spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
spacer
spacer
WISATA & HIBURAN
spacer
 
Pameran
Ini Jawa Baru, Bung!

"Java Clubber" karya Aji Yudalaga (GATRA/Sigit Indra)Cewek itu membonceng sepeda motor bernomor polisi B 41 K. Tak jelas, siapa yang pegang kendali. Yang pasti, dari belakang, dia tampak mengenakan kaus hitam model wide neck yang bikin tali kutangnya kelihatan. Celana jins membungkus bodi bawahnya. Tapi, ups! Gara-gara modelnya hipster banget, celana dalam yang putih dengan pola polkadot miliknya jadi nongol.

Itulah lukisan akrilik di atas kanvas karya Aji Yudalaga berjudul Java Cluber (140 x 140 cm, 2008). Di jalanan, pemandangan seperti dalam lukisan itu kini jadi hal lumrah. Cewek-cewek, entah sengaja atau tidak, tak malu mempertontonkan cawatnya. Gejala sosial yang dibingkai dalam lukisan itu merupakan bagian dari karya-karya yang tampil dalam pameran bertajuk "Jawa Baru".

Pameran ini digelar di Galeri Srisasanti, Jalan Palagan Tentara Pelajar, Yogyakarta, 6 hingga 20 Juni 2008. Sebanyak 17 seniman ambil bagian dalam perhelatan ini. Mereka adalah Agus Baqul Purnomo, Ahmad Sobirin, Aji Yudalaga, Arya Panjalu, Bambang Toko Witjaksono, Erica, F. Alwathoni I.H., Heri Kris, Indie Guerillas, Nano Warsono, Nasirun, Paryogo Satrio Utomo, Prihatmoko, Rudi Atjeh, S. Teddy D., Sadat Laope, dan Terra Bhajragosa.

Pameran ini ingin menyajikan perkembangan terbaru kultur Jawa. Para seniman memaparkan pergumulan kejawaan dengan perkembangannya kini yang harus berhadapan dengan unsur dari luar. Menurut sang kurator, Rain Rosidi, karya dalam pameran ini dibuat berdasarkan asumsi bahwa Jawa bukan berarti semata urusan orang Jawa.

Jawa bersentuhan dengan masalah suku, tradisi budaya, politik, nilai-nilai, dan ekonomi. Pada saat ini, berkat kemajuan teknologi informasi, batas-batas teritori bangsa menjadi lebur. Hal ini turut andil membuat ciri khas Jawa lebur ke dalam berbagai percampuran ekspresi budaya. Pameran "Jawa Baru" bermaksud memberikan tanda atas gejala itu.

Karena itu, para seniman secara kritis menelisik relasi Jawa dengan pengaruhnya, baik yang kemudian berjalan berdampingan maupun yang memunculkan gaya baru. "Semua ini menjadi titik persinggungan dan ketegangan para seniman dalam menawarkan kebaruan," ungkap Rain. Persinggungan budaya dan pengaruhnya kebanyakan menjadi konsep yang dipilih para seniman.

Visualisasi simbol budaya masa kini dan Jawa masih berkutat pada simbol-simbol yang diambil dari gaya hidup atau tokoh pewayangan yang mewakili budaya Jawa. Seperti dikemukakan Arya Panjalu lewat dua lukisan berjudul Lonely Hero (akrilik di atas kanvas, 200 x 150 cm, 2008) dan Jawa Bukan Jawara (akrilik dan cat semprot di atas kanvas, 140 x 140 cm, 2008). Arya ingin menunjukkan arogansi Jawa sekaligus kesadaran bahwa "yang Jawa" juga tak selalu jumawa.

Lonely Hero menggambarkan Bima, sang satria Pandawa, yang lantang meneriakkan: "Ini Jawa, Bung." Ia seolah ingin menunjukkan bahwa siapa pun harus maklum atau menyesuaikan dengan yang berbau Jawa. Kesan angkuh ini langsung direduksi dengan lukisan Arya lainnya yang memakai tokoh serupa, yang berkata: "Jawa bukan jawara."

Lebih kontemplatif, pelukis Nasirun menampilkan karya Indonesia Petruk (aneka media di atas kanvas, 90 x 45 cm, 2008) dan Di Antara Dewi Sri & Cosmos (aneka media di atas kanvas, 90 x 145 cm, 2008). Indonesia Petruk menampilkan figur Petruk yang gondrong dikitari syair tembang pelesetan, "Semarang kaline banjir, beras larang ojo dipikir.... Jangkrik genggong, luwih becik omong kosong."

Sedangkan Di Antara Dewi Sri & Cosmos menyimbolkan pengaruh unsur-unsur lain dalam semesta, terutama bayangan kegelapan mirip buta kala, yang menyaput bumi dalam pelukan Dewi Sri. Menilik seluruh karya dalam pameran ini, terlihat para seniman berupaya menampilkan wajah Jawa paling baru. Mereka menyandingkan simbol visual Jawa dengan non-Jawa.

Para perupa sadar bahwa Jawa mau tak mau harus bersanding dengan budaya lain. Itu tidak cuma dibidik dari aspek sejarah, melainkan juga coba direkonstruksi pada masa kini dan masa depan.

Sigit Indra (Yogyakarta)
[Seni, Gatra Nomor 32 Beredar Kamis, 19 Juni 2008]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 30 July 2010 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdotdot123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer