|
 |
|
 |
|
INTRIK |
 |
| |
Batas
"Kenikmatan itu ada di ujung batas," begitu nasihat Mpu Peniti kepada saya. Maksudnya, kita harus selalu tahu di mana itu batasnya. Dan apa pun di dunia ini selalu ada batas. "Jangan serakah, jangan mau diperbudak nafsu," Mpu Peniti melanjutkan. Makan paling enak dan paling nikmat justru di batas yang pas sebelum kenyang. Terlampau kenyang, melewati batas, perut akan sesak, napas susah, dan kenikmatan itu akan sirna begitu saja.
Dalam bisnis, manajemen, pemasaran, kita juga harus memahami batas-batas itu. Pernah sekali saya bertemu dengan sebuah keluarga yang memiliki sebuah bisnis sangat sukses. Perusahaan mereka sangat terkenal.
Uniknya, biarpun tawaran mengalir untuk membuka cabang di luar Jakarta, mereka tetap tidak tergoda. Lewat diskusi yang mendalam dengan tiga saudara itu, barulah saya mengerti filosofi yang sebenarnya. Konon, bisnis mereka dimulai dari sebuah kios kecil. Saat memulai, mereka dalam situasi ekonomi terbatas. Ketika bisnis berkembang pesat, mereka merasakan peluang yang besar untuk mengirim semua anak-anak mereka belajar ke luar negeri.
Mereka ingin anak-anak mereka punya masa depan yang baik. Celakanya, semua anak-anak mereka tidak ada satu pun yang mau meneruskan bisnis keluarga itu. Kini ketiga saudara itu sudah berumur di atas 60 tahun. Walaupun hampir 70% manajemen sudah dipegang orang luar, mereka mengaku punya batas yang tidak mau dilanggar.
Batas bukanlah pagar, yang menghalangi kita. Tetapi sebuah keadaan di mana kita sadar akan kemampuan kita yang maksimal dan optimal. Walaupun begitu, saking asyiknya, kita seringkali lupa. Batas ini sering kita langgar.
Di kantor, Anda mungkin sering kesal dan marah-marah karena melihat hal-hal yang dikerjakan dengan sewenang-wenang atau tidak sempurna. Maka, marah menjadi hak Anda. Marah sangat diperlukan dalam sebuah manajemen. Sebagai sebuah medium untuk melakukan koreksi dan melawan kemapanan yang semu. Tapi marahlah dengan bijaksana, jangan melewati batas. Kalau melewati batas, siapa tahu emosi Anda berlebihan, dan risiko stroke atau serangan jantung bisa saja terjadi.
Seorang pemasar ulung pernah bercerita kepada saya: jangan pernah membanjiri pasar secara berlebihan. Artinya, mentang-mentang laku dan laris, kita jadi serakah, lalu berusaha menjual sebanyak-banyaknya. Akibatnya, produk kita jadi pasaran dan mudah dilupakan orang.
Dalam marketing, kita juga harus mengerti dan paham soal batas ini. Para desainer terkenal selalu membuat produk dengan jumlah sangat terbatas. Tidak peduli biar seberapa populer dan larisnya. Moto mereka, masih ada hari esok. Kalau habis dan laris, biarkan konsumen menunggu produk berikutnya. Biarpun produk itu keluar musim depan, enam bulan mendatang. Ini batas yang pantang dilanggar.
Percaya atau tidak, saat-saat terbaik saya dengan Mpu Peniti justru ketika kami berdua punya kesempatan menyusuri batas-batas itu bersama-sama. Sesekali saya dan Mpu Peniti mencari makanan atau jajanan yang tinggi kolesterolnya. Tidak baik memang bagi kesehatan. Tapi, karena dilakukan sangat jarang, makanan seperti itu terasa nikmatnya bukan main. Coba kalau kami nikmati tiap hari, mungkin tidak lagi terasa kelezatannya. Karena sudah terlampau banyak dikonsumsi, maka rasanya menjadi biasa-biasa saja.
Barangkali sangat ironis apabila di tengah-tengah kehidupan kita saat ini ada gerakan yang mendorong kita untuk melampaui batas. "Push to the limit," begitu slogan banyak orang. Tapi Mpu Peniti menasihati kita untuk sebaliknya. Yaitu eling terhadap batas.
Mungkin keduanya benar. Kalau batas prestasi kita saat ini dirasakan kurang tinggi, maka kewajiban kita untuk melampaui batas yang ada saat ini. Di lain pihak, Mpu Peniti mencoba mengajarkan pad kita agar lebih jujur terhadap diri kita sendiri, dan tahu persis batas-batas mana yang tidak boleh kita langgar.
Kafi Kurnia
peka@indo.net.id
[Intrik, Gatra Nomor 37 Beredar Kamis, 27 Juli 2006]
|
|
 |
|