|
 |
|
 |
|
NASIONAL |
 |
| |
Persepsi AS Soal Papua Telah Berubah
Jakarta, 5 Juli 2007 01:24 Kongres Amerika Serikat (AS) kini tidak lagi mempersoalkan Papua dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan menganggap tidak relevan lagi membicarakan Papua Merdeka.
Demikian salah satu butir penting pernyataan anggota kongres AS, Eni Faleomavaega, ketika berturut-turut diterima Ketua DPR-RI, Agung Laksono, kemudian melakukan pertemuan tertutup dengan Ketua Komisi I DPR-RI, Theo L Sambuaga disertai sejumlah anggota DPR-RI, Rabu (4/7), di Jakarta.
Usai pertemuan dengan Faleomavaega, yang merupakan Ketua Subkomite Asia Pasifik Kongres AS, salah satu anggota Komisi I DPR-RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Andreas Pareira, mengatakan bahwa persepsi AS tentang Papua kini telah banyak berubah.
"Itu terlihat dari cara pandang Mr Eni Faleomavaega, di mana hal yang penting dikemukakannya, ialah, bahwa dia mengakui dulu pernah berbicara dan secara tegas serta jelas ikut berbicara soal kemerdekaan Papua. Tetapi, karena dia melihat waktu itu pemerintah dan rakyat Indonesia kurang memperhatikan Papua," ungkap Andreas Pareira.
Dalam pertemuan tertutup dengan Komisi I DPR-RI yang berlangsung sejak pukul 11.00 WIB itu, lanjut Andreas Pareira, Faleomavaega terus terang mengakui segala kiprahnya dulu mendukung kemerdekaan Papua, lepas dari NKRI.
Namun kini, kalangan Kongres AS sebagaimana dikatakan Faleomavaega, diakui bahwa dengan pemberian otonomi khusus kepada Papua, merupakan langkah maju yang perlu dijaga. "Dan ke depan, kata Eni, hal ini perlu dijaga sehingga terjadi perbaikan dalam kehidupan kemanusiaan maupun kehidupan ekonomi," ujarnya.
Faleomavaega juga mengatakan, demokrasi merupakan suatu proses, bukan sesuatu yang final.
"Iya, saya juga bilang ke beliau, demokrasi itu bagian dari suatu proses, sehingaa dalam perjalanannya butuh banyak langkah. Karena itu, saya minta kepadanya, agar jika dulunya dia bicara soal demokratisasi politik, yakni terkait political independent. Artinya demokrasi dalam pengertian politik, maka sekarang waktunya dia dalam kapasitas sebagai anggota kongres AS, bicara dan suarakan demokrasi ekonomi," papar Andreas Pareira.
Hal itu, menurut Andreas Pareira, agaknya diterima baik oleh Faleomavaega yang sependapat, agar Orang Papua jangan hanya jadi penonton atas eksploitasi sumber kekayaan alamnya, atau cuma menerima sisa-sisanya saja.
"Tetapi, ketika saya bicara soal-soal lebih dalam, termasuk proses renegosiasi investasi PT Freeport di Papua, Mr Eni menghindar," ungkap Andreas Pareira. [EL, Ant]
|
|
 |
|