spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
spacer
spacer
EKONOMI
spacer
 
Pertamina
Mesin Gres Cepu Beres

Ladang Minyak Cepu (Dok. GATRA)OVERHAUL bisa juga dibahasakan sebagai turun mesin. Itulah yang kini terjadi di Pertamina. Mesin utama penggerak BUMN migas itu dipereteli Kamis pekan lalu dan diganti dengan yang gres. Dari tujuh direksi lama, hanya dua nama yang tetap dipasang. Pelantikan pejabat baru ini berlangsung di Kantor Menteri BUMN, Jalan Dr. Wahidin, Jakarta.

Proses pergantian itu sendiri menjadi akhir drama yang terjadi di tubuh Pertamina lebih dari setengah tahun terakhir. Aktor penting dalam drama itu antara lain Widya Purnama, Direktur Utama (Dirut) Pertamina yang diganti; Sugiharto, Menteri Negara BUMN; Aburizal Bakrie, Menteri Perekonomian ketika itu; dan Martiono Hadiyanto, Komisaris Utama Pertamina. Laiknya sebuah drama, adegannya berwarna-warni, dari persahabatan, intrik, hingga perselisihan.

Kursi Widya Purnama mulai digoyang sejak pertengahan tahun lalu. Toh, upaya itu berkali-kali mental. Widya tetap saja enak duduk di singgasana empuknya. Kedekatan Widya dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), konon, menjadi penghalang bagi pihak-pihak yang ingin melengserkannya.

Namun belakangan, sokongan SBY itu melemah. Malah, dalam kunjungan ke Myanmar, dua pekan lalu, orang nomor satu di republik ini melansir kabar yang sangat ditunggu "lawan-lawan" Widya. SBY memberi sinyal bahwa direksi Pertamina tidak bisa dipertahankan lagi. Alasannya, meski BUMN migas itu sudah lama ingin merestrukturisasi diri, ternyata prosesnya jalan di tempat. "Tiba saatnya Pertamina di-overhaul," kata SBY.

Ketidakberesan distribusi yang menyebabkan kelangkaan minyak di beberapa daerah dan ketidakberdayaan Pertamina meningkatkan produksi minyak juga jadi bahan pertimbangan mengganti direksi. Persoalan ini sebelumnya sering dinyatakan Menteri BUMN Sugiharto. Dengan sodokan dan tekanan yang bertubi-tubi itu, pergantian Widya memang hanya menunggu palu diketok.

Sebelum dicopot, Widya telah menjadi "musuh bersama" karena dianggap sebagai penghalang keinginan "orang dalam pemerintahan" dalam pengelolaan Blok Cepu. Sewaktu Menteri Perekonomian masih dijabat Aburizal Bakrie, dorongan agar Widya dicopot sangat santer.

Malah Rizal Mallarangeng, staf ahli Menko Perekonomian, menegaskan bahwa Widya akan diganti sebelum penandatanganan kontrak kerja sama dengan ExxonMobil Oil Indonesia dilakukan. Namun bukannya Widya yang lengser, Aburizal yang malah tergusur dan digeser ke Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat dalam reshuffle Kabinet SBY, Desember 2005.

Sikap Widya yang selalu "mbalelo" dalam kasus Cepu dikhawatirkan membuat hubungan Indonesia-Amerika terganggu. Biarpun selalu dibantah, tekanan dari Amerika Serikat agar "memenangkan" Exxon di Cepu sangat terasa (Gatra, 4 Maret 2006). Agar duri yang bisa membuat jalinan dua negara itu terkoyak, cara yang ditempuh mau apa lagi selain menyingkirkan duri itu.

Makanya, Alvin Lie Liang Po, Wakil Ketua Komisi VII DPR, menyebut pergantian ini hanya sebagai jalan untuk memuluskan kemauan Exxon menjadi operator Cepu. "Selama masih ada Widya, dia akan selalu menjadi duri di sana," kata politikus dari Partai Amanat Nasional itu. "Kalaupun alasan yang dipakai bukan karena Exxon di Cepu, yang lain apa?" ia menambahkan. Boleh jadi, tudingan Alvin itu benar.

Begitu Widya lengser, penentuan operator Cepu dikembalikan ke Pertamina dan Exxon. "Diselesaikan secara business to business," ujar Sugiharto. Sebelumnya pemerintah telah mengambil alih persoalan ini dan akan menjadi penentu general manager penambangan di lapangan minyak seluas 1.200 hektare itu.

Sikap Pertamina di bawah direksi baru juga langsung berubah. Arie H. Soemarno tak memasalahkan siapa yang nanti akan jadi operator Cepu. "General manager itu tak penting, karena siapa pun operatornya akan dikontrol," katanya. Yang penting bagi Pertamina adalah meningkatkan produksi minyak secepatnya.

Kelangkaan minyak dan penurunan produksi minyak yang dijadikan alasan untuk mengganti direksi, kata Alvin, juga tak pas. "Mendingan cari alasan lain," ujarnya. "Masak orang yang dulu bertugas langsung dalam distribusi hilir yang gagal justru dijadikan dirut. Ini kan menggelikan," ia menambahkan.

Alvin menyayangkan cara-cara yang ditempuh pemerintah untuk merombak direksi Pertamina. Upaya penggantian direksi Pertamina, menurut Alvin, sangat diwarnai adu domba di kalangan direksi dan komisaris. Sehingga kinerja Pertamina menjadi tak jalan dengan semestinya. Hubungan antara sesama direksi tidak baik. Begitu pula jalinan antara direksi dan komisaris yang menjadi wakil pemerintah memburuk. Martiono Hadiyanto diketahui selalu berseberangan dengan Widya.

Adanya adu domba itu dibenarkan Joko Minyak. Ini nama samaran sumber Gatra di lingkungan migas yang mengetahui secara detail segala yang terjadi. Ia mencontohkan, pada akhir Juli lalu, Menteri BUMN mengadakan uji kelayakan dan kepatutan untuk posisi Dirut Pertamina. Suprijanto, Direktur Umum dan SDM, dipanggil mengikuti uji kelayakan dan kepatutan itu. Nama lain yang dipanggil antara lain Harie Kustoro, Direktur Hulu.

Arie Soemarno, yang mengetahui ada direksi Pertamina yang ikut tes, tak sependapat. Sebab direksi sudah punya "lisensi sebagai direksi" sehingga tak perlu tes. Mendengar hal itu, Widya mengambil putusan, menyerahkan persoalan ini ke masing-masing direksi. Yang mau ikut boleh, yang tidak juga terserah. Namun, Agustus tahun lalu itu, direksi sepakat tak akan ikut tes. Apalagi, Widya tak perlu tes karena sudah menjadi direktur utama.

Namun kesepakatan itu ternyata tak ditaati. Arie Soemarno, yang ketika itu menjadi Direktur Pemasaran dan Niaga, ternyata ikut tes. Keikutsertaan Arie ini diketahui Widya Purnama. Arie pun "disidang". Arie memberi penjelasan bahwa dia disuruh Menteri BUMN dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Ia juga mendapat jaminan bahwa proses ini bersifat rahasia, tak ada direksi lain yang diberitahu soal ini.

Rupanya tak hanya Arie yang diminta Menteri BUMN dan Menteri ESDM mengikuti tes. Mustiko Saleh, Wakil Dirut Pertamina, buka mulut bahwa ia juga diipanggil. Namun Mustiko menyatakan tak mau datang karena sudah ada kesepakatan dengan direksi lain. Peristiwa itu membuat hubungan Widya dan Arie tak harmonis lagi. Ujungnya, Widya membersihkan "orang-orang" Arie dari Pertamina.

Pejabat yang didepak antara lain Hanung Budya, Dirut Pertamina Energy Trading Ltd (Petral). Hanung digantikan oleh Budi Himawan, November tahun lalu. Pada saat yang sama, Wahyudi Suhartono, Dirut Badak Natural Gas Liquiefaction, digantikan oleh Yogaswara. Pergantian juga dilakukan di Pertamina Tongkang. Kebijakan Widya ini membuat Sugiharto sewot.

Kegemasan Sugiharto makin menjadi dengan langkah Widya mengganti logo Pertamina. Menteri BUMN itu meminta agar perubahan tersebut ditunda. Sebabnya, dana yang dikeluarkan untuk proyek logo itu ratusan milyar rupiah. Langkah ini dianggap sebagai tindakan yang tak mencerminkan keprihatinan saat kondisi arus kas Pertamina tak sehat.

Berbekal sederet "kesalahan" Widya, Sugiharto kembali menyatakan keinginan pemerintah mengganti Widya. "Ini hanya masalah waktu," katanya, November lalu. Setelah itu, Sugiharto makin leluasa "menyerang" Pertamina. Misalnya, kasus kelangkaan BBM kembali diungkit dan produksi Pertamina di sektor hulu yang tak sesuai harapan.

Setelah waktunya dianggap pas, Rabu malam pekan lalu Sugiharto mengundang Widya cs ke rumah dinasnya, Jalan Widya Chandra, Jakarta. Pertemuan terbagi dalam dua sesi. Widya ketemu berdua dengan Sugiharto. Direksi lainnya berombongan menghadap. Isi pertemuan adalah penjelasan kepada para direksi itu tentang alasan pergantian. Selain karena tak mampu menangani persoalan di hilir dan hulu, "dosa-dosa" direksi, antara lain, restrukturisasi terlambat dan Pertamina tak mampu menghadapi persaingan.

Tak lupa, Sugiharto juga meminta direksi yang diberhentikan tak menggugat ke pengadilan tata usaha negara (PTUN). Kalaupun hal itu ditempuh, Sugiharto menjamin akan sia-sia. Sebab Sugiharto mengantongi "kartu", antara lain sejumlah peringatan yang pernah dilayangkan ke direksi. Di luar itu, rekomendasi dari komisaris kadangkala tak digubris direksi. Padahal, komisaris adalah perpanjangan tangan pemegang saham. Hal inilah yang dipastikan akan membuat posisi direksi dalam gugatan ke PTUN lemah.

Akankah nakhoda baru itu lebih berhasil? Martiono menyatakan, kinerja mereka yang akan menjadi bukti. "Saya pribadi merasa tim baru ini akan bisa lebih baik," ujarnya.

Irwan Andri Atmanto
[Ekonomi, Gatra Nomor 18 Beredar Senin, 13 Maret 2006]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
  
spacer
KOMENTAR PEMBACA
spacer
  
  haruskah Tuhan membangkitkan negeri ini setelah semua hilang dan porak-poranda ?? (bismillah_biz@ya..., 17/03/2006 23:20)
Kita memang masih harus dipimpin oleh orang-orang yang bukan ahlinya. Kemakmuran negri dan rakyat memang tidak murah dan hanya lahir dari pemimpin yang kesatria bukan pengecut, dari pemimpin yang jujur dan taqwa bukan yang korup dan serakah. God may has a plan and designed for this nation. Tetapi haruskah Tuhan membangkitkan negeri ini setelah semua hilang dan porak-poranda ?? We will see later.
 
 
spacer
  
  Amblas lagi, Mas? (wong2cilik@ya..., 17/03/2006 02:08)
Amblas lagi aset negara kita ini. Kata orang kita kaya sumber alam tapi rakyat makin miskin. Minyak abis, gas abis, kayu abis, emas di Irian Jaya dikuras, yang nambah cuma hutang negara saja. Nah, apa lagi yang mau di lego, Mas? Pak Kurtubi kasih komentar katanya biar operatornya asing, negara tidak dirugikan karena ada mekanisme pengawasan yang akan dilakukan Pertamina dan BPMIGAS terhadap pengelolaannya terutama yang menyangkut cost recovery. Ha, sampai dimana sih bisa diawasi, wong selama in... <125 huruf lagi>
 
 
spacer
  
  Bablas Angine (pondokungu2003@ya..., 16/03/2006 23:51)
udeh nggak usah pada ribut..biarin aja..emangnya kalo pertamina yg pegang semua para orang kecil bisa senang apa...hanya o,sekian persen yg kecipratan,...BBM tetap aja bakal Naik, Listrik Naik...mo widya purnama kek bosnya or diganti bos Arif selama boros tetap aja buang2 duit negara ...ntar lagi ganti logo lagi 2,5 milyar ongkos bikinnya..mending buat bikin puskesmas or perbaiki SD negri yg ude reyot....pak...emang kalo ude biasa gaji gede ,fasilitas mewah...lupa rasanya kelaparan...mbok liat t... <98 huruf lagi>
 
 
spacer
  
  salah pilih sby (dw3211@ya..., 16/03/2006 11:11)
saya dulu adalah pengagum berat sby, tentara nasionalis yang diharapkan mampu merubah keadaan negara yang terpuruk bisa bangkit kembali, dengan slogan masih tergiang sampe sekrang "bersama kita bisa" ternyata keadaan negara ini tak kunjung membaik, tapi malah kehilangan moment dan arah....yang semakin tidak jelas. janji janji presiden yang akan memakmurkan rakyat terayata hanya janji belaka diawali kenaikan BBM, sebentar lagi TDl, dan paling baru issu blok cepu yang akhirnya jatuh ke tangan asin... <487 huruf lagi>
 
 
spacer
  
  Ada lagi yang mau dijual gak (euis.fatima@pa..., 16/03/2006 10:31)
ngapaian susah..masih banyak koq pulau yang bisa dijual...setelah freeport dan cepu
kapan Biak dijual untuk pangkalan militer amerika
 
 
spacer
  
  oh cepu..... (syafier@ya..., 16/03/2006 10:06)
bener kata Kwik Gian Gie,....... bangsa ini memang bermental BUDAK dan INLANDER. Gemes rasanya melihat pemimpin-pemimpin kita yang maunya diPERBUDAK oleh ORANG ASING. Hai.... Pemimpin Indonesia dan Wakil DPR di Senayan, Bangun-bangun, bangun... jangan tidur dan minta gaji saja. Mana jiwa nasianolismemu. BERILAH KESEMPATAN PADA PUTRA-PUTRI INDONESIA UNTUK MENUNJUKKAN KEMAMPUAN MEREKA. PASTI BISA !!!!!!!!!!!!!!!!!
 
 
spacer
  
  Siapa Yg Menanam Akan Menuai (fernandone_2005@ya..., 16/03/2006 08:28)
Orang awam akan bingung menyikapi problem Perminyakan di negeri tercinta. Pemerintah Jelas2 mendukung exon utk explorasi di cepu krn takut dg Bos Amerika(indonesia banyak masalah HAM,kasus Timor Timur, takut tdk ada investor masuk) di lain pihak Pertamina, Yg sebenarnya merupakan peluang untuk berkembang, tapi sayang Orang2 dipertamina TIDAK BERES ngurus minyak di tanah air. Saya yakin PEMERINTAH dan juga PEJABAT PERTAMINA PUNYA AGAMA, APAPUN YG ANDA PUTUSKAN RAKYAT AKAN MENERIMANYA TDK BISA M... <103 huruf lagi>
 
 
spacer
  
  Dari sudut pandang lain..... (rlydda@ya..., 16/03/2006 07:32)
Blok Cepu ini sudah lama dieksplorasi dan di eksploitasi, bahkan sudah ada sejak jaman Belanda, hingga Humpus yang di miliki salah satu anak penguasa waktu itu.
Tapi cadangan besar ini baru di ketemukan ketika Exxon diberikan konsesi, tidak pada saat pemain pemain lama lain bercokol disana.
Menurut saya (saya bukan orang Exxon dan tidak ada kepentingan dengan Exxon) sudah selayaknya kalau Exxon di beri kesempatan pertama mengelola. Karena menemukan cadangan minyak (memang kita yang punya) itu ... <2459 huruf lagi>
 
 
spacer
  
  Polemik Tikus-tikus Kantor (xoeceenx, 16/03/2006 05:06)
Weleh-weleh,kok masih saja kelakuannnya seperti ini,moso masalah Freeport dan Pulau bidadari belum cukup memberi pelajaran untuk terbukanya mata hati para tikus itu,berapa orang melarat lagi yang mo ditambahkan dinegeri tercinta ini?Memang duit bikin mata kita jadi hijau...................
 
 
spacer
  
  Kenapa kita tidak percaya diri (aribowo3103@gm..., 16/03/2006 04:37)
Sayang pemerintah tidak percaya kemampuan pertamina, kapan kita bisa mandiri kalau harus tergantung orang lain? ....
 
 
spacer
   
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 09 February 2010 >>
SuMTW ThFSa
dot123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer