spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
spacer
spacer
HUKUM & KRIMINALITAS
spacer
 
DPO Poso
Basri Mengaku Tobat dan Menyesal

Palu, 4 Pebruari 2007 00:50
Basri alias Bagong (30), tersangka utama yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) polisi di Poso, menyatakan dirinya tobat dan menyesali segala perbuatannya selama ini.

Pernyataan tersebut disampaikan Basri setelah dirinya ditangkap aparat kepolisian di kota Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng), Kamis (1/2).

"Saya tobat dan cukuplah kekerasan di Poso selama ini karena kasihan kepada masyarakat yang tidak berdosa," kata Basri kepada pers, di Mapolda Sulteng, Palu, Jum`at (2/2).

Pria yang kedua lengannya dipenuhi tato itu menjelaskan, selama terjadi kerusuhan di Poso, banyak masyarakat tidak bisa melakukan kegiatan sehari-harinya secara normal karena diliputi rasa takut. "Saya sadar akan hal itu sehingga membuat masyarakat Poso resah dan hidupnya tidak nyaman," kata pria yang selama ini berdomisili di Kelurahan Gebangrejo, Kecamatan Poso Kota.

Pada kesempatan itu, Basri mengimbau kepada rekan-rekannya yang masih buron untuk segera menyerahkan diri kepada polisi, karena polisi sudah berjanji akan menjamin keamanannya.

"Saya sendiri tidak diapa-apakan oleh polisi selama saya ditahan," kata Basri yang terlibat 17 kasus kekerasan di Poso dan Palu tersebut.

Basri juga mengaku, menjadi pelaku kerusuhan Poso karena dilatari dendam, akibat sebanyak 28 kerabatnya dari ratusan orang yang terbunuh dalam aksi penyerbuan "Pasukan Merah" di Pondok Pesantren Walisongo maupun di dusun Buyung Katedo (dusun di pinggiran selatan kota Poso) beberapa tahun silam.

"Saya merasa dendam, apalagi ada beberapa orang yang mengajari saya dengan doktrin-doktrin agama yang salah," kata Basri.

Basri menjelaskan, selama menjadi aktor kerusuhan, beberapaorang mendidiknya dengan doktrin yang melenceng serta menggunakan senjata api dan bahan peledak seperti Mahmud, Rifki, Yahya, Iban, Afid, Said dan Sahal.

Kendati demikian, Basri mengaku tidak tahu-menahu asal senjata api dan bahan peledak yang dipergunakan para tersangka DPO dan warga sipil lainnya di Poso. "Merekalah yang memberi senjata kepada kami dan tinggal menggunakannya saja," tuturnya, seraya meminta kepada para pendoktrin untuk mengubah ajarannya yang selama ini salah dan menyesatkan.

Sementara itu, Wakadiv Humas Mabes Polri, Brigjen (Pol) Anton Bachrul Alam, mengatakan Basri tergolong anak muda sehingga proses berpikirnya kurang panjang dan mudah dimasuki doktrin-doktrin sesat. "Apalagi, banyak kerabatnya yang menjadi korban pembunuhan sehingga membuat para pendoktrin semakin mudah mempengaruhi pola pikirnya," kata Anton. [EL, Ant]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
  
spacer
KOMENTAR PEMBACA
spacer
  
  Kalau tidak ketangkap? (thobymk@ya..., 07/02/2007 08:03)
Mental pencuri - "Kalau tidak ketangkapan" namanya lihai, jago. Kalau ketangkapan - "Salah perhitungan". Sudah ditangkap baru mengaku "Tobat dan Menyesal". Itu bukan tobat yang sempurna. Itu bukan penyesalan dari hati....cuma ungkapan ketakutan akan nasib sesudah tertangkap....! Siapa sih yang mengajarkan doktrin yang aneh-aneh itu? Waktu masa ORBA, itu antek PKI yang harus dibasmi. Mereka bukan orang beragama yang beriman!
 
 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 30 July 2010 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdotdot123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer