GATRANEWS

Taksi Express Ingin Jadi Nomer Satu

Jakarta, GATRAnews - Menjadi perusahaan nomor satu adalah impian setiap perusahaan, terutama dari sisi market share. Di mana masyarakat memilih perusahaan tersebut sebagai pilihan utamanya. Hal tersebut juga diinginkan PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI), pemilik taksi Express.


Direktur Keuangan Express David Santoso mengatakan saat ini market share perseroan berada pada kisaran 13 persen. "Kami targetkan tahun depan market share kita meningkat ke angka 15-20 persen, dan di tahun-tahun ke depannya kami targetkan market share bisa mencapai 30-40 persen hingga menjadi perusahaan taksi nomor satu di tanah air," ujarnya saat paparan publik di gedung Bursa efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (29/4).

Untuk mendukung langkahnya itu, perseroan setiap tahunnya giat melakukan ekspansi dengan penambahan armada. Menurut David, setiap tahunnya Express selalu menambah sekitar 2000 armada. Tahun ini saja, perseroan menargetkan bisa mempunyai sekitar 10.000 armada taksi reguler, di mana hingga April ini perseroan sudah mempunyai sekitar 8.500 armada.

Dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM), Express memiliki 18.000 orang pengemudi yang tersebar di 25 pool taksi. Express Group yakin dengan ekspansi bisnisnya mengembangkan usaha transportasi, sehingga sejalan dengan target perseroan menjadi nomor satu. "Alasannya, potensinya yang sangat besar dan belum sepenuhnya tergarap. Dari tahun 2007 hingga 2011 terjadi peningkatan permintaan akan angkutan taksi sebanyak 12,3 persen," ujar David.

Dari permintaan tersebut, lanjut David, baru 4,3 persen yang bisa dipenuhi. Selain itu, kontribusi taksi reguler terhadap pendapatan juga terbilang cukup menggiurkan. "Taksi reguler berkontribusi terhadap revenue perusahaan sebesar 88 persen," tuturnya.


Antisipasi Kebijakan Pemerintah

Meski begitu, ambisi tersebut bisa saja terganjal dengan beberapa kebijakan pemerintah tentang transportasi di tanah air, khususnya di Jakarta dan sekitarnya. Namun, perseroan sudah mempunyai langkah-langkah antisipatif agar tak terlalu mempengaruhi kinerja perseroan.

Terkait kebijakan pemerintah tentang kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, perseroan tengah melakukan pembicaraan dengan berbagai pihak untuk membahas hal tersebut. Perseroan mengemukakan bahasan tersebut berisi tentang menaikkan tarif taksi atau menggunakan LPG sebagai bahan bakarnya.

Pembahasan kenaikan tarif taksi tersebut masih terus dikaji antara Organda dengan pemerintah sebagai pihak yang berwewenang menentukan tarif angkutan umum. Adapun mengenai pergantian bahan bakar ke LPG, menurut David, saat ini sudah ada 108 armada taksi yang menggunakan LPG sebagai bahan bakarnya. "Kemungkinan armada-armada yang lain akan menyusul dengan adanya rencana kenaikan ВВМ ini," tuturnya.

Sementara, terkait keinginan pemerintah DKI Jakarta yang akan membangun Mass Rapid Transit (MRT), perseroan berharap ada sinergi yang terbangun dari alat-alat transportasi umum di Jakarta tersebut. "Kita harapkan nanti busway, monorail, bisa saling menunjang dengan taksi. Jika ada orang yg membawa tiga koper lebih, tentunya mereka akan memilih taksi," ujar David.

Perseroan juga masih optimis mampu bersaing dengan transportasi lainnya seperti busway atau monorail karena taksi bersifat door to door, di mana mampu mengantar penumpang hingga ke tempat tujuan. "Beda dengan transportasi lain yang bersifat point to point, yang tidak langsung mengantar penumpang ke tempat tujuan," ungkap David. (*/DKu)

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?