 |
|
 |
|
EKONOMI |
 |
| |
Zat Berbahaya Sop Buntut Indonesia Ditolak Uni Eropa
Jakarta, 27 Juli 2005 17:06 Uni Eropa (UE), melalui Komite Eropa untuk Standarisasi, menolak sop buntut Indonesia kalengan yang dieskpor ke Inggris karena dianggap mengandung zat pewarna yang dapat memicu pertumbuhan kanker.
Hal ini diungkapkan Ketua Gabungan Asosiasi Perusahaan Makanan dan Minuman Indonesia (GAPPMI), Thomas Darmawan, usai penutupan program training bidang Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) oleh European Committee (EC) untuk ASEAN di Jakarta, Rabu.
"Secara resmi, UE menyatakan sop buntut itu mengandung bahan pewarna jenis Sudan I dan Sudan II yang tidak diizinkan UE serta dapat membahayakan jiwa manusia sehingga terpaksa ditolak," kata Thomas.
Namun, Thomas tidak bersedia menjelaskan perusahaannya dan volumenya juga tidak besar, yakni sekitar satu kontainer.
"Di UE ada kesepakatan, kalau di satu negara ditemukan produk makanan yang tidak memenuhi regulasi yang dikeluarkan UE, maka seluruh negara di UE harus menolaknya. Seperti itu yang terjadi dengan salah satu produk kita," kata dia.
Menurut dia, selain makanan olahan yang juga harus mendapat perhatian adalah hasil-hasil perkebunan seperti kakao, kopi dan tembakau.
"Banyak juga keluhan kalau kakao kita masih mengandung telur-telur ulat sehingga sewaktu tiba di negara tujuan telah menetas yang membuat pembeli menolak," kata dia.
Thomas menambahkan, UE merupakan pasar terbesar kedua dari produk olahan Indonesia setelah Amerika Serikat yang nilainya sekitar 1,3 miliar dollar AS.
Dia berharap, pasar UE yang menerapkan standar keamanan pangan yang ketat meliputi segi kesehatan, proses pembuatan serta produknya sendiri harus dicermati pengusaha makanan Indonesia sehingga membuka peluang meningkatkan pendapatan perusahaan. [TMA, Ant]
|
|
| | |
 |
| KOMENTAR PEMBACA |
 |
| | |
| |
jangan jangan samakan.... (kup_ple@ya..., 13/08/2005 16:55) jangan samakan konsumen di negeri sendiri dengan konsumen di UE, konsumen di UE sedapat mungkin dilindungi pemerintah, tidak seperti di negeri kita :)
tapi jangan salah di UE banyak juga produk dari negara tetangga kita spt vietnam dan thailand.kalau mereka bisa kenapa kita tidak. | |
 |
| | |
| |
seharusnya... (neko_grun@ya..., 03/08/2005 00:52) seharusnya para pengusaha makanan mengirim makanan yang berkualitas bagus, nah....kalo mreka ngirim makanan yang kualitasnya buruk dan tidak menyehatkan tubuh ntar malahan para pemesan semakin dikit,kan...kalo uda gitu pngusaha ndri yg rugi..... | |
 |
| | |
| |
Tugas para pakar (baksonhoabin@ya..., 28/07/2005 09:44) Bagaimana hal ini bisa terjadi?? Kalau "penyortiran" barang barang yang akan diekspor dilakukan dengan seksama, ya tentunya dengan melakukan suatu treatment untuk mencegah kerusakan maka hal ini dapat diatasi. Setahu saya di Indonesia terdapat pusat radiasi untuk barang barang yang perlu penanganan khusus ekspor. Bahkan untuk mencegah cepatnya bertunas kentang juga dapat di-iradiasi. Selain itu juga kita perlu mempersingkat waktu dalam pengiriman barang ke pembeli, jangan sampai dipersulit denga... <32 huruf lagi> | |
 |