 |
|
 |
|
JAWA |
 |
| |
Operasi Pemisahan Bayi Kembar Siam Dikembalikan pada Orangtuanya
Yogyakarta, 5 Januari 2007 13:20 Bayi kembar siam dempet pinggul, Yunita dan Anita, yang berhasil dipisahkan melalui operasi di RS Dr Sarjito Yogyakarta (5/8), Jumat, diserahkan kembali kepada orangtuanya.
Penyerahan kembali kedua bayi itu dilakukan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X kepada Riswanto (27) ayah Yunita-Anita di RS Dr Sardjito Yogyakarta.
Menurut dr Rohadi SpBA ketua tim dokter yang melakukan operasi pemisahan bayi kembar siam tersebut, kedua bayi itu dirawat di RS Dr Sardjito sejak 21 Januari 2006, rujukan dari Rumah Sakit Panembahan Senopati Bantul.
Orangtua bayi kembar siam itu warga Dusun Karangtengah, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, DIY. Ibunya, Rumiyati, meninggal saat melahirkan kedua bayi tersebut.
Kata dr Rohadi, operasi pemisahan bayi kembar itu dilaksanakan pada 5 Agustus 2006, dan berlangsung sekitar delapan jam dengan ditangani 40 dokter dari berbagai ahli serta dibantu 30 orang perawat.
"Biaya operasi ini sekitar Rp300 juta, di antaranya untuk pengadaan alat dan obat. Sedangkan untuk dokter tidak ada biaya," katanya.
Menurut dia, meski secara umum kondisi kesehatan kedua bayi tersebut saat ini cukup baik dan stabil, namun masih dalam perawatan intensif serta pemantauan perkembangan pascaoperasi.
"Masih ada masalah pada fungsi pencernaannya, sehingga perlu selalu dikontrol dokter," kata Rohadi.
Sementara itu, Riswanto ayah Yunita-Anita mengatakan dirinya saat ini masih kebingungan, karena untuk kontrol kesehatan kedua anaknya ini tentu perlu biaya tidak sedikit. "Saya hanya bekerja sebagai buruh, dari mana saya mendapatkan uang untuk biaya kontrol anak saya nanti," katanya.
Gubernur DIY Sultan HB X dalam sambutannya pada acara penyerahan kedua bayi itu mengatakan rumah sakit-rumah sakit di DIY harus lebih siap untuk menolong pasien dalam kondisi apapun.
Menurut dia, apalagi saat ini sedang musim hujan, dan DIY termasuk daerah rawan bencana alam seperti tanah longsor, banjir lahar dingin Gunung Merapi maupun badai laut di pantai, sehingga rumah sakit harus selalu menyiapkan diri menghadapi kemungkinan jatuh korban akibat bencana itu.
Untuk itu, kata Sultan, pelayanan rumah sakit harus cepat dan tepat dalam menolong pasien, begitu pula aktifitas humas rumah sakit dalam memberikan informasi kepada masyarakat perlu ditingkatkan lagi. [TMA, Ant]
|
|
 |