 |
|
 |
|
APA & SIAPA |
 |
| |
Asep Ramdhani Sanggar Independen Anak Sepatu
Tak ada kesan berlebih dari penampilan Asep Ramdhani. Perawakannya yang kecil dan kurus tak menunjukkan sosok aktivis yang memperjuangkan hak-hak anak. "Saya menjadi aktivis anak sejak enam tahun lalu," kata Asep. Ini berarti ia sudah membela hak-hak anak pada saat masih berusia 10 tahun.
Ia membela hak-hak anak yang bekerja di industri alas kaki di Cibaduyut, Bandung. Keterlibatan Asep sebagai pembela hak anak dilatarbelakangi masa lalunya yang tak seberuntung anak-anak lainnya. Sejak berusia satu bulan, Asep harus kehilangan kasih sayang kedua orangtuanya.
"Ayah dan ibu saya cerai," kata Asep. Karena itulah, ia diasuh bibinya yang tinggal tak jauh dari sentra industri sepatu Cibaduyut. Asep hidup serba kekurangan dan terpaksa berhenti sekolah setelah tamat SD.
Di lingkungan tempat tinggalnya, angka putus sekolah sangat tinggi. Asep bekerja sebagai buruh angkutan barang di pasar. Terkadang ia membantu saudaranya yang tinggal di Subang, Jawa Barat. Selain itu, ia juga membantu bibinya berjualan bubur ayam di Pasar Subang.
Selepas berjualan bubur, ia membantu menjadi kernet angkutan kota yang dikemudikan pamannya. Pekerjaan itu dilakoninya sejak pagi hingga menjelang tengah malam. Asep berkenalan dengan para aktivis yang memperjuangkan hak-hak anak ketika ia masih duduk di bangku kelas V SD.
Kebetulan, tak jauh dari rumahnya, berdiri sebuah sanggar bermain, Sanggar Kreativitas Anak Sidikara. Sanggar bermain milik Yayasan Sidikara dan Organisasi Buruh Sedunia (ILO) itu menampung sejumlah anak-anak pekerja di lingkungan industri sepatu Cibaduyut. Tujuannya, menghapus pekerja anak sektor alas kaki.
Jumlah pekerja anak di Cibaduyut memang sangat tinggi. Berdasarkan data ILO pada 2005, jumlah "bengkel sepatu" --sebutan industri sepatu rumahan di Cibaduyut-- mencapai 1.132. Tiap bengkel sepatu setidaknya mempekerjakan dua buruh yang masih anak-anak.
Sehingga jumlah pekerja anak di industri sepatu Cibaduyut mencapai 2.264 jiwa. "Mereka tidak diupah secara layak," ujar Asep. Pekerja anak-anak di bengkel sepatu hanya dibayar Rp 10.000 hingga Rp 15.000 sehari. Mereka bekerja selama 12 jam sehari, mulai pukul 08.00 dan baru pulang pukul delapan malam.
Nasib pekerja anak yang tidak menguntungkan ini mengusik nurani Asep. Bersama sejumlah temannya, ia bergabung dalam sanggar. Dari sanggar yang beranggotakan lebih dari 500 anak itu, dia belajar banyak soal hak-hak anak.
Asep mencoba memperjuangkan hak-hak anak lewat beragam cara. Termasuk menemui Ketua Asosiasi Pengusaha Sepatu Cibaduyut. "Saya meminta agar kesejahteraan pekerja anak ditingkatkan. Mereka harus dibayar sama dengan pekerja dewasa," kata Asep, bersemangat.
Asep beruntung, untuk mengelola sanggar, dia dan teman-temannya tak perlu memikirkan biaya. Semua fasilitas, seperti komputer dan listrik, disediakan ILO. Asep yang ditunjuk menjadi koordinator program pelatihan komputer juga memperoleh beasiswa untuk melanjutkan sekolah dari Yayasan Sidikara.
Sayang, dua tahun terakhir, ILO memutuskan mengakhiri programnya di Cibaduyut. Sanggar yang ada pun terpaksa ditutup. "Mereka menganggap proyek sudah berhasil," tutur Asep. Tapi tidak demikian dengan para pekerja anak. Tak adanya tempat bermain dan belajar membuat mereka memilih kembali menjadi "anak bengkel sepatu".
Kenyataan ini sangat memukul Asep. Kondisi pekerja anak di Cibaduyut masih mengkhawatirkan dan butuh penanganan serius. Asep mengajak rekan-rekannya membangun sanggar baru. "Kali ini harus independen, jangan tergantung ILO atau Sidikara," ujar Asep.
Maka, mulailah dibangun sanggar sederhana di sebuah rumah kosong. Sanggar dari bilik bambu berukuran 12 x 4 meter ini mencoba menampung sejumlah kegiatan. Salah satunya, menyalurkan bakat bermain musik anak-anak pekerja di industri sepatu. "Alat musiknya dari kaleng-kaleng bekas," kata Asep.
Bengkel yang diikuti para pekerja dan mantan pekerja anak itu diundang mengisi berbagai acara. Selain itu, untuk memperoleh biaya operasional sanggar, Asep dan kawan-kawan membuat berbagai kerajinan dari kayu dan kulit.
Hasil kreativitas ini berbuah manis. "Ternyata ada nilai jualnya. Uangnya bisa buat operasional sanggar dan pemasukan anak-anak," katanya. Pekerja anak sepatu satu per satu kembali bergabung. Sanggar yang didirikan pada Oktober 2006 itu pun diberi nama: Sanggar Muda Kreatif.
Asep kemudian ditunjuk sebagai koordinator divisi kemitraan. Telanjur aktif di dunia LSM, Asep pun tak tanggung-tanggung. Dia bertekad mengabdikan dirinya sebagai aktivis sosial.
Ketua OSIS SMK Negeri 7 Bandung ini bergabung dengan Yayasan Sidikara sebagai sukarelawan. Tugasnya, melakukan pendampingan terhadap kaum difabel atau anak-anak cacat. "Mereka harus punya akses belajar yang sama dengan kita," kata Asep.
Belakangan, Asep bergabung di Forum Anak Jawa Barat, yang sama-sama memperjuangkan hak anak. Sepak terjangnya inilah yang mendapat perhatian dari Unicef, yang kemudian menobatkannya sebagai Pemimpin Muda Indonesia 2007.
Meski begitu, Asep mengaku tak ada yang berubah dalam dirinya. Dia tetap bersekolah dan membela hak anak-anak sepatu.
[Ikon, Gatra Nomor 40 Beredar Kamis, 16 Agustus 2007]
|
|
| | |
 |
| KOMENTAR PEMBACA |
 |
| | |
| |
salut buat asep (n4z1d@ya..., 28/08/2007 13:02) salut buat asep walaupun masih muda namun punya hati nurani yang tak kalah dengan yang tua bahkan lebih salut buat asep jangan menyerah terus berjuang untuk anak anak yang kurang beruntung tanpa harus ketinggalan tuk berprestasi di sekolah semoga apa yang kau perjuangkan memberi nilai lebih buat orang lain. | |
 |
| | |
| |
Berjuang terus Asep.....calon Gubernur Jabar 2020 (tyuono@gm..., 27/08/2007 10:24) Salut !...terus berjuang demi masa depan anak-anak cibaduyut....semoga nilai-nilai asep menular ke semua penjuru nusantara........ngomong2 gubernurnya kemana???? ......peristiwa kayak gini lolos dari pengamatan.... hidup asep calon cagub jabar 2020!!!!! | |
 |