spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
spacer
spacer
WISATA & HIBURAN
spacer
 
Wimar Witoelar, "Hell Yeah!"*
Biografi Bergenre Baru

Wimar Witoelar & Fira Basuki (GATRA/Edward Luhukay)Judul : Wimar Witoelar: "Hell, Yeah!"*
Penulis : Fira Basuki
Halaman : 282 + xviii
Penerbit: Grasindo

Bagaimana jadinya kalau seorang novelis menulis biografi? Sebuah buku biografi yang "tidak lurus-lurus saja" sebagaimana umumnya biografi, namun bergaya ngepop, hingga membuat mereka yang membacanya lebih rileks. Itulah karya Fira Basuki, biografi Wimar Witoelar, Hell Yeah!*, yang diluncurkan pertengahan pekan ini di Jakarta.

Membaca buku setebal 282 halaman + xviii itu serasa membaca novel pop. Ringan dan "gampang dibaca", mengalir dari awal sampai akhir, jauh dari kesan formal. Padahal, tokoh yang ditulis berasal dari latar belakang serius, seorang pengasuh acara talkshow beken di televisi, "Perspektif", "Perspektif Baru", "Selayang Pandang", dan juga juru bicara Presiden Abdurrahman Wahid (2000-2001).

Dalam pembukanya, Fira menggambarkan Wimar, yang bernama lengkap Wimar Jartika Witoelar Kaartadipoetra sebagai berikut: "Tubuh subur, rambut keriting (asli lho, katanya), berkacamata tebal, dan gemar memakai kemeja santai dengan warna dan motif meriah. Kalau tertawa, kedua pipinya terangkat sehingga kedua matanya hanya terlihat sebagai dua garis tipis." (halaman 3)

Buku ini juga mengisahkan dari mana pria kelahiran Padalarang, 14 Juli 1945 itu berasal. Ayah, Raden Achmad Witoelar Kaartadipoetra (1910-1987), yang pegawai pada pemerintahan Hindia Belanda, yang kemudian jadi camat dan wedana di beberapa wilayah Jawa Barat. Ibu, Nyi Raden Toti Soetiamah Tanoekoesoemah (1914-1977), selain sebagai ibu rumahtangga, juga aktif di organisasi wanita, termasuk Women's International Club.

Adik kandung Rachmat Witoelar (Menteri Negara Lingkungan Hidup) yang dulu merasa jadi ugly ducking (bebek buruk rupa) itu, tahun 1950-an mengikuti orangtuanya melanglang buana ke beberapa negara Eropa, seperti Belanda, Swedia, dan Denmark.

Wimar, yang terlahir dengan intelegensia tinggi itu, sejak balita sudah menggemari buku. Apalagi orangtuanya suka membekalinya dengan uang khusus untuk membeli buku. Ibunya sering juga membelikannya komik. Bahkan ia belajar bahasa Inggris dari komik Tweety dan Sylvester pemberian ibunya. "Iya, saya selalu pintar, tapi kok socially nerdy," aku Wimar. (halaman 22)

Di bagian lain Fira menulis, "si bebek buruk rupa" itu mulai mengepakkan sayap. Setamat dari SMA Kanisius Jakarta, Wimar diterima di ITB. Ia memilih jurusan Elektro, dengan alasan simpel. Karena tidak ada pilihan lain, pasalnya ia benci kimia. Di ITB, Wimar kembali jumpa sahabatnya, Sarwono Kusumaatmadja (kini Anggota DPD-RI), sekaligus masuk berbagai aktivitas, antara lain Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB).

Fira juga dengan lugas menggambarkan sisi kegelisahan seorang Wimar muda yang tak kunjung mendapat cewek, sebagaimana teman-teman lainnya. "Anggota PMB di luar ITB termasuk banyak, bahkan dikenal cantik-cantik dibanding organisasi lain, tapi tetap saja saya tidak kebagian tuh. Kalau yang lain datang dengan pasangan masing-masing, saya datang dengan teman laki-laki. Yang lain asik dansa, saya cuma mengobrol, padahal saya pria romantis." (halaman 35)

Namun akhirnya pucuk dicinta ulam tiba, saat Wimar sebagai pimpinan mahasiswa diundang Deplu AS mengunjungi Negeri Paman itu selama dua bulan, dalam Asian & Pacific Student Leaders Programme. Saat tak berniat cari pacar, Wimar ketemu Suvatchara Leephon, mahasiswi Fakultas Kedokteran Chulalongkorn University, Bangkok Thailand yang cantik, yang kemudian jadi pacar, istri dan ibu dua anaknya, Satya dan Aree.

Pasang surut kehidupan Wimar juga tergambar di buku ini, mulai dari "diutangi" uang jajan dari Kang Rachmat, hingga masa penahanannya akibat aktivitas politiknya (1978), saat istrinya tengah mengandung anak kedua.

Bukan Wimar namanya kalau tidak membuat terobosan. Saat Presiden Soeharto dicalonkan lagi sebagai presiden untuk kesekian kalinya, Wimar dengan lantang mengajukan diri sebagai calon presiden, meskipun kansnya sangat kecil. Benar saja, usahanya selama tiga minggu mengikuti prosedur pencalonan, akhirnya kandas. (halaman 53)

Populer
Soal penulisan biografi, yang jadi lahan baru bagi Fira Basuki yang biasa menggeluti bidang penulisan fiksi (sudah menghasilkan 13 novel), ia berkomentar dalam pembuka buku itu, "Ada banyak alasan saya bingung dengan penulisan biografi. Kenapa buku-buku biografi kebanyakan serius? Pantas saja generasi saya ke bawah malas baca biografi. Saya bilang, kalau saya bikin biografi, akan saya buat populer. Bikin genre baru, biografi populer, entah itu ada atau tidak." (halaman xii)

Wimar sendiri mengaku, sebelumnya tidak terpikir untuk dibuatkan biografi kalau bukan Fira Basuki yang menulis. "Itu sih impian orang, dream comes true, seperti ketemu durian jatuh. Nasib baik nggak bisa ditolak. Bagaimana bisa ditolak nasib baik itu. Nggak ada hujan nggak ada angin, ditulisin biografi oleh novelis besar," sanjung Wimar, di hadapan wartawan, saat peluncuran buku.

Masalahnya ketidaktahuan (clueness) Fira tentang latar belakang kisah pria yang sedang ditulisnya itu, diakalinya dengan "bermain detektif". Selain mewawancarai teman-teman dekatnya, Fira juga "mengusik hidup Wimar dari pagi sampai malam." Juga melakukan kontak lewat internet dan SMS.

Karena baginya, menulis biografi yang berhiaskan sampul cantik bernuansa ungu dengan foto Wimar dan Fira saling membelakangi itu, merupakan kesempatan langka. "Saya hanya menulis apa yang dia omongkan. Jadi sisi jeleknya bisa dikeluarin," ungkap Fira. Mengenai pemilihan judul yang terkesan nyentrik, Fira sengaja melakukannya, karena mengarah pada gaya yang dimauinya. Judul Hell, Yeah! diambilnya dari lagu kesukaan Wimar berjudul sama, karya Neil Diamond.

Saat membaca biografi yang sepintas tampilannya mirip buku fiksi dengan komentar sejumlah tokoh ini, Anda tak perlu mengerutkan kening, tapi juga tak harus ketawa ngakak, cukup senyum simpul saja. [TMA]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
  
spacer
KOMENTAR PEMBACA
spacer
  
  Selamat Kang Wimar... (piet.mambang@gm..., 29/07/2006 21:20)
Selamat atas peluncuran biografi Kang Wimar. Sedikit berbagi cerita, awalnya (beberapa puluh tahun lalu), saya menyangka Wimar itu orang Minahasa - maklum orang Sunda bernama Witoelar kan agak jarang (tau mungkin satu-satunya). Apalagi agak mirip dengan Toelar di Minahasa.
Tapi bagaimanapun, saya ucapkan selamat atas terbitnya buku ini, semoga "semangat kejuangan" Bung Wimar melekat di setiap insan pendamba kemerdekaan! Buat Fira, semoga asyik-asyik aja dengan model biografi sebegini.
Salam.
 
 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 30 July 2010 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdotdot123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer