|
 |
|
 |
|
NASIONAL |
 |
| |
Target Menhub, MRT Jakarta Beroperasi 2014
Jakarta, 13 Pebruari 2007 19:54 Menteri Perhubungan (Menhub) Hatta Rajasa menargetkan moda transportasi massal (Mass Rapid Transit/MRT) sepanjang 14,5 km di Jakarta, mulai beroperasi sekitar September 2014.
"Target kami 2014 MRT Jakarta sudah beroperasi, tetapi bisa saja hal itu dipercepat jika tahap perencanaan pengelolaan bisa secara simultan dilakukan saat konstruksi dimulai pada 2008," katanya kepada pers usai Pertemuan Pertama Komite Penasehat MRT (MRT Advisory Committee) di Jakarta, Selasa.
Komite Penasehat MRT dibentuk untuk memberi masukan dan ide-ide secara luas dari Indonesia dan Jepang terkait dengan disain, operasi dan kehumasan (Public Relation). Komite beranggotakan empat pakar dari Jepang dan empat lainnya dari Indonesia.
Menurut Hatta, sesuai jadwal pekerjaan proyek (time table) pada tahap detil disain dan persiapan pengoperasian diperlukan waktu 18 hingga 24 bulan, baru setelah itu tender konstruksi dan pekerjaan sipil dimulai pada 2008.
"Proyek ini memang mengalami kemunduran dari rencana kontruksi pada 2007 karena pada proses awal, terjadi perubahan paradigma yakni dari pinjaman tidak mengikat menjadi mengikat (tight loan)," kata Hatta.
Proyek yang didanai dari pinjaman senilai 110 miliar yen atau sekitar Rp9 triliun ini akan melibatkan komponen lokal 30 persen, 30 persen Jepang dan 40 persen lainnya tender internasional.
"Indonesia berpeluang merebut yang 40 persen ini, disamping 30 persen yang sudah dijatahkan," kata Hatta.
Pinjaman dengan bunga 0,4 persen per tahun untuk masa pengembalian 40 tahun, termasuk grace period 10 tahun ini ditanda-tangani Pemerintah Indonesia dan Jepang pada November 2006, bersamaan dengan kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Jepang, saat itu.
Perlu Subsidi
Pada bagian lain, Chairman Komite Penasehat MRT dari Indonesia, Bambang Susantono menilai, MRT Jakarta harus diintegrasikan dengan moda transportasi lainnya misalnya bus dan Kereta Api (KA).
"Sistem MRT di dunia manapun selalu didisain memerlukan subsidi dari sektor lainnya," kata Bambang.
Wakil Ketua Sub Komite MRT Jakarta, Gubernur DKI Jakarta yang diwakili Fauzi Wibowo juga menegaskan, pemerintah DKI Jakarta dan Pusat harus bersinergi untuk memberikan subsidi kepada MRT, sekaligus bertanggung jawab dalam hal pengembalian pinjamannya.
"Pada tahap awal ini kami bertanggung jawab dalam hal penyediaan lahannya," kata Fauzi.
Sementara, menurut anggota Komite Penasehat MRT dari Jepang, Fumio Nishio, sistemB MRT Jakarta dengan teknologi Jepang juga memungkinkan dapat mengurangi kemungkinan terserang banjir yang tahunan yang menjadi ciri khas Jakarta selama ini.
"Struktur konstruksi MRT di Jakarta tak ubahnya dengan MRT sejenis di Jepang yakni disamping ketinggian bangunan yang berbeda, juga diupayakan jarak dengan sungai agak jauh," kata Nishio.
Selain itu, tambahnya, untuk mendukung integrasi dengan moda transportasi lain seperti bus dan KA, maka harus diupayakan ada koridor penghubung yang berdekatan dengan stasiun MRT itu sendiri.
"Jadi sebisa mungkin stasiun MRT berdekatan dengan stasiun moda lain seperti bus dan KA," tegasnya.
MRT Jakarta yang dirancang membentang sejauh 14,5 km ini berawal dari kawasan Lebak Bulus hingga Setiabudi-Dukuh Atas. Dari jarak itu, sepanjang 4 km lintasannya di bawah tanah (under ground) dan selebihnya di atas permukaan. [TMA, Ant]
|
|
| | |  | | KOMENTAR PEMBACA |  | | | | | |
MEREM JUGA KALAU LINTASAN DIBAWAH TANAH (xsan375@ho..., 14/02/2007 06:59) Kita mendambakan Moda Transport DKI aman dan nyaman. Aman dari penjambret, pengamen dan aman dari bencana alam seperti banjir.
Struktur tanah DKI yang sebagian besar rendah memberikan "Musibah Banjir) kirim setiap tahun i Bopunjur, hal ini nantinya membuat pusing 7 keliling, pengelola Bus Way dan Under Ground, sedangkan Monorel di Udara banyak Gedung2 tinggi yang belum tertata apiek perencanaannya.
Mudah2 sich perencanaannya matang, dlm tim MRT, agar KKN-nya berkurang dan KPK (Komisi Pe... <151 huruf lagi> | |
 |
|