 |
 |
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
|
 |
| |
Dari Garut Menahan Pelor
Peneliti di Laboratorium Uji Polimer, Pusat Penelitian Fisika, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bandung, kini sibuk merampungkan riset tentang bahan tahan peluru dari serat alam. Bahan utamanya dari tanaman rami (Boehmeria nivea). "Kalau kita bisa memproduksi baju antipeluru dari rami, TNI tidak perlu lagi mengimpor dengan biaya yang sangat mahal," kata Rahmat Satoto, ketua laboratorium. Penelitian ini memang diilhami kondisi peralatan TNI yang serba kekurangan. Baik persenjataan tempur maupun baju tahan peluru. Padahal, di medan perang, baju tahan peluru sangat berguna untuk memberi rasa aman bagi prajurit. Celakanya, hingga kini baju tahan peluru masih harus diimpor. Untuk memproduksinya di dalam negeri, masih sangat mahal karena butuh bahan baku utama, Kevlar atau Spectra. Rencananya, baru pada 2007 penelitian ini masuk tahap pembuatan prototipe baju tahan peluru. Untuk itu, tim akan bekerja sama dengan PT Pindad sebagai perusahaan yang memasok peralatan TNI. Jika semua berjalan lancar, terutama dukungan dana, mulai tahun 2008 Indonesia sudah bisa memproduksi baju antipeluru berbahan dasar serat rami. Bisa mengirit devisa.
[Ilmu dan Teknologi, Gatra Nomor 7 Beredar Senin, 26 Desember 2005] [ Print | Email ]
|
|
| |
|
|
|
 |
 |
| YANG HANGAT |
 |
| |
Keluarga Harry Roesli Berjuang Lagi Keluarga Harry Roesli
Peringatan satu tahun wafatnya Harry Roesli menjadi momentum penting buat Kania Handiman Roesli, Layala K.P. Roesli, dan Hami K.P. Roesli. Mereka adalah istri dan anak kembar seniman eksentrik Harry Roesli. Keluarga itu harus benar-benar memulainya dari nol. Soal izin penyelenggaraan acara yang digelar Rumah Musik Harry Roesli, misalnya. Sejak ditinggal ayahnya, Layala mengaku mulai mendapatkan sejumlah kesulitan. [ Print | Email ]
Cornelia Agatha Pancing Adrenalin Cornelia Agatha
Sukses memerankan Regi, seorang lesbian dalam film Detik Terakhir, artis Cornelia Agatha bakal kembali mengejutkan publik. Lia akan berlakon sebagai seorang wanita malam yang menggantungkan hidup sebagai seorang penari telanjang sebuah kelab malam, dalam film yang diangkat dari buku Jakarta Undercover. "Aku memang suka peran yang memancing adrenalin," ujar pemeran Sarah dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan ini. [ Print | Email ]
Iang Darmawan Buang Citra Kocak Iang Darmawan
Menghilangkan citra kocak dari personel Project P memang susah, seperti dialami Iang Darmawan, untuk bisa berperan sebagai Dadang Krisna di film layar lebar pertamanya, Kejar Jakarta. Dalam film tentang kerasnya kehidupan Jakarta itu, Iang berperan sebagai pemuda desa. Untuk perannya itu, ia mempelajari cara-cara Joe, sejawat satu grupnya, ngibulin orang, ngutang di warteg, sampai caranya melihat duit. [ Print | Email ]
Michael Owen Cedera Berat
Ketua MPR: Evaluasi Kepala BIN Secara Profesional
Zidane Pesimis Dapat Bermain Hingga 2007
Wapres Tak Mau Berspekulasi Soal Pelaku
Satu Orang Ditahan Usai Periksa 20 Saksi
|
|
Christine Hakim Dokudrama Puzzle Christine Hakim
Aktris senior Christine Hakim, 48 tahun, menerima tawaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk membuat film tentang Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pasca-tsunami. Tak mau kehilangan momen, Christine segera mengirimkan empat sutradara sekaligus ke NAD, untuk mengangkat aspek sejarah, sosial, dan konflik di sana. Kompleksnya permasalahan yang harus diangkat, diibaratkannya sebagai puzzle raksasa. [ Print | Email ]
I Gede Dewa Budjana Inspirasi Anak Budjana
Dua peristiwa besar di Indonesia (Tsunami dan Bom Bali) dan kehadiran buah hati, menjadi inspirasi bagi I Gede Dewa Budjana, 42 tahun, dalam mengerjakan album terbarunya, "Home". Dengan mengamati tingkah pola lucu putranya, Mahavishnu Devananda, 1 tahun, Budjana punya terinspirasi membuat sebuah lagu berjudul sama dengan nama anaknya. Selain itu, Budjana juga berhasil menggelar konser bersama dua gitaris, Tohpati dan I Wayan Balawan. [ Print | Email ]
Ulfa Dwiyanti Program Banyolan Ulfa
Ulfa Dwiyanti, 33 tahun, punya kegiatan baru: membawakan acara televisi "serius". Padahal selama ini cap kocak lekat dengan dirinya. Untuk itu, Ulfa harus rela berpisah sementara dengan celetukan dan banyolannya yang lucu, demi program terbarunya, "Upacara" (Ulfa Punya Acara). Namun dasar Ulfa tukang banyol, meski topik yang dibawakannya membahas seputar selingkuh, celetukan lucunya masih tetap keluar, meski suka diancam produsernya. [ Print | Email ]
Menag: Kegiatan Lia Aminuddin Sudah Lama
Pelaku Masih Terkait Teror Poso
Vidic Berpeluang Besar ke MU
Kapolda: Unsur Utama Adalah Pressure
Riera Tertarik Pindah ke Manchester City
|
|
 |
|
|
|