spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
spacer
spacer
NASIONAL
spacer
 
Rumah Allah di Ruko Kontrakan

Masjid Lautze Bandung (GATRA/Sulhan Syafi'i)TAMPILAN luarnya tampak seperti ruko biasa. Apalagi, di sebelah kirinya ada papan nama kantor notaris, dan di sebelah kanannya ada papan nama perusahaan kontraktor. Hanya tulisan "Masjid Lautze 2" yang menjadi penanda bahwa di lantai dua, satu petak ruko di Jalan Tamblong Nomor 27, Bandung, itu adalah sebuah masjid. Tulisannya itu pun tak begitu mencolok. Kubahnya hanya berupa gambar di dinding kaca.

Sesuai dengan namanya, masjid ini merupakan "cabang" Masjid Lautze di Jakarta. Maka, tak mengherankan, di dindingnya ada foto besar ukuran 60 x 40 sentimeter memperlihatkan Karim Oei bersama Presiden RI Soekarno. Seperti juga di Jakarta, Masjid Lautze 2 merupakan masjid pertama komunitas keturunan Tionghoa di Bandung. Masjid ini pun didominasi warna merah seperti terlihat di kelenteng.

Ukurannya hanya 7 x 6 meter, sehingga hanya mampu menampung paling banter 60 jamaah. Selain tempat salat, terdapat pula kantor dewan keluarga masjid yang dibatasi tripleks. Berbagai poster mengenai kejadian bumi, alam setelah kiamat, cerita kenabian, terpampang di pembatas itu.

Ruko yang dulunya toko buku itu berubah fungsi menjadi masjid sejak 1999. Saat itu bersamaan dengan dibukanya cabang Yayasan Karim Oei di Bandung. Sekretariat yayasan ini berada di lantai dasar bangunan bertingkat dua itu. Harga sewanya hanya Rp 6 juta. Terhitung murah, karena ruko ini terletak di kawasan strategis. "Harga sewa tak naik dari dulu. Mungkin yang punya tahu bahwa kami nggak punya uang, dan senang tempat ini dijadikan masjid," kata Muhammad Sultoni, pengurus Masjid Lautze 2.

Kini, masjid sekaligus kantor yayasan itu itu berkembang menjadi tempat berkumpulnya warga keturunan Tionghoa yang memeluk agama Islam di Bandung. Mereka rajin menggelar pertemuan berkala saban Ahad. Selain untuk bersilaturahmi, pertemuan itu juga untuk mendengarkan ceramah dari para kiai yang diundang. "Materi yang dijadikan bahan ceramah biasanya menyangkut kehidupan sehari-hari, untuk memperkuat iman,'' ujar Muhammad. Masjid ini juga meluaskan fungsinya sebagai tempat kursus bahasa Mandarin.

Menurut Muhammad, sebetulnya masjid itu sudah tidak memadai lagi untuk menampung jamaah warga keturunan Tionghoa. Bila salat Jumat berlangsung, jamaah Lautze meluber sampai ke trotoar. Jamaahnya mencapai ratusan. Bukan hanya warga keturunan yang sengaja datang, Masjid Leutze 2 juga digunakan para karyawan yang berkantor tak jauh dari situ. Kebetulan di sekitar kawasan itu memang tidak terdapat masjid.

Pengurus Masjid Lautze 2 sudah berencana membangun masjid baru. Namun, karena terbentur dana, keinginan itu terpaksa diredam dulu. "Kami harus sabar. Yayasan tetap ingin masjid berada di pusat bisnis. Mualaf umumnya berbisnis," kata Muhammad.

Mungkin karena statusnya masih kontrak, pengurus masjid tak terlalu bersemangat menyesuaikan bangunan masjid itu dengan masjid kebanyakan. Alhasil, kendati lokasinya di kawasan padat, tak banyak warga Bandung yang menyadari bahwa satu petak ruko di Jalan Tamblong itu adalah rumah Allah.

Taufik Abriansyah dan Sulhan Syafi'i (Bandung)
[Masjid Minoritas, Gatra Edisi Khusus, Beredar Kamis, 27 Oktober 2005]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 30 July 2010 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdotdot123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer