spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
spacer
spacer
NASIONAL
spacer
 
Kartu Mati Merampas Hoki

Shelter TKI di Bathune House (GATRA/Rita Triana Budiarti)DENGAN langkah bergegas Sri Rahayu, 24 tahun, meninggalkan Gate 61 Bandar Udara Internasional Hong Kong. Pintu boarding Cathay Pacific untuk Hong Kong-Jakarta dipindahkan ke Gate 22, Senin sore akhir Januari itu. Mendung mengurung wajahnya. "Kalau sedih, kok, mendadak jadi pilek, ya?" katanya, menyusut genangan di matanya.

Perempuan asal Wonosobo, Jawa Tengah, itu berulang kali menghela napas panjang. "Aku di-terminate," ujarnya lemas. Terminate atau pemutusan hubungan kerja (PHK) ibarat kartu mati yang merampas hoki para pekerja migran di Hong Kong. Dipecat majikan berarti kehilangan izin tinggal (overstay). Mereka cuma punya waktu 14 hari untuk mencari majikan baru. Itu tak mudah. Sebab pemecatan identik dengan kondite buruk. Agen tenaga kerja pun enggan mencarikan majikan baru.

Kalau jangka 14 hari itu lewat, status mereka otomatis berubah menjadi ilegal. Jika tertangkap polisi, mereka bisa dipenjara enam bulan karena pelanggaran aturan imigrasi. Satu-satunya jalan adalah pulang ke Tanah Air. Ketentuannya, majikan wajib menyediakan tiket pulang dan gaji sebulan penuh.

Tapi Sri pulang tanpa membawa uang. ''Jahat, ya? Aku di-terminate setelah gaji empat bulan habis dipotong," katanya. Dalihnya, untuk mengganti biaya pelatihan dan ongkos keberangkatan. Bahkan sejumlah agen tenaga kerja ada yang memotong hingga tujuh bulan gaji. Padahal, itu akal-akalan agar dapat "menjual" pekerja dengan harga murah. Majikan dan agen sama-sama untung. "Sekarang agen main sama majikan!" kata Sri, berang.

Wajah-wajah secemas Sri tak sulit ditemui di Hong Kong. Mereka ada di halte, di dalam kereta, atau stasiun. Misalnya Rini Setyani asal Tulungagung, Jawa Timur, yang baru dua minggu di sana. ''Majikanku cerewet minta ampun, uang sesen saja ditanyakan," tuturnya. Dahinya berkerut. Ia tak bisa bahasa Kanton karena belajar Mandarin. Seharusnya ia ke Taiwan, bukan ke Hong Kong. "Tapi majikanku mati," katanya.

Rini ingin menelepon orangtuanya. Tapi koin pun ia tak punya. Ia terpaksa meminta-minta pada sesama pekerja Indonesia. "Lima dolar saja," ujarnya. Sayang, koinnya tertelan begitu saja, karena ia tak bisa menggunakan telepon umum.

Kecemasan juga bisa terdengar dari obrolan telepon dalam kereta. "Majikanku itu lho! Aku mau kabur saja," kata seorang perempuan sambil menempelkan ponsel di telinganya. Suaranya yang berdialek Banyumasan bergetar. Sesekali ia menyusut matanya.

Sebenarnya pekerja yang kabur dari majikan serba repot. Selain terancam overstay, hak-haknya juga belum tentu terpenuhi. Tapi Ade Salaria, 33 tahun, asal Blitar, nekat lari setelah 10 bulan bekerja. "Gajinya telat terus," katanya. Meskipun ia meneken kuitansi gaji HK$ 3.270, uang untuknya hanya HK$ 2.800, sekitar Rp 3 juta.

Ade juga tak diberi jatah libur sebulan penuh. Lebih dari itu, ia tak betah karena majikannya seorang germo. Anak laki-lakinya, 13 tahun, sangat nakal. "Dia salah jalan, sekolah nggak benar," kata Ade. Hobinya membuka situs dan majalah porno. Ia kian tertekan karena kamar mandinya tak dipasangi kunci. "Anaknya suka kurang ajar, masuk kamar mandi tiba-tiba," tuturnya. Tak jarang ia dicabuli.

Akhirnya Ade lari ke shelter (penampungan) Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia di Bathune House. "Saya membuat statemen untuk laporan ke polisi," katanya. Semula polisi tak percaya. Namun akhirnya ia diberitahu bahwa majikannya sudah lima kali ganti pembantu. "Cuma saya yang berani lapor," ia menambahkan. Selanjutnya, ia tinggal menuntut ganti rugi pada majikannya. Tuntutan Ade meliputi uang kekurangan gaji, uang notice PHK sebesar satu bulan gaji, dan tiket.

Di shelter itu juga ada Yeni Arisandi, 24 tahun, asal Magetan. Ia memutuskan tidak kembali pada majikan sepulang dari Tanah Air setelah diberi cuti dua pekan. Sesampai di Bandara Internasional Hong Kong, Yeni diberi beberapa buku. Dulu buku-buku itu dirampas oleh agennya.

Yeni kaget ketika membaca buku itu. Ia baru tahu bahwa pekerja asing berhak mendapat libur sehari dalam sepekan. Ia juga baru tahu bahwa upah minimumnya HK$ 3.270. Sebab, selama lebih dari satu setengah tahun ini, ia tak pernah diberi libur. "Gaji saya hanya HK$ 2.000," katanya. Bahkan pada lima bulan pertama, ia hanya mendapat HK$ 200 karena terkena potongan agen.

Yeni kemudian dibantu untuk melapor ke Departemen Tenaga Kerja. Selain mengajukan tuntutan, ia juga minta pengantar perpanjangan visa di sana. Kasus Yeni sampai ke Pengadilan Tenaga Kerja (Labour Tribunal), karena majikannya tidak hadir ketika diundang petugas dalam proses perundingan.

Sedangkan Rosi Damayanti, 31 tahun, asal Jember, meninggalkan majikan karena sering dianiaya. Kekerasan itu ia alami sejak tiga bulan bekerja. Salah sedikit dipukul, dicubit, dijambak, bahkan terkadang kepalanya dipukul dengan tangan. Ia malah tambah sering berbuat salah karena panik.

Rosi tetap bertahan hingga 16 bulan. "Saya pikir, siapa tahu akan berubah," katanya. Padahal, sejak dulu teman-teman yang melihat bekas penganiayaan di tubuhnya menyuruh lari. Akhirnya ia melapor juga ke polisi. Dari sana, ia dibawa dengan ambulans ke rumah sakit. "Bekas-bekas pemukulan dikasih tanda," tuturnya. Ia juga melapor dan membuat tuntutan ke Departemen Tenaga Kerja.

Namun, tak sedikit mereka yang kena PHK itu berkeliaran tanpa visa di Hong Kong. Untuk menyambung hidup, Eni Yuniar, aktivis Indonesian Migrant Workers Union, menuturkan bahwa mereka terpaksa menjadi pekerja ilegal. Mereka diiming-imingi bekerja di pabrik plastik di Yun Long dengan gaji HK$ 50 per hari. Padahal, pekerjaannya memilah sampah dari pukul 24.00 hingga pukul 06.00. Akibatnya, ujar Eni, banyak perempuan Indonesia yang kemudian terjerumus ke lembah pelacuran.

Rita Triana Budiarti (Hong Kong)
[Laporan Khusus, Gatra Nomor 15 Beredar Senin, 20 Februari 2006]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
  
spacer
KOMENTAR PEMBACA
spacer
  
  agen untung tki buntung (monsterjake@ya..., 08/03/2006 12:06)
betul mas makanya cari kerja jgn lewat agent,theyare the real MAFIA, dan kpd petugas dicengkareng tolong lah para tkw di bantu jgn diTIPU, kalo saya balik kelihatannya petugas di cengkareng itu lebih RAMAH sama orang ASING, kalo disini justru sebaliknya petugas disini lbh mengedepankan orang LOKAL.
Dan kpd perum angkasa pura ,kayaknya bandara cengkareng lebih mirip terminal RAMBUTAN PAK/????
BANYAK CALO NYA EUY>>>> tlg ditertibkan dong anda kan digaji oleh negara kerja donung jgn tidur ntar sa... <25 huruf lagi>
 
 
spacer
  
  sedih hatiku . (may_b2_night@ya..., 28/02/2006 21:15)
Sedih hatiku setelah membaca artikel ini, pertanyaan saya adalah maukah pemerintah memberi jaminan keamanan akan saudara-saudara ku yang bekerja di luar negri? sejauh ini saya rasa tidak ... sebelum berangkat ke luar negri saja mereka sudah diperas di Bandara, bukan hanya di Jakarta loh ya, seperti di bali misalnya itu sama saja, baik urusan viskal maupun imigrasinya sama saja ( kong kalikong ) aku pernah mengalami sendiri menjemput tamuku dari jerman,di Bandara internasional Bali, passport dan ... <741 huruf lagi>
 
 
spacer
  
  DEPNAKER,ATAU GERMO.... (arani_mr@ya..., 28/02/2006 10:25)
setelah membaca berita itu,pemerintah n depnakaer memang hanya ngurusin kepentingannya sendiri cari laba sendiri,namun tidak mau gimana "buruh kasar"yg hidup dengan penuh cucuran air mata itu,lebih baik depnaker jadi tukang jual sapi aja ,klu mau cari untung sepihak,jangan menjual anak orang miskin.Pemerintah pun ingat,jangan bohongin "kami"dengan embel-embel pahlawan devisa,perhatikan kami,lindungi kami,hanya itu yg kami harapkan.kami pergi ke negara orang hanya cari sesuap nasi,karena di negar... <91 huruf lagi>
 
 
spacer
  
  Pendidikan, Hati, Rasa (laksamana741@ya..., 28/02/2006 00:15)
Rasanya sudah jadi rahasia umum. Derita TKI.. Kecurangan Agen Penyalur (Legal) ataupun kasus Agen yang Ilegal.. Dan apa yang terungkap mungkin bisa diibaratkan seperti fenomena gunung es.. Hanya terlihat sebagia kecilnya saja. Depnaker sendiri seolah-olah menutup mata akan kejadian2 terungkap tersebut.. Lah bagaimana dengan kejadian2 yg tidak terungkap?.. Tau sendirilah. Dan bukan rahasia lagi kalo kasus mereka bisa dipeti es kan. dengan sesajen secukupnya tentunya.. Orang depnaker juga termasuk... <1064 huruf lagi>
 
 
spacer
  
  Mana PJTKI & Depnaker ??? (ragnarok, 27/02/2006 20:37)
PJTKI kebanyakan emang cari untung melulu. Ga mikir TKI yang nota bene adalah bangsanya sendiri.
Depnaker = no comment lah. =>> "mulut singa"

Terutama di Terminal III - Cegkareng.
TKI pulang ke indon dengan duit cekak, pas nyampe di Terminal III masih juga "diperasss" sama semua oknum2. =>> "mulut buaya"
Muka-nya manis tapi ganas dan kejamzz serta aroganz.......
Terminal 3 juga untuk haji dimana porter-nya yang mau gw disana harus bayar "alias nyogox" (info-nya sich 3 juta......).
tru... <162 huruf lagi>
 
 
spacer
  
  Pemerintah harus tg jawab ! (kulo, 27/02/2006 19:42)
Pemerintah cq DepNaker hrs tg jawab mgn warga RI yg bekerja dan belajar ke luar negeri,paling tidak melakukan pengawasan2 yg penting terhadap keberadaannya agencies ini,unt menghindarkan adanya penipuan2 dan sekaligus menjaga kwalitas manusia2 !
Sebaiknya semua warga yg akan ke ln unt kerja dan belajar dikenakan screeining mgn kwalitas dan keabsahan sertifikat2 yg dimilikinya !
Salam.
 
 
spacer
  
  DEPNAKER KITA TIDUR...... (kacungsgt@ya..., 27/02/2006 10:53)
Redaksi gatra. kasus seperti ini, bukan hanya terjadi di hongkong. tapi hampir diseluruh dunia...., TKW Indonesia dianiaya, diperkosa, gaji tidak dibayar dll. coba tengok kasus di Malaysia, singapore, timur tengah dan negara lainnya, ceritanya hampir sama, alias setali tiga uang. Yang jadi pertanyaan saya adalah, dimana letak tanggung jawab pemerintah RI, Cq. Depnaker.....?.Bukankah saat keberangkatan mereka dimintai uang Asuransi $ 40, dan uang rekomendasi $10......?. Depnaker harus bertanggung... <196 huruf lagi>
 
 
spacer
  
  maruk pangkal kaya (elangjp2005@ya..., 27/02/2006 10:00)
kebanyakan agen di indonesia memang maruk ,kalo ndak percaya tanya aja semua pekerja di LN bukan cuma di HK doang . yang jadi pertanyaan keluhan TKI ditanggapi pemerintah ndak? atau pemerintah hanya tanggap kalau masalahnya soal kenaikan tunjangan ? auuuuu....ah...gelap lolong serigala buta.
 
 
spacer
  
  Duka masih melanda pekerja imigran kita (sriss@ea..., 27/02/2006 09:26)
Rasanya pikiran masih melayang, ikut merasakan duka Sinta Marlina Reza (19), gadis dari sebuah desa di Cianjur Selatan terpaksa kehilangan penglihatannya akibat aniaya majikan dari sebuah kota di Saudi Arabia, berita tersebut saya baca di salah satu koran Ibukota on-line 5 Februari yang baru lalu.
Sayang, rupanya berita derita pekerja migran tak berakhir pada Sinta saja, karena kini Gatra telah menyuguhkan berita dengan ilustrasi gambar wajah-wajah letih wanita nelangsa di Bandara udara Hong K... <3464 huruf lagi>
 
 
spacer
  
  DIMANA TANGGUNG JAWAB PJTKI (arifinchas@ya..., 27/02/2006 05:27)
Pemerintah harusnya tegas terhadap broker dan PJTKI, karena mereka hanya memikirkan duit. bagi CTKI harus waspada ..kita orang bodoh tp dibodohin sm orang sendiri. PJTKI yg sudah memberangkatkan harus bertanggung jawab. tidak hanya ijinnya saja yg dicabut, direkturnya juga harus dihukum yg berat. CTKI sudah banyak mengeluarkan uang dari pembuatan passport , visa, kerja disana sampai pulang diperas. Jangan ada PJTKI double job dalam menentukan kawasan penempatan TKI. Presiden, DPR serta departeme... <147 huruf lagi>
 
 
spacer
   
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 30 July 2010 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdotdot123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer