|
 |
|
 |
|
WISATA & HIBURAN |
 |
| |
Festival Film Indonesia Menakar Pamor Piala Citra
Kado akhir tahun Festival Film Indonesia (FFI) membuat sejumlah insan perfilman Indonesia mengurut dada. Mestinya ajang perhargaan tertinggi bagi industri film dalam negeri ini bisa memberikan bingkisan indah. Harapan ini sirna ketika Jenny Rachman dan Raam Punjabi menyebutkan Ekskul sebagai film terbaik FFI, Kamis pekan lalu.
Film produksi PT Indika Cipta Media itu mengungguli Denias, Senandung di Atas Awan (Alenia Pictures), Mendadak Dangdut (Sinemart), Heart (Starvision), dan Ruang (Parama Entertainment). Selain mengantongi kategori paling prestisius itu, Ekskul juga menyabet Piala Citra untuk sutradara terbaik (Nayato Fio Nuala), penata suara terbaik (Badiel Revaldo), dan editor terbaik (Aziz Anandra).
Penobatan Ekskul membuat Hanung Bramantyo bergegas meninggalkan ruangan Jakarta Convention Center, tempat belangsungnya FFI. Sutradara terbaik FFI 2005 lewat film Brownies ini mengaku kecewa dengah putusan dewan juri yang diketuai Rima Melati. Menurut dia, pemilihan Ekskul membuat citra FFI kian terpuruk.
"Kalau yang dipilih Denias, pasti citra FFI terselamatkan," kata sutradara film Jomblo ini. Menurut dia, Ekskul tak punya sesuatu yang orisinal dibandingkan dengan para pesaingnya. Malah scoring-nya dicomot dari aneka soundtrack film-film Hollywood.
Senada dengan Hanung, Joko Anwar pun mempertanyakan kriteria penjurian. Penulis skenario Arisan ini menyebut Ekskul tak punya kualitas cukup sebagai film terbaik. Baik dari sisi cerita, editing, maupun sinematografi. Bahkan film ini hanya layak menempati urutan terbawah dari lima nominator film terbaik. Posisi pertama paling layak diberikan untuk Denias besutan John De Rantau.
Film Denias memang dijagokan sejumlah insan perfilman Indonesia. Film yang diproduseri pasangan Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen ini mengisahkan perjuangan seorang anak Papua mendapat pendidikan layak. Selain kisah yang menyentuh, sinematografi Denias juga mengundang pujian karena mampu menyajikan keindahan alam Papua.
Namun dewan juri yang beranggotakan Noorca M. Massardi, Embi C. Noer, Eddy D. Iskandar, Remy Silado, dan W.S. Rendra lebih memilih Ekskul. Menurut Noorca, kelima film itu punya nilai sama dari sisi teknis. Maka, penilaian dari sisi tema jadi pertimbangan pertama. "Film ini mengandung pesan moral anti-kekerasan yang saat ini menjadi pemandangan umum dalam kehidupan kita," ujar Noorca.
Ekskul berkisah tentang penyanderaan enam siswa SMU oleh rekan mereka, Joshua (diperankan Raymond Y. Tunka). Joshua dendam lantaran sering disiksa ayahnya dan teman-teman sekolahnya. Berbekal pistol rakitan, ia menyandera kawan-kawannya di ruang BP sekolah.
Tema anti-kekerasan yang diusung Ekskul, menurut Noorca, menjadi yang terkuat dibandingkan dengan tema empat film kompetitornya. "Denias juga bercerita tentang pendidikan, tapi lebih ke pedagogi dan hanya mencakup sedikit orang. Tema Ekskul lebih menyangkut kepentingan luas," katanya.
Meski mengaku bisa menerima putusan juri, Nia dan Ari heran dengan alasan memenangkan Ekskul. Menurut Nia, sejak awal dewan juri menyebutkan kriteria film terbaik adalah film yang mengusung nilai edukasi, kebudayaan, dan dekat dengan masyarakat. Nia menilai Denias sudah memenuhi kriteria itu. "Makanya, Denias banyak dipuji para sutradara kawakan," kata Nia.
Bahkan awalnya Nia menduga akan bersaing dengan film Berbagi Suami, Opera Jawa, dan Ruang sebagai film terbaik. Namun ternyata Opera Jawa besutan Garin Nugroho dan Berbagi Suami gagal masuk lima besar. Dewan juri menilai Berbagi Suami tak mencerminkan masalah bangsa dan tak punya sikap tentang poligami.
"Apakah pistol yang dibawa anak SMU itu mencerminkan kehidupan masyarakat luas?" Nia mempertanyakan. Meski tak menjadi film terbaik, Denias menggondol tiga Piala Citra. Albert Fakdawer terpilih sebagai pemeran utama pria terbaik. Lalu Jeremias Nyangoen, Marsree Ruliat, Monty Tiwa, dan John De Rantau menjadi penulis skenario cerita asli terbaik.
Sedangkan Yudi Datau untuk sinematografi terbaik. Nia dan Ari pun bersyukur Denias bisa menarik minat ratusan ribu orang sejak dirilis, akhir Oktober lalu. Selain itu, Denias juga berhasil menjadi film terbaik di Jakarta Internasional Film Festival (JIFFest) 2006.
Penilaian kualitas film dari pesan moral film juga dikritik Joko Anwar. Menurut dia, film yang baik bukan film yang mencekoki masyarakat dengan pesan tertulis. Melainkan bisa membuat penontonnya berpikir tanpa merasa dihakimi. "Kita bukan membuat film propaganda," kata penulis skenario dan sutradara Janji Joni ini.
Seharusnya, Joko melanjutkan, FFI berperan sebagai barometer perfilman Indonesia, pemberi semangat bagi insan film, dan pemberi informasi bagi masyarakat tentang kriteria film baik. "Semuanya tak perpenuhi dari hasil FFI kali ini," katanya.
Maka, baik Joko maupun Hanung tak berminat ikut FFI tahun depan. Hanung menyebutkan, FFI tak lagi punya pengaruh. Joko malah berujar lebih pedas. "Saya tak peduli lagi dengan FFI."
Astari Yanuarti
[Film, Gatra Nomor 7 Beredar Kamis, 28 Desember 2006]
|
|
 |
|