spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
MALUKU & PAPUA
spacer
 
Perdamaian
Suku-suku di Kwamki Lama Gelar Acara Bakar Batu

Jayapura, 14 Juni 2007 10:04
Suku-suku di Kwamki Lama, Kabupaten Timika, Papua, sejak Rabu (13/6), menggelar acara bakar batu (bara pen), menandai berakhirnya perang antarsuku, dan dimulainya sebuah kehidupan baru yang aman, damai, dan berkerabat.

Berdasarkan pemantauan, Kamis, kegiatan bakar batu, sebuah pesta adat suku-asuku asli di pedalaman Papua, merupakan bakar batu pria, yakni acara memberi makan kepada kaum pria antarsuku. Menyusul pada hari berikutnya, bakar batu untuk kaum perempuan.

Sejak Pagi sekitar Pkl.06.00 WIT, para anggota suku berdatangan ke Kwamki Lama. Tampak para lelaki memegang busur dan panah. Mereka mengumpulkan batu-batu dan kayu kering yang akan dibakar bersamaan dengan daging babi serta sayur-mayur dan ubi-ubian.

Tampak kaum perempuan, termasuk para ibu yang menyusui bayi, sambil menggendong bayi, membawa sayur mayur dan ubi-ubian untuk diolah dan disantap bersama-sama dalam suasana penuh kekerabatan.

Acara bakar batu berlangsung hingga petang. Mereka bersukacita dan bersenda gurau di antara warga sesama suku dan antarsuku. Kaum perempuan sangat sibuk membersihkan sayur-mayur dan ubu-ubian sedangkan kaum pria sibuk menyembelih hewan dan selanjutnya dimasak dengan menggunakan batu yang panas memerah.

"Kami menggelar acara bakar batu, sebuah pesta adat untuk perdamaian setelah pada 23 Juli hingga 14 September 2006 lalu kami terlibat perang antarsuku," kata salah seorang panglima perang, Elminus Mom.

Dia mengatakan, sebelum digelar acara bakar batu, para suku yang pernah bertikai yakni suku Dani yang bermukim di Kwamki Lama Atas dan Bawah dan suku Damal dan Amungme yang bermukim di Kwamki Lama Tengah pada Senin (11/6) menggelar acara "bayar kepala" yaitu denda adat bagi para korban perang yang sudah meninggal dunia yang diterima oleh para kepala suku.

Pembayaran kepala bagi para korban perang Kwamki Lama tersebut hanya berlangsung untuk kelompok tengah dibawah pimpinan kepala perangnya, Elminus Mom dan David Wandikbo.

Adapun kelompok bawah dan atas dengan kepala perangnya, Negro Wanimbo dan Jacobus Kogoya hanya melaksanakan pengumpulan dana, sedangkan pembayaran kepala akan diatur kemudian lantaran belum terkumpul seluruh dana dari anggota suku.

Ketua Panitia Pembayaran Kepala Kelompok Tengah, Jhony Bulibal mengatakan dana pembayaran kepala yang terkumpul untuk kelompok tengah seluruhnya berjumlah Rp 1 milyar yang diserahkan kepada tujuh keluarga korban yang meninggal saat perang suku Kwamki Lama, 23 Juli-14 September 2006, dimana masing-masing korban menerima Rp 200-Rp 500 juta.

Menurut Bulibal, dana tersebut berasal dari sumbangan para donatur dan dari hasil pengumpulan oleh warga kelompok tengah sendiri yang bekerja sebagai pendulang tradisional, mengumpulkan gaharu serta dari hasil jualan sayur dan ubi-ubian di pasar.

"Ini merupakan tuntutan adat yang harus dilaksanakan. Jika tidak dilaksanakan dikhawatirkan di kemudian hari akan terjadi lagi perang suku karena ada pihak yang tidak puas," tutur Bulibal.

Selain korban jiwa, di kelompok tengah terdapat 145 rumah yang rusak berat dan ringan dan 21 rumah yang hangus terbakar saat perang suku di Kwamki Lama. Rumah-rumah yang rusak tersebut kini sedang direnovasi kembali.

Sementara itu Kepala Perang Kelompok Bawah, Jacobus Kogoya mengaku pembayaran kepala bagi 10 korban meninggal dari kubunya belum bisa dilakukan pada Senin (11/6) lantaran sebagian besar masyarakat kelompok bawah masih berada di Tembagapura untuk mendulang.
"Pembayaran kepala belum bisa dilakukan karena keluarga korban masih berada di Tembagapura, mereka tidak bisa turun ke Timika karena tidak ada bis," tutur Kogoya yang juga Kepala Suku Lani Dani itu.

Menurut dia, total dana bayar kepala per jiwa di kelompoknya sebesar Rp 300 juta. Sejauh ini, kata Kogoya, dana yang sudah terkumpul seluruhnya baru mencapai Rp 467 juta.

Pihaknya juga akan menyiapkan 3 kulit bia (kulit kerang) untuk dibayarkan kepada dua korban meninggal yaitu Panglima Perang Suku Damal, Mekome Murib dan Habinus Kogoya. Kulit bia tersebut dibeli seharga Rp 100 juta yang didatangkan dari daerah Beoga Paniai. [TMA, Ant]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 02 September 2010 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdot1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer