|
 |
|
 |
|
PERSPEKTIF YUDI LATIF |
 |
| |
Diadu di Monas
Tentang peristiwa penyerangan di Monas, 1 Juni 2008, emosi saya diaduk dalam dua ragam keberangan. Pertama, berang terhadap tindak kekerasan yang mengatasnamakan Tuhan. Kedua, berang terhadap penunggang oportunis yang menggunakan insiden ini sebagai cara mengalihkan perhatian publik dari kegagalan negara.
Hari itu saya harus memilih dari dua undangan yang bertabrakan. Pertama, undangan dari Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) untuk bergabung di Monas. Kedua, undangan dari Pondok Pesantren Al-Asyriyyah Nurul Iman, Parung, dalam rangka istighotsah bersama Syekh Habib Saggaf bin Mahdi (pengasuh pondok) dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kehendak kuat untuk melihat realitas arus bawah NU, di sela konflik yang merundung PKB, mendorong saya memilih pergi ke Parung.
Kesan pertama terhadap pondok pesantren ini adalah takjub. Di lahan ratusan hektare, pondok ini menyediakan pendidikan gratis bagi santri dari berbagai penjuru Nusantara yang berjumlah lebih dari 10.000. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, pondok ini memiliki pabrik tahu, pengolahan air mineral, usaha peternakan, pertanian, dan aspek-aspek kewirausahaan lainnya. Semuanya itu dimungkinkan karena semangat pluralisme yang dikembangkan pengasuh pondok. Karena ketulusannya dalam membangun persaudaraan lintas kultural dan agama, pondok ini mendapat dukungan dari berbagai kalangan, termasuk dari Brunei, Korea Selatan, dan komunitas Hindu-Buddha.
Dalam sambutannya, Habib Saggaf menyebutkan bahwa motivasinya bergabung pada haluan politik Gus Dur sama sekali bukanlah didorong oleh ambisi politik. Satu-satunya motivasi itu adalah untuk mengamankan pluralisme --yang selama ini dirawat baik dalam pengamalan doktrin ''aswaja'' (ahl al-sunnah wa al-jamaah) di Tanah Air-- dari ancaman baru yang ditimbulkan oleh gerakan transnasional wahabisme. Pada akhirnya, dia mengecam para habib yang mengembangkan Arabisme dengan mengabaikan kanyataan bahwa Indonesia sebagai negeri muslim terbesar memiliki hak untuk mengembangkan tradisi Islamnya tersendiri.
Dalam perjalanan pulang ke Jakarta, siaran radio yang tertangkap di mobil yang saya tumpangi melaporkan tentang penyerangan pasukan beratribut Front Pembela Islam (FPI) terhadap jamaah AKKBB. Seketika ingatan saya tertuju pada habib yang lain, Habib Rizieq Shihab, Ketua FPI. Dalam satu dekade terakhir, nama habib ini kesohor di seantero negeri karena kampanyenya untuk menegakkan klaim kebenaran secara forceful, tak kenal kompromi, tak segan menggunakan cara-cara kekerasan.
Cara dakwah seperti ini tampak kuat setegar baja, tapi sesungguhnya begitu mudah dipatahkan. Kehendak untuk meraih hasil cepat, tanpa perlu diskusi bertele-tele, membuat kelompok dakwah seperti ini sering terjebak dalam utilitarianisme. Dalam kemungkinan menggunakan sarana-sarana kekerasan, kelompok seperti ini biasanya bersedia menjalin relasi dengan elemen-elemen (oknum-oknum) dari aparatur keamanan.
Dan dalam persentuhannya itu, kelompok-kelompok seperti ini mudah terkena infiltrasi dari free riders. Demikianlah, dalam sejarah panjang kekerasan keagamaan di Indonesia, kerap terselip infiltrasi intelijen di dalamnya. Publik pantas berandai-andai, mengapa untuk ribuan massa yang tertumpuk di sekitar Monas dan Istana Negara pada saat itu, tidak tersedia aparatur kepolisian yang memadai.
Keheranan ini terus berlanjut pasca-peristiwa. Pada 2 Juni, berbagai elemen masyarakat sipil mendatangi Mabes Polri, menyatakan dukungan pada Polri dalam menegakkan hak-hak sipil, seraya menyayangkan ketidaksigapan aparatur keamanan menghadapi peristiwa tersebut. Dalam pertemuan itu, Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri, Komisaris Jenderal Bambang Hendarso Danuni, didampingi Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Inspektur Jenderal Abubakar Nataprawira, membantah bahwa polisi melakukan pembiaran. Bahkan disebutkan bahwa Polri telah menangkap lima tersangka, termasuk orang berinisial M. Polri juga berjanji menangani hal ini secara sungguh-sungguh.
Beberapa jam kemudian, media massa melaporkan adanya konferensi pers di markas FPI. Selain dihadiri Habib Rizieq, juga tampak Panglima Komando Laskar Islam, Munarman. Sekiranya Polri sungguh-sungguh, mestinya pada tahap ini Munarman sudah diamati terus, tidak dibiarkan hilang ditelan bumi. Dengan ''membiarkan'' Munarman menghilang, seolah-olah skenario peristiwa ini terus diulur untuk memanjangkan ketegangan agar perhatian publik terus tertuju pada peristiwa ini.
Secara sengaja atau tidak, situasi ini digunakan para penunggang oportunis untuk mengalihkan perhatian terhadap kasus penyerangan mahasiswa Unas oleh aparat kepolisian serta isu kenaikan harga BBM yang merongrong krediblitas pemerintah. Bahkan imajinasi kita bisa jauh lebih liar bahwa beberapa aktor intelektual bisa saja memanfaatkan isu Ahmadiyah, untuk mengadu kekuatan eksklusif dan inklusif, guna mengamankan kepentingan korporasi internasional.
Pelajaran moral dari kasus ini sekali lagi menegaskan bahwa kekerasan tidak pernah membawa maslahat, malah membawa efek bumerang yang menghancurkan. Semua kelompok harus rendah hati untuk tidak mengklaim sebagai satu-satunya pembela kebenaran. Dalam kenyataannya, bukanlah kita yang menyelamatkan kebenaran, melainkan kebenaranlah yang menyelamatkan kita.
Yudi Latif
Anggota Dewan Ahli Nurcholish Madjid Society
[Perspektif, Gatra Nomor 32 Beredar Kamis, 19 Juni 2008]
|
|
| | |  | | KOMENTAR PEMBACA |  | | | | | |
Pluralitas Yes. Pluralisme No !!! (jafar@in..., 22/07/2008 13:09) Sungguh merupakan kebodohan yang nyata kalau selalu dipaksakan bahwa Islam yang baik adalah Islam yang mengakui dan mengembangkan Pluralisme yang tentu tanpa sadar Islam juga mengakui bahwa semua agama adalah benar dan juga Islam mengakui ada Tuhan lain selain Allahu Swt.
Ini adalah pendapat yang menyesatkan karena Aqidah Islam telah menyatakan Tidak ada Tuhan Selain Allahu dan MUhammad adalah utusan Allahu, dan Allahu hanya meridloi Islam sebagai agama yang terkahir. Pendapat penulis seperti i... <984 huruf lagi> | |  | | | | | |
lempar bola sembunyi tangan (zqdecoc@ya..., 10/07/2008 18:39) Seorang Pluraris sejati harusnya siap menerima segala perbedaan di mana pun termasuk adanya yang kontra terhadap keyakinannya yang diyakini.
salah satu sikap bukan serorang pluralis sejati bukan mengaku-aku adalah orang itu tidak akan mengadu domba dan tidak setuju dengan pendapat orang lain atau denga kata lain tidak akan berupaya mengingkirkan yang berbeda pemahaman dan keyakinanya dengan orang tersebut. Melempar batu sembunyi tangan adalah contoh yang coba anda yakini bahwa anda adalah te... <280 huruf lagi> | |  | | | | | |
STREOTYPE NEKOLIM-LIB (ghurudevisva@ya..., 08/07/2008 14:07) Bismillahirrohmanirrohim,
Menarik sekali tulisan dari sdr.Yudi Latief ini, walaupun sangat telanjang sekali sebagai pembela AKKBB yang notabene adalah kelompok kampanye Liberalisme yang selalu di manja negara donor seperti AS dan Barat lainnya, sebagai kepanjangan tangan kepentingan neo Kolonialisme Imperialisme dan neoLiberalisme. Meminjam istilah Bung Karno adalah NEKOLIM.
Hanya saja dengan peran media massa yang cenderaung pro kepentingan barat dan islamophobia, informasi yang didapat m... <3438 huruf lagi> | |  | | | | | |
Tanggapan buat tulisan diatas (aziziqalbii@gm..., 07/07/2008 15:29) Pelajaran moral dari kasus ini sekali lagi menegaskan bahwa kekerasan tidak pernah membawa maslahat, malah membawa efek bumerang yang menghancurkan.
-----------------------------------------------------
Saya tidak setuju dg kata "tidak pernah"... Enggak ada kata istilah mutlak dlm sebuah tindakan kekerasan dlm mengambil kemeslahatan...
Kemeslahatan itu adakalanya dg jalan kekerasan,dan adakala dengan kelembutan.... semua tergantung jenis dan persoalan kemeslahatan itu sendiri... | |  | | | | | |
Kasihan negeri ini karena sang pemimpin peragu (elfawzy@gm..., 07/07/2008 13:47) Saya sepemahaman mengenai tragedi monas dijadikan ajang untuk mengalihkan perhatian atas kenaikan BBM dan peristiwa mengenaskan mahasiswa Universitas Nasional.
Namun demikian, berkenaan dengan reaksi kekerasan yang dilakukan oleh kalangan FPI sepertinya kita harus bisa memahaminya, bahwasannya tidak mungkin adanya reaksi tanpa adanya aksi, terlebih didasarkan pada golongan keyakinan mereka
dinistakan oleh anggota pendemo AKKBB dengan sebutan laskar kafir atau setan kepada para demonstran FPI (... <345 huruf lagi> | |
 |
|