spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
spacer
spacer
EKONOMI
spacer
 
Krisis Listrik Memuncak, Laju Ekonomi Tersedak

Kemacetan Lalu Lintas Akibat Pemadaman Listrik di Jakarta (GATRA/Wisnu Prabowo)Perasaan gelisah kerap menghampiri Ummi Azka belakangan ini. Pangkalnya adalah listrik di tempat tinggalnya yang sering mendadak mati. Ibunda Azkia Kayyisa Abrar yang masih berusia dua bulan itu khawatir, stok ASI (air susu ibu) untuk kebutuhan si kecil rusak.

Untuk keperluan ASI eksklusif, karyawan perusahaan swasta di Jakarta itu biasa menyimpan botol stok ASI di freezer lemari es. ''Sehari saya menyetok empat botol dan sekarang sudah mencapai 37 botol,'' tutur Ummi, 31 tahun, yang tengah giat memanfaatkan sisa waktu cuti yang tinggal tiga pekan untuk memberi ASI eksklusif kepada si kecil.

Sejak Oktober lalu, kata Ummi, sudah lima kali listrik mati tanpa pemberitahuan. Ummi terpaksa membeli cooler box dan blue ice untuk menyimpan botol-botol ASI jika lampu mati lagi. ''Lebih deg-degan lagi waktu mati lampu yang terakhir. Di kulkas ada 20 botol, tetapi tidak ada seorang pun di rumah, sehingga botol-botol ASI itu tidak bisa dipindahkan ke cooler box,'' ujarnya kepada Birny Birdieni dari Gatra. Untunglah, di kulkas ada blue ice, sehingga ASI di botol-botol itu tidak sampai basi.

Namun malang bagi Ida, teman Ummi yang juga baru melahirkan bayi beberapa minggu lalu. Ia terpaksa membuang 20 botol stok ASI karena basi setelah listrik padam hingga delapan jam. Dalam kondisi normal, ASI di freezer bisa bertahan tiga hingga enam bulan. Karena itu, dua ibu muda tersebut menyesalkan langkah PLN yang kerap memadamkan listrik tanpa basa-basi.

Dua ibu muda itu berharap, PLN dapat menyeimbangkan pelayanan dan biaya yang harus ditanggung konsumen. ''Jangan sampai biaya listrik naik terus, tapi pelayanan tidak ditingkatkan,'' ungkapnya. Keluhan Ummi ini mewakili perasaan warga DKI Jakarta, yang sebulan ini menderita akibat pemadaman listrik bergilir.

Byar-pet listrik itu tidak hanya mengakibatkan warga resah, melainkan juga mengganggu sarana umum. Salah satunya, menyebabkan perjalanan kereta rel listrik di Jabodetabek terhambat. ''Sehubungan dengan pemadaman listrik bergilir oleh PLN, maka dampaknya akan mempengaruhi operasi perjalanan KRL Jabodetabek. Untuk lintasan yang terkena giliran pemadaman, akan ada antrean KRL,'' kata Kepala Humas PT Kereta Api Daerah Operasi I Jabodetabek, Sugeng Prijono.

Di kalangan pengusaha, pemadaman listrik bergilir itu pun membuahkan keluhan panjang. Tidak hanya pengusaha lokal, pengusaha asing yang punya kerja sama dengan Indonesia pun kecewa, sebagaimana diungkapkan Menteri Perindustrian, M.S. Hidayat. ''Pengusaha Jepang merasa dirugikan,'' katanya usai bertemu dengan perwakilan investor Jepang (Kankeiren Business Delegation), Senin pekan lalu.

Matinya listrik di Jakarta tidak hanya membuat pengusaha kelas rumahan mengalami kerugian, melainkan juga menyebabkan wajah elok Ibu Kota tercoreng. Lampu rambu lalu lintas yang juga tak berfungsi menimbulkan kemacetan luar biasa di Jakarta. Lampu lalu lintas yang mati itu, antara lain, di kawasan Bulungan, Jalan Wolter Monginsidi, Jalan Fatmawati, persimpangan Pintu Air, persimpangan Mal Citra Klender, Srengseng, Joglo, dan Alfa Indah.

***

Matinya listrik di Jakarta itu melengkapi nestapa serupa di sekujur Nusantara. Sebelumnya, pemadaman bergilir terjadi di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, sejak tiga tahun lalu. Warga Banda Aceh, Medan, Riau, Banten, Tenggarong, Samarinda, Balikpapan, Bontang, Makassar, Palu, Manado, Lombok, maupun Ambon juga harus sabar karena mati lampu akrab dengan kehidupan mereka.

Di Pekanbaru, Riau, puncak krisis listrik terjadi sejak Februari sampai saat ini. Pemadaman yang berlangsung enam hingga 18 jam per hari menjadi rutinitas masyarakat yang wilayahnya kaya minyak dan gas itu. Menurut prediksi Robert Aritonang, General Manager PLN Wilayah Riau-Kepulauan Riau, krisis listrik di Riau baru akan teratasi pada 2012, ketika PLTU 2x100 MW di Tenayan Raya, Pekanbaru, selesai dibangun.

Menurut Robert, krisis listrik di Riau terjadi lantaran sub-sistem Riau sangat bergantung pada sistem Sumatera Bagian Tengah, Sumatera Bagian Selatan, dan Sumatera Bagian Utara. Artinya, sistem pembangkit Riau tidak mandiri. Meski PLN telah menyusun perencanaan pengembangan jangka pendek dan jangka panjang, tidak semuanya dapat dilaksanakan karena keterbatasan kemampuan PLN dalam investasi aset pembangkit, transmisi, dan distribusi.

Dampak pemadaman itu sangat dirasakan pengusaha menengah-bawah. Indra B. Syukur, Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Riau, menyebutkan bahwa para pengusaha harus mengeluarkan dana ekstra karena listrik mati. Selain untuk pembelian genset, solar, atau bensin, juga untuk mengganti peralatan elektronik yang rusak.

Begitu juga pengusaha percetakan di Pekanbaru. Seringnya listrik padam pada jam-jam sibuk menyebabkan penghasilan pengusaha turun hingga 50%. Seperti dituturkan Ocu, pemilik percetakan di Jalan Pepaya, Pekanbaru, meski ia punya genset, daya yang dihasilkannya tidak cukup kuat untuk menjalankan mesin cetak yang dimilikinya. ''Karyawan tidak bisa bekerja tanpa suplai listrik, sebab proses pekerjaan seluruhnya menggunakan mesin,'' katanya kepada Luzi Diamanda dari Gatra.

Kebijakan pemadaman listrik bergilir oleh PLN juga terjadi di Bandung dan Surabaya, yang berimbas merosotnya penghasilan masyarakat. Beberapa warga mengeluh karena usahanya tidak bisa beroperasi setelah PLN setempat mematikan listrik. Misalnya dialami Lilik Khudaifah, pengusaha cuci pakaian di daerah Sukodono, Sidoarjo. Ia mengeluh tak mampu memberikan pelayanan terbaik bagi para pelanggannya.

Tumpukan pakaian dari beberapa pelanggan, yang seharusnya sudah selesai dicuci dan disetrika, kini masih menumpuk di tempat cucian. ''Pagi ini sudah tiga orang yang mendamprat saya karena pakaian mereka belum selesai dicuci,'' katanya kepada M. Nur Cholish Zaein dari Gatra.

Menurut Lilik, pemadaman listrik dari pukul 17.00 sampai 22.00 WIB itu telah mematikan bisnis cuci pakaian yang digelutinya sejak 2007. ''Kalau PLN terus mematikan listrik, pelanggan saya bisa kabur semua,'' tuturnya. Menurut ibu dua anak itu, ketepatan waktu merupakan salah satu unsur penting agar pelanggan bisa betah mencucikan pakaian di tempatnya.

Derita yang sama dialami Slamet Wahyudi. Warung internet (warnet) miliknya, yang ada di kawasan Putat, Surabaya, tak bisa beroperasi karena terkena pemadaman listrik bergilir. Padahal, dalam keadaan normal, warnet miliknya mampu menghasilkan duit Rp 3 juta hingga Rp 5 juta sehari. ''Bagi saya, listrik menjadi modal hidup, sebab operasional warnet bergantung pada listrik,'' katanya.

***

Puncak krisis listrik itu membuat Direktur Utama PT PLN (Persero), Fahmi Mochtar, beserta seluruh jajaran direksi harus memenuhi panggilan Komisi VII DPR-RI, Senin lalu. Dalam rapat dengar pendapat itu, Fahmi Mochtar dicecar dengan 28 pertanyaan, disusul beberapa pertanyaan tambahan. Ia menyampaikan jawaban di depan anggota dewan.

Menurut Fahmi, pemadaman bergilir di Jakarta dan Tangerang itu terjadi karena gangguan trafo gardu induk Kembangan dan Cawang. ''Total kerugian PLN mencapai Rp 92 milyar,'' ungkapnya kepada Birny Birdieni dari Gatra.

General Manager PT PLN Area Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang, Purnomo Willy, menambahkan bahwa gangguan listrik juga terjadi di sistem PLTGU Muara Karang. ''Defisit listrik akibat gangguan PLTGU Muara Karang dan gardu listrik Cawang mencapai sekitar 250 megawatt, sementara beban puncak DKI Jakarta mencapai 5.050 megawatt. Karena itulah, pemadaman listrik bergilir terpaksa dilakukan,'' kata Purnomo.

Diakui oleh Murtaqi Syamsudin, Direktur PT PLN Jawa, Madura, dan Bali, beban yang dipikul gardu induk Kembangan, Gandul, Cawang, dan Bekasi sangat kritis karena hampir mencapai 100%. Padahal, titik amannya terjadi jika pemakaian hanya 50% dari kapasitas, sehingga jika ada satu gardu yang rusak, dapat dilimpahkan sementara pada gardu lainnya.

Beban puncak terjadi pada siang hari, pukul sembilan pagi hingga pukul lima sore, ketika industri dan perkantoran aktif. ''Sedangkan suhu udara pada siang hari berbeda dari malam hari, sehingga terjadi thermal stress,'' ujar Murtaqi kepada Rukmi Hapsari dari Gatra.

Untuk mengatasi krisis listrik tersebut, pihak PLN mengantisipasinya dengan membeli listrik dari PT Argo Pantes sebanyak 2 MB, dari Cikarang Listrikindo sebanyak 50 MB, dan dari Bekasi Power sebanyak 37 MB. ''Totalnya 89 MB untuk menyuplai daerah Jakarta,'' Murtaqi menjelaskan. Selain itu, PLN juga akan mendapat masukan daya baru dari PLTU Labuan sebanyak 300 MB dan PLTU Rembang sebanyak 300 MB.

Namun masukan daya baru itu harus diimbangi dengan interbus transformer yang cukup. Jika tidak, akan terjadi bottle neck, sehingga daya yang dimiliki tidak dapat tersalurkan dengan baik. Itu dapat diatasi dengan menaikkan kapasitas trafo atau menambah jumlah pembangkit.

Untuk itu, dibutuhkan dana Rp 8,6 trilyun. ''Sudah ada lampu hijau dari Bappenas, sebanyak Rp 300 milyar yang berasal dari kredit ekspor dan Rp 800 milyar dari kantong PLN. Sisanya masih akan dicarikan lagi,'' tutur Murtaqi. Dana sebesar itu hanya untuk kebutuhan di Jakarta.

Pada saat ini, rata-rata umur trafo listrik di Indonesia mencapai 20 tahun. Sehingga butuh perawatan, mengingat beban tiap hari selalu berlebihan. Namun hal itu tidak seperti membalik telapak tangan. Pemadaman harus dilakukan lebih dulu untuk mengamankan para pekerja.

Masalahnya, pada saat satu trafo dimatikan, tidak ada trafo cadangan yang bisa menggantikan. Jika beban dialirkan secara paksa ke trafo lain yang sedang bekerja, kemungkinan besar trafo itu jebol. ''Seperti terjadi di Cawang sehingga berdampak pada pemadaman. Sebab trafo di gardu lainnya sudah overload,'' ungkap Murtaqi.

Meski trafo yang terbakar sudah diganti trafo dari Surabaya, masih perlu waktu untuk perakitannya. ''Proses perakitannya membutuhkan ketelitian, dan tim didatangkan dari luar negeri karena kerumitan prosesnya,'' kata Nur Pamudji, General Manager Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Jawa-Bali.

Kini proses pemasangannya telah selesai untuk sisi yang 150 KV, sedangkan untuk sisi 500 KV masih dalam tahap evaluasi. Langkah jangka pendek pemulihan sub-sistem Kembangan-Gandul-Muara Karang adalah dengan mengoperasikan interbus transformer (IBT) Balaraja dan mengalihkan beban Kembangan ke Balaraja.

Pada level nasional, kesulitan pihak PLN lebih gawat. Menurut Fahmi, selama ini PLN harus membeli bahan baku dengan harga pasar, tetapi harus menjual dengan ketentuan tarif dasar listrik (TDL) yang diatur pemerintah dan DPR. ''Nah, menyeimbangkan dua hal ini yang tidak mudah,'' ujarnya.

Karena itu, kata Fahmi, strateginya perlu diubah. Dengan beleid baru tentang kelistrikan (Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009), pembedaan tarif berdasarkan potensi daerah dapat dilakukan. Sementara itu, TDL bisnis dan industri bisa dilepas ke harga pasar, sedangkan subsidi diarahkan pada konsumsi rumah tangga yang daya belinya rendah. ''Ini tentu akan memperbaiki kinerja perusahaan,'' katanya.

Terobosan yang dilakukan pada tahun ini adalah diberikannya margin usaha 5% bagi PLN pada 2010. ''Bertahun-tahun PLN hanya diberi subsidi tanpa mampu menutupi operasi,'' tuturnya.

Kini, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 7%, harus diimbangi dengan pembangunan kelistrikan yang tumbuh hingga 9%. Konsekuensinya, butuh biaya hampir Rp 70 trilyun-Rp 80 trilyun per tahun. Dari jumlah itu, PLN hanya mampu memenuhi Rp 15 trilyun. ''Kekurangan itu harus ditutup dari margin usaha,'' ia menegaskan.

Jika mendapat 1% margin usaha, maka PLN pun bankable untuk mendapat pinjaman Rp 7 trilyun. Lalu keuntungan 8% berpeluang untuk mendapat dana Rp 60 trilyun. Menurut Fahmi, pemerintah tidak bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi 7% jika PLN tak diberikan kesempatan memenuhi kebutuhan investasi Rp 70 trilyun-Rp 80 trilyun per tahun. ''Kalau tidak dilakukan, ekonomi mungkin akan tumbuh dari pemanfaatan kapasitas yang ada, dan bukan dari penambahan kapasitas,'' ujarnya.

Heru Pamuji
[Laporan Khusus, Gatra Nomor 2 Beredar Kamis, 19 November 2009]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
  
spacer
KOMENTAR PEMBACA
spacer
  
  Itulah Indonesia..... (andi_malabingung, 26/11/2009 08:56)
Nggak tau sampai kapan yah Indonesia baru bisa maju. Dari dulu ngga pernah berakhir masalah listrik ini. Negara terbelakang aja ngga separah ini kali.
 
 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 09 February 2010 >>
SuMTW ThFSa
dot123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer