|
 |
|
 |
|
NASIONAL |
 |
| |
Gemuruh Menunggu Playboy Lokal
FRONT Pembela Islam (FPI) sedang menunggu Maret tiba. Seperti ramai diwartakan pekan lalu, bulan itu akan terbit majalah Playboy edisi Indonesia. Tapi organisasi yang bermarkas di Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, itu tentu bukan hendak memborong Playboy. Justru akan memberangusnya, jika majalah yang biasa menelanjangi perempuan ternama itu benar-benar terbit.
Ketua Umum FPI, Habib Muhammad Rizieq Shihab, menegaskan bahwa sikap organisasinya tidak main-main. "Kalau tetap terbit pada bulan Maret, akan kami sikat," ujarnya. Selama ini, FPI --yang dikenal sebagai organisasi Islam garis keras-- memang kerap menyikat tempat hiburan yang mereka anggap sebagai ajang maksiat, dengan menyerbu dan merusakkannya.
Menurut Rizieq, FPI tegas mengatakan, "Tidak!" untuk Playboy. Sebab, sepengetahuan dia, majalah yang berpusat di Chicago, Amerika Serikat, itu majalah porno.
Rizieq Shihab dan kelompoknya tak sendirian. Sejumlah organisasi lain, termasuk institusi politik, ramai-ramai menolak Playboy versi Indonesia. Mulai Majelis Mujahiddin Indonesia (MMI), Nahdlatul ulama, Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI), hingga PDI Perjuangan.
Meski belum melihat barangnya, masyarakat seolah kadung alergi dengan nama Playboy, majalah berlogo kepala kelinci milik Hugh Hefner itu. Padahal, Direktur Penerbitan PT Velvet Silver Media, M. Ponti Carolus, berulang kali mengatakan bahwa majalahnya akan dikemas lain dengan aslinya.
Menurut Ponti, Playboy Indonesia akan disesuaikan dengan Undang-Undang Anti-Pornografi dan Pornoaksi yang kini tengah dibahas DPR. Persiapan Ponti dan kolega-koleganya pun sudah hampir matang. Undangan audisi kepada para agen model untuk edisi perdana Playboy Indonesia sudah disebar Desember lalu.
Acara audisi model itu sedianya digelar di kantor mereka di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, pada 16 hingga 18 Januari lalu. Namun derasnya arus penentangan membuat audisi ditunda. Akibatnya, rencana penerbitan edisi perdana pun terpaksa diundur.
Ponti mengaku telah menghabiskan Rp 6 milyar untuk menerbitkan Playboy edisi Indonesia. Jumlah itu sangat mungkin akan membengkak karena persiapannya baru mencapai 70%. Apalagi, jumlah edisi perdana mungkin dinaikkan dari rencana awal 60.000 menjadi 100.000 eksemplar.
Ponti menegaskan, Playboy Indonesia tak akan mengumbar foto seronok, tapi justru akan menonjolkan artikel-artikel cerdas. "Kami berharap, nama besar Playboy bisa mempermudah akses terhadap para top person Indonesia, bahkan dunia, untuk interviu yang cerdas," katanya kepada Gatra.
Ponti menuturkan, awal pekan lalu ia berjumpa aktor James Bond, Pierce Brosnan, di Bandara New York. Ketika ia memperkenalkan diri sebagai wartawan Playboy Indonesia, Brosnan antusias menyambutnya. Padahal, Brosnan tak gampang berbicara dengan media dari negara berkembang. "Itu satu gambaran bahwa dengan Playboy, saya bisa mendapatkan kemudahan akses," tutur Ponti.
Kelak, Ponti berharap bisa memajang artikel wawancara dengan para selebriti, mantan Presiden Amerika, hingga pemenang Nobel. Meski Playboy Indonesia tak bisa dilepaskan dari citra majalah induknya, Ponti tak melihat alasan untuk melarang terbit. Menurut dia, banyak media lain yang beredar di sini memajang kemolekan tubuh wanita aman-aman saja. "Masak majalah pria lain yang berani memajang pose menantang dibolehkan, sedangkan kami tidak?" kata Ponti.
Memang, seperti diakui Dewan Pers, saat ini ada sejumlah media yang telah dilaporkan masyarakat karena dianggap vulgar. Media yang dituding porno itu, baik majalah, tabloid, maupun koran, dengan gampang bisa dijumpai di kios-kios koran dan majalah di pinggir jalan.
Bahkan sudah ada majalah asing yang dikenal seronok terbit dalam versi lokal. Jadi, Playboy Indonesia --jika jadi terbit di sini-- bukanlah satu-satunya majalah asing pria yang "dilokalkan".
Maxim dan For Him Magazine (FHM), keduanya berpusat di Inggris, memang beredar sejak tahun lalu di sini. Penampilannya pun mirip aslinya, dengan foto-foto syur perempuan mendominasi halaman-halamannya yang dicetak luks.
Pada edisi terakhir FHM, misalnya, terpajang foto nyaris telanjang dua perempuan lokal, kakak beradik, dengan pose menutupi auratnya. Pada rubrik Reporter yang berisi wawancara khusus itu, FHM mengutip pernyataan mereka sebagai judul: "Saya kebagian payudara besar, sedangkan Laura kebagian pantat padat berisi."
Sedangkan pada Maxim edisi terakhir, terpajang foto gadis bertelanjang dada memegang stik golf, seolah-olah seorang caddy yang siap menyerahkan stiknya kepada pembaca. Foto aduhai di rubrik Girls itu jelas hanya menjual kemolekan tubuh modelnya.
Maxim merupakan pesaing terberat Playboy. Keduanya saat ini menjadi pemimpin pasar majalah pria dunia. Di Amerika, masing-masing beroplah 2,5 juta hingga 2,8 juta eksemplar per bulan.
Edisi pertama Maxim dicetak di Inggris pada 1995. Dua tahun kemudian terbit edisi Amerikanya. Saat ini, Maxim beredar dalam 15 versi, sesuai negara yang merilisnya, sebagian besar di Eropa. Di Asia, selain di Indonesia, majalah itu juga dicetak di Korea Selatan, Singapura, dan Thailand.
Maxim edisi Indonesia baru terbit sejak Desember lalu, dan dijual Rp 32.000 per eksemplar. Menurut Erikar Lebang, Pemimpin Redaksi Maxim Indonesia, edisi pertama majalahnya dicetak 35.000 eksemplar dan langsung diserbu pembeli. Kala itu, isinya sudah 60% kandungan lokal. Sisanya diadaptasi dari majalah induknya.
"Brand Maxim diincar beberapa perusahaan Indonesia sejak lima tahun lalu," kata Erikar. Sebab majalah itu dianggap sebagai “The World Biggest Men's Magazine”. "Kami harus berjuang satu tahun untuk bisa mendapatkan lisensinya," Erikar menambahkan.
Menurut dia, Maxim bermain di ceruk pasar yang belum digarap oleh majalah laki-laki lain. Sasarannya pria muda, berumur 20 hingga 39 tahun. Menurut Erikar, isi majalahnya menghibur. "Banyak candanya, hingga benar-benar bacaan yang fun," ujar lulusan Desain Komunikasi Visual Universitas Trisakti itu. Model Maxim tak perlu gadis beken. "Yang penting enak dilihat dan fotogenik," katanya.
Erikar tidak risau dengan masuknya Playboy. "Justru industri majalah pria yang segmentasinya memang besar akan makin maju," tuturnya. Pendapat senada disampaikan Ery Prakasa, Chief Editor FHM Indonesia. Menurut dia, FHM tak akan tersaingi karena sudah punya brand mapan.
FHM adalah majalah bulanan, yang pertama kali dicetak di Inggris pada 1985, dengan nama For Him. Majalah yang didirikan Chris Astridge ini berubah jadi FHM pada 1994. Majalah itu kini beredar di 22 negara, sebagian besar di Eropa. Di Asia, selain di Indonesia, FHM juga dicetak di Taiwan, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Singapura.
Di Indonesia, FHM mulai terbit Agustus 2003. Menurut Ery, edisi perdananya 25.000 eksemplar. Saat ini, kata Ery, sudah dicetak 80.000 kopi. "Pembaca kami adalah pria berusia 30-50 tahun, yang senang pesta, hiburan, dan peduli kesehatan," kata lulusan akuntansi dari Swinbourne College, Melbourne, Australia, itu.
FHM Indonesia edisi perdana hanya berisi kandungan lokal 20%. Kini sudah meningkat jadi 40%. "Target kami muatan lokalnya mencapai 70%," ujar Ery kepada Eric Samantha dari Gatra.
Selain majalah waralaba yang menumpang nama besar majalah aslinya, ada juga media lokal yang dikemas dengan nama asing. Sebut saja X Men's Magazine dan Male Emporium (ME). X Men's, mulai terbit Agustus tahun lalu, digagas Jim Bary Aditya. Menurut mantan redaktur majalah pria Matra ini, ia menerbitkan X Men's karena pasar majalah Indonesia dijajah majalah asing.
"Saya prihatin jika hasil penjualan majalah ini harus lari ke luar negeri, sedangkan majalah lokal makin tenggelam," katanya kepada Sanwani Soehaly dari Gatra. Jim lalu merekrut teman-temannya: Arswendo Atmowiloto, Seno Gumira, dan Darwis Triadi, untuk mendirikan majalah pria bermuatan lokal.
Menurut Jim, majalahnya diharapkan menjadi media bagi para model yang mau mengembangkan kemampuan. Kini, kata Jim, 20% model yang telah direkrutnya sudah berhasil jadi bintang iklan, sinetron, dan film. Jim tidak menetapkan kriteria ketat untuk modelnya. Siapa pun yang datang dan lulus casting akan diorbitkan.
Tapi, menurut Jim, rubrik yang menjadi unggulannya justru kolom-kolom tulisan. Jim mengklaim, oplah majalahnya mencapai 30.000 kopi per bulan. Meski memajang foto-foto perempuan molek berpakaian minim, Jim tak takut dibilang porno. "Masih banyak media lain yang lebih vulgar," katanya.
Cynthia Limanouw, Direktur Pemasaran dan Komunikasi Majalah ME, membedakan foto jorok dan seni. Menurut Cynthia, ME berusaha menampilkan foto wanita molek dalam pose yang artistik. "Ini tidak porno karena foto artistik menggunakan berbagai teknik fotografi," ujarnya.
Menurut Cynthia, foto-foto yang dipajang ME jauh lebih sopan dibandingkan dengan majalah pria lain. "Kami tak ingin buka-bukaan, karena perempuan cantik sudah artistik tanpa harus vulgar," katanya. Lantaran memfokuskan diri pada foto seni, ME, yang lahir Januari 2001, memiliki sekolah dan studio fotografi sendiri.
Sebelum majalah-majalah bernama asing datang, di sini sebenarnya sudah beredar majalah yang membidik segmen pria dengan tampilan awal yang sopan. Tapi belakangan, bisa jadi karena tuntutan kompetisi, mereka ikut-ikutan nakal: memajang tubuh mulus kaum hawa. Dua majalah pionir di dunia pria itu adalah Matra dan Popular, berturut-turut lahir perdana pada 1986 dan 1988.
Buyung Pramunsyie, Redaktur Pelaksana Popular, mengklaim medianya sebagai yang terlaris untuk kategori majalah pria. "Itu berdasarkan survei ACNielsen," katanya. Karena itu, kata Buyung, kantor majalahnya di Stadion Lebak Bulus, Jakarta Selatan, selalu diserbu perempuan yang menawarkan diri menjadi cover.
Tapi Popular menerapkan kriteria ketat. "Untuk jadi cover tak cuma harus bertubuh bagus, dia juga harus berkiprah di dunia entertainment," tutur Buyung. Popular yang terbit bulanan dijual Rp 32.500 per jilid. Sejak 1991, majalah ini tampil lebih berani dengan memajang foto perempuan yang cuma berbikini.
Popular bikin heboh ketika memajang cover Sophia Latjuba yang seolah-olah tampil telanjang bulat pada 1999. Hingga kini, perempuan berbikini di kolam renang atau di pinggir laut selalu menghiasi cover Popular. "Perempuan mengenakan bikini merupakan poin penjualan," katanya.
Pada rubrik Tidur Bersama, Popular khusus memajang model-model lingerie perempuan, sehingga tampak sangat seksi dan syur. Rubrik ini khusus untuk model yang masih lajang, bisa gadis atau janda.
Popular juga selalu berusaha memajang selebriti molek di cover-nya. Berdasarkan pengalaman Buyung, Popular paling laku adalah yang sampulnya bergambar adik kakak Sarah dan Ayu Azhari. Tak diragukan lagi, Popular mengincar sosok perempuan bertubuh mulus untuk mendongkrak penjualan.
Pengelola Matra pun tak menampik kecenderungan itu. Firman Yursak, Redaktur Pelaksana Matra, mengatakan bahwa wanita memang daya pikat majalah pria. Tapi, kata dia, Matra selalu menjaga citra sebagai majalah yang smart, intelek, seksi, dinamis, dan peduli gaya hidup.
"Yang ingin kami tampilkan dari wanita adalah sensual yang elegan, bukan murahan," kata Firman kepada Ajeng Ritzki Pitakasari dari Gatra. Matra punya kriteria khusus untuk modelnya. Mereka harus berusia 21 hingga 40 tahun, punya reputasi bagus, cerdas, dan berpendidikan.
Menilik penjelasannya, semua media yang dianggap syur itu ternyata punya konsep idealis. Playboy edisi Indonesia pun begitu. Semua menampik dituding porno atawa jorok.
Namun, menurut Dewan Pers, saat ini ada sekitar 20 terbitan yang beredar di Indonesia yang dikeluhkan masyarakat sebagai media porno. "Sebagian dari luar, tapi banyak juga terbitan lokal," kata Ketua Komisi I Bidang Pengaduan Dewan Pers Indonesia, Leo Batubara.
Menurut Leo, Dewan Pers tidak dapat menindak mereka karena kewenangannya cuma menyangkut masalah pelanggaran etika pers. Sedangkan masalah pornografi menjadi wewenang kepolisian atau kejaksaan.
Yang bisa dilakukan Dewan Pers cuma memanggil pengelola media seronok itu untuk mencari tahu sejauh mana tanggung jawabnya dalam urusan pers. Nah, Jumat pekan lalu, Dewan Pers juga mengundang PT Velvet Silver Media, pemegang lisensi Playboy edisi Indonesia. Hadir memenuhi undangan itu antara lain Ponti Carolus, Direktur Penerbitan Velvet, dan Avianto Nugroho, yang mengurusi bagian promosi.
Menurut Leo Batubara, pihak Velvet menjelaskan bahwa Playboy Amerika memperbolehkan muatan lokal dalam edisi Indonesia. "Mereka menegaskan, Playboy Indonesia akan disesuaikan dengan kultur Indonesia," ujar Leo kepada Gatra.
Kalau memang isinya sesuai dengan nilai susila di Indonesia, kata Leo, berarti tidak ada etika pers yang dilanggar. Menurut Leo, jika kelak Playboy Indonesia dikemas seperti Playboy Amerika, seronok, hal itu bukan lagi urusan industri penerbitan, melainkan industri seks. Dan, itu sudah masuk wilayah kewenangan aparat hukum.
Aparat, kata Leo, bisa menjeratnya dengan KUHP atau Undang-Undang Pers. Dengan catatan, masyarakat secara aktif mengadukan pada polisi. "Dan polisi harus serius menanggapi dan menindaklanjutinya," katanya. Tanpa perlu menanti Undang-Undang Anti-Pornografi dan Pornoaksi, sebenarnya aparat sudah bisa bertindak. Jadi, Pak Polisi dan Pak Jaksa, apakah masih menanti laporan masyarakat?
Endang Sukendar, Dessy Eresina Pinem, Alfian, Asmayani Kusrini, dan Bambang Sulistiyo
[Laporan Utama, Gatra Nomor 10 Beredar Senin, 23 Januari 2006]
|
|
 |
|
BERITA TERKAIT |
|
 |
| |
Presiden PKS: Tolak Majalah Playboy Indonesia
|
|
 |
 |
|
| | |  | | KOMENTAR PEMBACA |  | | | | | |
Tanda-tanda kiamat .... (firmans94@ya..., 11/02/2006 03:27) Begitu banyak tanda-tanda kiamat di muka bumi ini, wabah dimana-mana, bencana dimana-mana, Tsunami, dll. Sekarang ditambah akan beredarnya majalah "PLAY BOY INDONESIA" sudah sebegitu bobrokkah Indonesia? ternyata krisis "MORAL" di Indonesia makin parah, hanya nafsu dan keserakahan yang dikedepankan dengan bemper untuk kebebasan hak asasi untuk menyampaikan pendapat, kreasi, seni dan segala tetek bengek dan seribu alasan. Segeralah bertobat wahai saudaraku-saudaraku !! | |  | | | | | |
Playboy, boleh juga tuh (sarizal2507@ya..., 31/01/2006 00:54) Sebentar lagi ada majalah Playboy di Indonesia? Boleh juga tuh. Berarti akan banyak gambar-gambar hot dan syur yang bisa di lihat dan ningkatin Birahi. dan bagusnya lagi kalo terbitan Indonesia kan berarti model nya juga dari Indonesia.
Biarin aja terbit, kan lumayan bagi para model yang mau cari popularitas. Biar nanti banyak terjadi kasus pelecehan seksual terhadap wanita, mungkin juga kasus perkosaan. Kan jadi ladang bisnis lagi buat industri PERS, Pers jadi banyak berita gitu. Trus juga b... <229 huruf lagi> | |  | | | | | |
haram terbit (mulya4me@ms..., 24/01/2006 19:13) Bisnis oriented itu udah jelas, karena bisnis yg berbau syur 2x dan bikin orang jadi ser 2x adalah bisnis yg paling mudah dan cepat menghasilkan banyak uang. Jelas ngga mungkin kalo playboy ngga akan menampilkan foto 2x seronok .karena itu sudah merupakan ciri khasnya. Kalo foto telanjang dibilang itu bagian dari seni, and I will dare to say “seni itu jorok”.Bagiku seni itu suatu bentuk keindahan tanpa menggugah gairah Mr and Mrs Syahwat .Se elegan apapun bentuknya tetap tak akan merub... <1464 huruf lagi> | |  | | | | | |
Playboisme tidak boleh terbit di Indonesia (rudy_tjah@ya..., 24/01/2006 13:02) Apapun alasannya majalah playboy tidak boleh terbit di Indonesia, baik itu tidak porno semi porno apalagi porno.Kita semua sudah tahu citra majalah tersebut jikalau sampai terbit juga berarti legalisasi pornografi n pornoaksi menang satu langkah.Kita memang tidak bisa menutup mata bahwa masih banyak majalah2 lokal yg tidak ternama menampilkan gambar2 sronok banyak bermunculan dipasaran.Namun demikian tidak bisa dijadikan oleh pihak playboy sbg batu pijakan alasan. Karena saya percaya jika majala... <199 huruf lagi> | |  | | | | | |
setuju dengan bay_almurobby,tapi bukan... (dr4smile@ya..., 24/01/2006 10:16) aku setuju dengan bay_almurobby,tapi bukan pada penggunaan kata babi haram,soalnya aku makan babi juga...tapi pornografi...uscchhh...
Menurutku dia benar dengan keberatan narasumber itu...tanya juga dong tentang keberatan2 nurani orang2 yang anti...dan itu yang terutama...sebab masalah timbul karena ada yang keberatan...
Buat Surya banjar yang mengatakan silahkan terbit soalnya sekalipun itu boleh,dia dan yang lain2nya yang religius tidak akan menyentuh...berarti ini kaum yang kuat imannya,
... <864 huruf lagi> | |  | | | | | |
Merendahkan Perempuan Saja (sriss@ea..., 24/01/2006 10:03) Disayangkan bila memang majalah Playboy versi Indonesia akan jadi diterbitkan. Karena dengan membaca dan melihat gambar-gambar yang seronok , kita munafik bila tak mengundang gairah. Hal ini berarti kita akan menambah problema sosial saja yang saat ini terjadi di negeri kita, yaitu seperti perdagangan perempuan dan anak untuk dijadikan wanita penghibur.
Memang pertama-tama penerbitannya, mungkin, akan disesuaikan dengan budaya kita, namun siapa tahu lama kelamaan akan mengekploitir para wanita ... <1996 huruf lagi> | |  | | | | | |
nggak usah takut .... (elangsatu@ya..., 24/01/2006 06:31) Nggak usah takut dulu deh, sapa tahu muatan lokal nya benar ada. model2nya pasti memakai kebaya atau baju bodo ala sulawesi. | |  | | | | | |
Harus Bijaksana (athila3001@ya..., 24/01/2006 05:11) pro-kontra majalah plyaboy edisi indonesia perlu disikapi secara bijaksana. pihak yang kontra yang kuatir akan merusak moral bangsa, sedangkan yang pro menolak mentah-mentah bahwa majalah playboy ini akan tidak sama dengan induknya majalah playboy amerika. sebelumnya sudah beredar majalah-majalah yang sangat syur dengan menonjolkan lekuk2 tubuh wanita. belum lagi beredar luasnya vcd-dvd porno dimasayarkat, bahkan tayangan tv yang cenderung ke arah porno aksi. pemerintah sebaiknya bijaksana memu... <575 huruf lagi> | |  | | | | | |
Kenapa Harus Indonesia ? (su_onedi@ya..., 24/01/2006 00:49) Memang Negara Indonesia sekarang ini sedang butuh investor untuk menanamkan modalnya guna menambah lapangan kerja. Akan ttp, dengan mendirikan perusahaan yg memproduksi majalah seperti ini, yg notabene merupakan majalah yg di konsumsi oleh kalangan menengah keatas dan sangat kontoversial, apakah tidak ada bisnis yg lebih proaktif terhadap budaya, agama dan kepribadian Indonesia. Janganlah mengambil 'presedent' buruk untuk dijadikan alasan, guna tetap melangsungkan rencana launching di Maret nant... <2 huruf lagi> | |  | | | | | |
wow...playboy (syaiful@sa..., 24/01/2006 00:25) Gambar Kelinci ber-tuxedo itu memang identik dengan majalah SYUR di dunia yaitu PLAYBOY..majalah PRIA dengan content yg dimuat adalah kaum hawa yg menampilkan sedikit atau banyak AURAT untuk dikomsumsi oleh kaum ADAM didunia.Sekarang ini ramai di bicarakan penerbitan perdana PLAYBOY INDONESIA ada yg PRO dan KONTRA dan sudah bisa di tebak siapa yg PRO & siapa yg KONTRA..yg PRO adalah orang yg BUSINESS ORIENTED,KAUM MODERNITAS dalam PERGAULAN,KAUM YG MENGHAMBAKAN SEKS,KAUM MUDA DLL..sedangkan yg K... <441 huruf lagi> | |  | | | Daftar Seluruh Komentar
| |
 |
|