spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
spacer
spacer
EKONOMI
spacer
 
Ikon
Bakso Taoge Jalan Steindamm

Jamal Syafei di Depan Rumah Makan Cita Rasa (GATRA/Miranti S. Hirschmann)Tinggal di Eropa tak berarti harus berpisah dari makanan khas Indonesia. Pada satu jalan di bagian selatan Stasiun Kereta Api Hamburg, Jerman, terdapat Rumah Makan Cita Rasa dan Toko Indonesia. Keduanya diusahakan oleh Jamal Syafie untuk mereka yang menyukai cita rasa masakan Indonesia.

"Mau nasi kuning? Tambah 50 sen. Minum apa? Teh botol dingin? Silakan ambil di lemari es. Semuanya 5 euro," kata Jamal, 32 tahun, ketika melayani pembeli. Di tengah musim panas lalu, temperatur hawa di Hamburg mencapai 28 derajat, dan teh botol dingin dalam kemasan merupakan penawar yang pas.

Ternyata pelanggannya malah lebih banyak orang Jerman yang berkantor di sekitar tempat usahanya. Semur daging, ayam rica, dan bakmi goreng menjadi menu andalan yang memikat banyak pelanggan. Di saat senggang, dia meluncur ke tokonya untuk memastikan bahwa para pelanggan lainnya terlayani dengan baik. Di dalam toko tampak rak-rak yang sarat bumbu asal Indonesia. Lemari pendinginnya dipenuhi tumpukan tahu, tempe, daun pisang, bawang merah, hingga petai.

Jamal menuturkan, usaha itu dirintisnya enam tahun silam. Sebelumnya, lulusan FH Nord Akademie Elmshorn dengan titel dipl. ing jurusan teknologi informasi itu sempat bekerja di maskapai penerbangan Jerman, Lufthansa. Pada saat terjadi pengurangan pegawai, Jamal ikut terpangkas. Ia banting setir dan mencoba menjadi wiraswastawan.

Sebelumnya, dia berniat membuka persewaan mobil mewah Ferrari. Ketika berkumpul dengan masyarakat Indonesia di Hamburg, muncul gagasan untuk berjualan bumbu dapur. "Orang Indonesia di Jerman selalu mengeluh susah cari bumbu dapur. Tema pembicaraan selalu berkisar di mana cari terasi atau gula jawa. Makan harus enak," kata pemuda kelahiran Manado, yang mewarisi darah Arab dari sang ayah dan Jerman dari garis ibu, itu. Jamal masih berpaspor Indonesia.

Rencana persewaan mobil dia kubur. Dia pun membuka toko yang menjual bahan-bahan makanan pelengkap khusus makanan Indonesia pada pertengahan 2002. "Hingga sekarang, nggak ada toko yang menjual bahan makanan khusus Indonesia di Jerman," katanya. Dengan segala keberanian, mula-mula dia membuka toko impiannya di sebuah gudang dekat Pelabuhan Hamburg.

Dengan ilmunya, beberapa bulan kemudian dia mengembangkan bisnis dengan penjualan secara online. Ide itu bersambut, dan usahanya tambah maju. Dia pun memindahkan tokonya ke Jalan Steindamm. "Lokasinya strategis, dekat pusat, ada U-Bahn (subway), bus, dan aman," ujarnya.

Dia mengawali bisnis dengan menawarkan 400 jenis barang. Sekarang lebih dari 1.000 item ditawarkan secara online. Selama enam tahun bisnisnya berjalan, permintaan terlaris dari pelanggan tak beranjak dari kisaran beberapa jenis barang. "Gula jawa, emping, teh botol, mi instan, dan ikan asin," katanya.

Jumlah barang yang ditawarkan memang bertambah, karena Jamal dan timnya selalu mencatat permintaan para pelanggannya dari surat elektronik. Dia terus berusaha menyediakan permintaan itu. Tadinya petai sulit didapatkan, karena dia tak mengerti bahasa Jerman yang digunakan untuk makanan itu. "Ternyata di toko Thailand tersedia, dengan nama berbeda," tuturnya.

Pada saat ini, Toko Indonesia menawarkan sekitar 50 jenis kerupuk dan 50 jenis sambal. Setiap hari, dia menerima 20 hingga 30 pesanan online yang nilai dan tujuan pengirimannya beragam. "Pokoknya, semua negara Uni Eropa, dari Inggris sampai Yunani," katanya. Pelanggannya tak terbatas orang Indonesia di Eropa, melainkan juga orang Eropa penggemar makanan Indonesia.

Permintaan bahan makanan Indonesia cukup banyak, tapi tidak semua permintaan itu bisa diimpor ke Jerman karena aturan yang ketat. "Masalahnya ada di zat pewarna atau bahan pengawetnya yang tak memenuhi standar. Abon, misalnya, tak bisa masuk Jerman karena bahan dasarnya daging," ungkapnya. Saking ketatnya, kadang Jamal memesan bahan makanan lewat Pelabuhan Den Haag di Belanda. "Bea cukai Belanda lebih mengetahui bahan makanan asal Indonesia. Buat mereka, itu bukan barang aneh," ujarnya.

Untuk mengirim makanan segar, seperti tempe, tahu, dan sayur, digunakan kemasan khusus. "Kalau pesan sayur, butuh waktu sampai tujuh hari, dari pesan sampai kirim. Pokoknya, kalau ada barang, besok langsung kirim," katanya. Pesanan dalam negeri Jerman bisa dipastikan sampai dalam waktu 24 jam, asal barangnya tersedia. Ia mengaku, kebanyakan sayur-mayur segar didapat dari Thailand.

Sistem pengiriman lewat pos di Jerman, untuk pesanan hingga 31,5 kilogram, dikenai biaya pengiriman 5,90 euro. Biaya pengiriman yang cukup mahal ini sering dikeluhkan, sehingga dia memberi tips pada halaman website-nya agar memesan secara kolektif, yang menghemat biaya pengiriman.

Karena biasanya komunitas Indonesia saling mengenal, bahkan membentuk kelompok di suatu kota di Eropa, Jamal tidak perlu berpromosi. "Jaringan orang Indonesia amat bagus. Orang muslim, Nasrani, kesukuaan, asal sebangsa, pasti senang kumpul. Kalau satu orang tahu, semua tahu. Untuk promosi, ini bagus sekali," katanya.

Hal itu diakui Zeynita Gibbons, wartawati Antara yang tinggal di Essex, Inggris. Ia dan beberapa rekannya adalah pelanggan setia Toko Indonesia dan selalu memesan dengan cara kolektif. "Praktis dan mendekatkan hubungan silaturahmi," tuturnya.

Selain barang paket dengan jumlah kecil, toko Jamal juga sering mendapat pesanan partai besar. Yang jenis ini harus dikirim lewat jasa ekspedisi. "Biasanya yang pesan Kedutaan Indonesia," katanya. Di antara pelanggan setianya, ada juga keluarga yang pesanannya bernilai 200 hingga 300 euro setiap bulan.

Dengan seorang pegawai dan dua orang yang mengurus peranti teknologi informasi, Toko Indonesia menerapkan tiga sistem pembayaran: kontan, kartu kredit, dan nachname, yaitu sistem prabayar yang pendebetannya dilakukan setelah barang diterima. Tapi, untuk sistem ketiga ini, dia mengenakan tambahan biaya 6 euro.

Keluhan pelanggan selalu ada, utamanya kalau pelanggan merasa telah didebet, padahal belum menerima barangnya. "Bila itu terjadi, kami beri gutschrift. Artinya, untuk pembelian berikut, namanya dan jumlah uang yang belum dibelanjakan sudah kami catat. Setelah ribuan pengiriman, baru satu paket yang hilang di jalan," ucapnya.

Berbeda dari mereka yang tinggal jauh, orang Indonesia yang tinggal di Hamburg biasanya lebih memilih datang ke toko untuk cuci mata dan bersosialisasi. Melihat persaingan dengan toko Asia lainnya, Jamal tidak gentar. "Bahan makanan Asia di Hamburg memang murah karena ada pelabuhan. Makanya, banyak toko Asia. Di Berlin mungkin lebih murah lagi. Tapi banyak orang Berlin pesan ke kami," katanya.

Jamal adalah sulung dari empat bersaudara putra pasangan Mochsen Ali Syawie dan Doris. Mochsen Ali Syawie adalah keturunan Arab yang besar di Kampung Arab, Manado. "Ibu saya orang Jerman. Sejak kecil, saya hanya berbahasa Jerman. Baru setelah dewasa, saya belajar bahasa Indonesia," ujarnya. Jamal dibesarkan dalam lingkungan muslim yang taat, dan dia menolak menjual rokok atau minuman keras.

Sukses dengan toko, dia melihat peluang baru ketika restoran di samping tokonya bangkrut. Dia pun menyewa slot tersebut dan menjadikannya rumah makan khas Indonesia cepat saji. Konsepnya: cepat proses masaknya dan halal. Untuk makan siang, dia menawarkan beberapa paket harga dari 2,10 euro hingga 7,90 euro, termasuk minum dan pencuci mulut. Dari 13 menu yang disajikan bergilir setiap hari, Jamal menghindari makanan dari bahan ikan. "Ikan kurang laku. Orang Indonesia suka ikan, tapi orang Jerman kurang suka ikan. Kami jual yang laku saja biar barang dagangan habis terus," katanya sambil tertawa.

Dengan empat pegawai, rumah makan dengan nama Cita Rasa itu setiap hari menyiapkan 300 porsi hingga pukul enam sore. Kadang pukul tiga sore pun tak ada yang tersisa. Pada akhir pekan, Cita Rasa menyediakan menu khusus, yaitu bakso. "Orang Jerman di sini mulai makan bakso. Tadinya mereka pikir itu sup, tapi itu bakso. Lengkap dengan taoge, mi, sayur, jeruk, dan sambal," tuturnya.

Pelanggan setia Cita Rasa, Zeki dan Georg, yang ditemui di rumah makan itu, mengaku datang setiap hari untuk makan siang. Menurut mereka, makanan Indonesia di situ enak, bebas lemak, dan tidak menggemukkan.

Miranti Soetjipto-Hirschmann (Hamburg)
[Ekonomi, Gatra Nomor 45 Beredar Kamis, 18 September 2008]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
  
spacer
KOMENTAR PEMBACA
spacer
  
  kalau ada 1000 aja toko begini di eropa (rudy_tjah@ya..., 20/09/2008 17:11)
kalau ada 1000 aja toko begini di jerman dimana barang2 dari Indnesia bisa langsung dikirim kesana, wah devisa dan perekonomian negara bisa terangkat.Tapi sayang kita kalah cepat dng Thailand.Wooi bangkit Indonesiaku jangan tidur aja kamu bisa.Yang penting babat abis koruptor yg maunya dapet duit haram yg bukan haknya tanpa kristalisasi keringat.
 
 
spacer
  
  GENJOTRUS mah, pilih Amrik! Yee, USA! (genjotrus@gm..., 20/09/2008 10:20)
Nginap di rumah ASBOEN, yang dulu juga gemar kirim komentar ke harian2 Jkt, GENJOTRUS diajak blanja bahan makanan. Ternyata, bahan untuk masakan Indonesia tersedia sangat cukup dan harganyapun relatif murah! Just name it! Kopi Indonesia, krupuk Indonesia, kecap Indonsia, bakso, dll, tersedia!

Aneh bin ajaib! Ternyata harga pakaian, makanan, dll, Amrik juauh lebih murah dari Eropah! Di satu restoran dekat katedral di Koln, Jerman, makan bertiga (tanpa minuman keras) habis US$100 plus tip! Juga... <1182 huruf lagi>
 
 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 09 February 2010 >>
SuMTW ThFSa
dot123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer