|
 |
|
 |
|
INTRIK |
 |
| |
Creative Economy
DALAM acara ngopi-ngopi dengan seorang teman lama, tiba-tiba saja muncul topik "creative economy". Kebetulan teman ini senior dalam bidang periklanan. Beliau paham betul makna kata "kreativitas". Mungkinkah ekonomi kita berubah dari ekonomi yang bertumpu pada pengolahan sumber daya menjadi ekonomi konsep baru yang mengandalkan kreativitas?
Di negara maju, creative economy telah menjadi roda penggerak ekonomi yang tidak bisa lagi dianggap enteng. Industri hiburan yang terdiri dari film, musik, media, dan penerbitan di Amerika Serikat memiliki nilai sangat besar. Tahun 2005, hanya 20% buruh Amerila yang bekerja di sektor industri secara langsung, 80% sisanya diserap sektor lain. Hal yang sama terjadi di India. Lihat saja Bollywood dan sektor software yang berkembang akhir-akhir ini. Semuanya menunjukkan gejala pembaruan ekonomi, yaitu creative economy.
Creative economy punya nilai lebih tinggi. Sebagai pembanding, nilai kapitalisasi saham Microsoft, yang hanya memiliki kurang lebih 30.000 pegawai di seluruh dunia, mencapai US$ 600 milyar. Sedangkan nilai kapitalisasi saham McDonald's, yang pegawainya di seluruh dunia melebihi 300.000 orang, cuma kurang dari sepersepuluh Microsoft. Jelas creative economy bisa menjadi potensi sangat dahsyat.
Creative economy punya beberapa kelebihan unik. Misalnya saja, sebuah ide, lagu, atau film dapat menyebar ke seluruh dunia dalam tempo sangat singkat, sekalipun jalur distribusinya 100% secara virtual. Berbeda dengan produk-produk industri nyata, yang butuh logistik dan jalur distribusi berlapis-lapis. Di samping mahal, juga memakan sumber daya dengan kecepatan jauh lebih rendah.
Hanya saja, produk-produk creative economy, seperti film, buku, musik, software komputer, dan video games, sangat mudah dipalsukan dan dibajak. Semata-mata karena ongkos menggandakannya sangat murah. Juga dengan teknologi saat ini, kecepatan dan kemampuan memalsukan tak terhitung sangat cepatnya. Lalu, di mana posisi kita dalam creative economy saat ini?
Saya pribadi menganggap creative economy di Indonesia perlu dikembangkan secepat mungkin, untuk menciptakan daya saing yang lebih berimbang secara global. Misalnya saja, beberapa produk creative economy seperti musik Indonesia populer, dangdut, sinetron, dan desain batik sudah menjadi komoditas ekspor yang baik. Potensi lainnya masih banyak. Rahasianya sederhana. Yaitu menggunakan imajinasi untuk menciptakan ide baru, yang mampu mengglobal dan laku diekspor.
Seorang teman berkilah bahwa di kantong-kantong produksi keramik di Jawa Barat atau mebel di Jawa Tengah dan perhiasan serta lukisan di Bali, kita punya sumber daya perajin sangat berpengalaman, terampil, dan mampu menghasilkan produk berkualitas tinggi. Yang tidak ada justru desainer kreatif yang mampu melahirkan ide-ide baru yang orisinal dan segar, sehingga produk kerajinan tidak melulu berkualitas rendah dengan desain ketinggalan zaman.
Tak mengherankan apabila banyak orang asing, yang datang dengan desain baru yang segar, lalu membuat produknya di sentra produksi di Jawa dan Bali, kemudian mengekspornya dengan nama atau merek sendiri. Buntutnya, perajin kita tetap saja menerima upah yang rendah.
Seorang teman melaporkan, di sebuah butik di Las Vegas, ia melihat sebuah baju kebaya ala Indonesia dipajang di etalase paling depan. Ketika ia bertanya tentang harganya, konon mendekati Rp 200 juta. Ia sampai terkaget-kaget. Ia juga kaget ketika di bandara menemukan sebuah buku tentang kebaya, tetapi bukan ditulis orang Indonesia, melainkan oleh orang Malaysia. Ia pun waswas, jangan-jangan kebaya nantinya diklaim sebagai hasil karya orisinal Malaysia.
Kadang saya sangat sedih melihat desain batik secara sembrono diaplikasikan, misalnya, ke dasi, baju seragam, atau produk-produk interior, tanpa sedikit pun memperhatikan kreativitas apik dan komersial. Di Yogyakarta, di sebuah pusat perbelanjaan, sang satpam memakai seragam dengan peci, dasi, dan kemeja yang semuanya dari batik. Tapi kesannya asal tempel. Tidak menggunakan kepekaan estetik. Akibatnya, terlihat seperti batik yang diperlakukan sewenang-wenang.
Ada baiknya sekolah dan pusat pelatihan yang mampu memberdayakan kreativitas dibentuk dan diperbanyak. Semata-mata agar muncul kreativitas yang bisa menggerakkan ekonomi dan daya saing.
Kafi Kurnia
peka@indo.net.id
[Intrik, Gatra Edisi 23 Beredar Senin, 17 April 2006]
|
|
| | |  | | KOMENTAR PEMBACA |  | | | | | |
creative itu mahal (charloq@ya..., 23/04/2006 00:56) Benar sekali pak Kafi. Produksi original Indonesia sangat banyak yang tidak berkembang mengikuti permintaan pasar. Batik sudah banyak diklaim oleh China dan Thailand sebagai original produk mereka (kita bisa check di berbagai website mereka). Bahkan di pasar international nama batik kadang tidak terkait dengan Indonesia sama sekali. Di Jepang, butik2 menghadirkan aneka batik dengan design modern dan dipajang di toko antik Made in India atau Thailand. Belum lagi pasar rotan dan kayu. Industri Ind... <189 huruf lagi> | |  | | | | | |
bukan kebaya saja (indoncuba@ho..., 20/04/2006 10:30) bukan kebaya saja. rambutan, durian sudah diklaim produk asli thailand (ini jelas2 keberhasilan strategi pemasaran), bahkan batik pun sudah ada batik afrika. padahal namanya jelas2 batik-dari jawa, rambutan dan durian pun, kata harfiahnya adalah rambut (an) dan duri (an) yang jelas2 bahasa Indonesia. tapi tak usah heranlah, dan jangan hiperbol bahwa orang Indonesia juga intelek dan pintar (pintar nepu sama korupsi iya). akui saja standar kita standar kuli, di pentas internasional hanya jadi peno... <246 huruf lagi> | |
 |
|