spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
spacer
spacer
NASIONAL
spacer
 
Tak Sekadar Memburu Dolar

Eksodus Kaum Cendekiawan (GATRA/Fritz Pelenkahu)GAJI menggiurkan plus fasilitas memadai jadi daya tarik untuk bekerja di negeri seberang. Ruang untuk mengekspresikan kabisa pun tersedia seluas-luasnya. Beberapa cendekiawan yang "hengkang" menuturkan alasan kepergiannya.

Dr. Nelson Tansu, 26 tahun
Leluasa Menimba Ilmu

LINUS Pauling kesohor sebagai ilmuan jempolan. Ia meraih dua Hadiah Nobel, yakni bidang kimia tahun 1954 dan Nobel Perdamaian tahun 1962. Pauling juga menyandang predikat asisten profesor, sebutan bagi profesor baru di Amerika Serikat, pada usia muda: 26 tahun.

Nelson Tansu, lajang asal Medan, belum berbicara di tingkat Nobel. Tapi, ia memecahkan rekor Pauling. Nelson dipanggil profesor pada usia 25 tahun. "Saya bukannya mau membandingkan diri dengan Pauling, melainkan ingin menunjukkan bahwa sangat sedikit orang yang jadi profesor di universitas bagus di Amerika Serikat pada usia 25 tahun," tutur Nelson, pemuda kelahiran 20 Oktober 1977 yang kini menjadi profesor pada Departemen Teknik Elektro dan Komputer Universitas Lehigh, Pennsylvania.

Toh, rekor Nelson bukan yang paling mengilat. Chang-Lin Tien, bekas Rektor University of California-Berkeley, dulu berhasil menggaet predikat profesor pada usia 24 tahun.

Nelson memang punya modal meraih prestasi kemilau. Sebelum bertolak ke Amerika, lulusan terbaik SMU Sutomo 1 Medan 1995 ini lolos menjadi finalis Tim Olimpiade Fisika Indonesia. Sukses ini membuat dirinya mendapat tawaran beasiswa dari Bohn's Scholarships untuk kuliah di jurusan matematika terapan, teknik elektro, dan fisika di Universitas Wisconsin-Madison, Amerika Serikat.

Dr. Nelson Tansu (Dok. GATRA)Masuk kampus September 1995, laki-laki berdarah Tionghoa ini menyandang gelar bachelor of science hanya dalam tempo dua tahun lebih sembilan bulan. Predikatnya pun summa cum laude. Setelah merampungkan S-1-nya pada 1998, ia kebanjiran tawaran beasiswa dari perbagai perguruan tinggi top di Amerika. Meski ada tawaran dari universitas yang peringkatnya lebih tinggi, ia memilih tetap tinggal di Universitas Wisconsin dan meraih gelar doktor pada Mei 2003.

Selama menggarap program doktornya, Nelson terus mengukir prestasi. Berbagai penghargaan dikoleksinya, antara lain WARF Graduate University Fellowships dan Graduate Dissertator Travel Funding Award. Bahkan, penelitan doktornya di bidang photonics, optoelectronics, dan semiconductor nanostructires meraih penghargaan tertinggi di departemennya, yakni The 2003 Harold A. Peterson Best ECE Research Paper Award.

Setelah menyandang gelar doktor, Nelson mendapat tawaran menjadi asisten profesor dari berbagai penjuru universitas di Amerika. Peluang menggiurkan ini menjauhkan minatnya untuk kembali ke Tanah Air. Akhirnya, penulis lebih dari 50 jurnal itu mendamparkan diri di Universitas Lehigh, pada Juli lalu, dan ia menyandang gelar asisten profesor.

Bagi pemilik tiga hak paten ini, banyak alasan yang membuatnya tak beranjak dari negeri yang sangat paranoid terhadap terorisme itu. Satu di antaranya karena Amerika merupakan salah satu dari segelintir negara yag kuat bidang teknik dan sainsnya. Sebagai pengajar, Nelson bisa sesuka hati memanfaatkan fasilitas laboratorium yang lengkap, mengakses informasi dari perangkat berteknologi canggih, dan melahap buku-buku terbaru di perpustakaan. Belum lagi kesempatan melakukan penelitian yang luas dengan dana tak terbatas.

Memang, hidup nun jauh di rantau harus memendam rindu pada keluarga, teman, dan makanan khas Indonesia. Namun, kerinduan itu terobati dengan gaji yang cukup. Apalagi bila bekerja di universitas swasta ternama seperti tempat Nelson bekerja. Ia memang tak mau menyebut angkanya. Tapi, sebagai gambaran, kata Nelson, rata-rata US$ 10.000 per bulan plus fasilitas kesehatan. "Jumlah ini cukup kompetitif dengan gaji yang ditawarkan dunia industri," kata ilmuwan muda yang rajin memberi ceramah di berbagai universitas di Amerika dan Eropa ini.

Walau kantongnya penuh, Nelson, anggota Pusat Teknologi Optik Universitas Lehigh ini, tak bisa meredam rasa ingin pulang ke Tanah Air. Tapi, masalahnya, seperti kata Nelson kepada Rini Anggraini dari GATRA, "Apakah bangsa Indonesia bisa melihat dan menghargai teknologi canggih." Ahli semikonduktor untuk serat optik ini mengaku akan mempertimbangkan dengan serius kalau pemerintah sungguh-sungguh membutuhkannya.

Prof. Dr. J. Soedradjad Djiwandono (Dok. GATRA/Anizar M.)
Prof Dr. J. Soedradjad Djiwandono, 65 tahun
Demi Ketenangan

NAMA Soedradjad Djiwandono seperti meredup setelah ia lengser dari jabatan Gubernur Bank Indonesia, Februari 1998. Doktor bidang ekonomi lulusan Boston University, Amerika Serikat, ini langsung "bertapa" di luar negeri setelah disebut-sebut terserempet perkara bantuan likuiditas Bank Indonesia. "Saya tak akan punya ketenangan kerja di Jakarta," ia memberi alasan.

Memang, tak seperti kebanyakan ilmuwan yang hijrah ke negeri seberang, motivasi Soedradjad sama sekali bukan karena mengejar materi. Sebagai bekas pejabat penting, peluang jabatan empuk mudah ia dapatkan di Tanah Air. Pengajar pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE-UI) ini mengaku mendapat tawaran mengajar di berbagai tempat. Undangan ceramah pun terus mengalir tak hanya di dalam negeri, melainkan juga luar negeri. Lagi pula, kehidupan ekonominya selama ini sudah begitu mapan.

Pengembaraannya di luar negeri berawal kala ia menjenguk almamaternya, Boston University, tak lama setelah ia lengser. Di sana, menantu "begawan ekonomi" Sumitro Djojohadikusumo ini bertemu Prof. Jeffrey Sacha, Direktur Harvard Institute for International Development. Koleganya ini menawari Soedradjad menjadi development associate di tempat itu. Tawaran itu langsung disambar. "Bagi orang yang baru kehilangan jabatan, tentu saja tawaran itu menarik," katanya sambil tertawa kepada Cecep Risnandar dari GATRA.

Belum juga dua tahun di sana, Soedradjad harus kembali ke Tanah Air untuk memenuhi panggilan DPR dan pemeriksaan oleh Kejaksaan Agung. Ia terpaksa meninggalkan pekerjaannya sebelum kontraknya habis. Nah, dalam perjalanan pulang, guru besar di FE-UI ini mampir di Singapura, dan bertemu Prof. Chia Siow Yue, Direktur Institute of Southeast Asian Studies. Lagi-lagi ia ditawari job. Soedradjad mengangguk setuju, dan bekerja dari awal 2001 hingga Agustus 2002.

Setelah kontraknya rampung, Soedradjad pindah menjadi pengajar dan peneliti di Institute of Defence and Strategic Studies (IDSS), Nanyang Technological University, Singapura. Di perguruan tinggi ternama ini, ia ikut mempersiapkan program master di bidang international political economy. Kontraknya dengan IDSS baru kelar Agustus tahun depan.

Apakah Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya periode 1972-1974 ini akan mengakhiri pengelanaannya? Soedradjad belum memberi kepastian. "Keengganan saya bekerja di Tanah Air lebih disebabkan status saya yang sampai sekarang belum jelas bagaimana jadinya," kata pria yang rambutnya sudah memutih ini. Ia masih berharap bisa segera dibebaskan dari kasus yang menghebohkan itu. "Karena saya bukan koruptor," ujarnya, serius.


Dr. Dadang Muhammad, 42 tahun
Bukan Mengejar Ringgit

BANYAK sohib menertawakannya ketika Dadang Muhammad hijrah ke Malaysia pada Februari tahun lalu. Betapa tidak, doktor bidang highway transportation lulusan Universitas Purdue di Indiana, Amerika Serikat, ini rela menanggalkan jabatan Kepala Bagian Perencanaan Departemen Pekerjaan Umum dan dosen di Universitas Trisakti, Jakarta. "Bukan uang yang saya cari, melainkan ketenangan batin dan kenyamanan hidup," kata bekas santri Pesantren Al-Ma'soem, Bandung, ini.

Bagi Dadang, pemenuhan materi memang bukan masalah. Gajinya sebagai pegawai negeri dan honor mengajarnya sudah cukup menutupi kebutuhan hidupnya. Lagi pula, dia datang dari keluarga makmur. Ayahnya, H. Ma'soem (almarhum), tak lain pengusaha kesohor di Jawa Barat. Juragan penyalur bahan bakar minyak ini punya seabrek usaha. Selain jaringan SPBU-nya di mana-mana, ia juga punya jaringan minimarket di pinggiran kota Bandung.

Kini, setelah menjadi pengajar di Universitas Putra Malaysia (UPM), di pinggiran kota Kuala Lumpur, insinyur sipil lulusan Institut Teknologi Bandung tahun 1984 ini pun tak berlimpah ringgit. Gajinya hanya M$ 5.000 per bulan. Duit itu nyaris tak bersisa, terpakai untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Termasuk untuk menyewa rumah berkamar tiga seharga M$ 900 per bulan. Belum lagi ongkos listrik, telepon, dan air.

University of New South Wales (Dok. University of Toronto)Hanya sistem pendidikan Malaysia yang tertata dan terencanalah yang membuatnya kerasan. Dadang mencontohkan target UPM yang mencanangkan masuk 10 besar perguruan tinggi di Asia pada 2010. Iklim pendidikan ini pula yang dinikmati ketiga anaknya. "Saya sudah ditawari untuk memperpanjang kontrak. Saya akan mengambilnya," kata Dadang, yang dua tahun sekali mendapat penawaran kontrak, kepada Sulhan Syafi'i dari GATRA.


Dr. Mohammad Nabil Almunawar, 41 tahun
Karena Ilmunya Mandek

SITUASI gonjang-ganjing kala Mohammad Nabil Almunawar kembali ke Indonesia selepas meraih gelar doktor bidang basic computer science dari University of New South Wales, Australia. Pada 1997, badai krisis ekonomi menerpa, sehingga roda ekonomi macet. Dunia pendidikan pun kena imbas, termasuk Institut Pertanian Bogor (IPB), tempat Nabil selama ini mengabdi sebagai dosen. Di antaranya, anggaran penelitian menjadi seret.

Tentu, kondisi megap-megap ini tak menguntungkan Nabil yang geregetan ingin mengamalkan ilmu yang baru diraihnya. Serangkain penelitian yang diidamkan tak juga datang karena tak ada biaya. "Ilmu saya jadi mandek," kata pengajar manajemen industri di Jurusan Teknologi Industri Pertanian IPB ini.

Di tengah kegelisahannya, Nabil membaca iklan lowongan mengajar di University of Brunei Darussalam (UBD) pada sebuah koran terbitan Ibu Kota. Surat lamaran pun dilayangkan. Setelah lewat proses seleksi, lamaran Nabil diterima. Bapak enam anak ini langsung memboyong keluarganya ke negeri jiran itu pada Juli 1999. "Brunei letaknya dekat. Saya pun tak pusing dengan masalah pendidikan agama anak-anak saya," ujarnya.

Di Brunei, selain lebih sering melakukan penelitian, kesejahteraan Nabil pun terdongkrak. Sebagai gambaran saja, Nabil menyebutkan gajinya sekitar 20 kali lipat ketimbang gaji dosen di IPB. Belum lagi fasilitas rumah, asuransi kesehatan bagi seluruh keluarga, dan bebas biaya sekolah bagi anak-anaknya.

Uniknya, Nabil tak harus kehilangan status pegawai negeri sipilnya di IPB. Itu karena ia terbang ke Brunei atas izin IPB, dengan jangka waktu empat tahun. Sebagai imbalannya, gaji Nabil tak diambil. Dan setelah ditambah fee dari sebagian penghasilannya di Brunei --Nabil tak mau menyebutkan angkanya-- uang itu diserahkan ke jurusan.

Harusnya, masa pelancongan Nabil berakhir tahun ini. Namun, ia belum memutuskan untuk segera kembali ke Indonesia. "Ada pilihan-pilihan yang harus saya buat," kata dosen di Department of Management Studies, Faculty of Business, Ekonomics and Politcy Studies, UBD, itu. Akankah Nabil menambah daftar panjang cendekiawan yang emoh pulang ke Tanah Air?


Muhammad Djunaedi, MSc, 32 tahun
Dimanjakan Fasilitas Lengkap

RASA bete menyelimuti Muhammad Djunaedi saat bekerja sebagai peneliti di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). "Banyak waktu terbuang untuk hal-hal tidak jelas," katanya. Ahli software management ini menilai birokrasi untuk melakukan penelitian di Indonesia sungguh berbelit-belit. Belum lagi topiknya terlalu luas, karena diarahkan untuk menarik sponsor.

Maka, setelah tiga tahun tak kerasan bekerja di BPPT, Djunaedi hengkang ke Amerika Serikat. Kesempatan itu datang ketika instansinya kembali mengirim Djunaedi ke Universitas Arizona, Amerika Serikat, pada 1999, untuk menyelesaikan program S-2. Selama kuliah inilah ia "membelot", bekerja sebagai software engineer di EMC Corporation, perusahaan penyimpan data berskala besar di kota Southboro, Massachussetts, Amerika.

M. Djunaedi [Tengah, Berkaos Hijau] Bersama Rekan - Rekannya (Dok. GATRA)Sebagai penerima beasiswa science & technology for industrial development dari Bank Dunia lewat BPPT, Djunaedi tak peduli dengan keharusan memenuhi ikatan dinas selama 2n + 1 (n setara dengan lamanya kuliah). Artinya, kalau ia merampungkan kuliah lima tahun, maka selama 11 tahun harus mengabdi di BPPT. Kalau dilanggar, dendanya mesti membayar dua kali dari jumlah beasiswa yang diterima. Padahal, selain untuk S-2, lulusan SMA 6 Jakarta tahun 1990 ini mendapat beasiswa serupa untuk kuliah S-1 di Purdue University, Indiana, Amerika.

Toh, semua kendala itu tak membuat tekad Djunaedi jadi surut. Baginya, daya tarik bekerja di Amerika mengalahkan segalanya. "Untuk reward, alhamdulillah cukup untuk hidup layak di rantau," kata bapak tiga putri ini. Apalagi, tempatnya bekerja memberi keleluasaan pada Djunaedi untuk mengatur waktu kerjanya sesuai dengan jadwal kuliahnya. Sehingga bisa rampung tanpa mengganggu pekerjaan. "Saya juga diberi kesempatan melakukan penelitian yang bisa dijadikan hak paten perusahaan," ujarnya.

Hidayat Gunadi
[Laporan Utama, GATRA, Edisi 48 Beredar Jumat 10 Oktober 2003]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
BERITA TERKAIT  
spacer
 
 
spacer spacer  
  
spacer
KOMENTAR PEMBACA
spacer
  
  PERMOHONAN UNTUK MENULIS BUKU2 ILMIYAH (muhammad_767@ho..., 16/10/2003 19:43)
Kami di tanah air mengucapkan penghargaan dan penghormatan yang besar kepada semua WNI yang belajar dengan rajin dan berhasil mendapatkan pendidikan yang sangat tinggi. Kami memohon agar WNI yang telah berhasil mendapatkan pendidikan sangat tinggi dan masih bekerja diluar negri; menulis buku buku sesuai dengan bidangnya masing masing dari tingkat dasar sampai tingkat tinggi dalam bahasa Indonesia; supaya ilmu2 pengetahuan alam (IPA) yang bermanfaat dapat dipelajari oleh semua WNI di tanah air. I... <157 huruf lagi>
 
 
spacer
  
  Betul nggak usah2 susah2 (pusing7@ya..., 15/10/2003 08:49)
Saya tahu kalau mereka2 itu pengen sekali pulang ke Indonesia dan berkiprah disini. Tapi memang yang ada di Indonesia belum bisa menampung kemampuan mereka. Sekarang tinggal bagaimana bikin kontainer yang flexible di Indonesia biar bisa menampung kemampuan dan keahlian mereka yang mau pulang ke Indonesia. Saya rasa Korupsi dan kebijakan untuk kesejahteraan rakyat kecil membuat muak mereka yang ada di luar negeri.
 
 
spacer
  
  pada kemana (truth_spokesman@ho..., 15/10/2003 04:18)
Yang anti Amerika, anti Australia dan anti kafir pada kemana ya?
 
 
spacer
  
  hak mereka (mtasih@op..., 14/10/2003 20:48)
mereka yg lari bukannya tdk nasionalis.Mereka cinta tanah air, tapi bukan birokrasinya.Lebih bagus begitu drpd sok nasionalis tapi tega2nya ngerusak negara sendiri.
 
 
spacer
  
  Kepada Mas Budi Santoso598, you are right. (colonel_america@ho..., 14/10/2003 10:15)
Anda benar sekali, Hujan batu dinegeri orang, hujan emas dinegeri sendiri, lebih senang dinegeri orang. Well, you are probably Freedom lover. Yang mendapat HUJAN Emas, adalah koruptor, sedang TKI, TKW, Ahli Sains, Web Designers and all others, semua mencintai kemerdekaan atau untuk mencari penghasilan untuk mencari sesuap nasi, dimana di tanah Jawi sudah mendekati Tiwul, Gaplek dan Telo. Nah, cinta hidup diluar negeri bukannya untuk dollar melulu, tetapi untuk rasa MERDEKA, dan tidak ada ancaman... <116 huruf lagi>
 
 
spacer
  
  Hijrah (edysher@ya..., 14/10/2003 09:29)
Saya yakin mereka itu ingin memberikan kontribusi bagi negeri ini, namun negeri ini tidak bisa memberikan apa yang mereka inginkan: faktor keamanan, kenyamanan (macet, polusi, korupsi dll), dan tentu saja uang. Untuk itu mereka hijrah mencari tempat yang lebih nyaman. Tapi seandainya mereka bisa memberikan sumbangan pemikirin bagi kemajuan negeri ini dan kita juga mau mendengarkannya, mungkin kita tidak kehilangan begitu saja sebagian dari asset manusia-manusia cerdas milik bangsa ini.
 
 
spacer
  
  sukses di LN tanpa ngemplang (taoge2001@ya..., 14/10/2003 06:54)
Selamat Bung Nelson.. anda telah berhasil sukses di negeri orang tanpa harus ngemplang modal yang telah diberikan oleh rakyat Indonesia.. hai para pelarian BPPT... kenapa anda nggak pulang.... kan anda disekolahkan dengan uang rakyat....
 
 
spacer
  
  anti amrik (maya_iai@ho..., 14/10/2003 05:12)
Yang anti-amrik dan selalu menjelek2an amrik, kok gak kasih komentar sih?
 
 
spacer
  
  Indonesia akan terus tertinggal (khatjung@ya..., 14/10/2003 05:11)
Di Indonesia scientist tidak mendapatkan penghargaan yang layak, bagaimana mau bersaing dengan negara tetangga, laboratorium di universitas aja cuma nama doang, isinya kosong atau barang yang rusak.
Indonesia mau maju? Naikkan anggaran pendidikan (paling tidak 10% dari APBN), benahi pendidikan dasar dan menengah, berikan fasilitas laboratorium dan gaji serta tunjangan yang layak bagi peneliti di Universitas, seleksi kembali (semacam akreditasi untuk mempertahan kualitas peneliti) peneliti dan d... <476 huruf lagi>
 
 
spacer
  
  Selamat!! (betawi45@ya..., 14/10/2003 04:24)
Gue ucapin selamat ame man-teman yang pada berhasil di LN. Betul emang harusnya RI bangga punya warga yang berprestasi di LN dan man-teman TKI/TKW juga akan bangga karena punya saudara sebangsa yang berprestasi tinggi di tempat mana mereka juga bekerja walau pada level 'bawah'. Yang jelas mereka semuanya ini memberikan kontribusi yang penting ame perekonomian di tanah air: lah kan uang mereka itu dikirim ke tanah air.
Elo semua kan udah pada tau juga berapa jumlah anak bangsa yang udah pulang ke... <397 huruf lagi>
 
 
spacer
   
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 09 February 2010 >>
SuMTW ThFSa
dot123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer