|
 |
|
 |
|
EKONOMI |
 |
| |
Gejolak Harga Akibat Permainan Amerika
Temaram lampu menghiasi sudut-sudut Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Ahad lalu. Selepas isya, aktivitas di pasar itu mulai menggeliat. Seorang pria berusia 24 tahun terlihat sibuk memilah cabe merah dari karung ke dalam dus yang dapat menyimpan 40 kilogram. Pria berkulit hitam itu tidak menghiraukan cuaca gerah yang membuatnya bercucuran keringat. Maklum, rutinitas itu sudah dijalani Iyus Prananda, pria tersebut, sejak beberapa tahun.
Namun malam itu, tak banyak pembeli datang. Iyus mengeluhkan harga cabe merah yang membubung tinggi dalam kurun waktu tiga bulan ini. "Tiap hari harganya naik," katanya kepada Gatra. Harga tertinggi pernah mencapai Rp 38.000 per kilogram. Namun, diakui Iyus, kini harga cabe sudah berangsur turun. "Begitu juga harga sayuran lainnya," kata Iyus.
Meski harga terkerek naik, Iyus mengaku masih mampu melego hingga 5 kuintal cabe merah per hari. Tidak ada penurunan penjualan, tetapi Iyus harus menjual cabe secara eceran. Sebelumnya, ia mampu menjual sendiri dalam partai besar, yaitu per satu dus yang ukurannya sekitar 40 kilogram.
Lonjakan harga tidak hanya terjadi pada cabe, tapi juga melanda beberapa komoditas bahan pangan lain, termasuk beras. Rata-rata kenaikan mencapai 30% hingga 100%. Meski begitu, Menteri Perdagangan (Mendag) Marie Elka Pangestu meyakinkan bahwa pasokan bahan pokok untuk persiapan hari raya hingga akhir tahun tetap terjaga. "Antisipasi kenaikan sebesar 20% sudah dilakukan sejak dua bulan lalu," ujarnya. Sampai akhir tahun, stok komoditas pangan strategis diperkirakan masih aman.
Kenaikan harga komoditas pertanian, menurut Marie, disebabkan tidak maksimalnya produksi akibat musim hujan yang berkepanjangan. Imbasnya, pasokan ke Jakarta dan sekitarnya menjadi menurun, sedangkan permintaan meningkat. Menurut laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan masih akan berlangsung selama Juli hingga November 2010.
Menurut Mendag, asosiasi petani dan pedagang harus mewaspadai anomali cuaca yang akan berpengaruh pada produksi tanaman musiman. "Namun kita harapkan ramalan cuaca dari BMKG akan tepat, sehingga pada saat musim hujan turun, pasokan akan terpenuhi dan harga akan tetap stabil," tuturnya.
Khusus untuk beras, Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso menegaskan, stok beras nasional cukup, yakni 1,8 juta ton. "Sebanyak 500.000 ton siap untuk operasi pasar," ungkap Sutarto. Ambang batas kenaikan Bulog untuk melakukan operasi pasar (OP) adalah kenaikan 10%. Jika harga grosir naik 10%, maka retail akan jual lebih dari kisaran 15%. "Tapi OP juga dapat dilakukan begitu ada gejolak kenaikan di pasar, tanpa harus menunggu kenaikan di atas 10%," kata Sutarto.
Sayang, Bulog hanya diberi tanggung jawab menjaga stabilitas harga beras. Wewenang Bulog dalam mengontrol harga sembilan bahan pokok sempat dipereteli oleh syarat ketat Dana Moneter Internasional (IMF) saat menggelontorkan pinjaman kepada Indonesia dalam mengatasi krisis moneter yang terjadi 12 tahun silam. Padahal, di Malaysia, sebuah badan yang tadinya "mencontoh" Bulog masih diberi wewenang penuh untuk mengontrol harga semua bahan pokok untuk mencegah krisis pangan di negeri jiran itu.

Meski ada harapan menyejukkan dari kedua pejabat yang bertanggung jawab terhadap harga sembako itu, toh kenaikan harga barang-barang yang sudah terjadi kadung berimbas pada perekonomian nasional. Maklum, selain kelangkaan komoditas pertanian akibat anomali cuaca, harga bahan pangan juga didongkrak oleh pengumuman kenaikan tarif dasar listrik (TDL).
Isu kenaikan TDL, kontan saja mempengaruhi inflasi, lantaran disusul naiknya harga bahan pokok. Meski Mendag meyakini, TDL sangat kecil pengaruhnya terhadap kenaikan harga bahan pokok. "Sekitar 0,3% saja pengaruhnya," ujar Marie Pangestu. Faktor utama inflasi, kata Marie, adalah tren tahunan menjelang bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, juga anomali iklim yang menyebabkan curah hujan tinggi.
Kondisi tersebut tentu berpengaruh terhadap panen beberapa komoditas pertanian. Di samping itu, transportasi distribusi bahan pokok juga turut menghambat ketersediaan bahan pokok. "Jadi utamanya kita harus pastikan distribusi pasokan dapat berjalan lancar," ia menegaskan.
Berdasarkan pengalaman sebelumnya, ambang batas kewajaran kenaikan harga menjelang puasa dan hari raya ini adalah 20%. Namun saat ini harga-harga melesat jauh dari ambang tersebut. Oleh karena itu, kata Marie, sebagai upaya mengantisipasi kenaikan harga bahan pokok menjelang hari raya Idul Fitri, pemerintah terus melakukan langkah-langkah koordinasi intensif dengan pihak-pihak terkait, yaitu dengan produsen, pedagang, dan perpasaran (PD Pasar Jaya, PIBC, Pasar Induk), dan juga dengan asosiasi berkaitan.
Senada dengan Marie Pangestu, kepala divisi statistik harga konsumen, Yunita Rusanti, meyakini bahwa kenaikan harga di Indonesia membentuk sebuah pola tiap tahun. "Seperti kenaikan harga beras, yang kerap terjadi di awal tahun, yang saat ini menyumbang inflasi pada awal tahun sebesar 0,35%," ungkapnya. Namun, ia juga meyakini, kenaikan harga-harga komoditas lain seperti cabe dan bawang cenderung disebabkan oleh kondisi cuaca.
Selain itu, kenaikan komoditas tersebut juga dikarenakan tipenya yang cenderung bergejolak. Ada inflasi inti, ada juga inflasi administered atau volatile, yang disebabkan harga komoditas bergejolak. "Nah, jenis terakhir itu yang naik tinggi, terutama komoditas dari volatile food," kata Yunita kepada Andya Dhyaksa dari Gatra.
Yunita juga meyakini, kenaikan TDL turut menjadi faktor penyebab kenaikan harga di hampir semua daerah. "Meski imbasnya secara tidak langsung," ujarnya. Contohnya, dengan adanya rencana kenaikan TDL, masyarakat menyimpan sejumlah barang yang berakibat kelangkaan dan kenaikan mahal. Apa boleh buat, keputusan menaikkan TDL yang saat ini cenderung dipolitisasi, akhirnya berpengaruh signifikan pada angka inflasi.

Di mata pengamat pasar modal Yanuar Rizky, gejolak harga pangan yang terjadi di Indonesia saat ini adalah awal dari bencana ekonomi. Kondisi yang terjadi belakangan ini merupakan indikasi bahwa penguatan ekonomi Indonesia secara makro hanyalah sebuah halusinasi. "Pertumbuhan ekonomi dan penguatan kurs, semua itu mencerminkan biaya ekonomi tinggi, dan tekanan daya beli yang tinggi tinggi," ujarnya. Karena itu, menurut Yanuar, pekerjaan rumah pemerintah adalah meningkatkan daya beli masyarakat.
Pihak yang bisa menikmati "permainan" instrumen kurs tersebut hanyalah para pemain di pasar uang. Berdasarkan pengamatannya, uang beredar di sisi giro dan tabungan mengalami pengurangan sekitar 24% dari bulan Januari sampai Juni 2010 ini, sedangkan peredaran uang kartal mencapai 124%. "Secara mudah bisa disimpulkan bahwa masyarakat menarik uangnya dari tabungan untuk memenuhi kebutuhan mereka," kata Yanuar.
Dari sudut pandang harga, pemerintah boleh-boleh saja mengatakan tarif listrik butuh penyesuaian. Namun ia menengarai kenaikan itu akan membuat biaya produksi semakin tinggi. Sebab, biaya untuk BBM dan listrik di sektor indusri bisa mencapai 50%.
Tingginya biaya produksi akan menimbulkan efek domino pada naiknya harga jual dan menjadikan produk lokal tidak kompetitif dibandingkan produk impor. "Sekarang aja Cina sudah menjual murah produknya, apalagi kalau harga produk lokal terus naik, ya makin berat menembus pasar global," kata Yanuar.
Terkait dengan fluktuasi harga pangan yang disebabkan oleh faktor cuaca atau musim, Yanuar menyarankan agar pemerintah memiliki rencana antisipasinya. "Kebodohan pemerintah bila tidak mampu membaca musim,'' ujarnya. Sebenarnya pemerintah bisa mengantisipasi dengan cara manajemen persediaan, atau mengucurkan kredit ke sektor pertanian, lalu Badan Urusan Logistik (Bulog) berperan dalam menyimpan komoditas. Jadi, jika barang di pasar berkurang, Bulog harus menyiram dengan barang yang mereka simpan di musim panen lalu.
Sebelum dan sesudah puasa nanti, Yanuar memprediksi, tidak akan ada pergerakan berarti pada tingkat inflasi indonesia. "Karena angkanya semu dan dijaga dengan kebijakan moneter, sementara respons fiskalnya sangat lamban," tuturnya. Mengacu pada perbandingan peredaran uang kartal dengan uang giro, Yanuar menyimpulkan bahwa pada dasarnya Indonesia sedang mengalami inflasi. Tapi inflasi itu terus ditekan.
Yanuar mensinyalir, kenaikan harga komoditas lebih disebabkan oleh permainan Amerika Serikat yang melemahkan nilai tukar mata uangnya. "Amerika kan bermaksud agar Cina merevaluasi yuan, dan dia berhasil," kata Yanuar.
Heru Pamuji, Birny Birdieni, Cavin R. Manuputty, dan Eko Rusdianto
[Laporan Khusus, Gatra Nomor 37 Beredar Kamis, 22 Juli 2010]
|
|
| | |  | | KOMENTAR PEMBACA |  | | | | | |
Yanuar Goblok (asep@ya..., 28/07/2010 23:12) Yanuar pengamat goblok, lu dulu kuliah di Universitas Ngeles ya...apa2 yang jelek Amerika, kapan mau maju Indonesia kalau pengamat-nya seperti ini, harusnya pengamat itu mengajak pejabat & masyarakat Indonesia untuk instropeksi diri kenapa kita tidak bisa maju2 seperti Amerika....bukan nyalahin negara lain.... | |  | | | | | |
Knp nyalahin Amerika (sishie@ya..., 28/07/2010 14:12) nggak usah menyalahi negara lain, emang pejabat Indonesia aja nggak punya hati nurani! mau puasa segala harga naik, mau lebaran tambah naik lagi, justru dinegara yg nggak ngomongin agama kalo hari raya harga2 pd diobral..dasar Indonesiana | |
 |
|