spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
spacer
spacer
WISATA & HIBURAN
spacer
 
Buku Ocehan Si Mbot:
Sudut Pandang Lain Orang Kantoran

Cover "Ocehan Si Mbot" (Dok Agung Nugroho)Judul Buku: Ocehan Si Mbot: Gilanya Orang Kantoran
Penulis : Agung Nugroho
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman : 242 + xviii

Selama ini dunia kerja diidentikkan dengan dunia serius, penuh formalitas, dan selalu dibayang-bayangi wajah seram si bos. Tapi pernahkah kita memandang dunia kerja ini dari angle (sudut pandang) lain, sisi humor? Humor ternyata bisa menjadi jurus jitu untuk melepaskan ketegangan orang-orang kantoran, karena humor mampu membangkitkan kegembiraan di lingkungan pergaulan, termasuk di kantor.

Agung "Mbot" Nugroho, penulis buku Ocehan Si Mbot: Gilanya Orang Kantoran, sudah membuktikannya. Pria yang menyebut diri sebagai Mbot (asal kata dari gembrot) lengkap dengan maskot lelaki berwajah bulat berambut poni ini,
membagi pengalamannya lewat buku kecil setebal 242 halaman, yang sebagian pernah ditulisnya di situs pribadinya, http://mbot.multiply.com.

Seberapa besar selera humor Agung, bisa kita lihat dari pengantar buku ini. Tulisnya, apa yang dilakukan orang di kantor? Apa pun, kecuali kerja. Pada dasarnya, kantor adalah sebuah taman bermain, yang disekat-sekat menjadi bilik-bilik kecil. Karena kebanyakan orang kantoran zaman sekarang merasa turun gengsi kalau sebut "kerja dalam bilik", disebutlah sekat-sekat itu sebagai "kubikel." (halaman xxiii)

Pengalaman kerja pertamanya sebagai seorang staf Human Resources Consultant, dikisahkannya dalam "Menjelma Jadi Orang Kantoran". Agung secara terus terang mengakui kalau waktu kuliah dulu, ia begitu mengagumi seniornya yang sudah kerja kantoran.

Kayaknya keren dan penting, gitu. Kalau ada yang mampir di kampus pake dasi dan sepatu pletok, kelihatannya gaya banget. (halaman 2). Setelah lulus kuliah dan menjadi psikolog, ia bergabung dengan sebuah perusahaan konsultan SDM, yang ternyata mengecewakannya karena sepak terjang bosnya "penuh tipu daya".

Tapi Agung melihat dengan cara pandang khasnya, humor. Pengalaman kerjanya seumur jagung itu diakhirinya, berbekal persepsi baru tentang ngantor, yakni menyebut kegiatan makan nasi padang, lontong sayur, atau sate pinggir jalan sebagai "lunch", dan kalau makannya rame-rame, maka sebutannya menjadi "lunch meeting". Menyebut kegiatan "ngibul" atau "nyolong listrik" sebagai kreatif. Bebas menulis jabatan apa pun yang terdengar keren di kartu nama, sekalipun di kantor kerjanya cuma main Solitaire dan Minesweeper. (halaman 7-8)

Di buku ini, Agung tak melulu menceritakan kisah orang kantoran, melainkan juga kisah pribadinya. Agung, yang mengaku kurang berbakat mengasuh anak-anak, menghadapi dilema saat menikah dengan Ida, dan membicarakan masalah anak dengan istrinya itu. Tapi bukan Agung Mbot namanya, kalau ia tak memandangnya dari sudut pandang lucu.

"Daripada punya anak, gimana kalau kita memelihara marmut aja?" usul gue kepada Ida. Agung pun mengajukan "Top 10" alasan untuk memelihara marmut, ketimbang punya anak sendiri. Antara lain ia menulis, Nggak akan dapet telepon dari sekolah, 'Maaf Pak, mohon segera datang ke sekolah. Marmut Bapak nonjok temennya sampai berdarah." (halaman 217).

Di bagian lainnya, buku ini juga membahas hal yang "serius", dengan memberikan tip untuk menjadi orang kantoran alias melamar pekerjaan, yang sangat mungkin berguna bagi pembacanya, meski disampaikan dengan gaya humor. Agung, yang mantan petugas rekrutmen, dengan tugas antara lain, mewawancara calon pegawai, memberikan tip; "Enam 'Jangan' Saat Wawancara Pekerjaan. Jangan ngomong melulu, jangan belagu, jangan galak, jangan terburu-buru, jangan sok centik, dan jangan luput menjawab pertanyaan yang seharusnya bisa dijawab. (halaman 26-32)

Namun, pada cerita berjudul "Innovative (or Desperate?) Marketing Effort" (halaman 118-121), Agung, yang bekerja di sebuah bank swasta ini, menulis kritikan lewat humor, yang menurut penulis, rawan "terpleset." Ia agak keras "menyentil" teknik promosi bank lain berinisial Bank M, yang mengiming-imingi nasabahnya yang membuka rekening minimal Rp 100 ribu dengan hadiah satu kardus mie instan.

Meski demikian, secara keseluruhan, buku pertama yang ditulis Agung, yang dikenal penulis sebagai sosok multitalent ini bisa menghibur pembacanya, tanpa harus membuat kening berkerut. Masih banyak lagi humor yang ditulis blogger yang mulai aktif sejak 2004 ini. Humor yang menurut Isman H. Suryaman, editor buku ini, lebih nyata karena muncul dari kejadian maupun pengamatan sehari-hari ini, dan bisa membantu pembacanya menghadapi kegilaan dalam situasi serupa dengan menertawakannya.

Kalau anda siap menertawakan diri sendiri dan membuat diri sendiri tertawa, silakan baca buku ini sampai khatam. [Tian Arief]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 30 July 2010 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdotdot123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer