 |
|
 |
|
HUKUM & KRIMINALITAS |
 |
| |
Bentrok Mimika Perang Antar Suku Masih Berlanjut
Jayapura, 18 Oktober 2007 09:48 Sejumlah aparat Polres Mimika dibantu prajurit TNI dari Kodim 1710 Mimika, Papua, hingga Kamis pagi (18/10), belum berhasil menghentikan perang antara suku Amungme melawan suku Dani dan Damal, karena setiap kubu yang bertikai bersikukuh melanjutkan perang tersebut.
Perang antara suku ini kian memanas, ketika pihak suku Damal dan Dani belum ingin berdamai, sebelum jumlah korban yang meninggal dunia diketahui seimbang.
Kapolres Mimika, AKBP Godhelp C Mansembra, di Jayapura, membenarkan kalau perang antarsuku itu belum berhasil dihentikan aparat keamanan karena para kepala suku, baik suku Damal dan Dani maupun suku Amungme belum bersedia meletakkan busur dan panah untuk berdamai. "Kami bersama Dandim 1710 Mimika, Letkol (Inf) Tri Suseno sudah memantau perang suku itu melalui udara dengan menggunakan helikopter dan dari udara terlihat perang suku itu kembali berkobar pagi ini," paparnya.
"Berbagai upaya terus dilakukan untuk menghentikan perang tersebut dan mendamaikan suku-suku yang betikai," tambah Mansembra.
Perang suku tersebut, menurt Mansembra, kini memasuki hari ketiga setelah pecah perang, Selasa (16/10), antara suku Amungme melawan dua suku yang bergabung itu.
Utusan khusus Polres Mimika yang dipimpin Kapolsek Tembagapura, Ipda Rudy Hosair, telah melakukan pendekatan intensif dengan para kepala suku di dua kampung itu yaitu Kampung Banti dan Kampung Kimberli. Namun, kepala suku Damal dan Dani belum bersedia menghentikan perang sementara kepala suku Amungme sudah bersedia berhenti berperang.
Adapun alasan dari pihak suku Damal dan Dani untuk tidak berhenti berperang karena jumlah korban dari suku ini yang meninggal dunia sudah mencapai tiga orang sementara korban dari suku Amungme baru satu orang.
Perang baru akan berhenti jika jumlah korban sama dari kedua belah pihak yang bertikai.
Kendati demikian, aparat keamanan di wilayah itu terus melakukan komunikasi dengan suku-suku yang bertikai itu agar segera berhenti berperang.
Pada Rabu (17/10), tim khusus Polres Mimika yang dipimpin Kapolsek Tembagapura Ipda Rudy membawa tim medis memasuki lokasi perang suku untuk memberikan perawatan intensif kepada para korban yang terluka dan mengevakuasi korban yang meninggal dunia. Empat korban yang telah meninggal dunia sudah dimakamkan dengan terlebih dahulu mayat para korban itu diperabukan.
"Tradisi di Mimika, mayat dari warga yang meninggal dunia ketika sedang berperang tidak dikuburkan begitu saja tetapi lebih dahulu diperabukan," ungkap Mansembra.
Terkait upaya penambahan aparat keamanan ke wilayah perang suku, Mansnembra mengatakan, pihaknya sudah mengirim satu peleton Brimob dan 20 anggota Dalmas dari Polres Mimika untuk memperkuat aparat keamanan di wilayah tersebut.
Sedangkan Satgas Amole III yang selama ini bertugas menjaga keamanan di lokasi tambang PT Freeport Indonesia (PTFI) tetap bersiaga di wilayah tersebut, agar perang suku tidak meluas memasuki wilayah tambang PTFI.
"Korban yang mengalami luka-luka serius yang sedang dirawat intensif oleh Tim medis sebanyak 45 orang dari dua kubu yang bertikai itu. Kami segera membuka Pos keamanan yang permanen di Kampung Banti dan Kimbeli agar suku-suku yang bertikai ini tidak melanjutkan perang lagi bila sesewaktu mereka menginginkan perang," pungkasnya. [EL, Ant]
|
|
| | |
 |
| KOMENTAR PEMBACA |
 |
| | |
| |
Memprihatinkan!!! (smustikos4@ya..., 18/10/2007 12:03) Jangan sampai perang suku ini meluas dan berkepanjangan, segera cari jalan penyelesaiannya secara komprehensif.
Ahli2 sosiologi, pembangunan daerah2 tertinggal (baik dari universitas2 yang ada bidang tersebut ataupun universitas2 di Papua Barat), ahli2 yang concern terhadap pembangunan Papua Barat, tokoh2 masyarakat setempat dll segera cari penyebabnya dan cari solusinya baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.
Yang perlu diperhatikan lagi menurut saya kok persoalan kesejahteraan ... <497 huruf lagi> | |
 |