|
 |
|
 |
|
LINGKUNGAN |
 |
| |
Tambang Dibuka, Bayi-bayi Menderita
Sepintas, Andini Dewani Putri tampak biasa saja: bayi mungil yang cantik. Putri pertama pasangan Hendra Gunawan, 28 tahun, dan Hartina, 25 tahun, warga Air Hitam, Pangkal Pinang, Bangka Belitung, itu lahir normal, 30 Oktober lalu, dengan berat badan 2,4 kilogram dan panjang 49 sentimeter.
Keluarga Hendra tentu bahagia... tapi bercampur pilu. Betapa tidak, Andini lahir dengan perut terbuka. Usus dan beberapa organ lainnya menyeruak keluar perutnya. Andini kini sedang dalam perawatan intensif di ruang kaca Perawatan Nusa Indah, Rumah Sakit Bakti Timah (RSBT), Pangkal Pinang.
"Andini baru saja dioperasi untuk memasukkan usus yang keluar dari perut," kata Dokter Redmal Sitorus dari RSBT. Menurut dia, bayi mungil itu menderita kelainan dinding perut. Dalam ilmu kedokteran, kelainan semacam ini dibedakan menjadi dua jenis: omphalocele dan gastroschisis.
Omphalocele terjadi saat bayi masih dalam kandungan. Karena gangguan fisiologis pada sang ibu, dinding dan otot-otot perut janin tak terbentuk dengan sempurna. Akibatnya, organ pencernaan seperti usus, hati, tali pusar, serta lainnya tumbuh di luar tubuh. Jenis gastroschisis terjadi seperti omphalocele. Bedanya, posisi tali pusar tetap pada tempatnya.
Andini bukan satu-satunya bayi yang menderita kelainan dinding perut. Menurut catatan Dinas Kesehatan Bangka Belitung, dalam kurun waktu tiga bulan belakangan ini, setidaknya ada enam kasus kelahiran dengan usus terburai. Padahal, selama ini catatan medis memperlihatkan, angka kejadian kelainan dinding perut adalah sekali dalam tiap 200.000 kelahiran.
Sejauh ini, menurut Redmal, penyebab penyakit ini masih dalam penelitian. Namun, menurut beberapa literatur kedokteran, omphalocele diduga lebih banyak terjadi karena kelainan genetik. Pertanyaannya kemudian, apa yang menyebabkan kelainan gen ini tiba-tiba muncul?
"Beberapa literatur kedokteran menyebutkan, kelainan bisa karena makanan yang mengandung bahan pengawet berlebihan," kata Redmal. Selain itu, asupan gizi yang tak seimbang, obat-obatan berbahaya, serta unsur polutan logam berat dan radioaktif yang masuk ke dalam tubuh ibu hamil juga bisa menjadi penyebab.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bangka Belitung, Dokter Sri Hartono, curiga pada penyebab terakhir. "Faktor radiasi oleh unsur tertentu juga berperan. Di kawasan Bangka Belitung, paling banyak polutan yang berasal dari kegiatan pertambangan," ujar Hartono kepada Gatra.
Agar lebih sahih, Dinas Kesehatan melakukan penelitian di sejumlah kawasan permukiman. Yang dipilih adalan permukiman yang dekat dengan usaha tambang inkonvensional (TI). Itu adalah usaha tambang timah yang dilakukan penduduk setempat. Sebagai pembanding, Dinas Kesehatan juga meneliti permukiman yang jauh dari usaha itu.
"Hasilnya, daerah yang jauh dari kegiatan TI sangat kecil terkena radiasi aktif dari mineral-mineral timah," kata Hartono. Sebaliknya, daerah yang dekat dengan penambangan punya risiko terkena radiasi tiga kali lebih besar. "Hasil penelitian ini sangat penting, karena kasus bayi lahir dengan kelainan tadi sangat besar," Hartono menambahkan.
Karena itu, pihak Dinas Kesehatan akan mengadakan penyuluhan terhadap ibu-ibu hamil di kawasan tambang. Menurut Hartono, banyak tambang rakyat yang tidak memperhatikan sistem pembuangan limbah. Bekas galian tambang dibiarkan terbuka begitu saja. Limbah bekas pengolahan dan peleburan timah tak terurus dengan baik. "Akibatnya, banyak unsur radioaktif yang berbahaya sangat mungkin terpapar pada tubuh," katanya (lihat: TI Sang Penguasa).
Walhasil, lihatlah nasib Andini. Sepuluh pekan setelah operasi, kondisinya memang makin membaik. "Tetapi dia masih harus melalui serangkaian operasi lagi agar lebih sempurna. Ini juga tergantung kondisi kesehatannya," tutur Redmal. Andini juga harus dirujuk pada rumah sakit lebih besar. "Peralatan RSBT tidak mencukupi," kata Redmal.
Hendra hanya bisa pasrah melihat nasib anaknya. Pekerjaannya sebagai salesman motor di Pangkal Pinang membuat Hendra harus pontang-panting mencari tambahan untuk dana operasi yang tentu mencapai puluhan juta rupiah. "Untuk operasi pertama saja sudah habis Rp 10 juta. Itu pun pinjam sana-sini dari keluarga," katanya. Ia berharap ada pihak-pihak yang bersedia membantunya.
Nur Hidayat, dan Noverta Salyadi (Pangkal Pinang)
[Lingkungan, Gatra Nomor 3 Beredar Kamis, 30 November 2006]
|
|
 |
|