Kunjungan Turis ke Festival Asmat Turun Terus

Jayapura, GATRAnews - Kunjungan turis mancanegara ke Festival Asmat yang biasa digelar setiap Oktober minggu ke-2 di Kabupaten Asmat mulai berkurang 3 tahun  belakangan ini. Dulunya, setiap tahun masih ada turis yang akan berkunjung ke Asmat. Namun saat ini sangat minim. 

Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Provinsi Papua mencatat penyebab utamanya adalah beberapa kali festival ini berubah tanggal kegiatannya dan minimnya transportasi ke daerah tersebut. Padahal Festival Asmat sangat menjanjikan untuk promosi wisata di Papua.

Bayangkan saja, transportasi ke Asmat biasa ditempuh dari Timika - Asmat, dengan pesawat carter, sekali jalan Rp 35 juta,  dengan jenis pesawat tipe Caravan yang bisa ditumpangi 8 orang.

"Jadwal transportasi pesawat ataupun kapal cepat dari Timika-Asmat kadang waktunya tidak menentu. Jika kita ikuti jadwal reguler, agak susah kita menjualnya. Sehingga kami harus mencarter pesawat," kata Ketua Asita Papua, Iwanta Perangin-perangin, Jumat (17/3).

Lalu, jika para turis melakukan perjalan dari Wamena dengan mengunjungi Festival Baliem terlebih dahulu dan melanjutkan perjalanan ke Festival Asmat, maka rute pesawat yang harus dicarter melalui Wamena-Asmat, biasa dicarter dengan harga Rp43 juta. Sedangkan untuk kepulangannya para turis itu kembali dicarter pesawat dari Asmat-Timika dengan harga Rp35 juta.

"Jika para turis ini datang bekelompok, sharing dananya masih memungkinkan. Namun, jika yang datang hanya 1-2 orang. Ini juga menyulitkan kami," ucapnya.

Asita Papua mencatat per satu orang turis, biaya perjalanan untuk menyaksikan Festival Baliem dan Festival Asmat dikenakan harga 3000 US$ dengan kurs Rp 13 ribu, dengan jangka waktu 10-14 hari.

"Tetapi kalau hanya menyaksikan Festival Baliem, harga yang ditawarkan berkisar 1100 US$ dengan waktu 5-6 hari," urainya.

Festival Baliem di Kabupaten Jayawijaya hingga saat ini masih rutin dilaksanakan setiap 8-10 Agustus setiap tahunnya. Namun, untuk Festival Asmat inilah pelaksanaannya tergantung pada cuaca dan musim penghujan.

"Tahun lalu tak ada Festival Asmat, karena musim kering yang berkepanjangan," ujar Iwanta.




Reporter : Katharin Lita
Editor: Rosyid

Share this article

Tagged under