|
 |
|
 |
|
LINGKUNGAN |
 |
| |
Menyemai Karang di Lahan Kreatif
Sekelompok pria dan wanita kulit putih berjejer di atas perahu di Pantai Sanur, Bali. Masing-masing memegang sikat kecil berbulu halus. Mereka terlihat serius mendengarkan petunjuk Wayan Patut.
"Harus hati-hati menyikatnya jangan sampai goyang dari substrat buatan," kata Patut sembari memperagakan cara menyikat terumbu karang. Usai pengarahan, giliran seorang petugas membagikan helm khusus kepada para bule itu untuk menyelam. Satu per satu mereka nyemplung ke laut.
Lagi-lagi Patut berpesan pada rombongan turis asing itu. "Hati-hati, terumbu karang itu sangat sensitif," ujar Patut, karyawan Sea Walker, perusahaan yang menyediakan jasa wahana wisata taman laut. Selanjutnya, rombongan turis asing yang sudah memakai helm khusus itu barjalan di dasar laut, menikmati terumbu karang.
Inilah wisata bahari yang sedang jadi mode di Pulau Dewata. Sea Walker menyediakan Taman Coral Sanur di kedalaman sekitar tujuh meter di perairan Sanur, Bali, sebagai objek wisata. Tiket masuk ke Coral Sanur US$ 55-US$ 65 per orang. Jika ingin membantu bersih-bersih karang, malah harus tambah biaya US$ 5 per orang.
Coral Sanur boleh dibilang sangat istimewa. Koloni terumbu karang itu dibiakkan dari lahan yang semula hanya hamparan pasir. "Jadi, terumbu karang ini ditumbuhkan di luar habitatnya. Ini memang teknik yang sedang kami kembangkan," kata Dr. Subandono Diposatono, Kepala Sub-Direktorat Mitigasi Bencana dan Pencemaran Lingkungan, Departemen Kelautan dan Perikanan.
Ia berharap, teknik budi daya terumbu karang tersebut kelak bisa digunakan untuk memulihkan koloni karang yang rusak atau menumbuhkan habitat baru. Coral Sanur merupakan proyek pertama yang dirintis sejak 2005. "Pembangunan Coral Sanur ini harus dilaksanakan karena erosi Pantai Sanur yang sudah memprihatinkan," kata Made Mangku, Koordinator Tim Revitalisasi Palung Semawang, Sanur.
Koloni terumbu karang di kawasan Palung Semawang yang berfungsi sebagai pelindung Pantai Sanur kini sudah rusak. "Tingkat kerusakannya mencapai 80%," tutur Mangku. Penyebabnya, apa lagi kalau bukan ulah manusia. Misalnya penangkapan ikan dengan racun atau bom, dan diperparah dengan pencurian terumbu karang.
Juga penambangan pasir laut hingga pembuangan limbah dan sampah. Sejak itulah, timbul niat untuk membangun Coral Sanur. Pembangunannya dirintis para aktivis lingkungan, pengusaha, nelayan, dan sejumlah masyarakat sekitar Sanur, bekerja sama dengan Departemen Kelautan.
Lokasinya dipilih di dekat kawasan Palung Semawang. "Tapi kawasan ini adalah kawasan blank spot terumbu karang. Jadi, tak ada koloni karang di situ," kata Subandono. Ini memang menjadi tantangan tersendiri.
Sejauh ini, belum banyak yang "bercocok tanam" karang di lahan yang kosong. "Secara teori, menumbuhkan terumbu karang dengan kondisi seperti itu bisa saja dilakukan," ujar Subandono. Terumbu karang dapat direproduksi secara alami (seksual) dan transplantasi (stek).
Dua teknik itu dapat dipakai untuk menumbuhkan karang di lahan kosong. "Untuk reproduksi seksual, tentunya harus dipilih kondisi perairan yang kondusif, di mana mereka dapat berkembang biak," kata Subandono. Untuk metode stek, perlu membiakkan bibit karang lebih dulu.
Bibit ini dapat diambil dari koloni karang yang sehat. Setelah bibit dipandang dapat berkembang, barulah ditanam pada media tempatnya melekat (substrat) di lahan kosong (lihat gambar). Rencananya, Coral Sanur akan dibangun di lahan seluas 5 hektare, yang terdiri dari tiga kawasan. Yakni kawasan kreatif, preservatif, dan konservatif.
Zona kreatif akan diatur bak taman bunga seluas 2 hektare. Ada pintu gerbang dengan deretan koral jenis acropora beraneka warna membentuk tulisan "Welcome to Sanur". "Kami menggunakan substrat beton agar bibit koral tertanam dengan kuat," tutur Mangku.
Bibit karang dibiarkan tumbuh secara alamiah di kawasan kreatif. "Hanya perlu dirawat 10 hari sekali untuk menghilangkan kotoran yang dapat mengganggu pertumbuhannya," kata Mangku. Enam bulan pertama adalah masa bertahan. Karang tumbuh sekitar 3 sentimeter per bulan.
Tentu saja, bibit karang itu harus dipantau dan dirawat. "Karena ia baru akan tumbuh kuat setelah berumur setahun," ujar Mangku. Pada zona preservatif yang luasnya mencapai 1,5 hektare, karang dibudidayakan dengan metode biorock. Media yang digunakan berupa anyaman besi yang dialiri listrik tegangan rendah 2,6 volt.
Kawasan selebihnya, seluas 1,5 hektare, digunakan untuk zona konservatif. Zona ini juga dibangun dengan media biorock. Hanya saja, sumber listriknya berasal dari turbin yang digerakkan dengan tenaga ombak. Metode biorock ini menjadi pilihan jika ingin memacu pertumbuhan karang.
Aliran listrik membuat proses pengapuran tumbuh lebih cepat. Walau begitu, menurut Mangku, angka peluang hidup pada media beton lebih tinggi, sekitar 90%. "Dengan biorock cuma 70%," Mangku menegaskan.
Sejauh ini, Taman Coral Sanur baru rampung sekitar 10%. Di zona kreatif masih ada sekitar 4.000 bibit koral yang harus ditanam. Sedangkan di zona preservatif, baru tertanam 1.000 bibit dari rencana 250.000 bibit. "Zona konservatif rencananya baru dibangun pada 2008," kata Mangku.
Jalan yang harus ditempuh memang masih panjang. Apalagi, memelihara karang butuh ketekunan. Terumbu karang memang tergolong manja. Lingkungan pertumbuhannya harus memiliki air yang jernih, ada sinar matahari dan pasir laut yang stabil. "Sedikit gangguan saja bakal memperlambat pertumbuhan koral," ujar Mangku.
Substrat juga perlu mendapat perhatian khusus. Harus dipilih substrat yang sesuai dengan jenis karang. "Pernah saya mencoba dengan bahan semen putih, ternyata lambat,'' kata Mangku. Pemilihan substrat yang tepat sangat penting. Kalau substrat mengandung zat yang tidak sesuai dengan karang itu, karangnya akan mati.
Dari sekian banyak kendala, Mangku lebih khawatir soal tingkat pengendapan di perairan Sanur yang tinggi. Tumpukan endapan terbawa arus ke wilayah yang lebih rendah, termasuk Palung Semawang serta kawasan Coral Sanur. "Palung Semawang dulu punya kedalaman hingga 137 meter, kini makin dangkal, hanya 90 meter," tutur Mangku.
Untuk mencegahnya, pasir yang menumpuk perlu disedot keluar areal taman. Menurut Mangku, upaya mengantisipasi tenggelamnya Coral Sanur sangat penting. Apalagi, dana yang dikeluarkan secara swadaya oleh pengusaha, nelayan, dan masyarakat Sanur tak sedikit, setidaknya mencapai Rp 500 juta.
"Itu baru hitungan kasar dari biaya sarana dan prasarana yang telah dikeluarkan," kata Mangku. Di luar itu, masih ada bantuan dana dari APBD Bali serta Departemen Kelautan. Untuk menyelesaikan seluruh Coral Sanur, biaya yang dibutuhkan mencapai Rp 9,6 milyar untuk lima tahun.
Nur Hidayat, Rach Alida Bahaweres, dan Komang Erviani (Denpasar)
[Lingkungan, Gatra Nomor 2 Beredar Kamis, 23 November 2006]
|
|
 |
|