spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
spacer
spacer
WISATA & HIBURAN
spacer
 
Sebanyak 30 Piala Citra Dikembalikan ke Pemerintah

Pengembalian Piala Citra di Departemen Kebudayaan & Pariwisata (GATRA/Edward Luhukay)Jakarta, 9 Januari 2007 14:30
Sebanyak 30 Piala Citra dan empat piala penghargaan khusus dari Festival Film Indonesia (FFI) tahun 2004 hingga 2006, dikembalikan kepada pemerintah melalui Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar).

Peristiwa pengembalian puluhan piala tersebut, dilakukan oleh sejumlah pekerja film Indonesia yang tergabung dalam Masyarakat Film Indonesia (MFI), Selasa (9/1), di kantor Depbudpar, Jakarta.

Selain MFI, yang didominasi oleh para pekerja film mulai dari sutradara, produser, aktor, aktris, maupun para pendukung pembuat film, hadir pula Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik.

Sejumlah wajah pekerja film muda, yang tidak hadir pada aksi perdana MFI di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, pekan lalu, tampak hadir di kantor Depbudpar. Mulai dari Nia diNata, Marcella Zalianty, Nirina Zubir, atau Nicholas Saputra.

Sebelum pengembalian piala secara simbolis dilakukan, Nicholas, yang mewakili MFI, sempat menyampaikan sebuah pesan awal yang telah dituangkan pada secarik kertas dan dibacakan di depan Menbudpar, serta puluhan wartawan dan kru infotainment.

"30 Piala Citra dan empat piala penghargaan khusus ini, kami serahkan sebagai ajakan untuk memperhatikan situasi perkembangan film Indonesia," ujar Nicholas.

"Sikap ini adalah wujud keprihatinan kami terhadap tatanan film Indonesia yang ada sekarang. Kami mengharapkan tanggapan yang serius dari pemerintah," tambahnya.

Usai penyerahan piala secara simbolis dari Nicholas kepada Menbudpar, Riri Riza, sutradara muda yang ditunjuk sebagai juru bicara MFI, juga sempat menyelipkan pesan,"Ini bukan proses yang berkaitan dengan usia. Ini mencoba melepaskan dikotomi tua muda atau miskin kaya."

Secara normatif, Menbudpar menyatakan bahwa aksi yang dilakukan oleh MFI ini adalah bagian dari `getaran-getaran` dalam perkembangan film Indonesia, yang telah terpuruk selama 12 tahun dan `nekat` untuk bangkit lagi dengan memulainya melalui FFI di tahun 2004. "Sejak 1992 hingga 2004, FFI itu dibekukan. Dan akhirnya beku selama 12 tahun," tanggap Jero Wacik.

Menbudpar mengaku, sejak 2004 dibawah pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pemerintah telah sadar pentingnya film Indonesia. Film, kata Menbudpar, merupakan suatu produk budaya yang dapat menjadi potret bangsa.

Menbudpar tidak memaparkan langkah-langkah konkrit yang bakal dilakukan Depbudpar, untuk menindaklanjuti desakan dari MFI ini. Namun, salah satu janji dari Menbudpar adalah mengawal para pekerja film ini ke DPR-RI, tempat penggodokan Undang-Undang (UU) No 8 Tahun 1992 tentang Perfilman, yang juga menjadi desakan MFI untuk segera dicabut.

"Momen ini tidak boleh berhenti disini. kita harus bergerak terus, memperbaiki mana yang harus diperbaiki. Ujung hulu perfilman indonesia adalah UU film. Sekarang (UU) sedang proses. Kita sedang melakukan perbaikan UU film, namanya revisi. Revisi itu bisa ganti semua, bisa ganti 80% hingga 25&. tergantung kita semua, insan film," kata Menbudpar.

"Saya mengajak semua insan film, menghadap ke DPR, karena di sanalah penggodokan UU. dari sana kita mulai," janji Jero Wacik seraya mengajak MFI untuk ikut terjun dalam perombakan Badan Pertimbangan Perfilman Nasional, jika perlu dirombak.

Penyerahan puluhan piala ini, juga disertai 215 tanda tangan dukungan para pekerja film terhadap pernyataan bersama yang telah disampaikan kepada masyarakat. Hingga kini, menurut Riri, dukungan berupa tanda tangan tersebut kian bertambah.

Selain itu, kata Riri, MFI telah membentuk kelompok-kelompok kerja yang akan merumuskan usulan, tatanan pengelolaaan film Indonesia yang baru, dan mendesak perubahan serta kebijakan pemerintah tentang film Indonesia. Riri menjanjikan bahwa MFI bakal melaporkan pekerjaan mereka tersebut kepada masyarakat.

"Sikap ini kami ambil sebagai wujud tanggung jawb kepada masyarakat," kata Riri.

Riri juga menambahkan bahwa MFI akan tetap melalukan perlawanan secara terstruktur terhadap segala kegiatan yang diselenggarakan atau diadakan pemerintah yang mengatasnamakan film Indonesia atau film nasional. "Selama perubahan belum terjadi, kami akan melakukan boikot terhadap penyelenggaraan FFI di masa mendatang," demikian Riri. [EL]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 09 February 2010 >>
SuMTW ThFSa
dot123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer