddin sendiri, sejak Juli 2000, diperintahkan oleh Syekh untuk mengasingkan diri selama tiga setengah tahun. ''Ini untuk penyucian diri,'' kata Abdul Rachman. Lalu, Lia meninggalkan markas dan sekaligus tempat tinggalnya di Jalan Mahoni 30, kawasan Senen, Jakarta Pusat. Tempat yang dipilih adalah Villa Bukit Zaitun. Vila ini milik seorang jamaah bernama Zaitun, yang sejak September 2000 menjadi istri Abdul Rachman.

Sebanyak 88 jamaah Salamullah menetap di vila dan di rumah-rumah di sekitarnya. Di sana jamaah berkonsentrasi penuh untuk mendengarkan sapaan-sapaan dari Allah. ''Karena Allah menurunkan segala ilmu dan rahasianya di sana,'' kata Abdul Rachman. Kehidupan sehari-hari mereka juga normal. Yang kerja tetap melaksanakan aktivitasnya. Di tempat ''pengasingan'' itu, Lia puasa bicara. Juga kepada pers.

Pengajian dilaksanakan setiap Sabtu dan Ahad. Pada hari itu, jamaah Salamullah berkumpul untuk menghisab dosa masing-masing. Penghisaban dosa ini, menurut Dunuk, adalah tahap kedua dari proses pengadilan Allah. Dalam acara ini, masing-masing jamaah diharapkan jujur mengakui kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya. ''Kalau jamaah tidak jujur, Syekh pasti tahu, dan akan ditegur,'' kata Dunuk.

Itu sebabnya, jamaah Salamullah tertib mendokumentasikan wahyu yang turun lewat Malaikat Jibril. Tugas itulah yang diemban Dunuk, yang mendampingi Lia Aminuddin sejak 1997. Salah satu alasan pengasingan diri itu berkaitan erat dengan usaha mendapatkan wahyu secara lebih jernih. Beragam wahyu itu rencananya disusun menjadi sebuah kitab suci. Al-Hira namanya. Kapan kitab suci ini rampung? Baik Dunuk maupun Abdul Rachman tidak mengetahuinya. ''Wallahualam. Hanya Allah yang tahu,'' jawab mereka berdua.

Villa Bukit Zaitun, tempat aktivitas jamaah menyerap serta menimba ilmu dan wahyu, tak bisa dimasuki sembarang orang. Bahkan, anak-anak Lia pun tak bisa leluasa keluar-masuk vila. Ahmad Mukti, 29 tahun, juga hampir tak pernah tampak di permukiman ini. Meski sejak Agustus 1998 ditahbiskan ibunya sebagai Nabi Isa, Mukti seakan jauh dari kemauan itu, dan lebih syur menjalani kehidupannya sendiri.

Bagaimana lakonnya sebagai ''Isa'', Mukti sendiri tak banyak tahu, dan tak peduli. ''Saya nggak tahu,'' jawabnya setiap kali ditanya. Sikap Mukti ini membuat Lia seakan tak sabar. Berkali-kali Mukti disuruh menunjukkan jati dirinya dan aktif dalam jamaah Salamullah. Namun, bujukan dan tekanan itu malah membuatnya makin tertekan.

Diam-diam, Mukti, si pemilik mata elang itu, mempelajari kisah hidup Nabi Isa, antara lain dari buku karya Anand Krishna, Isa: Hidup & Ajaran Sang Mahisa. Dari situ, kabarnya, ia bertambah yakin tentang ketidak-Isa-an dirinya. ''Nabi Isa sama sekali berbeda dengan diri saya,'' kata Mukti kepada seorang teman dekatnya.

Perbenturan pandangan dan keyakinan itulah yang membuat Mukti makin merasa tertekan. Ia seperti tak mampu keluar dari beban sebagai ''diri'' Isa. Akibatnya, Mukti yang murah senyum itu berubah jadi pemurung. Juga sering melamun.

Keadaan itu membuat teman-teman dekatnya prihatin dan kasihan. Atas anjuran rekan-rekannya, Mukti mengikuti latihan meditasi di Anand Ashram pimpinan Anand Krishna. Di Padepokan Anand Ashram di Sunter Mas Barat, Jakarta Utara, itu Mukti seakan menemukan kedamaian. Ia ikut berbagai program latihan meditasi, sembari membaca buku-buku Anand, penulis tentang kehidupan yang sangat produktif itu.

Meski Mukti anak Lia Aminuddin, Anand tak memperlakukan Mukti secara istimewa. ''Dia ikut latihan seperti peserta lainnya. Kami tidak mengistimewakannya,'' kata Anand.

Kini, Mukti memang lebih dekat pada komunitas Anand Krishna ketimbang ke komunitas Salamullah. Dan, itu dipahami Lia. Dalam pandangan Abdul Rachman, Mukti tengah menelusuri jalannya sendiri, dan ''Jibril'' tampak membiarkannya. ''Dia mesti dilihat sebagai manusia biasa, sampai Tuhan sendiri menentukan lanjutannya,'' kata Abdul Rachman.

Bagaimana memahami ajaran serta komunitas Lia dan kelompoknya? Menurut psikolog Mustafid Amna dari Universitas Padjadjaran, Bandung, apa yang dilakukan Lia Aminuddin itu dikembangkan dari mimpi. ''Dan, praktek yang dilakukan oleh Lia berdasarkan fatamorgana,'' kata Mustafid kepada Sulhan Syafi'i dari Gatra.

Secara teori, menurut Mustafid, tekanan perasaan dan rasa takut di bawah sadar membuat siapa pun bisa bertingkah laku seperti Lia. ''Orang yang bersikap seperti Lia itu bisa jadi akibat terlalu banyak angan-angannya yang tak kesampaian,'' kata psikolog yang juga seorang ustad ini.

Pandangan Muhammad As'ad, psikolog dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, lain pula. Ia beranggapan, aktivitas Lia dan jamaah masih sah-sah saja. Ia juga tak bisa mengatakan benar atau salah. ''Saya hanya ragu,'' kata As'ad kepada Kristiyanto dari Gatra. ''Soalnya, kalau seseorang merasa dekat dengan Jibril, seolah-olah ia merasa punya lisensi, punya power.'' Nah, ''Kalau dia mendapat perintah dari Jibril, apa kita percaya begitu saja,'' As'ad balik bertanya.

[Herry Mohammad, Kholis Bahtiar Bakri, dan Mariana Ariestyawati]
[Laporan Utama Gatra Nomor 25 Beredar 7 Maret 2001]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 31 December 2005 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdotdot123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer