|
 |
|
 |
|
WISATA & HIBURAN |
 |
| |
Biografi Syafi`i Ma`arif Difilmkan
Jakarta, 6 Agustus 2009 05:32 Birde Production dan Maarif Institute for Culture and Humanity akan membuat film trilogi layar lebar tentang kehidupan mantan Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, Ahmad Syafi`i Ma`arif.
Sutradara film biografi Buya Syafi`i tersebut, Damien Dematra, di Jakarta Pusat, Rabu (6/8), mengatakan bahwa film tersebut akan diberi judul Ahmad Syafi`i Ma`arif , Si Anak Kampoeng; Sebuah Trilogi.
Jumpa pers menghadirkan Buya Syafi`i Ma`arif yang ditemani Guru Besar STF Driyarkara Romo Frans Magnis Suseno, Ketua Konferensi Wali Gereja Indonesia Julius Kardinal Darmaatmadja SJ, Ketua Majelis Budayana Indonesia Sudamek, Ketua Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) Budi S Tanuwijaya, Pdt. Dr. Erick Barus dari Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, dan Aktivis HAM Romo Beny Susetyo.
Damien mengaku tertarik untuk memfilmkan biografi Buya Syafi`i karena kisah hidup tokoh Muhammadiyah tersebut sangat menarik, dramatis, dan konflik yang patut menjadi pembelajaran bagi masyarakat luas. "Buya Syafi`i merupakan cermin bagi generasi muda, mengajarkan perjuangan untuk mencapai sesuatu yang mungkin tidak mustahil. Kekokohan integritas kepribadiannya berhasil meruntuhkan mitos darah biru dalam orbit kepemimpinan bangsa," ujarnya.
Dalam diri Buya Syafi`i berpadu kesahajaan, ketauladanan, konsistensi kata, dan perubatan, serta sikap egaliter dan ketulusan.
Damien mengatakan, film tentang tokoh kelahiran Sumpur Kudus, Sumatra Barat, tersebut, dibagi tiga film karena kisah hidupnya tidak cukup untuk difilmkan dengan satu film.
Tiga film akan terbagi tentang film dokumenter kegiatan Buya Syafi`i, dan dua film lainnya tentang kisah kehidupan dari tanah kelahiran sampai merantau dan belajar di Yogyakarta, dan kehidupan di Chicago, Amerika Serikat, serta sesudahnya.
Damien mengatakan, Buya Syafi`i direncanakan bermain dalam film kedua dan film ketiga.
Sementara, Buya Syafi`i mengatakan, ide pembuaatan film tentang biografinya bukan berasal dari dia, tetapi dari Damian sendiri dan Ma`arif Institute. "Saya ini apa lah? Saya melihat saya ini tidak penting. Kalau saya ini penting, hasil pilpres (pemilihan presiden) tidak akan seperti ini," katanya.
Apalagi dalam Muhammadiyah, pengkultusan pribadi merupakan hal yang syirik dan dilarang dalam Islam.
Mengenai harapan dengan tiga filmnya tersebut, Syafi`i mengatakan menyerahkan penilain kepada masyarakat.
Romo Frans Magnis Suseno mengatakan, sosok Buya Syafi`i memberikan rasa aman dan sikap hidupnya merupakan bukti kebersamaan keagamaan serta kedamaian.
Sedangkan Romo Kardinal Darmaatmadja mengatakan, Buya Syafi`i merupakan tokoh yang pluralis ditengah keberagaman hidup masyarakat Indonesia.
Lantas bagi Sudamek, film biografi Syafi`i akan menjadi peninggalan (legacy) penting dari tokoh Muhammadiyah tersebut.
Pendeta Erick Barus mengatakan sosok Syafi`i merupakan sosok dengan pemkiran yang perlu diteladani yang menganjurkan agar masyarakat kembali ke nilai-nilai agama.
Sedangkan Budi Tanuwijaya mengharapkan film biografi Buya Syafi`i bisa memberikan pencerahan dan pendidikan kepada masyarakat Indonesia.
Romo Beny Susetyo mengatakan, film ini bakal dinantikan oleh masyarakat karena dapat memberi pencerahan dan titik balik seperti karya Pramoedya Ananta Toer. [EL, Ant]
|
|
| | |  | | KOMENTAR PEMBACA |  | | | | | |
Contoh Baik Contoh Jelek (syaifulpandu@ya..., 06/08/2009 09:07) Keknya, film-film yang berlatar atau yang berkisah tentang orang-orang intelek agak kurang banyak diproduksi di Indonesia. Sebaiknya Pemerintah memberi kesempatan kepada seniman/sutradara-sutradara berbakat untuk membuatnya. Dananya, ya, harus ditanggung Pemerintah.
Biar masyarakat kita pintar-pintar, ya, mereka juga harus disuguhi tontonan yang memintarkan dan mencerdaskan.
Kita tunggu respon dari Pemerintah! | |
 |
|