 |
|
 |
|
NASIONAL |
 |
| |
Aa Gym: Hentikan Kekerasan Israel, Agar Tak Ada Dendam
Jakarta, 28 Juli 2006 13:28 KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) mengatakan, Indonesia sebagai negara berpenduduk mayoritas Islam hendaknya mendorong organisasi internasional segera menyelesaikan kasus Israel, agar tidak memicu munculnya aksi balas dendam.
Aa Gym menyatakah hal itu seusai pertemuan antara para tokoh masyarakat dan lintas agama dengan perwakilan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di Jakarta, Jumat.
"Kalau tindakan Israel yang menyerang penduduk sipil itu tidak dihentikan maka akan memicu pembalasan dan dendam di seluruh dunia sehingga mengancam perdamaian dunia," katanya.
Oleh karena itu, kata dia, sejumlah tokoh masyarakat dan lintas agama meminta Pemerintah RI dan pemerintah negara anggota PBB lainnya agar segera mengajukan usulan penyelenggaraan sidang darurat khusus oleh lembaga Sidang Umum PBB berdasarkan "Uniting for Peace Resolution" (No. 377A/1950).
Sidang darurat itu untuk membahas, memutuskan dan menerapkan langkah-langkah yang nyata untuk menghentikan kekejaman Israel dan bagi terciptanya perdamaian serta keamanan di kawasan Timur Tengah, katanya.
Menurut Aa, penggunaan kekuatan militer secara berlebihan dan penghancuran instalansi sipil tersebut telah menimbulkan tragedi kemanusiaan yang luas.
Sementara itu, berlanjutnya ketidakberdayaan Dewan Keamanan PBB bertindak dalam situasi di mana penduduk sipil Palestina dan Lebanon dibantai secara keji oleh Israel telah mengurangi kredibilitas DK PBB.
DK PBB selaku satu-satunya organ PBB yang diberi kewenangan melakukan tindakan pemaksaan guna menegakkan hukum internasional dan menjalankan fungsi utama pemeliharaan perdamaian dan keamanan internasional, katanya.
"Kita tidak boleh menyerah untuk terus ikhtiar, harus terus berusaha," katanya saat diminta komentarnya mengenai ketidakberdayaan PBB itu, termasuk peristiwa terbunuhnya pasukan perdamaian PBB oleh serangan Israel.
Sementara itu Dewan Keamanan (DK) PBB, baru-baru ini mensahkan resolusi yang menyampaikan rasa terkejut dengan serangan Israel terhadap pos pengamat PBB di Lebanon sehingga menewaskan empat prajurit pemelihara perdamaian tapi tak menyampaikan pengutukan.
Amerika Serikat telah menolak untuk mengizinkan pengecaman terhadap Israel dalam pernyataan itu. Tetapi utusan Cina mengeluh bahwa versi terakhir tersebut diperlunak setelah setiap isyarat pengutukan dikeluarkan.
"Dewan Keamanan sangat terkejut dan sedih dengan penembakan oleh Pasukan Pertahanan Israel terhadap pos pengamat PBB di Lebanon Selatan pada 25 Juli," demikian antara lain isi pernyataan itu --yang disahkan dengan suara bulat oleh Dewan 15-anggota tersebut.
Serangan Selasa di Khiam, Lebanon selatan, menewaskan pengamat PBB tak bersenjata dari Austria, Kanada, Cina dan Finlandia.
Satu paragraf yang menyatakan "Dewan Keamanan mengutuk setiap serangan yang disengaja terhadap personil PBB" dihapus, bersama satu frasa yang mestinya menyeru PBB terlibat dalam penyelidikan.
DK PBB menyeru Israel "untuk melakukan penyelidikan menyeluruh mengenai peristiwa ini, dengan mempertimbangkan setiap bahan yang relevan dari PBB, dan mengumumkan hasilnya sesegera mungkin".
Menurut pernyataan itu, "DK sangat prihatin mengenai keselamatan dan keamanan personil PBB dan sehubungan dengan ini menegaskan Israel dan semua pihak terkait harus mematuhi sepenuhnya kewajiban mereka, hukum kemanusiaan internasional yang berhubungan dengan perlindungan bagi PBB dan personil terkaitnya". [TMA, Ant]
|
|
 |