GATRANEWS

Menuju KTM WTO ke-9, APEC Dukung Perdagangan Multilateral

Jumpa Pers Menteri Perdagangan APEC (ANTARA/Ismar Patrizki)Surabaya, GATRAnews - "Menyatakan secara nyata, tidak ada perbedaan diantara anggota APEC dalam mendukung sistem Perdagangan Multilateral dibawah WTO," demikian disampaikan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, dalam konferensi terkait  hasil urun rembuk delegasi Anggota APEC dalam Ministers Responsible for Trade (MRT) Meeting 2013 di Surabaya, Minggu (21/4) siang.

Dukungan para Anggota APEC juga dihadiri oleh empat dari lima calon Deputi Jenderal WTO, salah satunya Marie Elka Pangestu. Kedatangan mereka menunjukkan kekuatan APEC dalam mempromisikan sistem Perdagangan multilateral. Ekonomi APEC merepresentasikan lebih dari setengah GDP dunia dan 44 persen perdagangan dunia berada dikawasan ini. Besarnya peran APEC ini menjadi pegangan nantinya untuk hasil yang diharapkan lebih baik dalam pertemuan Konferensi Tingkat Menteri (KTM) World Trade Organization (WTO) ke-9 pada 3-6 Desember 2013 di Bali.

Indonesia sebagai tuan rumah pun memiliki kepercayaan diri penuh pertemuan di Bali mendatang akan membawa sesuatu. "Saya bangga bahwa secara konsensus APEC merasa tidak ada divergence sama sekali. Justru ini sangat menyatu, mengedepankan semangat-semangat multilateral. Sekarang bagaimana menggunakan ini sebagai modal. APEC itu kan menyumbang kurang lebih 55% persen dari total ekonomi dunia, ini harus bisa mempengaruhi non-APEC," jelas Gita di sela-sela penutupan MRT Meeting kepada wartawan.

Hal ini tentu berkaitan dengan deadlock-nya putaran Doha sejak 2008. Pertemuan WTO yang pada awalnya bertujuan untuk menghapus berbagai pajak impor dan subsidi negara-negara anggota, nyatanya hingga kini belum tercapai kesepakatan jelas. Meski sudah ada kesepakatan mengenai Pajak impor dan penghapusan hambatan perdagangan, tetapi ini baru akan berlaku jika seluruh anggota menyepakati paket perdagangan bebas.

Salah satu pokok bahasan yang masih alot dalam paket perdagangan bebas WTO adalah pertanian. India menjadi negara yang masih berbeda posisi soal hitung-hitungan paket perdagangan bebas. Sementara untuk paket fasilitas perdagangan maupun (Less Development Country) LDC, menurut Gita tak begitu jadi masalah.

"India terkait dengan stock piling. Maka itu Tiongkok dan Australia inisiatif untuk melakukan informal meeting di Geneva. Itu mengundang 20-30 negara, Indonesia salah satunya untuk menyatukan pandangan," pungkas Gita. (FK)

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?