GATRANEWS

BPK: Dua Importir Daging Sapi Ubah Nilai Transaksi Impor

Komisioner BPK RI Ali Masykur Musa (tengah) dalam pemaparan Program Swasembada Daging Sapi 2010-2012 (ANTARA/Yudhi Mahatma) Jakarta, GATRAnews - Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menemukan indikasi dua perusahaan importir daging sapi, yakni PT Karunia Segar Utama (KSU) dan PT Bumi Maestro Ayu (BMA) telah mengubah nilai transaksi impor (CIF).

Indikasi tersebut berdasarkan hasil pemeriksaan lanjutan BPK, Smester II Tahun 2012 Atas Program Daging Sapi (PSDS) Tahun 2010-2012 yang dirilis anggota BPK, Ali Masykur Musa, di kantornya, di bilangan Jakarta Pusat, Rabu (10/4).

Akibat diduga mengubah CIF tersebut, kedua perusahaan importir daging sapi tersebut bisa membayar bea masuk yang lebih rendah, karena mengurangi nilai transaksi.

Ali mengungkapkan, hal itu terkuak setelah membandingkan database transaksi impor antara Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP) dengan DJBC yang didapat 856 pemberithuan impor barang (PIB) yang nilai CIF-nya berbeda, yakni nilai CIF pada DJBC lebih kecil dari BBKP.

Berdasarkan hasil konfirmasi kepada produsen daging sapi di Australia (Allegro Pty), terdapat 289 PIB atas nama PT KSU dan PT BMA yang nilai CIF-nya berbeda, yakni nilai CIF yang dilaporkan kepada DJBC lebih rendah dari CIF pada invoice yang dibuat oleh Allegro Pty.

Berdasarkan data Allergo Pty, CIF PT KSU terdapat 274 PIB yang nilainya pada database DJBC lebih rendah USD 2,175 juta. Sedangkan PT BMA, terdapat 13 PIB yang nilai CIF-nya lebih rendah USD 222,41 ribu.

Selain itu, BPK menemukan kesalahan pengenaan tarif penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dalam impor daging sapi atas jasa tindakan karantina daging sapi yang mengakibatkan kerugian penerimaan negara seesar Rp 26,478 juta dan potensi kekurangan penerimaan sebesar Rp 73,70 juta.

BPK juga menyimpulkan, belum adanya harmonisasi peraturan terkait pengklasifikasian jeroan sapi antara DJBC dan Badan Karantina Pertanian untuk keperluan impor.

Atas berbagai temuan indikasi pelanggaran hukum tersebut, BPK akan menyerahkan temuan tersebut ke aparat hukum untuk ditindaklanjuti dan sekarang BPK tengah memilah-milahnya, apakah ke Bareskrim Polri atau ke KPK.

Sedangkan berapa jumlah total kerugian negara akibat sejumlah dugaan kenakalan dan pelanggaran hukum para importir daging sapi tersebut, Ali mengaku pihaknya masih menghitungnya.

"Tim akan menghitung kerugian negara dan itu hanya tinggal tunggu waktu saja. Itu gampang, tinggal CIP-nya berapa, tinggal dikalikan saja, itu sudah kelihatan," pungkas Ali. (IS)

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?