GATRANEWS

Teater Ini Hidup dari Saweran
Thursday, 18 December 2014

Jakarta, GATRAnews - Pendiri Komunitas Budaya Guntur 49 Jakarta, Isti Nugroho, mengakui jika...
''Bukan Negara Setia'' Ungkap Sistem Demokrasi Transaksional
Thursday, 18 December 2014

Jakarta, GATRAnews - Pentas drama Bukan Negara Setia garapan Isti Nugroho bakal disuguhkan pada...
''Jakarta Pagi Ini: A Slank Musical'' Digelar pada 18-20 Desember
Tuesday, 16 December 2014

Jakarta, GATRAnews - Lagu-lagu milik grup musik rock legendaris, Slank akan dipentaskan dalam drama...
Menpora Buka LPI dan Canangkan Pencak Silat Masuk Kurikulum
Thursday, 25 September 2014

Padang, GATRAnews – Hari Rabu (24/9) pagi, Menpora Roy Suryo didampingi  rombongan Eselon I dan...
Pelatihan Kepemimpinan Pemuda Tingkat Madya Sumatera
Tuesday, 23 September 2014

Padang, GATRAnews – Kemenpora mulai hari Kamis (18/9) hingga Rabu (24/9) menyelenggarakan...
Menpora Tutup Festival Padang International Dragon Boat
Tuesday, 26 August 2014

  Padang, GATRAnews – Menpora Roy Suryo hari Minggu (24/8) malam didampingi Deputi Kemenpora...
Trilogi Insiden Karya SGA Jadi Buku Audio
Sunday, 13 April 2014

Jakarta, GATRAnews – Setelah membuat buku audio berbahasa Indonesia pertama dari trilogi novel...
Kabayan Saba Kota Gaya Kelompok Miss Tjitjih
Monday, 20 January 2014

Jakarta, GATRAnews – Kelompok Miss Tjitjih bukan lagi nama yang asing di dunia teater. Sebagai...
Rio Dewanto Ketagihan Main Teater
Wednesday, 27 November 2013

Jakarta, GATRAnews - Rio Dewanto mendapatkan sebuah pengalaman berharga dan tak bakal terlupakan,...
''Ibu'' Versi Teater Koma: Mau Untung Malah Buntung (Gara-gara Perang)
Monday, 04 November 2013

Jakarta, GATRAnews - Sastrawan dan pelakon teater Jerman, Bertholt Brech menyampaikan dalam...
''Orang Teater Mainnya Bagus Karena Biasa Latihan''
Thursday, 24 October 2013

Jakarta, GATRAnews - Jajang C. Noer, aktris senior yang sekaligus merupakan pemain dan pendiri...
Teater Koma, 36 Tahun dan Masih Merajut Mimpi
Thursday, 24 October 2013

Jakarta, GATRAnews - Konsistensi mempertahankan idealisme dan berkompromi untuk mengorbankan banyak...
Teater Koma Bakal Pentaskan ''IBU''
Wednesday, 23 October 2013

Jakarta, GATRAnews – Teater Koma akan mementaskan pertunjukkan yang merupakan karya produksi...
Ariah : Musikal Tari Kolosal Tentang Martabat Perempuan Betawi
Sunday, 30 June 2013

Jakarta, GATRAnews - Ultah Jakarta ke 486 tahun ini makin terasa beda dengan salah satu sinyal...
Timun Mas Musikal : Legenda Indonesia Rasa Disney
Sunday, 30 June 2013

Jakarta, GATRAnews - Pada jaman dahulu kala, seorang putri cantik yang ditunggu-tunggu oleh raja...
Ratna Sarumpaet: Seniman Dilarang Bohong
Tuesday, 25 June 2013

Jakarta, GATRAnews - Ratna Sarumpaet berpendapat, seorang seniman dilarang untuk berbohong jika...
Drama Musikal Timun Mas Sajikan Cerita Rakyat dengan Sentuhan Modern
Tuesday, 18 June 2013

Jakarta, GATRAnews - Cerita rakyat Jawa Tengah diangkat menjadi pertunjukkan drama musikal bertajuk...
“Gambang Kromong dari Betawi, Jangan Lupa Budaya Sendiri!”
Friday, 07 June 2013

Jakarta, GATRAnews - Membuka bulan ulang tahun Jakarta ke 486, Teater Abang None yang tergabung...
Soekma Djaja, Lakon Teater Abang None Jakarta
Monday, 27 May 2013

Jakarta, GATRAnews - Untuk melestarikan kesenian tradisi Betawi, khususnya Gambang Kromong, ikatan...
Maudy Koesnadi Jadi Produser Teater Abang None
Monday, 27 May 2013

Jakarta, GATRAnews - Lama tak muncul di layar kaca, Maudy Koesnadi ternyata sibuk dengan proyek...

Legendra Padusi : Harga Diri Perempuan Minang Dalam Gerak Tari

Reka Adegan Legendra Padusi (GATRAnews/Venny Tania)Jakarta, GATRAnews - Setelah 50 tahun berkarya, maestro tari dan guru besar seni tari dari ISI Padang Panjang dan Institut Kesenian Jakarta Tom Ibnur akan mempersembahkan pertunjukan drama tari bertajuk “Padusi”, pada 11-12 Mei 2013  di Teater Jakarta, Taman Ismail Jakarta.

 

Aktor-aktris ternama seperti Sha Ine Febriyanti, Jajang C. Noer, Niniek L. Karim, Marissa Anita, Arswendo Nasution, dan dua pemain teater dari ISI Padang Panjang mengisi peran dalam lakon Padusi. Nia Dinata menulis naskahnya dan Rama Soeprapto menyutradarainya.

 

Padusi mengangkat kisah mengenai sosok perempuan Minang modern di Jakarta bernama Padusi, yang mencari tahu akar budaya aslinya dengan mengunjungi tanah kelahirannya. 3 cerita budaya besar menginspirasi Padusi yaitu Puti Bungsu, Siti Jamilan, dan Sabai nan Aluih. 

 

Sebagai koreografer untuk Padusi, Tom Ibnur menganggap Padusi sebagai sebuah kado istimewa dalam sejarah karyanya. “50 tahun saya harus menunggu untuk bisa mengangkat ini, apalagi bertepatan dengan ulang tahun ke 61. Kenapa saya angkat tema perempuan karena saya dekat dengan sosok ibu. Melalui ibu dan nenek, saya melihat kekuatan dari perempuan secara global. 60% karya saya pun selama ini bicara tentang perempuan,” kata Tom dalam jumpa pers di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, rabu (2/5).

 

Tom melihat perempuan begitu hebat namun ia mempertanyakan mengapa perempuan juga sering menjadi yang teraniaya. “Termasuk ibu saya teraniaya oleh ayah saya karena dipoligami. Yang lain perempuan itu sering dilecehkan dan  banyak juga karya bercerita tentang itu,” lanjutnya. Karakter Padusi menjadi benang merah untuk 3 cerita perempuan Minang dari berbagai jaman yang mewakili keteraniayaan.

 

Kisah Puti Bungsu menceritakan bidadari kahyangan yang turun ke bumi untuk mandi, namun sayapnya dicuri oleh lelaki yang kemudian mempersuntingnya. Karena terpaksa, Puti Bungsu mau menikah, namun tidak menghentikan usahanya untuk mencari sayapnya yang hilang. Ketika ia menemukannya, Puti langsung naik kembali ke kahyangan dan meninggalkan anak-anak, suami dan mertuanya.

 

Lakon kedua adalah Siti Jamilan, perempuan yang kecewa pada suaminya karena dimadu dan membunuh diri serta anak-anaknya. Lakon ketiga adalah Sabai nan Aluih, perempuan yang menuntut keadilan karena dipersunting paksa oleh datuk tua Rajo nan Panjang, yang menyebabkan kematian ayahnya.

 

Tom Ibnur menyebut Padusi sebagai Legendra, kependekan dari Legenda Drama Tari. Sebanyak 3 legendra berbeda tersebut berasal dari 3 luha atau 3 negeri yang membentuk Minangkabau di sekeliling gunung apinya yaitu Agam, Tanah Data, dan Payakumbuh (kabupaten Lima Puluh). “Ketiganya mewakili karakter-karakter perempuan yang berbeda-beda. Misal Luha Agam menggambarkan karakter sulit didekati dan keras. Lalu Tanah Data sering disebut berair keruh dengan ikan jinak, artinya  kita tidak bisa menebak. Sedangkan Payakumbuh seperti kolam jernih dengan ikan jinak, serba halus tapi jangan terkecoh, dengan kehalusannya ada kekuatan luar biasa,” tutur penari berdarah Minang tersebut.

 

Sementara itu Rama Soeprapto yang menjadi sutradara Legendra Padusi mengatakan ia mengemas pertunjukan seni tradisi Indonesia dengan modern dan seindah-indahnya.”Dengan aktris-aktris luar biasa, musik yang indah seperti film, Padusi menjadi semi teatrikal. Satu yang luar biasa dan jadi ciri khas Tom akan tampil disini yaitu tarian kematian, yang menggabungkan antara silat, gerakan modern, dan tradisi,” jelas Rama. Menurutnya, penggabungan multimedia, musik, tata pencahayaan, dan tarian menimbulkan kesan magis dan energi yang luar biasa yang mendukung ceritanya.

 

Penulis naskah Nia Dinata yang sedari kecil kadung akrab dengan pertunjukan seni mengaku sudah lama ingin bekerja sama dengan Uda Tom (panggilan akrab Tom Ibnur – red). “Saya riset cerita rakyat Minangkabau awalnya susah banget. Akhirnya dapat di internet berupa pdf hasil tesis orang-orang yang mengambil gelar sastra. Dari semuanya saya menemukan perempuan Padang hidupnya teraniaya, tapi mereka tidak mau menjadi korban. Sudut pandangnya modern,” kata sutradara Arisan! itu.

 

Padusi didukung oleh penari-penari dari IKJ dan ISI Padang Panjang serta pemusik dengan 65 orang secara keseluruhan. Padusi akan dipentaskan dengan durasi 1,5 jam. Menurut Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian, selama ini Djarum mendapat banyak masukan karena seringnya mengangkat adaptasi dan kesenian dari Pulau Jawa.

 

“Kenapa sering dukung acara orang Jawa seperti wayang orang, selain karena asal kami dari Kudus dan strategis, juga berharap mudah-mudahan bisa menginspirasi daerah lain untuk membuat seni pertunjukkan juga. Budaya Indonesia sangat kaya dan bisa diangkat dengan konsep kekinian,” kata Renita. Sementara Direktur PT Daya Lima Abisatya mengajak semua untuk mengapresiasi seniman dengan menonton dan memintanya untuk terus berkarya. (*/Ven)

 

Legendra Padusi dipentaskan 11-12 Mei 2013 pukul 14.00 dan 19.30 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Tiket dapat diakses melalui website padusi.acara-event.com. Harga Tiket :

Diamond RP 1.000.000

Platinum Rp 750.000

Gold Rp 500.000

Silver Rp 250.000

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?