|
 |
|
 |
|
WISATA & HIBURAN |
 |
| |
Satu Cerpen Seabrek Penulis
Ketuakelas menulis: "Pertama-tama, carilah ikan patin."
Nicowijaya: "Anda dapat mencarinya di supermarket terdekat jika Anda tak terbiasa dengan pasar tradisional."
Ketuakelas: "Anda juga bisa mencarinya di supermarket terjauh. Tapi risikonya, Anda baru bisa mulai memasak pepes besok."
Demikian seterusnya kalimat bersambung-sambungan dengan satu tujuan: menyelesaikan sebuah cerita pendek (cerpen) berjudul Memasak Pepes Ikan Patin. Bersama penyandang nickname ketuakelas dan nicowijaya, pada baris-baris berikutnya, brunettelover, emyou, dan lain-lain urun kalimat membangun plot cerita yang begitu encer dan suka-suka itu.
Pada akhir kisah, nicowijaya menulis: "Tarraaaa... selamat menikmati." Total ada 38 kalimat dalam cerpen berkategori kuliner yang ditulis 19 penyandang nickname itu. Jika mau dipukul rata, satu penyandang nickname menyumbang dua kalimat. Tapi jangan menjadi rungsing perihal statistik itu.
Yang menarik diperhatikan adalah: di Indonesia telah lahir sebuah situs internet yang menyediakan layanan kolaboratif dan interaktif dalam menulis cerpen. Nama situsnya cerpenista (http://cerpenista.com). Dengan tagline "Ayo ngarang gotong royong!", cerpenista mengklaim sebagai website pertama di Indonesia yang menyediakan fasilitas penulisan cerpen secara keroyokan.
Menulis sebuah karangan (novel, puisi, maupun cerpen) secara keroyokan dengan memanfaatkan jaringan internet sebenarnya bukan hal baru. Akhir-akhir ini, praktek itu banyak dikembangkan di beberapa mailing list maupun interaksi via surat elektronik (e-mail). Namun cerpenista, yang memanfaatkan aplikasi Web 2.0, jadi berbeda karena isi situs ini dibangun bersama oleh penduduk internet.
"Prosedur partisipasinya sangat mudah," kata Herman Seksono, 27 tahun, sosok yang merintis dan mengembangkan cerpenista. Seseorang hanya perlu mendaftar secara online untuk jadi anggota. Gratis. Dan dengan itu, seorang calon penulis berhak mendapat semacam lisence to write di cerpenista. Setelah itu, tinggal pilih, mau menulis cerita baru atau menyambung kisah-kisah yang tengah dibangun.
Herman, lulusan Fakultas Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, yang sehari-hari bekerja sebagai system analyst di sebuah perusahaan itu, memulai layanan cerpenista dua bulan lalu. Anggotanya semula para penulis di komunitas Cah Andong (http://www.cahandong.org) di Yogyakarta.
Namun, sejak awal Agustus lalu, kreativitas yang dikembangkan Herman menarik perhatian penyedia layanan blog hosting dagdigdug di Jakarta. Alhasil, lewat satu skema kerja sama, cerpenista kini menjadi bagian dari layanan dagdigdug.com.
Sampai saat ini, tak kurang dari 33 cerpen dapat dirampungkan di cerpenista. Kategorinya macam-macam, mulai kisah romantis, detektif, kisah sejati, kuliner, humor, dongeng, dan lain-lain. Rata-rata, dalam hitungan Herman, sebuah cerpen diselesaikan dalam waktu dua hari. "Cerpen pertama yang lahir dari cerpenista berjudul Hari Pramuka," kata Herman.
Umumnya, karya-karya dalam cerpenista menggunakan pendekatan humor yang bersifat nonsens dan personal. Yakni berupa jalinan kalimat improvisatif bergaya main-main dan motif melompat-lompat, lantaran kehendak yang tidak terlalu serius untuk membangun sebuah plot bersama. Uniknya, "komedi nonsens" itu, pada tataran tertentu, melahirkan gaya dan warna tersendiri --dengan mengesampingkan sejenak kualitas susastranya-- di ranah cyber-sastra.
Namun ada juga cerpen-cerpen yang mencerminkan eksekusi cukup serius, dengan desain komunikasi antarpenulis yang --sepertinya-- lumayan terjaga dalam membangun plot. Model-model cerpen seperti ini ditulis oleh mereka yang tergabung dalam group-group; sebagai salah satu fitur yang tersedia dalam cerpenista.
Berbeda dari cerpen yang kolaborasinya bersifat umum dan terbuka, proses pembuatan cerita yang dikelola dalam sebuah group tertentu bersifat relatif eksklusif. Setidaknya, seseorang harus kembali mendaftar dalam group-group yang tersedia dan berharap administrator atau moderator yang bersangkutan menerima partisipasinya. Atau silakan membuat group baru, dengan sifat keanggotaan yang intrinsik.
Herman berjanji untuk terus mengembangkan fitur-fitur dalam situs yang kini beranggotakan sekitar 300 pemilik e-mail itu. Termasuk membuat fitur yang bersifat kompetitif dengan format lomba atau sayembara. Dengan begitu, diharapkan karya-karya cerpen keroyokan yang lahir lebih gereget dan "berbunyi".
Bambang Sulistiyo
[Seni, Gatra Nomor 41 Beredar Kamis, 21 Agustus 2008]
|
|
 |
|